
“Hahaha.” Tawa Bara yang tiba-tiba, mengejutkan pasangan suami istri di depannya.
“Aku bukan anak tujuh belas tahun lagi, Pa. Begitu cinta, ayo menikah. Umurku sudah hampir empat puluh tahun. Berumah tangga bukan lagi karena cinta semata,” jelas Bara dengan tegas.
“Cinta bukan prioritasku lagi. Aku hanya ingin membahagiakan keluargaku ... anak dan istriku,” lanjut Bara, menatap tajam pada mantan ayah mertuanya.
Lelaki itu sudah melangkah menjauh dari pasangan yang pernah menjadi mertuanya tetapi ia berbalik lagi.
“Aku menerima Rania hanya karena istriku yang bersedia menolongnya, tetapi kalau kehadirannya menjadi duri di dalam rumah tanggaku ... dengan terpaksa aku akan mengembalikannya pada kalian,” ucapnya lagi. Bergegas pergi menemui Bella yang ditinggalkannya di mobil bersama sopir.
“Daddy, aku mau ikut Daddy,” pekik Rania, tiba-tiba keluar dari dalam kamar perawatan Brenda. Berlari mengejar Bara dan merengkuh lengan lelaki yang sudah dianggapnya ayah meskipun berulang kali sudah dijelaskan Brenda. Rania menutup mata, ia hanya ingin memiliki ayah seperti teman-temannya yang lain.
“Jangan menyusahkan Tante Bella lagi.” Bara mengingatkan. Di awal, ia sempat meminta Rania memanggil Bella dengan sebutan Mommy. Namun, melihat penolakan dari Rania di pertemuan pertama, Bara tidak pernah memaksa lagi. Rania sudah mulai bisa berpendapat, dan gadis itu juga mulai kritis dengan berbagai hal yang tidak disukainya.
“Ada adikmu di dalam perut Tante Bella. Daddy tidak mau sampai terjadi sesuatu,” lanjut Bara lagi.
Dengan menggandeng tangan Rania, ia terpaksa membawa pulang gadis itu. Ia tidak mau berdebat lagi dengan Bella. Setidaknya untuk saat ini, selama kehamilan Bella, Bara akan menurut untuk sementara. Selagi itu bisa dipenuhinya, apapun ia lakukan untuk istrinya.
Bella sedang memejamkan mata, sesekali memijat keningnya. Kepalanya mendadak pusing, keributan di dalam tadi membuat tubuhnya hilang keseimbangan.
Suara pintu mobil terbuka, memaksanya membuka mata. Tampak Bara berdiri di sisinya dan Rania yang masuk dari pintu sisi lain. Gadis itu menerobos masuk dan duduk di sebelah Bella.
“Pusing lagi?” tanya Bara, ikut membantu memijat pelipis istrinya.
“Sedikit, Mas,” sahutnya dengan manja.
“Bell, aku harus ke kantor sebentar. Setelah itu kita ke dokter kandunganmu. Bagaimana?” tawar Bara.
“Terserah Mas saja, tetapi Rania harus ke sekolah dulu.”
Bara mengalihkan pandangannya pada Rania, gadis itu sedang bersandar manja di lengan Bella.
“Ran, kamu diantar sopir ke sekolah, ya? Kasihan Tante sedang sakit, Daddy harus membawanya ke rumah sakit,” pinta Bara, memohon. Berharap pengertian dari gadis yang masih saja bergelayut manja di lengan Bella.
Dengan wajah cemberutnya Rania mengangguk. Meski ada keberatan, tetapi Rania tidak bisa menolak. Tadi, Rania sempat menguping dari balik kamar, ancaman Bara pada Opa dan omanya membuat Rania berpikir ulang untuk membuat masalah. Kalau tidak, ia bisa dikirim pulang. Ia masih ingin merasakan kasih sayang Bara.
“Pak, tolong antarkan Rania ke sekolah. Bella akan ikut bersamaku,” perintah Bara, menepuk pipi Rania, memberinya semangat.
Beralih ke Bella yang masih terlihat lemas. “Bell, mau digendong?” tanya Bara, sudah mengambil posisi membungkuk. Bersiap menyelipkan kedua tangannya di belakang tubuh istrinya.
“Tidak mau ... aku jalan sendiri saja, Mas.” Bella menolak malu-malu, setelah melihat Pak Rudi dan Rania ikut menyaksikan.
“Tidak masalah,” goda Bara, tetapi lelaki itu mengalah. Menuntun Bella berjalan menuju mobilnya, sesekali tersenyum melihat Bella yang lebih manis dari biasanya.
Sebelum ini, Bella selalu ketus bahkan menolaknya. Terkadang juga mengabaikannya, tidak mengurusinya seperti dulu. Ia harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri sekarang.
***
Keduanya sudah duduk manis di dalam mobil sport hitam Bara, kendaraan yang selalu menjadi andalan Bara untuk mengantarnya ke kantor.
“Masih pusing?” tanya Bara, sembari memasang seatbelt untuk istrinya.
Bella hanya menggeleng. Matanya beradu pandang dengan mata biru suaminya. Ia bisa melihat jelas garis rahang yang terlihat seksi, menggoda untuk disentuh.
Pagi ini suaminya terlihat sempurna dengan setelan hitam andalannya. Ada rasa takut seketika menyergap dirinya. Seandainya Bara meninggalkannya dan kembali pada Brenda seperti yang diinginkan Rania. Bagaimana nasibnya? Apalagi ia merasa Bara masih menyimpan cinta yang besar untuk mantan istrinya.
“Jangan meninggalkanku,” bisiknya hampir mau menangis. Teringat kembali permintaan Rania, ketakutan itu muncul tanpa diharapkannya.
“Hei, kenapa menangis? Aku tidak segila itu meninggalkanmu,” sahut Bara, tersenyum.
“Sudah, duduk yang manis di tempatmu. Semua akan baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan semua hal. Cukup pikirkan kehamilanmu. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian,” ucap Bara, berusaha menenangkan.
Sebuah ciuman dihadiahkan di kening Bella, beserta kecupan ringan di bibir mungil merona istrinya. Akhir-akhir ini mereka tidak memiliki waktu berdua dan bertukar cerita. Mood Bella berubah-ubah, itu membuatnya susah untuk mendekat. Ada kalanya istrinya manis tetapi beberapa detik kemudian kesal tanpa kejelasan.
“Bell, aku mohon jangan melibatkan diri terlalu jauh dengan keluarga Brenda. Aku khawatir,” ucap Bara.
“Begitu Pak Rudi menghubungiku, memberitahu kalau kamu bersama Rania sedang di rumah sakit, aku takut sekali. Kamu tidak mengenal mereka. Walau aku akui sebenarnya mereka orang baik, tetapi hati bisa berubah, tidak ada yang tahu.”
“Mas, kenapa aku merasa Rania itu aneh?”
“Maksudnya aneh bagaimana?” tanya Bara heran.
“Apa yang dia sampaikan padamu. Apa yang keluarga Brenda ceritakan padamu?” tanya Bara, panik.
Bara tidak mau Bella salah paham, tidak mau Bella mendengarnya sepihak. Masa lalunya terlalu berliku dan banyak masalah. Bahkan sampai sekarang masih membayang-bayangi kehidupan rumah tangganya.
“Tidak ada,” sahut Bella singka, tetapi pikiran buruk di otaknya enggan menjauh.
“Apa yang ingin kamu ketahui dari masa laluku dan Brenda? Aku akan menceritakan semuanya. Setelah itu tidak perlu ikut campur dan terlibat. Tidak perlu mencari tahu. Tutup mata dan telinga. Percayakan semua padaku saja. Aku tidak akan menyakitimu,” ucap Bara.
“Aku belum bisa percaya lagi padamu, Mas,” ucap Bella, pelan.
“Aku harus bagaimana? Apa ada yang kurang dari sikapku padamu? Apa perlakuanku padamu masih belum cukup untuk membuktikan kalau kamu adalah bagian terpenting di dalam hidupku, Bell,”
“Aku mau cintamu, Mas,” bisik Bella, pelan.
“Begitu pentingkah sebuah kata itu di dalam hidupmu? Sampai kamu menutup mata untuk semua yang kulakukan untukmu selama ini. Kamu tahu, ke mana pun kamu pergi, aku selalu melindungimu. Di mana pun itu. Bahkan aku meninggalkan pekerjaanku untukmu,” jelas Bara.
“Kalau sebuah kata lebih penting dari apa yang kulakukan untukmu selama ini, tidak masalah untukku. Aku bisa mengucapkan kata cinta puluhan kali, ratusan kali, atau ribuan kali supaya kamu puas mendengarnya.”
Bella terdiam. Baru kali ini Bara berbicara begitu panjang.
“Kesalahanku adalah mengabaikanmu selama dua tahun pernikahan kita. Aku membohongimu masalah Rissa, aku mengkhianatimu dengan mempermainkan perasaan Rissa. Aku minta maaf untuk itu.
Lama Bara terdiam, mengeratkan pegangannya di setir mobil.
“Bell, kalau kamu bertanya apa aku mencintai Brenda dulu, aku akan menjawab ya.”
“Apa yang tersisa sekarang? Tidak ada. Cintaku tidak cukup kuat untuk mempertahankan rumah tangga kami. Dan aku belajar banyak.”
Setetes air mata jatuh tiba-tiba. Entah terluka karena cinta yang diucapkan Bara untuk Brenda meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Atau menangis karena dimarahi Bara saat ini.
“Aku mohon berikan kepercayaan padaku saat ini. Aku berjanji suatu saat aku pasti mengucapkan kata cinta itu benar-benar dari hatiku, bukan hanya sekedar ucapan karena istriku yang sedang hamil ingin mendengarnya.”
“Di pernikahan kita, aku memulainya dari komitmen dan tanggung jawab. Dan aku juga berharap ada cinta pada akhirnya, tetapi aku pernah terluka. Untuk membuka diri lagi membutuhkan waktu. Apalagi di tengah masa lalu yang menghantam hidupku kembali. Aku benar-benar harus berjuang untuk itu,” jelas Bara.
***
T b c
Love You All.