
Setelah menyelesaikan semua urusan dan menghabiskan makanannya, keluarga kecil itu kembali pulang. Issabell yang kekenyangan sudah terlelap tidur di pangkuan Bella.
“Putrimu kerjanya makan tidur ... makan tidur,” celetuk Bara, menatap sekilas pucuk kepala Issabell yang menyenggol tangannya saat ia menyetir.
“Namanya juga anak kecil. Terus mau kerja apa lagi, kalau bukan makan tidur,” sahut Bella pelan, membuang pandangannya keluar jendela.
“Sepertinya kamu menyukai anak kecil. Ayo kita buat sendiri. Laki-laki,” ucap Bara dengan tidak tahu malunya. Bara mengulum senyuman, setelah menyadari otaknya begitu tidak tahu malu dan terus terang di depan Bella.
“Lagi pula dia sudah setuju. Untuk apa malu-malu. Tujuan orang menikah 'kan untuk memiliki keturunan supaya bisa beranak pinak,” batin Bara.
Ia tersenyum sendiri, mengingat ucapannya tadi. Pandangannya tertuju pada Bella. Gadis itu tidak bereaksi sama sekali.
“Apa dia tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar,” batin Bara.
“Bagaimana, Bell?” tanya Bara lagi, menunggu jawaban.
“Apa, Mas?” tanya Bella.
“Tidak apa-apa. Anggap saja kamu tidak mendengar apa-apa,” ucap Bara, memilih fokus
menatap jalanan. Ia berusaha menghilangkan pikiran nakal yang sedari tadi mengganggu otaknya.
“Dia pikir aku tidak mendengarnya, lebih baik begitu. Meladeninya akan semakin jauh pembicaraannya. Dari satu anak laki-laki, bisa jadi lusinan. Seperti bukan Tuan Bara yang ku kenal saja.”
Sampai di rumah, mereka sudah disambut Bu Rosma yang sedang duduk menikmati semilir angin di teras rumah.
“Mas, aku bawa Issabell ke kamar,” pamit Bella mendahului Bara yang memilih duduk menemani sang mertua.
Bara mengangguk. Tatapannya beralih pada Bu Rosma yang sedang menatap Bella.
“Tapi, Nak ... bagaimana dengan rumah ini. Tidak ada yang menjaga,” ucap Bu Rosma, menolak. Sebenarnya ia takut tidak betah tinggal di Jakarta, apalagi putrinya sudah berumah tangga. Ia tidak mau kehadirannya mengganggu.
“Aku dan Bella lebih tenang kalau Ibu ikut dengan kami,” jelas Bara.
“Ibu juga akan sering bertemu Rissa kalau tinggal di Jakarta,” lanjut Bara, menunggu persetujuan Bu Rosma.
“Coba nanti aku bicarakan dengan Bella, ya. Ibu mau mendengar pendapat Bella juga.”
“Baik Bu, tidak masalah. Aku senang kalau Ibu bisa tinggal dengan kami. Issabell juga mulai dekat dengan Omanya.”
“Nanti Ibu pertimbangkan dulu, Nak,” jawab Bu Rosma.
“Baiklah, Bu. Aku ke dalam dulu, ada yang harus aku kerjakan." Tampak Bara, bergegas menuju ruang kerja yang sudah lama tidak digunakannya. Duduk merenung di sana, memikirkan apa yang selanjutnya harus dilakukannya.
Bara berencana membawa serta Bu Rosma tinggal bersamanya. Dengan begitu, ia bisa menendang keluar Rissa dari hidupnya. Setidaknya kakak iparnya bisa tinggal di rumahnya yang lain ataupun apartemen. Bara yakin, Rissa tidak akan mau tinggal serumah dengan Bu Rosma. Ia benar-benar khawatir Rissa akan jadi duri dalam rumah tangganya dengan Bella. Ia paling mengenal Rissa melebihi siapa pun saat ini. Banyak hal yang tidak diceritakannya pada Bella atau Bu Rosma mengenai Rissa yang mungkin akan membuat keduanya terkejut.
Kalau bukan karena Bu Rosma, ia sudah akan menendang Rissa dari rumah dan perusahaannya.
“Beruntung aku tidak salah pilih istri,” ucap Bara pelan. Mengingat dua tahun lalu, bagaimana ia harus memilih salah satu dari kedua putri Bu Rosma.
***
Terima kasih.
Love You All
Mohon Like dan komennya.