
“Kak, apa-apaan ini!” omel Bara, melihat Rania dengan sengaja menyiram gadis yang mungkin usianya di atas Rania beberapa tahun, dan di bawah Bella sedikit.
“Aku tidak menyukainya, Dad!” gerutu Rania, menatap sinis ke arah gadis yang sejak tadi menatap Bara tak berkedip.
“Apa lihat-lihat?” tanya Rania sinis. Gadis itu secara terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya. Menarik tangan Bara agar segera duduk dan tidak terus-terusan bersitatap dengan gadis penggoda yang sejak tadi memandang sang daddy penuh makna.
“Ayo Dad, duduk. Aku tidak jadi menambah saos tomatnya,” lanjut Rania lagi, menatap tajam ke arah sang gadis dengan pandangan berapi-api.
“Kak, minta maaf dulu. Tidak baik seperti itu,” perintah Bara, sontak membuat sang gadis kegirangan.
“Aku tidak mau, Dad.” Rania menolak. Dia itu sengaja menabrak daddy, aku melihat sendiri tadi,” gerutu Rania.
“Kak?” terdengar kembali suara Bara melemah.
“Daddy tidak suka kalau kakak kasar dengan orang lain.”
Rania bergeming. Menatap sekilas ke arah gadis yang tersenyum penuh kemenangan dengan kaos basahnya.
“Maaf ... sudah Dad, ayo kita duduk lagi.” Rania menarik lengan Bara agar kembali duduk.
“Kak, daddy tidak suka Kakak jadi kasar seperti tadi. Itu namanya ....” Bara tidak dapat melanjutkan kalimatnya, Rania sudah menyela.
“Ya, kalau mommy di sini, mommy yang akan menyiramnya.”
Diingatkan tentang Bella, Bara segera menelan saliva. Mata elang Bara sontak menyorot ke arah putri tertuanya.
“Kak, anak baik-baik tidak bersikap seperti itu,” jelas Bara, melirik ke arah Issabell. Gadis kecilnya sedang menikmati ayam goreng dengan segelas milo dingin tanpa peduli lagi dengan apa yang terjadi.
“Aku tidak menyukainya, Dad. Aku tidak mau Daddy mengobrol dengan siapa pun selain mommy,” tegas Rania.
“Nanti daddy dan mommy bertengkar lagi, terus ... daddy pergi lagi,” ucap Rania pelan, nyaris tidak terdengar.
“Apa maksudnya, Kak?” Bara mengerutkan dahi. Tidak paham arah pembicaraan Rania.
“Aku tidak mau daddy dan mommy berpisah seperti dulu daddy dengan mommy Brenda,”
Bara menghela napas kasar, tidak mau berdebat. Cara berpikir Rania masih kekanak-kanakan, belum sepenuhnya dewasa. Biarkan Bella yang memberi pengertian. Rania akan lebih menurut pada Bella dibanding dengannya.
“Habiskan makananmu, Kak. Daddy masih harus ke kantor setelah mengantar kalian pulang,” ucap Bara, tersenyum menatap kedua putrinya.
Laki-laki itu tidak memperhatikan lagi bagaimana kelanjutan cerita sang gadis seksi. Mendengar nama Bella saja nyalinya menciut. Istrinya sedang cemburu buta padanya belakangan ini.
Bara beralih menatap kedua putrinya. Dua bulan ini dia mendapatkan pengalaman baru. Benar-benar merasakan menjadi daddy yang sesungguhnya. Issabell yang mulai mandiri, tidak bergantung lagi pada pengasuhnya sejak bersekolah. Dan Rania, gadis tanggung yang terkadang sikapnya meledak-ledak, di luar dugaannya.
***
Setelah mengantar putri-putrinya, Bara kembali ke kantor. Laki-laki itu baru pulang ke rumah saat matahari bersembunyi di ufuk barat. Tersenyum malu-malu, merona merah di langit senja.
Saat kaki melangkah ke dalam rumah, tidak menemukan siapa pun. Tidak ada jejak kesayangannya yang menyambut kepulangannya. Tidak ada Rania, Issabell maupun Bella. Semuanya menghilang bak ditelan bumi.
Melintas di ruang keluarga, Bara mendapati asisten rumah sedang menonton televisi.
“Mbak, Ibu mana?” tanya Bara, dengan jas tersampir di lengan.
“Sepertinya masih di kamar, Pak. Setelah mandi sore, belum ada satu pun yang turun.”
Bara bergegas ke atas, menemui istrinya. Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan tidak biasa menyambutnya. Bella dengan wajah sembab, memandangnya dengan tatapan terluka.
“Ya Tuhan, cobaan apalagi yang kau kirimkan padaku.” Bara membatin.
“Bell, apa yang terjadi, Sayang.” Bara melangkah masuk, buru-buru mendekati istrinya. Terlihat Rania dan Issabell duduk di dekat ranjang.
Tidak ada jawaban, Bella cemberut. Rania dan Issabell mengkerut di tempat. Tidak berani menatap sang daddy, takut terkena omelan.
“Kak?” Bara memanggi Rania, meminta jawaban.
“Ya, Dad.”
Rania menggeleng, mengenggam erat tangan Issabell.
“Kak?” panggilan kedua, Bara masih meminta jawaban.
“Sudah Mas. Jangan membuat anak-anak takut. Aku tidak apa-apa!” sahut Bella, mengusap kasar air matanya.
“Katakan apa yang terjadi?” tanya Bara lagi, masih saja penasaran.
“Mommy itu sedang kesal, karena Daddy lirik-lirikan sama perempuan waktu kita makan ayam goreng tadi siang,” adu Rania.
“Kakak!” Bara siap mengomel.
“Bukan kakak, tapi adek yang cerita ke mommy,” jelas Rania, menunjuk ke arah Issabell.
Bola mata Bara membulat. Menatap Issabell yang ketakutan, bersembunyi di balik tubuh mommynya. Laki-laki itu beralih menatap istrinya.
“Sayang, Icca itu masih anak-anak, belum ....” Bara memejamkan matanya, menatap kedua putrinya yang sedang menyimak ucapannya sambil bersembunyi ketakutan padanya.
“Kak, bawa adek keluar. Minta mbak siapkan makan malam untuk kalian berdua. Daddy harus bicara berdua dengan mommy.”
Ekor mata Bara mengikuti pergerakan kedua putrinya yang saling bergandengan tangan keluar dari kamar tidur.
“Bell, Icca itu masih anak-anak. Mana boleh didengar,” jelas Bara.
“Ya, aku tahu Mas, tetapi aku sudah bertanya dengan kakak. Kakak juga membenarkan. Bahkan, kakak cerita masih sempat menyirami gadis itu dengan minuman.”
“Ya ampun Bell, kamu mendengar cerita anak-anak. Mereka bercerita dari apa yang mereka lihat saja. Belum tentu seperti itu kejadiannya.”
“Icca cerita, perempuan itu pegang-pegang Mas, terus tatap-tatapan,” ucap Bella kesal.
“Bukan begitu, Sweetheart. Gadis itu tak sengaja menumpahkan minumannya di kemejaku. Ini masih ada sisa nodanya,” jelas Bara menunjukan noda minuman di bagian dadanya.
“Terus?” todong Bella, meminta Bara melanjutkan. Cemburu Bella akhir-akhir ini begitu menjadi. Semakin besar usia kehamilannya, Bella jadi sangat sensitif. Menangis, tertawa berganti begitu cepat.
“Tidak ada, Sayang. Hanya itu saja.”
Bella mengerutkan dahinya. “Icca cerita, dia pegang-pegang Mas,” tanya Bara.
“Bukan seperti itu, Bell. Hanya membantu membersihkan bekas tumpahan saja.”
“Mas membiarkannya begitu saja? Tidak menolak?” cerocos Bella lagi. Wanita hamil itu kembali terbakar cemburu. Apalagi setiap membahas wanita yang ada di sekeliling suaminya.
“Bukan begitu, Bell. Kejadiannya begitu cepat. Aku ....”
“Aku kecewa padamu, Mas. Di saat aku hamil anakmu, perutku menggendut, kamu malah melirik gadis lain.”
“Ya Tuhan, aku tidak melirik, Bell. Di mataku, hanya kamu yang paling cantik. Tidak ada yang lain. Lagipula, siapa yang mengatakan kamu gendut. Wanita hamil memang seperti ini. Kamu cantik, bukan gendut. Ini menggemaskan, Sayang,” rayu Bara, setiap kali membahas ukuran tubuh, Bella selalu merasa minder dan cemberut. Apalagi setiap kali melihat gadis dengan perut ramping, istrinya pasti memendam rasa berbeda.
“Mas berbohong. Icca saja tadi bilang kalau gadis itu secantik Cinderella sedangkan aku dibilang seperti doraemon dengan kantong ajaibnya,” adu Bella.
“Dia cantik sekali ya, Mas,” tanya Bella. Semakin bertanya, semakin dia sakit hati. Tidak bertanya, jiwa penasarannya meronta.
“Mas, dia cantik sekali, ya? Perutnya ramping, ya?” tanya Bella lagi.
“Dia tidak hamil, Bell. Pasti ramping,” sahut Bara.
“Nah benar, kan? Mas berbohong. Pasti Mas memperhatikannya sampai tak berkedip,” tuduh Bella.
“Aduh Bell. Aku jawab salah, tidak jawab juga salah. Kenapa kamu jadi seperti ini,” ucap Bara menggaruk kepalanya.
Melihat wajah cemberut istrinya, tawa Bara hampir pecah. "Jangan marah-marah lagi, Sayang. Aku hanya mencintaimu dan anak-anak kita."
***
TBC