Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 61. Permintaan Stella


Bara terkejut, masih dengan menggengam tangan mungil putri kecilnya. Ia baru saja akan masuk ke dalam restoran siap saji, tetapi tiba-tiba mendapati pinggangnya yang dipeluk erat seseorang dari belakang. Merasakan benturan yang hanya dari pinggang ke bawah, Bara bisa menebak kalau yang memeluknya bukanlah seorang dewasa.


“Kakak!” pekik Issabell.


Bara berbalik, terkejut saat melihat sosok yang hampir sepuluh tahun ini tidak pernah ditemuinya berdiri tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.


“Rania,” sapa Bara, setelah menguasai diri. Mendapati putrinya, Rania yang tiba-tibak memeluk pinggangnya.


“Rania, ayo kita pulang!” ajak wanita matang yang sedang memeluk map berlogo rumah sakit, berusaha menjaga jarak. Menolak mendekat bahkan saat ini wanita itu membuang pandangan.


Ya, ia adalah Brenda. Mantan istri Barata Wirayudaha, lebih tepatnya musuh bebuyutan yang sampai sekarang masih menabuh genderang perang saat keduanya bertemu.


“No, Mommy, Rania mau bersama Daddy sebentar,” pinta Rania, setengah memohon.


“Tidak! Kita pulang sekarang.” Brenda kembali mengajak putrinya pulang. Berjalan mendekat, tetapi ia membuang pandangannya ke samping. Tidak mau menatap Bara sama sekali. Perceraian benar-benar membuat mereka menjadi musuh selamanya. Tidak ada sapaan atau sekedar senyuman, bahkan Brenda tidak mau menatap Bara.


“Daddy, tolong aku. Rania masih mau bersama Daddy,” pinta Rania, saat diseret paksa sang mommy. Teriakan gadis itu semakin lama semakin mengecil, berakhir hilang di balik pintu keluar.


Bara hanya menatap, tidak bereaksi sama sekali. Terpaku melihat punggung Brenda dan Rania menghilang.


Pertemuan pertamanya dengan sang mantan, setelah perpisahaan mereka terakhir kali di depan pengadilan. Hampir sepuluh tahu terlewat sudah, Brenda tidak berubah. Masih Brenda yang sama.


Bara tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum. Apakah ia sudah belajar mengikhlaskan hubungan tidak sehat mereka yang berakhir tidak sesuai harapan. Atau hatinya sudah move on atau entahlah. Ia sendiri belum paham dengan perasaannya saat ini.


Yang Bara tahu, saat ini hidupnya hanya untuk wanita yang mengandung bayinya, yang sedang istirahat di lantai atas gedung ini. Dan sosok mungil yang sedang menggengam erat jemarinya.


“Ayo, kita makan. Daddy sudah lapar,” ajak Bara melenggang masuk ke dalam restoran.


Sepanjang acara makan siangnya, fokus Bara terbagi. Pertemuannya dengan Brenda sedikit banyak menggangu pikirannya. Walaupun wanita itu tidak sepatah pun bicara padanya, bahkan tidak menganggap kehadirannya, meliriknya pun tidak.


“Icca, Daddy yang menyuapimu, ya?” tawar Bara, mengambil alih sendok dari tangan putrinya. Nasi dan sup jagung di depan putrinya masih penuh, hanya diobrak-abrik gadis kecilnya yang tidak terbiasa makan sendiri.


Icca mengangguk dan membuka mulutnya lebar-lebar. Tidak membutuhkan waktu lama, semua isi piring sudah beralih ke dalam perut Issabell.


Secepat kilat keduanya naik ke lantai atas, menemui Bella yang hanya ditunggui pengasuh. Lidah Issabell terjulur keluar, mencecap permen lolipop. Bersama Bara, ia masuk ke dalam kamar perawatan dan menyapa Bella.


“Mami,” sapa Issabell dengan senyum ceria. Mengangkat kedua tangannya ke atas, berharap pengasuhnya bersedia membawanya duduk di atas ranjang.


“Bell, kamu belum makan?” tanya Bara, menatap piring yang masih belum tersentuh.


“Ini, Mbak,” Bara menyodorkan sekantong makanan yang dibelinya di bawah.


“Aku saja yang mengurusi Nyonya,” usir Bara, meminta pengasuh Issabell itu menyingkir.


Bara sudah menarik kursi, kian mendekat. Mengambil piring dari atas nampan dan mengaduk-aduk dengan sendok.


“Bell, aku suapi,” ucap Bara, tersenyum.


“Tapi aku tidak nafsu makan, Mas,” tolak Bella, menahan sendok yang sudah menunggu di luar bibirnya.


“Makan sedikit saja. Kasihan adek di dalam, dia juga butuh makanan,” bujuk Bara.


Bella tetap menggeleng, menatap suaminya, penuh cinta.


"Mas, duduk di sini saja," pinta Bella, menepuk tempat kosong di ranjang rumah sakit.


Issabell yang duduk di dekat kaki Bella tersenyum menatap keduanya. Berhambur duduk di atas pangkuan Bara.


"Kenapa jadi manja begini, Bell?" tanya Bara heran, merangkul pundak Bella.


"Mas, tadi kenapa lama sekali makan siangnya?" tanya Bella, menyandarkan kepalanya di pundak Bara.


Biasanya Bella akan menghindari kontak fisik dengannya apalagi di saat ada orang lain bersama mereka.


"Mas, kenapa tadi lama?" tanya Bella lagi.


"Icca makannya lama. Aku harus menyuapinya, baru dia bisa menghabiskan makan siangku," jelas Bara.


Kemesraan ketiganya itu terhenti, saat seorang perawat masuk, menganti botol infus. Bara segera membawa Issabell turun, merelakan perawat memeriksa Bella dengan teliti.


"Sus, kapan saya bisa pulang?" tanya Bella.


"Sabar ya, Bu, nanti kita tunggu dokter saja. Kondisi Ibu sudah jauh lebih baik, tadi masuk ke sini pucat sekali."


"Mas, aku mau pulang saja, ya? Aku sudah tidak apa-apa," rengek Bella. Sudah tidak betah dan nyaman tidur di rumah sakit. Apalagi, ia merasa kondisinya baik-baik saja.


Bara mendekat, berusaha menenangkan istrinya.


"Bell ...."


Kalimat Bara terpotong, ponsel di kantong celananya berdering.


"Stella ...."


Bara bergumam, menatap ponsel dengan heran. Ingatannya tentang Brenda, memenuhi otaknya kembali.


"Bell, aku angkat telepon dulu, ya," pinta Bara, bermaksud keluar ruangan. Tidak mau mengganggu perawat yang sedang memeriksa kondisi Bella.


"Ya, Ste."


Bara sudah berdiri di luar kamar, membelakangi pintu kamar.


"Mas Bara? Bisa minta tolong ke rumah?" tanya Stella dengan nada panik.


"Maaf, sebelumnya kalau merepotkan Mas, tetapi saya benar-benar tidak bisa meninggalkan kantor sekarang."


"Ada apa, Ste?" tanya Bara heran.


"Aku tidak tahu jelas ada masalah apa. Tapi bapak dan Ibu tadi meneleponku berulang kali, memintaku pulang. Aku ada rapat penting."


"Maksudnya bagaimana, Ste? Coba jelaskan?" tanya Bara.


"Rania, Mas. Kak Brenda sepertinya mengamuk dan melukai Rania. Kasihan anak itu mencari Mas Bara," cerita Stella.


Bara memijat pelipisnya, tidak tahu harus bagaimana. Bersandar di dinding, memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan. Ia sudah berstatus suami Bella. Terlepas cinta atau tidak, tetapi ia tidak bisa bersikap sembarangan di belakang istrinya.



Bara masuk kembali ke dalam ruang perawatan dengan langkah gontai, menghampiri Bella.


"Bell," panggil Bara, bingung.


***


T B C


Love you all


Terima kasih.