
Bella mendengar dengan seksama, tidak ada reaksi apalagi setelahnya. Lebih banyak diam dan menunduk, sesekali memandang suaminya. Itupun hanya sekilas dan Bara tahu, istrinya sedang tidak baik-baik saja.
“Bell, aku jemput Icca di bawah, ya. Kamu habiskan makan siangnya,” ucap Bara, berpamitan. Berharap dengan kehadiran putrinya bersama mereka, suasana hati Bella mencair. Rasanya tidak nyaman didiamkan Bella seperti ini.
Tidak membutuhkan waktu lama, Bara sudah muncul kembali dengan menggendong Issabell, mengekor di belakang sang pengasuh yang membawa beberapa permen lolipop di tangan.
“Astaga Icca, kamu makan permen sebanyak itu?” Mata Bella membulat, saat menghitung satu per satu permen di tangan mbak pengasuh. Satu, dua, tiga, bahkan sampai delapan buah permen lolipop beraneka warna.
“Anaknya rewel, Nyonya. Jadi dibelikan banyak permen sama Pak Rudi,” sahut pengasuh berusaha menjelaskan. Dari awal ia sudah khawatir akan kemarahan majikannya, tetapi Issabell terus merengek dan menangis. Ia dan Pak Rudi tidak bisa apa-apa. Terpaksa menuruti keinginan Issabell yang tidak bisa ditolak.
Issabell sudah turun dari gendongan Bara, dengan senyum cerianya melompat naik ke atas pangkuan empuk Bella. Dalam hitungan detik, sudah terdengar suara berat Bara yang membujuk putrinya turun.
“Icca, jangan duduk di sana, nanti dedeknya terjepit,” ujar Bara.
“No, Daddy. Peyan-peyan ... ya mommy,” sahut Issabell, mengelus perut Bella, mengikuti apa yang sering Bara lakukan.
Selama masa kehamilan Bella, jangankan menggendong. Issabell bahkan tidak diperbolehkan untuk duduk di pangkuan Bella, ada-ada saja alasan Bara. Lelaki itu sebisa mungkin ikut menemani Issabell tidur hanya karena takut Bella ketiduran dan tanpa sengaja perutnya tertendang putri kecil mereka.
“Ayo, mommy suapin,” bujuk Bella, meraih sendok plastik yang memang dibawanya khusus untuk Issabell.
Bara kembali menatap istrinya, tetapi yang ditatap malah sebaliknya. Bella tetap fokus dengan sendok di tangan, menyuapkan makanan ke dalam mulut putrinya sehingga tidak bersisa.
Selesai sudah acara makan siang keluarga kecil itu. Bella merapikan kembali kotak-kotak makanan dan membersihkan sisa makanan yang tertumpah di atas meja kerja.
“Icca, ayo pamitan sama Daddy. Kita mau pulang sekarang,” pinta Bella pada putrinya yang sedang meloncat kegirangan di atas sofa. Suara celotehannya terdengar jelas memenuhi ruang kerja Bara.
“Beyum mau, Mommy. Nanti!” tolak Issabell. Terus meloncat, ditemani pengasuhnya yang berjaga di sisi sofa supaya tidak terjatuh.
Bara yang melihat ada kesempatan, segera meraih tangan Bella. Menarik istrinya keluar untuk mengikutinya. Membiarkan Issabell sementara dengan pengasuhnya tetap di ruangan.
“Ikut aku, Bell,” pinta Bara. Sejak tadi, lelaki itu mencari peluang untuk bisa bicara berdua dengan istrinya. Rasanya tidak enak didiamkan, padahal ia sudah mencoba jujur dan merasa tidak ada yang ditutupinya lagi. Semua kisah masa lalunya sudah dibukanya semua.
“Mas, kita mau ke mana?” tanya Bella heran.
Sejak mendengar penjelasan Bara, ia mengunci mulutnya rapat-rapat. Hanya sesekali bicara, itupun dengan putri atau pengasuh Issabell.
“Bell, kamu kenapa?” tanya Bara. Ia membawa istrinya ke ruang rapat, supaya bisa bicara dengan leluasa.
“Tidak ada, Mas. Aku hanya ingin pulang. Aku mengantuk sekali,” jawab Bella, duduk pelan di salah satu kursi yang mengelilingi meja oval memanjang.
Bella menggeleng, masih berusaha menutupi perasaannya yang terluka.
“Aku tidak mau melihatmu seperti ini. Katakan! Aku harus bagaimana supaya kamu baik-baik saja, Bell?” tanya Bara.
Sejak kepergian Brenda, Bara bisa menangkap perubahan sikap istrinya. Melihat gerak-gerik dan bahasa tubuh Bella, ditambah diamnya sang istri menambah keyakinan Bara kalau ada yang tidak beres.
“Aku baik-baik saja, Mas.”
“Tidak. Katakan padaku, apa yang tidak kamu sukai. Aku akan mengikuti semua kemauanmu. Aku tidak mau kamu stres dan banyak pikiran. Kasihan bayi kita, Bell,” ujar Bara, menggengam tangan istrinya.
Bella terkejut, beralih menatap suaminya.
“Mas, aku tidak mau melihatmu bertemu dengan mantan istrimu lagi,” pinta Bella dengan wajah datar. Tidak ada senyuman seperti biasanya.
“Ya, aku berjanji tidak akan menemuinya dan tidak akan membiarkannya menginjakan kaki di kantor ini lagi. Apalagi?” tanya Bara, siap mendengar semua permintaan istrinya.
Saat ini yang terpenting untuknya adalah perasaan Bella. Ia tidak mau istrinya tertekan dan banyak pikiran.
“Sudah, Bell. Kalau aku salah, aku minta maaf. Tapi jangan seperti ini,” ujar Bara, tersenyum.
“Sini ... peluk aku,” pinta Bara, segera meraih tubuh istrinya. Mendekap erat, sesekali mengelus lembut punggung Bella.
“Jangan bersedih, aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Aku tidak ada perasaan apa-apa lagi padanya. Aku hanya simpati karena penyakitnya. Dan kasihan pada kedua orang tuanya, yang dulu juga pernah menjadi orang tuaku selama kami terikat pernikahan.”
Bella tersenyum datar. “Kalau Mas melanggar janji, aku tidak akan segan-segan meninggalkanmu!” ancam Bella. Segera melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ia sudah berjalan keluar ruangan dan meninggalkan Bara.
***
T b c
Love You all
Terima kasih