
Bara bergegas keluar dari kamarnya, setengah berlari dengan amarah menumpuk. Para asisten rumah tangga pun menyingkir ke pinggir, memberi jalan untuk tuan rumah yang sedang murka.
Bara sudah berdiri dengan bertolak pinggang, tatapan tajam pun ditujukan pada wanita yang sedang berdebat dengan pak security penjaga pos jaga. Entah apa yang dipikirkan wanita tidak tahu malu yang sudah diusir dengan cara tidak terhormat, tetapi masih berani menginjakan kaki ke kediamannya seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya.
“Mau apa kamu datang lagi ke sini?” teriak Bara, dengan emosi terpancar jelas di matanya. Ia bisa melihat sendiri perdebatan di antara Rissa dan penjaga gerbang rumahnya. Saling melempar kata dan ancaman.
“Pak!” sapa security saat menyadari kehadiran Bara.
Rissa, wanita itu dengan santai tersenyum manis seperti biasanya. Dengan langkah gemulai, berjalan menuju ke mobilnya sembari memberi perintah pada security.
“Pak, tolong buka gerbangnya,” perintahnya, menolak menjawab pertanyaan Bara.
“Riss, apa-apaan ini?” tanya Bara, menghampiri Rissa dan menyentak kasar tangan wanita yang akan membuka pintu mobilnya.
Namun Bara tidak bisa melanjutkan kemarahannya, saat seseorang membuka kaca mobil dan memanggil namanya dengan lembut.
“Nak Bara” panggil seseorang dari dalam mobil mengejutkan Bara, tetapi membuat Rissa tersenyum. Senyuman yang menyiratkan kemenangan.
Tanpa menunggu, Rissa sudah kembali masuk ke dalam mobil, tidak peduli dengan Bara yang membeku di tempat. Antara percaya atau tidak, tetapi kenyataannya memang ia tidak salah lihat. Mertuanya datang ke Jakarta bersama Rissa.
“Buka pintunya!” perintah Bara pada security. Ia terpaksa mempersilakan Rissa masuk ke kediamannya saat menyadari ada Ibu mertuanya yang ikut datang bersama sang kakak ipar. Bahkan, sejak tadi mungkin menyaksikan pertengkarannya dengan Rissa.
“Ibu," ucap Bara pelan, berlari mendekati mobil Rissa yang sudah berhenti melaju dan sekarang terparkir rapi di samping mobil sport hitamnya.
Bara segera membuka pintu mobil untuk mertuanya, mencium tangan wanita itu dan menggandengnya masuk ke dalam rumah. Kemarahan yang tadinya sempat terpampang nyata, sekarang hilang sudah. Ia sudah tidak sabar mempertemukan sang mertua dengan istrinya.
“Cih! Bahkan dia tidak mengundangku masuk ke rumahnya. Padahal aku sudah bersusah payah membawa pesanan istrinya yang sedang mengidam,” gerutu Rissa dalam hati.
Masih dengan menenteng bungkusan, Rissa berjalan menuju ke rumah. Mengekor di belakang Bara yang sedang membantu ibunya menapaki tangga menuju teras rumah.
***
Bella yang sempat mengintip dari jendela kamarnya, langsung berlari turun saat netranya menangkap bayangan Ibu dan kakaknya yang turun dari dalam mobil. Rindunya pada sang ibu sebentar lagi terbayar sudah.
Tepat saat Ibu Rosma menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu, Bella sudah menghambur dan memeluk ibunya.
“Ibu, apa kabar?” tanya Bella. Ia memilih duduk di lantai supaya bisa menidurkan kepalanya di pangkuan ibu Rosma. Sudah lama tidak bermanja-manja.
“Ibu baik-baik saja Ada Rissa yang menjaga Ibu selama ini,” sahut Ibu Rosma, mengelus pipi mulus Bella.
“Kenapa hamil tidak memberitahu Ibu?” tanya Ibu Rosma tiba-tiba.
“Kalau Rissa tidak memberitahu, Ibu seperti orang bodoh tidak mengetahui kalau putri kecilku sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu,” ucap Ibu Rosma berkaca-kaca.
Bara yang berdiri tidak jauh dari keduanya, hanya menatap. Tidak jauh berbeda dengan Rissa, yang sengaja memberi ruang untuk Ibu dan adiknya saling melepas rindu.
“Nih!” sodor Rissa, mengejutkan Bara.
“Apa ini?” tanya Bara heran. Namun, tetap saja ia menerima bungkusan yang disodorkan Rissa padanya.
“Rujak cingur untuk calon keponakanku!” sahut Rissa ketus. Wajahnya masih terlihat kesal dan tidak bersahabat setiap berhadapan dengan Bara.
Bara terkejut, sudah beberapa hari ini ia dipusingkan dengan makanan ini. Ia sudah mencari hampir di seluruh Jakarta. Setiap ada penjual rujak cingur, ia pasti akan meminta karyawannya membelikannya. Namun, tidak ada satu pun yang sesuai dengan selera dan lidah istrinya.
“Bagaimana bisa?” tanya Bara heran, tiba-tiba kakak iparnya bisa membawa rujak cingur untuk istrinya.
“Apanya?” tanya Rissa dengan santai. Jauh berbeda nada bicaranya saat menghubungi Bara di telepon beberapa hari yang lalu.
“Bagaimana perempuan murahan sepertimu bisa mengerti keinginan istriku?” tanya Bara sedikit kesal dengan raut tidak bersahabat Rissa yang ditujukan padanya.
***
T b c
Love You all.
Terima kasih.