Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 65. Posesifnya Bara


"Mas," panggil Bella, saat melihat Bara sudah mengepalkan tangannya. Bersiap turun untuk ikut terlibat dalam pertengkaran itu.


Terlihat jelas dari dalam mobil pertengkaran antara security dan Ricko yang saling dorong-


dorongan.


Entah apa yang mereka ributkan, tetapi tampak security mengusir pergi laki-laki tampan yang bahkan masih mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin pagi.


Melihat itu semua, Bara memilih turun. Bermaksud menyelesaikan dan memukul mundur laki-laki yang entah bertujuan apa, tiba-tiba hari ini sudah kembali lagi ke kediamannya.


"Mas," ucap Bella, berusaha mencegah. Menghentikan langkah kaki suaminya yang baru saja membuka pintu mobil. Amarah sudah memenuhi pikiran Bara.


"Mas, kasihan Kak Ricko. Jangan bertengkar dengannya. Kalau mau menyingkirkannya dari rumah kita ... mungkin Mas bisa membantunya mencari pekerjaan. Dia tidak mengenal siapa-siapa di sini," bujuk Bella kembali.


Bara berbalik, menatap istrinya. Ucapan Bella ada benarnya juga. Lagi pula kasihan juga kalau sampai luntang-lantung di ibu kota, tanpa ada yang dikenalnya.


"Ini semua karena kakak tersayangmu itu," gerutu Bara. Melangkahkan kaki keluar dari mobil, ia menghampiri kedua orang yang sedang berseteru.


Entah apa yang diucapkan Bara, seketika pertikaian itu terhenti dan berganti dengan acara salam-salaman. Bella masih sempat melihat Bara mengeluarkan ponsel, menghubungi seseorang kemudian berbincang dengan Ricko yang juga ikut mengeluarkan ponselnya.


Tak lama, keduanya terlihat bersalaman. Sebelum meninggalkan tempat itu, Ricko terlihat mengucapkan sesuatu pada Bara.


"Mas, apa yang terjadi?" tanya Bella penasaran. Ia langsung bersuara begitu Bara masuk ke dalam mobil.


"Aku memberinya alamat perusahaan Pram, dia sedang mencari sopir untuk istrinya," jelas Bara, tersenyum.


"Jangan pernah memikirkannya lagi. Cukup pikirkan aku dan anak kita," lanjut Bara, tersenyum kembali.


Bella mencebik. Namun, dalam hati kecil ada rasa bahagia dengan kata-kata suaminya.


Sampai di halaman rumah mewahnya, mereka sudah disambut dengan celotehan Issabell yang sedang bermain dengan pengasuhnya di depan rumah. Begitu melihat mobil Bara, gadis kecil itu langsung berlari, membuka pintu mobil tempat di mana Bella duduk.


"Mami," pekiknya dengan riang gembira, menyodorkan kedua tangannya pada Bella.


Bella sudah paham sekali maksud putri kecilnya, tetapi baru saja kedua tangannya menyentuh ketiak putrinya, Bara langsung bersuara.


"Tidak, biarkan aku yang menggendongnya," cegah Bara, menepuk punggung Bella.


"Mas," ucap Bella sebagai bentuk protesnya. Ini entah sudah yang ke berapa kalinya, Bara melarang melakukan sesuatu yang menurutnya pekerjaan ringan.


"Tidak, Bell. Aku tidak mengizinkanmu menggendong Icca lagi. Kasian dedek bayi di perutmu. Masih ingat pesan dokter, kan?" todong Bara.


Bella harus menuruti semua perkataan suaminya. Bara mengambil alih semua hal yang dianggapnya berat, bahkan tadi di rumah sakit, Bara sendiri yang merapikan semua barang-barang milik Bella dan memasukan ke dalam tas.


"Mas, mau sampai kapan aku tidak boleh begini, tidak boleh begitu?" keluh Bella, mulai berontak.


"Sampai kamu melahirkan dan sudah boleh melakukan pekerjaan berat," sahut Bara dengan santainya.


Laki-laki itu sudah keluar dari dalam mobil dan menghampiri Icca yang masih saja terus merengek.


"Endong, Mi!" jerit kecil Issabell.


"Daddy saja yang gendong," ucap Bara, meraih tubuh Issabell dan membawa naik ke atas pundaknya seperti biasa.


Gelak tawa kecil Issabell langsung terdengar, dengan kedua tangan terbentang lebar.


"Plane, Daddy," celotehnya tergelak.


"Icca, jangan minta Mommy menggendong Icca lagi.Kasihan adek bayi di perut Mommy," jelas Bara, sesaat setelah menurunkan putrinya dan menggandeng Issabell masuk ke dalam rumah.


Gadis kecil itu langsung meloncat kegirangan saat mendengar kata adik bayi.


"Ya, nanti Icca jadi kakak, ya. Tidak boleh nakal lagi, harus menurut pada Mommy," jelas Bara.


"Yes, Daddy," sahutnya berlari kecil menemui Bella yang tertinggal di belakang.


Ketiganya bergegas masuk ke dalam kamar. Bella yang sudah sangat merindukan kasur empuk mereka, langsung merebahkan diri di atas ranjang.


"Ah, aku benar-benar merindukannya, Mas," ucap Bella pelan.


"Ranjang rumah sakit itu walau pelayanannya mewah, tetapi tidak seempuk ini," lanjut Bella lagi sembari mengusap lembut seprai berulang kali.


"Sudah, kamu istirahat saja. Biar aku yang menjaga Icca," pinta Bara, membawa Issabell duduk di sofa bersamanya.


"Mas, kamu tidak ke kantor hari ini?" tanya Bella, menumpuk beberapa bantal dan bersandar di sana. Menikmati pemandangan ayah dan anak yang sedang duduk manis di hadapannya.


"Setelah makan siang, aku akan ke kantor."


"Icca ... ayo kemari. Tidur dengan Mommy di sini," pinta Bella, menepuk sisi ranjang kosong di sebelahnya.


Gadis kecil dengan rambut dikuncir dua itu langsung meloncat turun dan bergegas naik ke atas ranjang.


"Icca, jangan loncat-loncat di sana," cegah Bara.


"Aduh, Mas. Kenapa sekarang jadi cerewet sekali," keluh Bella, mulai protes dengan sikap berlebihan Bara.


"Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan bayiku," sahut Bara dengan santai, ikut mendekat ke ranjang.


Tanpa permisi, ia sudah mengusap kembali perut rata istrinya. Tersenyum dan berbisik di sana. Bahkan, sesekali mengecup dengan penuh perasaan. Sejak tadi pagi entah sudah berapa kali laki-laki itu melakukan hal yang sama.


"Mas, anakmu juga belum bisa mendengarnya," keluh Bella, mulai kesal.


"Karena itu, aku harus mengenalkan diriku padanya sampai dia hafal dengan suaraku. Jadi dia tidak salah mengenali daddy-nya," sahut Bara santai.


Selepas makan siang bersama, Bara pun berpamitan. Mencium kening Bella dan Issabell bergantian, sebelum meninggalkan meja makan.


"Bell, aku jalan, ya. Nanti ada apa-apa, perlu apa-apa minta sama Mbak, ya." Bara berpesan.


"Ya, Mas. Kenapa cerewet sekali." Bella mengeluh.


"Daddy berangkat, Sayang," pamit Bara pada putri kecilnya.


"Tidak perlu mengantarku sampai ke depan, di luar panas," tolak Bara, ketika melihat Bella menarik kursi dan siap berdiri.


***


Kantor BW Group.


Bara baru saja melangkah masuk ke dalam kantor perusahaannya, saat seseorang memanggilnya dari belakang.


Terkejut saat berbalik, menatap laki-laki tua yang sudah sangat dikenalnya.


"Bar, bisa kita bicara sebentar," ucap laki-laki yang entah sejak kapan menunggunya.


Bara terlihat ragu, tetapi bagaimana pun ia harus menjaga sopannya untuk laki-laki yang selama ini baik padanya.


Bara mengangguk, mengajak bicara di dalam ruangannya.


"Ada apa, Pa?" tanya Bara, mempersilakan mantan mertuanya duduk.


"Ini ... ini mengenai Brenda dan Rania," ucap laki-laki itu ragu. Tertunduk, seperti susah mengucapkan kalimat selanjutnya.


***


T B C


Love you all


Terima kasih