Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 97. Kamu manis sekali


“Mas, kamu di sini?” tanya Bella, tiba-tiba sudah muncul di belakang keduanya.


Sontak Bara dan Kevin berbalik. Raut wajah Bara terlihat panik dan salah tingkah, memamerkan senyum kaku sembari menghampiri Bella.


“Sweetheart.” Sapaan kaku keluar dari bibir Bara.


“Kenapa menyusul? Kamu baik-baik saja?” tanya Bara, merengkuh pinggang istrinya dan mengajak masuk kembali ke ruangan.


Obrolan rahasia yang tidak ingin sampai didengar Bella itu terpaksa ditunda. Untuk saat ini, Bara tidak ingin istrinya terbebani dengan kisah masa lalunya yang seakan menolak pergi menjauh. Sedikit demi sedikit, ia mulai belajar memahami perasaan Bella. Apalagi saat istrinya dengan kesadaran penuh mengungkapkan perasaan kepadanya. Mungkin untuk saat ini, ia belum bisa membalasnya dengan sepenuh hati, tetapi ia harus menghargainya.


“Mas, kalau urusanmu sudah selesai, kita langsung ke dokter saja. Aku kepikiran Icca. Tadi aku menitipkannya pada Ibu.” Bella memilih duduk di seberang meja Bara. Duduk di kursi yang dipersiapkan untuk menjamu tamu ataupun karyawan setiap melaporkan pekerjaannya.


“Ya. Aku menandatangani beberapa berkas dulu,” sahut Bara. Kembali ke kursi kebesarannya dan mulai mengoreskan pena pada lembaran kertas yang sudah disiapkan di atas meja.


Terlihat keseriusan lelaki tampan itu saat bekerja. Bisa dikatakan untuk pertama kalinya Bella berkesempatan menatap ketampanan suaminya di tengah kesibukan. Senyum tipis merekah, seiring tatapan tak berkedip.


Bella bagai tertarik ke masa lalunya. Teringat bagaimana ia dulu sering mencuri pandang pada lelaki tampan yang sering dipanggilnya Tuan. Dulu, ia selalu menundukan kepala ketika berada di dekat Bara. Lelaki itu seperti berada di dimensi yang berbeda dengannya yang hanya seorang anak pembantu.


Bahkan, mungkin Bara menganggapnya seorang bocah ingusan. Seringkali, suaminya itu melewati dengan mobil mewahny saat ia sedang berjalan kaki mencari angkutan umum ketika akan berangkat ke sekolah dan Bara yang hendak menuju ke kantor.


Namun, nasibnya berubah sejak dua tahun lalu. Ketika di suatu siang ketika pulang sekolah. Bara, seorang laki-laki matang dan dewasa menyatakan akan menikahinya.


Dan sekarang di sini, ia berada. Di sisi Bara. Bisa menatap lelaki itu dari dekat, tidak perlu takut atau ragu lagi. Bahkan, sekarang ia bebas memeluk atau mencium Bara dan lelaki itu tidak akan protes.


“Kamu kenapa, Bell?” tanya Bara tiba-tiba, menariknya kembali ke kenyataan. Bara ternyata sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, sekarang lelaki itu duduk di sebelahnya,


“Aku hanya mengingat masa-masa di Surabaya dulu, Mas,” sahut Bella.


Sebuah tawa kecil tetapi terdengar hangat mengawali ucapan Bara yang sedikit menggetarkan perasaan Bella.


“Dulu kamu manis sekali.”


Bella terbelalak. “Mas, dulu sering memperhatikanku ?” tanya Bella terkejut sekaligus bahagia, setidaknya suaminya dulu masih menganggap keberadaannya yang seperti butiran debu di istana mewahnya.


“Dulu kamu sering mencuri-curi pandang padaku, kan? Namun, saat berbicara di depanku biasanya kamu akan menunduk,” cerita Bara, tangan terulur dengan jemari mengetuk meja kayu berlapis kaca di depannya.


“Awal-awal aku tinggal di rumahmu, aku takut padamu, Mas. Aku takut membuat kesalahan dan diusir,” cerita Bella, mengingat masa lalunya.


“Sampai sekarang aku masih mengingat pertama kali Ibu membawamu dan Rissa. Kamu memeluk boneka lusuh. Terlihat manis ... saat itu berapa umurmu?” tanya Bara, lelaki itu ikut tersedot dalam masa lalunya.


“Mungkin sembilan tahun, Mas,” jawab Bella.


“Dulu kamu memang manis, Bell,” celetuk Bara, menggoda istrinya.


“Dan sekarang semakin manis, apalagi di saat hamil semakin cantik,” lanjut Bara, mulai belajar menggombal. Mencoba menerapkan ilmu yang diajarkan sahabatnya.


“Mas menggodaku,” gerutu Bella, merona malu.


“Aku serius ... aku ...." Bara tidak melanjutkan kalimatnya, saat ponsel di tas istrinya berdering nyaring.


“Kailla ... Mas,” ucap Bella pelan saat membaca nama yang tertera di layar ponsel yang berkedip. Ia mengerutkan dahi sembari menatap suaminya, heran. Tidak biasa, teman barunya itu menghubunginya. Selama ini mereka hanya sesekali bertemu di kampus. Kebetulan Kailla juga kuliah di perguruan tinggi yang sama dengannya hanya berbeda jurusan.


“Boo, kenapa berhenti kuliah tidak mengabariku!” ucap Kailla setengah mengomel. Bella belum sempat menjawab, kembali Kailla berteriak dari seberang telepon. Bara yang duduk di sebelah istrinya pun masih bisa mendengar apa yang diteriakan Kailla.


“Boo, besok siang sepulang kuliah aku akan menjemputmu. Kita jalan, kamu harus menjelaskan padaku. Baru saja aku mulai kuliah, kenapa kamu berhenti?" omel Kailla. Bara menguping, sengaja menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Bella. Mendekatkan telinganya ke arah ponsel yang menempel di telinga istrinya.


“Aku ...."


“Tidak ada tapi-tapian. Kita shopping menghabiskan uang para suami yang konon katanya sudah tidak ada nomor serinya lagi karena terlalu banyak. Kita cuci mata, ganti suasana. Bosan melihat wajah yang sama tiap hari di rumah. Ayolah, jangan menolak,” cerocos Kailla, tidak memberi kesempatan Bella menolak.


“See you, ya. Ah, si tampan yang sering mencuri pandang padamu, anak fakultas hukum itu pasti patah hati kalau tahu kamu sudah tidak kuliah lagi.”


“Kapan aku bisa sepertimu. Suamiku tidak sebaik suamimu. Dia akan mengomel kalau tiba-tiba aku bilang mau berhenti kuliah,” celetuk Kailla tanpa basa-basi, sebelum mematikan ponselnya.


Kalimat Kailla tentang lelaki fakultas hukum, sempat tertangkap indra pendengaran Bara. Emosi lelaki itu mulai naik, setelah tahu di kampus ada mahasiswa yang mencoba mendekat pada istrinya. Terlihat rahangnya mengeras dengan tatapan tajam terarah pada istrinya.


“Siapa dia?” tanya Bara, cemburu.


“Tidak ada, Mas. Jangan dengarkan Kailla. Dia hanya bercanda,” sahut Bella berusaha menenangkan suaminya.


“Benarkah? Kalau aku mengetahui itu benar. Aku akan mematahkan kakinya!” omel Bara.


“Mas sudah! Besok, izinkan aku pergi dengan Kailla sebentar, ya,” pinta Bella, memohon.


“Aku tidak mengizinkanmu pergi dengannya, Bell. Aku khawatir kalau kamu pergi dengan Kailla, apalagi di saat sedang hamil begini. Aku mengenal gadis nakal itu dengan baik,” ucap Bara, menolak memberi izin.


“Mas, sekali ini saja. Lagipula aku juga akan jarang keluar lagi setelah ini. Boleh, ya?” rayu Bella lagi.


Bella masih berusaha melemparkan bujuk dan rayu dengan raut memohon yang begitu kentara. Sesekali bermanja-manja di lengan suaminya.


Setelah tidak sanggup melihat wajah memelas istrinya, Bara akhirnya mengizinkan. Tentunya dengan banyak persyaratan yang harus dipatuhi.


“Baiklah.”


“Tapi, jangan sampai kamu ikut-ikutan membuat kekacauan. Kamu mengerti?” tanya Bara.


Bella tertawa, bahkan hampir terbahak mendengar kekhawatiran suaminya.


“Jangan tertawa. Aku sudah mengenal istri Pram itu sejak kecil. Sejak masih di dalam gendongan suaminya. Masih dengan ingus melorot dari hidungnya, kebanyakan merengek,” cerita Bara terkekeh.


“Sudah, Mas ... aku janji tidak akan menyusahkanmu,” bisik Bella.


“Sampai terjadi sesuatu padamu, aku akan menyeret Pram,” ucap Bara tertawa.


***


Terima kasih.


Love You all