Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 98. Ulah Kailla


Bara terlihat duduk menunggu di ruang tunggu rumah sakit, istrinya Bella sedang diperiksa tensi dan berat badannya. Persyaratan umum setiap masuk ke ruangan dokter. Lelaki tampan itu sudah tidak sabar untuk bertemu calon bayi mereka.



Ini adalah pemeriksaan pertama, sebelumnya mereka belum pernah melakukan pemeriksaan. Kecuali saat pertama dinyatakan hamil, di mana kondisi Bella drop dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.


“Bagaimana, Bell?” tanya Bara, tersenyum. Menarik tangan istrinya untuk duduk di sampingnya.


“Baik, Mas. Berat dan tensinya bagus. Hanya sedikit turun dari kemarin sewaktu dirawat,” jawab Bella.


Keduanya terpaksa menunggu bersama pasien lain. Beruntung dokter yang menangani Bella bukanlah dokter yang terlalu ramai sekali. Di mana harus booking sebulan sebelumnya.


Satu jam menunggu, Bella sudah setengah mengantuk bersandar di bahu Bara. Sesekali tertunduk ke depan. Beruntung Bara sigap, menahan kepala istrinya sembari tersenyum.


Sisi lain Bella yang tidak pernah dilihatnya kala istrinya itu tidak hamil. Bella bukanlah istrinya yang manja, selalu mengalah dan berusaha mengerti keadaannya. Jarang sekali Bella membuat masalah, kecuali di kehamilannya. Mood berubah, gampang marah, emosi naik turun dan tentunya sering meminta hal aneh-aneh.


Tidak lama seorang suster keluar dengan memeluk map di tangan, menyerukan nama Bella Cantika.


“Bell, bangun. Sudah giliran kita,” panggil Bara, menepuk lembut pipi istrinya.


Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah masuk ke dalam ruangan dokter. Seorang dokter wanita kira-kira berusia setengah abad tersenyum menyambut keduanya dengan ramah.


“Bagaiamana Ibu?” tanyanya sopan.


“Ada keluhan?” tanya sang dokter bertanya lagi.


“Tidak ada, Dok. Mual dan muntah di pagi hari juga sudah mulai berkurang,” sahut Bella.


Dokter wanita itu tampak mengangguk, mendengar semua informasi yang disampaikan Bella. Sesekali menimpali. Bara yang tidak mengerti apa-apa, hanya diam dan menyimak. Ia sebagai suami memang tidak pernah dilibatkan Bella, bahkan istrinya itu tidak mengeluh sama sekali.


Bella hanya mencarinya saat menginginkan sesuatu. Ada secuil rasa bersalah, mendengar beberapa keluhan Bella yang baru diketahuinya.


Perbincangan itu ditutup dengan pemeriksaan usg. Bella yang sudah diminta berbaring di brankar dengan ditemani seorang perawat, terlihat menaikan blusnya, memamerkan perut ratanya untuk keperluan pemeriksaan.


Bara terharu saat layar hitam putih memperlihatkan sesuatu di monitor. Meskipun ia tidak mengerti apa yag dilihatnya dan tidak terlihat bentuknya. Hanya sebuah titik kecil, tetapi ada sebuah kehangatan menyelimuti hatinya. Ini adalah salah satu perjalanannya menjadi seorang ayah.


Bara sangat menikmati detik-detik yang akan mengantarkannya pada satu pencapaian lagi, titik di mana ia akan semakin matang dan dewasa lagi.


Kebahagiaan berbeda di saat ia memenangkan tender atau proyek. Kegembiraan yang berbeda di saat perusahaannya berhasil mencetak keuntungan puluhan miliar.


Kalau tidak ada dokter dan perawat, saat ini bisa dipastikan ia akan menangis tersedu-sedu.


“Terima kasih, Bell,” bisiknya pelan, menggenggam tangan istrinya. Mata biru tidak lepas sedikit pun dari monitor, mendengar penjelasan dokter dengan seksama.


“Delapan minggu,” ucap dokter, membuat Bara menghitung maju, kapan saatnya bayi mereka akan lahir ke dunia. Rasanya sudah tidak sabar untuk berkumpul dengan bayi mereka, Wirayudha sesungguhnya.


Rasa hangat dan haru itu masih terbawa saat keduanya sudah duduk manis di dalam mobil. Tangan Bara tidak lepas menggenggam tangan istrinya sejak dari rumah sakit. Sembari menyetir pun ia masih belum rela melepas, sesekali mengusap perut Bella dengan lembut.


“Terima kasih, Sweetheart.”


Ucapan yang berulang kali keluar dari bibir Bara. Rasanya beribu ucap pun tidak sebanding dengan kegembiraannya.


Tepat di perempatan lampu merah, saat mobil sport harus berhenti. Bara langsung melepas seatbelt, dan menyeberangkan tubuh kekarnya mendekati sang istri yang duduk di kursi sebelah.


Kecupan hangat dilabuhkan di bibir tipis Bella tiba-tiba. “Aku menyayangimu,” bisiknya di sela l”umatan ringan.


***


Keesokan harinya, sepulang dari kampus Kailla mampir ke kediaman Bella membawa Ricko dan Sam besertanya. Tidak membutuhkan waktu lama, jalanan ibu kota yang bersahabat membawa mereka ke pusat perbelanjaan ternama, di mana Kailla biasanya berburu tas dan sepatu branded.


“Ayo, Boo!” ajak Kailla, masuk setelah memerintahkan Ricko menunggu di mobil. Hanya mengizinkan Sam yang ikut masuk bersama mereka.


Bella menurut, sebagai pendatang baru di ibu kota, jelas ia tidak mengetahui dengan jelas mal-mal kebanggaan Jakarta. Bahkan selama tinggal di Jakarta, ia banyak menghabiskan waktu di rumah mengurus putrinya, Issabell. Kehidupannya jauh berbeda dengan Kailla.


“Boo, kita cari makan dulu, ya.” Kailla menggandeng masuk teman baiknya itu ke dalam salah satu restoran.


Bella hanya bisa mengekor, mengikuti ke mana langkah Kailla menyeretnya.


“Pelan-pelan, Kai,” pinta Bella.


“Oops, aku lupa. Kamu sedang hamil ya,” ucap Kailla memperlambat langkah kakinya, menyesuaikan dengan Bella yang berjalan perlahan.


“Ah, aku merindukan saat-saat hamil sepertimu itu, Boo,” celetuk Kailla, saat menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di bangku sebuah restoran.


“Kai, jangan terlalu lama, ya. Aku takut Mas Bara mencariku,” ucap Bella sedikit sungkan.


“Ah kamu, Boo ... tiap hari cuma duduk di rumah. Apa tidak bosan? Lagi pula sudah izin suamimu, kan?” tanya Kailla dianggukin Bella segera.


“Suamimu 'kan baik, Boo, tidak pernah marah. Suamiku ... kamu tidak tahu,” jelas Bella.


“Sini, kalau dia marah-marah biarkan aku yang menghadapinya. Apa tidak kasihan istrinya dikurung terus,” sahut Kailla.


Terbahak, memikirkan dirinya pun bernasib sama di balik semua kebebasan semu yang dipamerkannya pada Bella. Bahkan Pram lebih panjang omelannya, hanya saja Kailla pembangkang. Diomeli sebentar, nanti diulangi lagi.


Acara makan itu pun usai dengan obrolan ngalur-ngidul membahas mahasiswa tampan di kampus sampai suami cerewet dan tua mereka yang hampir seumuran.


“Boo, ayo kita ke sana. Ada outlet yang lagi diskon besar-besaran,” ajak Kailla. Bella menoleh sekilas, Kailla sudah berdiri di sampingnya.



“Kita habiskan uang para suami,” lanjutnya lagi tersenyum, sembari menggesekan jempol dan telunjuknya menggoda Bella.



Sam yang sejak tadi hanya menyimak sudah mulai ketar-ketir saat mendengar ucapan Kailla yang tersemat kata diskonan di dalamnya. Seperti yang sudah-sudah, setiap ada diskon akan terjadi perebutan barang. Dan majikannya itu tidak mau mengalah, berakhir dengan keributan. Boleh dikatakan Sam sudah sering ditahan security karena ulah Kailla.


Bella menurut, mengikuti jejak langkah sahabatnya itu. Sam yang mengekor di belakang dua wanita cantik itu hanya bisa mengurut dada. Ingin rasanya memperingati Bella, tetapi apa daya, ia hanya seorang asisten. Omongannya tidak akan didengar.


***


Keduanya sudah masuk ke dalam outlet sepatu dengan brand ternama. Bukan hanya mereka, ada banyak para wanita cantik mengerubungi outlet yang tertera buy one get one free di depan pintu masuk.


Mengelilingi hampir semua etalase, tiba-tiba Bella tertarik dengan sepatu flat hitam. Baru saja ia menyentuh ujung sepatu, tiba-tiba dari arah belakang datang seorang wanita menyerobot sepatu yang sama. Terpaksa Bella harus mengalah dengan raut tidak rela.


Kailla melihat itu, langsung naik pitam. Terjadilah perang mulut, berakhir dengan jambak-jambakan. Keduanya sama sekali tidak mau mengalah.


“Kurang ajar! Kamu melihat sendiri temanku sudah menyentuh hendak mengambilnya. Kenapa diserobot?” omel Kailla, kedua tangannya ditahan Sam dan Bella, supaya Kailla tidak melanjutkan pertengkarannya.


“Siapa cepat siapa dapat, Sayang!” sahut sang wanita, memperlihatkan raut mengejek dan menjulurkan lidahnya ke arah Kailla.


“Aku harus memberinya pelajaran!” gerutu Kailla sudah siap kembali melancarkan serangan.


“Sudah, Kai ... sudah. Biarkan saja.” Bella mencoba menenangkan.


“Tidak bisa, Boo. Kamu itu sedang hamil, kalau menginginkan sesuatu harus kesampaian.” Kailla beralasan.


Terjadilah perang mulut, sampai kontak fisik antara Kailla dan sang wanita. Pertengkaran itu disaksikan puluhan pasang mata yang ikut menonton keramaian yang tidak berkesudahan meskipun sudah dilerai security dan karyawan toko.


Dan pada akhirnya, seperti biasa semuanya berakhir di kantor security mal. Bella tertunduk malu. Tidak terlalu jauh dari tempat Bella duduk, terlihat Kailla yang berdiri dengan bertolak pinggang dan mata berapi-api ditahan oleh Sam.


Sang wanita lawan seteru juga tidak mau kalah, berdiri berhadapan dengan Kailla saling melempar ejekan.


Bella hanya bisa memijat pelipisnya, kepalanya pusing seketika. Berusaha menghubungi suaminya, meminta bantuan. Ia tidak bisa menunggu lagi saat security memintanya menghubungi pihak keluarga untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.


Melihat reaksi Kailla dan lawan seterunya, haruslah mencapai jalan damai baru bisa dilepaskan. Bagaimana tidak, di dalam kantor security pun, keduanya masih baku hantam. Apalagi dilepas begitu saja, pasti akan terjadi hal mengerikan.


“Tolong hubungi pihak keluarga,” perintah security kepada keduanya.


“Ini keluargaku! Bapak 'kan sudah hafal suamiku,” ucap Kailla menunjuk ke arah Sam yang selalu menjadi suami pura-puranya. Yang menjamin setiap ia bertengkar. Bukan kali pertama mereka masuk ke ruangan ini, Kaila sudah sering digiring ke sini.


“Ya sudah, tinggal Ibu ini,” ucap security menunjuk ke arah lawan seteru Kailla.


***


Bella yang sejak tadi duduk diam, berhasil menghubungi Bara. Lelaki itu panik. Dengan kesal menghubungi Pram yang sedang rapat. Mengomel tidak jelas, tanpa menceritakan duduk perkaranya.


“Pram, cepat urusi istrimu!” teriak Bara di telepon. Ia sedang dalam perjalanan menuju mal tempat istrinya bermasalah.


“Ada apa, Bar?” tanya Pram masih bersikap tenang.


“Istrimu itu membuat istriku dalam masalah! Cepat seret, bawa pulang istrimu! Aku akan mengirim lokasinya.”


Tut—


Tanpa menunggu Pram menjawab, Bara sudah memutuskan panggilan sepihak.


***


T b c


Terima kasih


Love you all