Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 123. Menyambut ledakan Bara


Bola mata Bara hampir keluar mendengar penjelasan Bella.


“Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Aku akan memanggil perawat dan dokter untuk memeriksamu!” perintah Bara.


Lelaki itu sudah berlari keluar. Kepanikan karena kehilangan Issabell yang sempat mereda, sekarang muncul kembali. Berganti kepanikan karena Bella dan bayi di dalam kandungannya. Sejak sore ia mengabaikan Bella karena panik. Tidak sampai di situ saja, ia bahkan sempat memarahi istrinya.


Dengan memendam kesal pada diri sendiri, Bara melesat menemui perawat dan meminta dokter jaga memeriksa Bella. Lelaki itu sudah siap mengacau, andai kata perawat dan sang dokter tidak mau diajak bekerja sama.


Tidak lama, Bara sudah kembali ke kamar dengan harap-harap cemas. Mengekor di belakang seorang perawat yang dipaksa Bara mengikutinya.


“Tolong, Sus,” ucap Bara menunjuk ke arah Bella.


Istriku sedang hamil dan sempat terjatuh. Aku khawatir dengan kandungannya,” jelas Bara. Lelaki itu berjongkok di sisi Bella yang masih betah duduk di sofa, menjulurkan kedua kakinya mempersilakan perawat membersihkannya.


Perawat wanita itu terlihat menyapu luka di kedua lutut Bella dengan kapas yang sebelumnya diteteskan alkohol. Tidak lama, diberi cairan obat merah yang dituang di atas kapas, ditempel dan diplester.


“Sudah?” tanya Bara, sibuk mengelus perut istrinya, seakan menenangkan bayinya di dalam sana.


“Ya. Untuk kandungan ibunya ... apa ada keluhan?” tanya sang perawat.


“Sakit, nyeri, kram atau ada flek?”


Bella menggeleng. “Aku baik-baik saja, Sus,” sahut Bella. Sedikit keberatan karena sakit yang terlalu dibesar-besarkan suaminya.


“Kalau memang Ibu mau melakukan pemeriksaan bisa mendaftar di bagian administrasi, tetapi kalau malam seperti ini sudah tidak ada dokter kandungan yang praktik. Hanya ada dokter jaga,” jelas sang perawat.


Bella mengangguk pertanda mengerti, berbeda dengan Bara yang masih saja tidak tenang. Sepeninggalan perawat, Bara bertambah gusar. Bertanya berulang kali pada Bella bagaimana kondisi perutnya, sampai istrinya itu malas menjawab.


“Mas, aku pulang saja, ya. Aku mau istirahat,” ucap Bella, akhirnya. Terlalu lelah meladeni Bara yang panik dan khawatir berlebihan.


“Tidak. Kamu tidak boleh ke mana-mana. Ayo kita periksa saja ke dokter yang ada. Aku takut terjadi sesuatu pada bayi kita,” ucap Bara, masih saja mengusap perut Bella.


“Kenapa perutnya terasa aneh, Bell? Sepertinya lebih kecil dari biasanya,” ujar Bara, menduga-duga.


“Masih ada pergerakan di dalam sana kan, Bell?” tanya Bara lagi memastikan.


“Aneh apanya sih Mas? Ini biasa saja. Aku baik- baik saja, tidak perlu berlebihan, Mas,” celetuk Bella.


Diabaikan Bara, diomeli Bara, dibentak Bara rasanya Bella masih bisa menerima meskipun kecewa dan sedih, tetapi ketika diberi perhatian yang berlebihan seperti ini Bella malah kesal sendiri.


“Tadi waktu jatuh posisinya bagaimana?” tanya Bara, masih berjongkok dan mengelus bayinya. Ia meminta Bella duduk bersandar di sofa supaya perutnya tidak bertekuk.


“Kasihan nanti anakku terjepit,” jelas Bara, membuat Bella menggelengkan kepala.


Meladeni Bara, membuat Bella semakin kesal. Saat mengetahui Issabell menghilang, lelaki itu seperti orang gila. Mengomel, membentak semua orang. Dari istrinya, pengasuh, asisten rumah, security sampai ke sopir. Hanya Ibu Rosma yang tidak kena semprotan Bara, dan sekarang lelaki itu tidak kalah gilanya seperti tadi sore.


“Mas, sudah. Aku baik-baik saja,” jelas Bella.


“Sini coba Mas dengar,” ucap Bella, meminta suaminya agar menempelkan telinga ke perutnya.


Bara menurut, mengikuti apa yang disuruh istrinya.


“Kenapa, Bell?” tanya Bara heran, tidak bisa mendengar suara apa pun.


“Anakmu sudah mengantuk di dalam sini, tetapi suaramu itu berisik, Mas. Dia tidak bisa tidur,” sindir


Bella.


Bara tertegun, mengulum senyumannya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Sudah Mas, aku mau pulang saja, ya.” pamit Bella, berjalan perlahan menuju brankar, mencium kening Issabell.


Melihat putri kecilnya yang tertidur pulas, rasanya enggan pulang. Namun, kalau memaksa tetap bertahan di sini, ia akan semakin kesal dengan sikap Bara yang berlebihan.


“Icca, Mommy pulang dulu. Nanti Icca sama Daddy, ya,” bisik Bella pelan, kembali mengecup kening Issabell dan mengusap lembut pelipis putrinya.


“Mommy," teriaknya, sambil menangis histeris.


Bara yang masih mematung di tempat, langsung berlari menghampiri dan memastikan kalau putrinya baik-baik saja.


“Mommy ... om jahat,” isaknya ketakutan.


“Ya, Icca cuma bermimpi. Tidak ada Om jahat. Di sini hanya ada Mommy dan Daddy,” bujuk Bella, tersenyum, berusaha menenangkan. Tangannya mengusap lembut punggung Issabell yang bergelayut manja padanya.


“Daddy di sini,” bisik Bara, mengecup pelipis Issabell. Tadinya lelaki itu ingin mengambil alih menggendong Issabell, tetapi putrinya seperti enggan terpisah dari mommynya.


Tangisan Issabell masih belum reda. Gadis kecil itu bahkan tidak mau lepas dari gendongan Bella. Memeluk leher mommynya mencari perlindungan dan kenyamanan. Sorot matanya masih menyiratkan ketakutan.


“Icca sama Daddy, ya. Kasihan Mommy,” bujuk Bara, meraih Issabel dari belakang dan menidurkan putrinya itu di pundak.


“Bell, tolong panggilkan perawat. Aku harus memastikan Icca baik-baik saja,” pinta Bara.


Lelaki itu mondar mandir mengitari ruangan demi menenangkan Issabell. Tangannya pun masih mengusap, memberi kehangatan untuk putrinya. Memang Issabell bukan putri kandungnya, tetapi Issabell sudah bersamanya sejak masih bayi merah.


Bagi Bara, sayangnya pada Issabell dengan sayangnya pada bayi di dalam kandungan Bella sama. Tidak ada bedanya. Kelak pun, Issabell akan tetap jadi putri tertuanya. Putri yang membawa nama besar Wirayudha, meskipun tidak mengalir darahnya.


***


Keesokan siang.


Bella yang semalam berencana pulang, harus tertahan karena Issabell yang tidak mengizinkannya. Jadi, semalaman ia dan Bara harus tidur di kamar rawat inap menemani Issabell.


Mereka baru bisa membawa Issabell pulang, setelah dokter memastikan putri kecil mereka baik-baik saja.


“Bell, Icca tidur?” tanya Bara, memijat pelipisnya setelah semalaman tidak bisa tidur. Issabell yang rewel semalaman, tidak betah di rumah sakit, memaksanya terjaga dan menggendong putrinya itu sepanjang malam. Berbeda dengan Bella yang bisa tidur, karena Bara tidak mengizinkan istrinya yang sedang hamil itu bergadang.


“Sudah,” sahut Bella, mendekap Issabell yang lelap di pangkuannya.


Bara bisa bernapas lega, bersandar dan memejamkan matanya sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah.


“Mas, jadi balik ke Jakarta sore ini?” tanya Bella, menoleh ke arah Bara yang duduk di sisinya.


“Hmmm,” gumam Bara, setengah tertidur.


Mendapati itu, Bella mengalah. Tidak tega membangunkan suaminya yang sudah lelah semalaman mengurus Issabell di rumah sakit. Memilih fokus menikmati jalanan sambil sesekali mengobrol dengan Pak Rudi.


Tidak lama, mobil mereka masuk ke pekarangan rumah. Bella yang masih terjaga, menatap heran pada mobil Range Rover hitam yang terparkir di depan rumah.


“Aneh. Mobil siapa itu?” tanya Bella pelan.


“Sepertinya ada tamu, Nyonya,” sahut Pak Rudi yang mendengar pertanyaan Bella.


Keheranan Bella berubah menjadi keterkejutan saat matanya menangkap sosok laki-laki asing tapi seperti pernah bertemu dengannya.


“Siapa dia?” batin Bella.


Mata indah bermanik hitam itu membulat, napasnya pun memburu saat otaknya mengingat sosok tampan meskipun tidak setampan suaminya, yang berdiri di teras rumah mengobrol dengan ibunya.


“Ya Tuhan,” cicit Bella, langsung memandang Bara yang masih tertidur. Ia bersiap menyambut ledakan saat suaminya itu terbangun.


***


T b c


Love you all


Terima kasih.