Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 163 : Kembali pulang


Tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Bella diizinkan pulang dan beristirahat di rumah. Tentunya, dengan segala persyaratan yang harus disanggupi. Bella harus benar-benar bedrest total. Kejadian ini membuat pasangan suami istri itu saling menjaga dan bekerjasama. Lebih mendekatkan hati keduanya, yang selama ini memang jarang bisa berbagi banyak hal.


Mungkin awal pernikahan yang tidak didasari cinta, membuat Bara dan Bella harus ekstra berjuang untuk lebih saling memahami satu sama lain. Apalagi sifat keduanya yang bertolak belakang tetapi saling mengisi. Bella yang lemah lembut, keibuan dengan sisi kekanak-kanakan yang terkadang masih sering muncul. Bara yang meledak-ledak, mudah cemburu dan susah mengontrol emosi.


“Bell, langsung ke kamar, ya?” tanya Bara begitu turun dari mobil. Kedua tangan kekar Bara sedang membawa istrinya ke dalam gendongan, dengan tangan Bella membelit leher suaminya.


“Ya, Mas. Nanti minta anak-anak menemaniku. Aku akan mati kebosanan di dalam kamar sendirian.”


“Ya, Sweetheart.” Bara tersenyum setelah mencuri kecupan di kening Bella.


“Mas, nanti ke kantor?” tanya Bella. Selama tiga hari ditemani Bara siang malam, ada rasa yang hilang ketika ditinggalkan lagi.


“Maunya?” Bara balik bertanya. Senyuman di bibir laki-laki itu terlihat manis, mengandung banyak arti.


“Maunya ... Mas di rumah saja, menemaniku sehari lagi.” Bella menjawab dengan ragu. Manjanya tiba-tiba muncul.


Tanpa diduga, jawaban yang diharapkan Bella terdengar keluar dari bibir Bara. “Ya, aku tidak ke kantor hari ini. Cepat sehat, aku sedih melihatmu tidak bisa apa-apa seperti ini. Mau menjenguk jagoanku saja tidak bisa.”


Pukulan mendarat di pundak Bara. Bisa-bisanya berpikir mesum di saat seperti ini. Ucapan tidak tahu malunya itu sontak membuat pipi Bella bak kepiting rebus. Bara mengucapkannya saat mereka melewati ruang keluarga, dimana para asiten berkumpul, sedang menemani anak-anak bermain. Ada opa dan oma Rania juga yang ikut meramaikan suasana.


“Ma, Pa, aku membawa Bella ke kamar dulu,” pamit Bara, menggendong Bella ala bridal style. Anak-anak yang sedang serius bermain monopoli langsung menghambur saat melihat kedatangan Bella yang tiba-tiba.


“Mommy ....” Issabell berteriak pelan sembari meloncat kegirangan,


Lain Issabell, lain pula Rania. Gadis tanggung itu langsung mengekor di belakang Bara sambil menggandeng Issabell. Kebetulan sekolah libur, keduanya bisa menikmati liburan di rumah seharian.


“Mommy, apa adeknya sudah mau keluar?” tanya Rania. Duduk di sisi tempat tidur setelah Bara merebahkan sang bunda.


“Masih lama, Kak.” Bella menjawab sambil tersenyum. Pandangan ibu muda itu beralih pada Issabell. Gadis kecilnya sudah naik ke atas tempat tidur, mengelus perut buncit Bella dengan tangan mungilnya,


“Mommy, dede sakit?” tanyanya dengan suara dan intonasi khas anak-anak.


“Sudah tidak, Sayang. Icca nakal tidak selama mommy tidak ada di rumah?” Bella balik bertanya. Ibu dari dua orang putri itu terlihat mengusap rambut Issabell yang berantakan. Kuncirnya asal-asalan.


“Dek, siapa yang menguncir rambutmu? Kenapa jadi aneh begini?” tanya Bella merapikan anak rambut yang berdiri tidak teratur.


“Kakak, Mi. Adek tidak mau dikuncir mbak. Katanya tidak cantik. Mau dikuncir sama seperti kakak.” Rania menjelaskan, sembari memainkan kuncir rambut miliknya yang tidak kalah berantakannya, kurang lebih sama dengan rambut Issabell.


“Kemari, Daddy sudah lama tidak memeluk Icca.” Bara ikut menjatuhkan dirinya di tepi ranjang. Sejak tadi laki-laki itu hanya menyimak obrolan kedua putrinya.


“Icca tidak merindukan daddy?” tanya Bara, meraih tubuh mungil Issabell dan membawanya duduk di pangkuan. Laki-laki yang sejak kecil sudah terbiasa menangani Issabell, segera melepas kunciran rambut yang berantakan dan mengikatnya ulang.


“Lindu ... daddy!!” celotehnya, berbalik dan merengkuh leher Bara dengan kedua tangannya.


“Kak ... sini!” Bara menepuk ranjang kosong di sebelahnya.


“Sekolahnya bagaimana, Kak?” tanya Bara.


“Baik Dad.”


“Tidak nakal di rumah, kan?” tanya Bara.


Mendengar ucapan Rania, Issabell langsung protes dengan bahasa anak-anak yang tidak begitu jelas. Kedua gadis kecil itu kembali berdebat dan bertengkar mulut yang berujung dengan tangisan Issabell. Semakin kencang dan tidak bisa didiamkan.


“Kak ....” Terdengar suara Bella akhirnya, saat Bara yang kewalahan menangani tangisan dan teriakan Issabell yang tidak mau kalah dari kakaknya.


“Maaf Mommy ....” Pada akhirnya Rania mengalah, mendekati sang adik dan membujuk Issabell.


Ayo, jalan-jalan lagi, ajak Mbak! Ke rumah hello kitty yang di ujung komplek,” bujuk Rania supaya adiknya berhenti menangis.


“Kak ...”


Ucapan Rania, mengingatkan Bara akan masalah yang selama tiga hari ini sempat terlupakan. Ya, masalah Roland yang sampai sekarang belum terselesaikan. Otaknya sedang merangkai cerita dan kisah yang mereka lewati selama ini. Dan Bara mencurigai salah satu dari pekerjanya terlibat.


Rania menoleh.


“Bisa ikut daddy sebentar. Ada yang mau daddy tanyakan.”


“Ca, sama mommy sebentar, ya. Ada yang harus daddy bicarakan dengan kakak,” pinta Bara, menggendong putri kecilnya dan mendudukannya di atas ranjang bersama Bella. Bara sengaja tidak menceritakan apa pun saat ini. Kondisi Bella, membuatnya tidak bisa berbagi banyak hal.


“Sayang, aku keluar sebentar. Ada perlu dengan kakak.” Bara meminta izin istrinya.


***


“Dad, Icca sering dibawa mbak jalan-jalan keliling komplek kalau sore. Pernah sewaktu kakak pulang les, Kakak lihat Icca main di rumah besar yang di tikungan. Yang ada pohon rambutan,” adu Rania dengan polosnya.


“Memang sering, Kak?” tanya Bara, dengan mata memerah. Emosinya sudah mulai timbul tenggelam. Dia sengaja membawa putri sulungnya itu bicara di ruang kerja, jadi tidak terdengar penghuni rumah yang lain.


Rania mengangguk. Selama daddy dan mommy di rumah sakit, Icca pasti pergi dengan mbak setiap sore, baru pulang itu kalau sudah menjelang petang. Sampai dicariin sama Opa kemarin sore. Karena mbak tidak kembali sampai menjelang makan malam.”


“Icca tidak cerita apa-apa?” tanya Bara lagi.


Rania menggeleng. “Hanya cerita kalau dia pergi ke rumah hello kitty.”


Mendengar cerita Rania, pikiran Bara mulai merangkai kisah. Apalagi mengingat saat peristiwa penculikan Issabell di Surabaya, pengasuh itu adalah orang yang harus dimintai pertanggungjawaban. Issabell hilang saat bermain bersamanya.


“Kak, kembali ke kamar mommy. Jangan keluar, sebelum daddy ke sana. Jaga adek,” perintah Bara, mengusir putrinya,


Tanpa mengorek cerita lebih jauh lagi, Bara sudah keluar dengan amarah tertahan. Setengah berteriak mencari pengasuh putrinya, gadis muda yang sudah bekerja dengannya sejak Issabell masih bayi.


“Mbak!”


“Mbak!” Teriakan Bara begitu mengelegar. Mengejutkan seluruh penghuni rumah. Beruntung kamar tidur mereka di lantai dua dan kedap suara. Kalau tidak, Bara yakin Bella pun akan panik mendengar suaranya yang mengerikan.


“Minta pengasuhnya Icca menemuiku di ruang kerja, CEPAT!!” Bara memberi perintah saat di ruang keluarga berpapasan dengan asisten rumah tangganya.


***


TBC