
Rembulan sudah di puncak, memancarkan semburat menguning indah di pekatnya malam. Suara jangkrik dan dedauan yang bergesekan tertiup angin menemani malam panjang sepasang suami istri yang masih betah berdiri di balkon kamar hotel.
Bella sedang menatap gelap saat Bara datang dan memeluknya dari belakang.
“Sayang, kenapa tidak masuk ke dalam?” tanya Bara, berbisik di telinga Bella.
Bella yang terkejut dengan belitan tangan kekar Bara yang kini mengunci erat pinggangnya hanya bisa menunduk dan tersipu malu. Pipinya merona jingga.
“Aku masih ingin di sini, Mas.” Bella menjawab seadanya. Tidak mungkin menjawab jujur, kalau ia menghindari Bara setelah persetujuannya tadi siang.
“Tidak dingin?” tanya Bara, mengeratkan pelukannya.
“Sedikit.”
“Apa yang kamu lihat di sini?” tanya Bara lagi.
“Tidak ada, Mas,” sahut Bella.
“Aku hanya merindukan Ibu,” sahut Bella.
Tangan Bara sudah mulai nakal seperti biasanya, menyibak rambut tergerai Bella dan menyingkirkannya. Sekarang leher jenjang istrinya sudah menantang sempurna.
Sebuah kecupan dilabuhkan di sana, membuat si empunya melayang seketika. Kecupan basah dan memabukan.
“Mas,” panggil Bella setengah mendesah. Memohon kepada Bara supaya menghentikan semua kegilaannya. Kakinya sebentar lagi sudah tidak sanggup menopang berat tubuhnya. Ia melemas, kehilangan kekuatan.
“Mas," panggil Bella sekali lagi. Kali ini ia memilih berbalik, membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami.
“Hmm,” gumam Bara, memeluk erat tubuh mungil yang mulai bergetar panik.
“Kenapa?” tanya Bara, tersenyum. Bella bahkan tidak mengizinkan Bara melihat wajahnya saat ini.
“Aku malu, Mas,” sahut Bella dengan polosnya.
“Hahahaha. Ya sudah, kalau begitu ... aku izinkan kamu memejamkan mata sepanjang permainan kita nanti,” sahut Bara dengan terus terangnya.
“Mas....” Bella kembali memanggil. Kali ini disertai pukulan kecil di dadanya.
“Jangan seperti ini, terlalu menggemaskan. Aku takut tidak sanggup bermain lembut,” ucap Bara dengan kata-kata yang terdengar memalukan di telinga Bella.
Bella bukan anak kecil, ia mengerti jelas arah pembicaraan suaminya. Di Surabaya, sebagian teman-teman SMA-nya sudah menikah. Saat berkumpul atau reunian, mereka sering bertukar cerita. Menceritakan banyak hal, sampai rahasia ranjang pun dibahas di sana.
“Bell ...."
Baru saja menengadahkan kepalanya menatap Bara, suaminya sudah menyergap bibir mungil miliknya dan tidak membiarkan ia berontak.
Kecupan lembut di awal, tetapi mulai menutut pada akhirnya. Kecupan yang berubah menjadi l'umatan ringan. Bara baru berhenti saat merasa Bella hanya diam dan tidak meresponnya.
Meraih tangan Bella yang menjuntai di sisi tubuh, Bara menuntun kedua tangan itu agar merangkul lehernya, meminta Bella bergelayut manja padanya.
“Peluk aku!” bisiknya di telinga Bella. Untuk pertama kalinya, ia harus mengajari seorang wanita cara bercinta yang baik dan benar. Bara bukan laki-laki alim, ia pernah menikah. Bahkan setelah bercerai pun terkadang masih sering nakal di luar sana.
Namun, sejak menikah dengan Bella, ia tidak pernah melakukannya dengan wanita manapun. Kecuali saat wanita murahan itu menjebaknya. Hanya saja, ia tidak tahu apa-apa, tidak bisa merasakan apa-apa dan tidak bisa menikmati apa-apa. Ia tertidur pulas dan terbangun dengan memeluk tubuh polos Rissa. Bahkan ia sendiri tidak tahu pasti, kebenaran malam itu. Sebenarnya apa yang terjadi malam itu masih abu-abu. Apa ia benar-benar tidur dengan Rissa atau tidak, dia tidak pernah tahu.
Entah itu nyata atau cuma sandiwara Rissa, tetapi sejak saat itu ia di bawah kendali wanita licik yang suka menggunakan segala cara. Namun, Bara juga menyadari, ia menggunakan cara yang tidak kalah liciknya untuk mendapatkan Issabell. Ia mempermainkan perasaan Rissa.
Dan Bara tidak bisa berbuat apa-apa, Rissa memang sengaja menahan Issabell, bukan karena semata-mata ia menyayangi putrinya, tetapi karena Rissa menginginkannya, seperti yang dikatakannya saat pertama kali meminta Issabell.
Rissa bersedia menyerahkan Issabell dengan syarat Bara harus menikahinya dan menceraikan Bella. Rissa memanfaatkan niat baiknya yang ingin menolong Issabell dan menutup semua dari sang ibu mertua.
“Bell," panggil Bara lembut.
“Kita ke dalam,” ucap Bella saat melepaskan pertautan bibir.
Tanpa menunggu jawaban, tangan kekar itu sudah menggendong tubuh mungil bak kelinci putih itu masuk ke dalam kamar. Menjatuhkan tubuhnya dan tubuh Bella ke atas tempat tidur empuk.
“Aku menginginkanmu malam ini,” bisik Bara pelan.
Bella hanya menatap ke manik mata biru sang suami yang sekarang sedang menindihnya. Tidak menjawab, hanya mengangguk dan menurunkan pandangannya. Menutup malu dan paniknya saat ini. Apalagi saat ia merasa tangan Bara sudah membuka satu per satu kancing piyamanya.
“Mas, aku malu,” ucap Bella, berusaha menahan tangan Bara yang tinggal selangkah lagi. Ya, selangkah lagi, tertinggal kancing teratas.
“Tidak apa-apa, bagaimana melakukannya kalau ini tidak disingkirkan,” jelas Bara, tersenyum. Tatapan dalam, tatapannya sendu, tatapan penuh gairah dan hasrat terpendam.
“Ya ... bukannya tadi sudah setuju?” tanya Bara lagi, berusaha membujuk.
Bella mengalah, memilih membuka sendiri sisa kancing terakhir dan melepasnya dengan ragu-ragu.
“Cantik,” bisik Bara, berusaha membuat Bella senyaman mungkin. Ia sadar betul, ini pengalaman pertama istrinya. Dan ini juga pengalaman pertama untuknya berhadapan dengan gadis polos yang belum tahu apa-apa.
“Harus banyak bersabar, Bar,” ucap Bara dalam hati.
Tangan kekar itu sudah menyusup masuk di balik punggung istrinya, membuka kaitan bra yang sedari tadi mengganggu pandangan matanya.
Sekali tarik saja, ia langsung memerdekakan gundukan kembar dan kenyal yang terlihat menggiurkan.
“Mas, ini memalukan,” bisik Bella, melipat tangan di dada, menyembunyikan miliknya yang sudah tidak tertutup apa -apa.
“Itu proses, Sayang. Malu juga harus tetap dilewati,” jawab Bara, tersenyum. Memindahkan kedua tangan Bella yang menutup dada dan mengunci kedua tangan itu ke atas kepala Bella dengan tangan kanannya
Mata Bara terbelalak, sudah lama tidak melihat salah satu keajaiban dunia secara langsung.
“Izin menyentuhnya, Nyonya,” sahut Bara dengan usil, sebelum meremas dan mengecup gundukan kembar istrinya.
Diperlakukan Bara seperti itu rasanya sulit diungkapkan. Bella memilih diam, dan memejamkan matanya menyembunyikan malu dan risih bersamaan. Tangannya sudah dilepas Bara, ia bebas meremas rambut suaminya yang masih betah bermain di area dadanya.
“Sayang, kita naik kelas dulu, ya,” ucap Bara di sela nafas yang memburu saat ini.
Bella membuka matanya, tidak paham maksud ucapan Bara. Seketika pipinya merona, saat melihat Bara ternyata sudah bertelanjang dada, mengikuti jejaknya.
Tangan Bara sudah mengusap turun melewati perut rata istrinya, melepas pakaian yang tersisa.
“Ya Tuhan, ternyata begini rasanya,” ucap Bella dalam hati.
Ia bisa merasakan tangan Bara yang nakal dan merambah ke mana-mana. Lidahnya kelu, sudah tidak sanggup berkata-kata. Hanya bisa meremas seprai sambil memejamkan matanya. Menggigit bibir bawah, Bella berusaha agar desahnya tidak keluar.
“Bell, kamu tidur?” tanya Bara, masih saja usil di saat seperti ini.
Bara hanya tidak tega melihat raut malu bercampur ketakutan di wajah Bella. Sebisa mungkin ia akan membuat istrinya merasa nyaman dan tenang.
Bella membuka matanya, melihat wajah suaminya yang sangat dekat dengannya.
“Bell, cium aku sekarang,” bisiknya lembut, nyaris tidak terdengar. Bella hanya bisa menangkap gerak bibir suaminya.
***
T B C
Terima kasih.