Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 63. Kemanjaan Bella Dimulai


Bara melajukan kembali mobil sport hitamnya, membelah ruas jalan utama ibukota yang saat itu mulai ramai mengarah ke macet. Ya, maklum saja, hari sudah menjelang petang. Di mana waktu para pekerja kantoran pulang bertugas dari perusahaan tempat mereka bekerja.


Suara klakson terdengar saling sapa dan bersahut-sahutan. Semuanya tidak sabar dan tidak tahu diri. Berlomba-lomba mendahului dan mencari jalan. Saling sikut dan mengumpat karena ketidaksabaran.


Termasuk Bara, laki-laki itu membunyikan klakson berulangkali di tengah kepanikan dan khawatir akan janjinya pada sang istri yang hanya meminta izin pergi sebentar saja.


Perjalanan menuju rumah sakit yang harusnya bisa ditempuh dalam setengah jam, harus molor sampai di atas satu jam.


Mobil Bara masuk ke pelataran rumah sakit saat hari sudah menggelap pekat. Dengan buru-buru memarkirkan mobilnya, ia berlari masuk sambil menenteng tas pakaian di tangan.


"Aku terlalu lama meninggalkannya," bisiknya lirih. Bara berucap pada dirinya sendiri sesaat masuk ke dalam lift yang akan mengantarnya ke lantai tertinggi gedung rumah sakit ini.


Ting!


Bara kembali keluar lift dengan berlari. Panik dan khawatir semakin tercetak nyata di wajah tampannya.


Ceklek!


Begitu pintu kamar terbuka, suasana sunyi dan hening menyambut. Bibirnya tersungging, menatap punggung berbaring yang membelakanginya.


"Bell ...." sapanya.


Melangkah masuk, Bara meletakkan tas pakaian di pojok kamar perawatan yang luas dan nyaman. Fasilitas rumah sakit yang lengkap bak hotel bintang lima.


Bara memang sengaja memilih kamar terbaik untuk Bella, mengingat kebutuhan Bella yang diharuskan menginap di rumah sakit untuk bisa beristirahat, memulihkan tubuhnya yang sedang hamil muda.


Panggilan Bara tidak direspon, istrinya masih betah memandang dinding. Entah sengaja tidak mau menjawab atau tertidur, Bara belum memastikannya.


"Bell ...." sapa Bara kembali mengitari ranjang.


"Bell, kamu tidur?" tanya Bara tersenyum sembari mengusap lembut pelipis istrinya. Kemudian ia duduk di sisi ranjang.


"Mas ...." panggil Bella dengan suara serak. Bella mengubah posisi tidur supaya lebih leluasa menatap suami tampannya.


Ia sempat ketiduran karena terlalu bosan menunggu, tidak ada ponsel ataupun teman bicara.



Bara meletakkan kunci mobil dan ponselnya di atas nakas. Pandangannya tertuju pada makanan yang yang masih utuh di atas nampan. Bahkan istrinya tidak menyentuh sama sekali. Semua masih tertata rapi.


"Bell, kenapa tidak makan?" tanya Bara, memindahkan nampan ke atas pangkuannya dan membuka plastik pembungkusnya.


"Aku tidak lapar, Mas," sahut Bella singkat. Matanya mengekor semua tindak-tanduk suaminya, bahkan ia bisa melihat jelas perubahan wajah Bara dari jarak sedekat ini.


"Aku suapin. Sandarannya aku naikkan, ya?" tawar Bara.


Bella mengangguk.


"Mas kenapa lama sekali?" tanya Bella, memulai kemanjaannya. Seharian ini, entah sudah berapa banyak kemanjaan ditunjukkannya kepada sang suami.


"Ya, tadi aku terjebak macet. Buka mulutnya."


Bara mulai menyuapkan nasi dengan sup dan ayam kecap ke dalam mulut Bella. Sesendok demi sesendok, tanpa terasa akhirnya makanan di dalam piring itu berpindah ke dalam perut Bella.


"Sudah, Mas," tolak Bella.


"Ini tidak mau?" tanya Bara, menunjukkan segelas puding susu yang baru saja dibukanya.


Bella menggeleng.


"Besok, Sayang. Hari ini tidur di sini saja ya," bujuk Bara.


"Tapi disini tidak enak, Mas. Pinggangku sakit semua, aku mau duduk di sana saja," pinta Bella menunjuk ke arah sofa bed.


"Tidak masalah ... kalau bosan di sini, kamu bisa duduk di sana menatap pemandangan di luar dari jendela besar itu," ucap Bara.


"Ponselku juga tidak ada," ucap Bella pelan. Mengingat ponselnya yang baru tadi pagi dihancurkan suaminya.


"Besok, aku minta Kevin membelikanmu ponsel baru," sahut Bara tersenyum.


Bella sudah menyodorkan kedua tangannya, meminta Bara membantunya turun.


"Mas, tolong aku," pintanya. Menunjuk ke arah botol infus yang tinggal sedikit tergantung di sisi kiri ranjang.


"Kamu mau duduk di sana? Aku akan menggendongmu saja," tawar Bara kembali.


"Aku bisa jalan sendiri, Mas," tolak Bella. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat menginginkannya. Berharap sang suami peka dan menolak menurut ucapannya yang lain di bibir, lain di hati.


Namun, Bara yang setengah hatinya sedang mengembara seolah tidak tahu kode dari pandangan mata sang istri yang mulai manja padanya. Padahal, beberapa jam yang lalu, ia masih sangat berharap melihat istrinya manja. Namun, entah kenapa, pertemuan pertamanya dengan Brenda setelah sepuluh tahun meninggalkan kesan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Tidak seperti dugaannya, amarah yang menyesak di dada selama sepuluh tahun sirna dalam sekejap.


Tak seperti bayangannya, di saat bertemu ia bisa setenang ini. Tidak ada lagi kemarahan atau kekesalan pada sang mantan.


Apa dia sebenarnya sudah berdamai dengan masa lalu. Tatapan Brenda ketika memeluk map saat di rumah sakit tadi siang, seperti memiliki makna sesuatu. Jauh berbeda di saat pertemuan mereka yang baru saja terjadi.


Tepukan di pundak, mengembalikan Bara dari lamunan.


"Mas, ada apa?" tanya Bella, yang sudah turun dari ranjang. Menapaki lantai dengan pelan sambil menyesuaikan jarak dengan botol infus yang dipegang Bara.


"Ya, aku baik-baik saja," sahut Bara, mengusap lembut punggung istrinya.


"Ini botol terakhir kan, Bell?" tanya Bara, menunjuk ke botol infus di tangannya.


"Ya, aku hampir mati kebosanan, Mas," celetuk Bella.


"Mas, ambil tiang penyangga itu saja. Jadi tidak repot untuk memegangnya," lanjut Bella, menunjuk ke arah tiang yang berdiri kokoh di samping tempat tidur.


Keduanya duduk bersisian, setelah botol infus itu tergantung kembali ke tempatnya.


"Mas, aku mau berhenti kuliah saja," ucap Bella, bersandar di pundak kekar suaminya.


"Kamu serius, Bell?" tanya Bara, memastikan.


Bella mengangguk.


"Terima kasih dan terima kasih untuk ini," ucap Bara, mengusap kembali perut rata istrinya.


Kedua tangannya sudah menangkup wajah Bella, melabuhkan sebuah kecupan hangat.


***


Tbc


Terima kasih & love you all.