Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 166 : Menunggu hari kelahiran


Bara sengaja pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Dia sudah membuat janji dengan sang pengasuh, kalau gadis itu tidak berkhianat. Berharap kali ini bisa menangkap basah Roland dan membuat laki-laki itu mati kutu.


Tampak pengasuh Issabell sudah mengandeng Icca keluar dari gerbang rumahnya. Dalam hati sedikit ketakutan, dia tahu saat ini Bara sedang menguntitnya dengan mobil.


Tepat di ujung jalan, mbak pengasuh membawa masuk Issabell ke sebuah rumah dua lantai bercat putih. Terlihat dari luar, rumah itu baru saja di renovasi. Kemungkinan pemiliknya baru saja pindah ke komplek ini.


Tak lama setelah Issabell dan pengasuhnya menghilang di balik pintu rumah yang terbuka, Bara juga turun dari dalam mobil. Tanpa permisi, laki-laki itu ikut masuk ke dalam rumah yang masih belum dikunci.


Sengaja pemilik rumah tidak menguncinya, agar sang pengasuh leluasa keluar masuk tanpa harus seseorang membukanya dari dalam. Lagi pula tidak ada barang berharga apapun di dalam rumah. Roland membeli rumah itu untuk kepentingannya bertemu Issabell, putri kandungnya.


Mencari dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Saat melewati kamar berpintu putih di dekat tangga, Bara bisa mendengarkan celotehan Issabell yang tertawa bahagia. Murka Bara terlihat jelas. Dengan sekali tendangan saja, pintu itu terbuka dan terbanting membentur dinding di belakangnya.


Pemandangan yang membuat Bara tersentuh dan sedikit menurunkan emosinya adalah Issabell yang sedang memeluk boneka Hello kitty berukuran raksasa duduk di pangkuan Roland. Sedangkan laki-laki berwajah oriental itu terlihat terkejut menatap tidak percaya pada sosok tamu asing yang tidak disangka akan muncul di hadapannya saat ini.


“Daddy ....” pekik Issabell meloncat turun dan mengangkat kedua tangannya ke atas, meminta gendong.


Amarah Bara seketika lenyap, emosinya luruh, berganti hangat yang menyelimuti hati saat melihat Issabell meneriakan daddy dan menghambur padanya.


“Icca sedang apa di sini?” pancing Bara.


“Uncle ....” tunjuk Issabell ke arah Roland. Ketakutan dan sungkan yang ditunjukan Issabell sewaktu bertemu Roland saat di Surabaya, sudah tak nampak lagi. Gadis kecilnya sekarang jauh lebih bersahabat dan mau menerima Roland.


“Icca ikut mbak ke depan, ya.” Bara memerintahkan sekaligus menyerahkan putrinya ke dalam gendongan sang pengasuh.


Land, bisa kita bicara?” Nada bicara Bara terdengar biasa dan tenang. Menghela napas berulang kali, berusaha menenangkan dirinya supaya tidak terpancing emosi. Bara mengedarkan pandangannya, menatap kamar bernuansa hello kitty yang Bara akui lebih bagus dari kamar Issabell sekarang tempati, di rumahnya.


“Maafkan aku, Bar. Aku tahu, aku salah. Menemui Icca diam-diam, di belakangmu,” Roland tertunduk.


“Urusan kita belum selesai, Land. Apa maksudmu meminta pengasuh Issabell mengirim foto-foto pribadi istriku. Apa maksudmu?” Bara mencengkeram kerah kemeja Roland.


“Maafkan aku.”


“Apa maksudmu bekerja sama dengan Rissa. Kamu tahu sendiri perempuan seperti apa yang sudah meracunimu. Aku tahu dia adalah ibu kandung Icca, tetapi tidak seperti ini juga, Land.”


“Maaf, aku ....”


“Jangan pernah mendekati istriku. Kamu mau bertemu Icca, aku tidak akan melarangmu, selagi kamu tahu batasannya dan atas seizinku.” Bara melepas cekalan tangannya pada Roland, mendorong perlahan.


“Icca masih terlalu kecil untuk dicekoki dengan cerita hubungan kalian yang tanpa kejelasan. Tunggu sampai dia siap, baru kamu bisa mengungkap semuanya. Itu pun aku tidak jamin saat Icca tahu semuanya, dia mau menerima kalian,” ucap Bara, menyeringai licik.


“Harusnya dulu, sebelum menelantarkannya, kamu berpikir ulang. Kejadian seperti ini pasti akan terjadi.”


Roland hanya bisa mendengar, tidak bisa berkata-kata. Ucapan Bara ada benarnya.


“Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah menganggu istriku. Tolong jauhi Bella. Aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu!” ancam Bara, mengarahkan telunjuknya ke wajah Roland.


“Jangan pikir karena kamu ayah kandung Icca, kamu bisa seenaknya. Ingat! Kamu dan Rissa tidak menikah! Kamu menelantarkannya dan Icca selama ini. Dan Bella itu tante kandung Icca, aku rasa Bella juga berhak merawat Icca setelah Rissa, kakaknya masuk jeruji besi.”


Bara baru saja hendak melangkah pergi, tetapi laki-laki itu berbalik kembali.


“Aku tidak mau mengatakannya karena aku tidak berhak menghakimimu dan masa lalumu. Hanya saja, saat ini aku merasa kamu sudah kelewatan, Land!”


“Maaf sebelumnya kalau kata-kataku menyakitimu. Kalau saja istrimu tidak meninggal, aku yakin kamu tidak akan mencari tahu tentang putrimu. Jadi jangan sok menyayangi Icca sekarang dan merasa berhak penuh atas anak itu. Tolong berkaca dan dipikir lagi! Apa yang sudah kamu lakukan untuk anak itu.”


“Kalau kamu tetap menganggu keluargaku, aku akan menempuh jalur hukum. Ingat! Tidak ada pernikahan antara kamu dan Rissa. Melihat riwayat kehidupan Rissa yang kelam, ditambah dengan kondisinya saat ini yang meringkuk di penjara, aku yakin pengadilan pun tidak akan berpihak pada kalian.”


Dan kamu ... aku pastikan akan menemukan bukti yang akan memberatkanmu sampai kamu tidak memiliki kesempatan melihat Icca!”


“Aku tidak memisahkan, kamu bisa menemui Icca kapan saja. Asal seizinku dan tidak menganggu istriku,” terang Bara. Bergegas keluar dari kamar.


“Icca, ayo kita pulang. Nanti kita main bola sama kakak,” ucap Bara begitu keluar dari kamar. Laki-laki itu segera menaikan Issabell ke gendongannya.


Tadinya, kakinya hendak melangkah keluar, tetapi diurungkannya setelah teringat sesuatu. Bara kembali menemui Roland di kamarnya.


“Pamit dengan Uncle,” pinta Bara pada putrinya.


Dia memang membenci Roland saat ini, tetapi bagaimana pun dia harus mengajarkan putrinya bersopan santun.


***


Dua bulan berlalu.


Kandungan Bella semakin besar, semakin mendekati hari kelahiran. Sejak dua bulan yang lalu, Bella lebih banyak bedrest dan menghabiskan harinya di tempat tidur. Mengingat pendarahan yang sempat terjadi saat usia kandungan baru menginjak tujuh bulan, Bara pun memutuskan untuk tidak mengadakan acara tujuh bulanan atau baby shower dan sejenisnya.


Perlengkapan bayi pun dibeli secara online. Bella tinggal memilih dari ponsel pintarnya, semua dilakukan dari tempat tidur. Hanya sesekali keluar ke taman belakang mencari suasana baru. Itu pun dengan digendong suaminya.


Ibu Rosma sudah menetap di Jakarta sejak sebulan yang lalu. Bahkan Opa dan Oma Rania ikut menginap di rumah Bara sejak seminggu yang lalu. Semuanya begitu bergembira menyambut kehadiran jagoan kecil, anggota keluarga baru Wirayudha.


Bella sedang duduk di atas tempat tidur, sembari melipat pakaian miliknya dan calon bayi yang akan di bawa ke rumah sakit saat persalinan itu tiba.


“Bell, apa yang kamu lakukan?” tanya Bara, meletakan tas kerjanya di atas sofa kamar. Laki-laki itu baru saja kembali dari kantor.


“Menyiapkan pakaian untuk di bawah ke rumah sakit, Mas,” sahut Bella, tanpa menoleh ke arah suaminya.


“Kapan kita ke dokter lagi? Aku sudah tidak sabar menunggu jagoan kecil kita hadir di sini, Bell. Pasti dia setampan daddynya,” ucap Bara dengan bangga, matanya menatap boks bayi yang sudah terpasang di pojok kamar. Rencananya, mereka akan sekamar dengan bayi mereka setelah Bella melahirkan.


“Dua hari lagi, Mas.”


“Bukankah dokter mengatakan minggu ini sudah masuk HPL, Bell. Belum ada tanda-tanda sakit perut, kah?” tanya Bara, menjatuhkan bokongnya ke atas tempat tidur.


“Belum, Mas.”


“Padahal dua hari lagi, sudah lewat minggu. Bagaimana ini, dokter hanya memberi harapan palsu saja padaku!” ucap Bara dengan polosnya.


“Memang dokter yang menentukan, Mas!” omel Bella. “Mereka hanya memprediksi saja, perkiraan saja, Mas.”


“Ya, tetapi diingatkan seperti itu, aku jadi tidak bisa tidur setiap malam. Berjaga-jaga, takut kamu sakit perut tiba-tiba. Bahkan aku sudah membuat catatan, apa saja yang harus dilakukan saat kamu sakit perut dan ingin melahirkan,” jelas Bara, mengeluarkan kertas dengan coretan pena dari lemari nakas.


“Nih! Aku takut panik. Jadi aku sudah menulisnya di sini, kira-kira langkah apa saja yang harus dilakukan.” Bara menyerahkannya kepada sang istri.


Bella terbahak saat membaca tulisan tangan Bara. “Satu ... ganti pakaian di walk in closet, saat istri mengeluh sakit perut. Jangan lupa menganti celana panjang juga.”


“Dua ... kunci mobil ada di laci nakas. Jangan lupa memakai sandal atau sepatu sebelum masuk ke dalam mobil,” ucap Bella terbahak sambil membaca.


“Apa ini, Mas?” tanya Bella menahan tawanya.


“Ini aku ambil dari pengalaman teman-temanku, Bell. Sewaktu istri mereka sakit perut, mau melahirkan mereka lupa mengganti pakaian, bahkan hanya bercelana pendek dan mengenakan sarung tanpa alas kaki ke rumah sakit. Aku tidak mau sampai kejadian itu menimpaku, Bell.”


***


TBC