
Hati Bella tersentak. Bagai ditusuk belati berulang kali. Di tengah usahanya untuk bisa mencintai suaminya dengan sepenuh hati, sebaliknya Bara malah berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh cinta padanya.
“Ya Tuhan, apa salah dan dosaku. Kenapa aku diberi ujian seberat ini,” ucap Bella.
Ingin rasanya berteriak, menumpahkan segala pedih hatinya. Suami tempat berbaginya, tempatnya berlindung, tempatnya berpegang di kala jatuh atau tertatih. Namun, sebaliknya menjadi orang yang paling menyakitinya.
Ucapan Rissa berputar kembali, Bella ingat bagaimana kakaknya yang begitu menolak keras hubungannya dengan Bara. Bahkan kakaknya tidak mengizinkannya untuk hamil. Apakah Rissa tahu sesuatu. Apakah Rissa menyembunyikan sesuatu darinya. Ia harus mencari tahu. Harus.
“Bell, kamu tidur?” tanya Bara, mengeratkan pelukannya. Sejak tadi ia menunggu istrinya bersuara. Namun sejak kalimat terakhir keluar dari bibirnya, Bella malah diam.
“Tidak, Mas,” sahut Bella dengan suara bergetar. Ada sedih bercampur luka di hati yang ingin menyembur keluar melalui air matanya. Namun, ia berusaha tegar, tidak mau terlihat lemah di hadapan Bara.
“Bell, kamu baik-baik saja?” tanya Bara.
Hanya anggukan kecil, tidak ada reaksi berlebih. Bella memilih menangis diam-diam. Bersusah payah menahan, tetapi air mata itu tetap jatuh.
Lama keduanya membeku dalam posisi memeluk, sampai akhirnya Bara menyadari sesuatu yang tidak beres telah terjadi.
“Sayang, kamu menangis?” tanya Bara heran. Menyadari kaos tidurnya telah basah di bagian dada. Ia sedang berusaha menjauhkan tubuh Bella agar bisa memerhatikan dengan jelas apa yang terjadi.
“Kamu kenapa, Bell?” tanya Bara lagi, mulai panik. Seketika ia lupa dengan sakit perutnya. Fokusnya teralihkan dengan air mata Bella.
Bella hanya menggeleng, tetap membenamkan wajahnya. Rasanya malu kalau harus terlihat lemah dan cengeng di depan lelaki yang sudah jelas menolak untuk mencintainya.
“Katakan padaku, apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba menangis?” desak Bara, air mata Bella sedikit banyak memengaruhi suasana hatinya. Diakui atau pun tidak, itu kenyataannya. Ada rasa sakit melihat istrinya menangis.
“Aku tidak apa-apa,” sahut Bella. Menghapus kasar air matanya.
“Aku mau tidur, Mas.” Bella berbalik.
Semakin menatap lelaki yang dipanggilnya suami itu semakin menyakitkan. Andaikan tidak sedang hamil, sudah dipastikaan Bella akan mengepak pakaiannya dan menghilang dari kehidupan Bara. Terserah dengan statusnya, tidak peduli dengan ikatan pernikahan. Bagaiamana bisa berumah tangga dengan lelaki yang bahkan tidak berminat menjalin hubungan suami istri.
Percuma rasanya setiap hari memupuk cinta untuk suaminya, seperti melakukan hal yang sia-sia. Bara tidak bisa menghargai ikatan pernikahan mereka. Bara bahkan tidak mengganggap itu penting. Di saat pasangan lain ingin memupuk cinta, Bara malah sebaliknya. Bagaimana nasib rumah tangga mereka kalau Bara menutup diri seperti ini. Malam itu Bella tertidur dengan air matanya.
***
Pagi datang dengan kesedihan yang sama. Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Kalau biasanya Bella akan terbangun di pukul 05.00 pagi. Kemudian menyiapkan semua kebutuhan Bara dan Issabell sebelum bersiap berangkat ke kampus. Namun hari ini Bella melakukan hal sebaliknya. Dengan sengaja tidak menyiapkan semua keperluan Bara, meninggalkan Bara masih dengan mimpinya.
Ia tidak membangunkan Bara untuk bersiap ke kantor. Bella bertekad untuk mendiamkan Bara sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Pagi-pagi sekali, ia sudah menitipkan Issabell pada pengasuhnya, kemudian berpamitan dengan ibunya yang heran melihatnya berangkat dengan tergesa-gesa.
“Bell, kenapa pagi sekali sudah berangkat ke kampus?” tanya Ibu Rosma heran. Putrinya begitu terburu-buru, bahkan menghabiskan sarapannya dengan berdiri.
“Pak Rudi sudah menunggu di mobil, Bu,” sahutnya.
Ibu Rosma heran. Bagaimana tidak? Saat ini waktu baru menunjukan pukul setengah tujuh. Bahkan Bara saja belum turun dari kamarnya, tetapi Bella sudah berpamitan hendak berangkat ke kampus.
“Ibu, aku berangkat sekarang,” pamit Bella, mencium tangan ibunya. Beralih ke Issabell yang sedang menghabiskan sarapan roti tawar dan selai strawberry.
Bella bisa tenang, kehadiran ibunya bisa membuat Issabell tenang dan tidak terlalu bergantung padanya. Setidaknya kalau Issabell rewel, Ibu Rosma bisa membujuk gadis kecil itu.
“Ya, Mommy,” sahut Issabell, menggigit rotinya sembari melambaikan tangan mungilnya.
***
Bara bangun saat jam di dinding menunjukan pukul delapan pagi. Kesiangan. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya saat ini. Biasanya, Bella akan membangunkannya tepat pukul enam pagi.
Mendapati keadaannya, segera ia berlari ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor. Beruntung, sakit perutnya pagi ini sudah mereda. Tidak ada tanda-tanda akan muncul kembali. Ternyata stok obat di kotak P3K itu lumayan manjur.
Bara keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk di pinggangnya. Bergegas menuju walk in closet mencari pakaian kerjanya. Lagi-lagi, ia mengalami kesulitan. Biasanya Bella sudah menyiapkan semua untuknya. Dan ia hanya tinggal berdiri, Bella akan mengerjakan semua untuknya. Dari mengancingi kemejanya sampai memasang dasi. Bahkan istrinya juga masih membantu merapikan semua untuknya.
Tidak sampai di situ saja, Bella juga sudah menyiapkan sepatu dan kaus kaki untuknya. Ia tidak perlu pusing dengan hal-hal kecil yang terlihat sederhana, tetapi begitu dikerjakan sendiri lumayan merepotkan. Bahkan Bella selalu mengingatkan ponsel, ikat pinggang dan hal sederhana lainnya. Kala ditinggal seperti ini, Bara benar-benar kewalahan. Harus berlari ke sana kemari.
“Bell, kenapa meninggalkan ku seperti ini?” ucapnya pelan, menyeka bulir keringat yang muncul di dahinya karena terlalu banyak bergerak menyiapkan semuanya sendirian.
Di saat seperti ini, ia baru menyadari seberapa pentingnya fungsi Bella sebagai istri di dalam hidupnya. Tinggal bersama hampir dua bulan, ia benar-benar dimanjakan Bella. Dan itu membuatnya terlena.
Selesai berpakaian, Bara kembali kewalahan mencari kaus kaki hitamnya. Biasanya asisten rumah tangga menyimpan di dalam rak lemari. Namun, sekarang Bella yang merapikannya. Sialnya, ia tidak mencari tahu di mana Bella menyimpannya selama ini.
Terpaksa, di tengah buru-burunya ia menghubungi ponsel Bella, mencari tahu di mana istrinya menyimpan salah satu penunjang kostum kantorannya itu.
Dering pertama lolos, kedua lolos, ketika lolos, kelima tetap lolos. Bara menghela napas, ketika panggilan itu berakhir di tangan si gadis bersuara merdu penunggu perator. Bara menyerah, mencari dengan kemampuannya sendiri.
Setelah mengacak-acak lemari, ia tidak kunjung mendapati tempat penyimpanannya. Bara akhirnya rela berangkat ke kantor tanpa kaus kaki. Penderitaannya tidak sampai di situ saja. Kala turun ke meja makan, hanya tersedia dua potong roti tawar polos, belum diapa-apakan. Berbeda dari biasanya, ia tinggal memasukan ke dalam mulut saja.
“Bell, kamu benar-benar mengerjai suamimu hari ini,” bisik Bara pelan. Sembari meraih sepotong roti dan menyiapkannya seorang diri.
***
Mobil yang dikendarai Pak Rudi berhenti tepat di depan rumah dua lantai dengan konsep minimalis, sesuai dengan alamat yang dikirimkan Rissa padanya. Bella segera turun, mengetuk pintu rumah.
Tok ... tok ... tok.
***
T b c
Terima kasih
Love You All
Mampir yuk, ada abang Ditya Halim Hadinata di sini. Ditunggu ya.