
“Brenda sedang kritis di rumah sakit. Mama dan papa harus menjaganya di rumah sakit dan Stella harus bekerja. Tidak ada yang menjaga Rania,” lanjutnya lagi.
Deg—
Bara menatap mantan mertuanya itu dengan rasa iba, berganti menatap Rania. Penyakit yang diderita Brenda bukanlah penyakit flu biasa, yang hanya cukup minum obat apotik dan semuanya beres. Bahkan penyakit itu bisa saja mencabut nyawa Brenda sewaktu-waktu.
Lama, Bara hanya memandang kedua tamunya bergantian. Sekarang, lelaki tampan itu beralih menatap istrinya.
“Maaf, Ma. Aku tidak bisa,” sahut Bara, pada akhirnya membuat keputusan.
“Aku bisa membantu dengan cara lain. Namun, Rania tidak bisa tinggal denganku,” lanjutnya lagi.
Kalimat ini terasa berat, harus diucapkan di depan Rania. Gadis kecil itu pasti terluka saat ditolak seperti ini. Namun, saat ini ia harus menjaga perasaan Bella yang sedang hamil dan sangat sensitif. Belum lagi ada Issabell yang juga harus dipertimbangkan.
Mungkin kalau statusnya single, ia akan dengan sukarela menerima Rania, tetapi sekarang berbeda.
Rania langsung menitikan air mata, tertunduk. Sejak turun dari mobil, gadis itu memang terlihat tidak seperti biasanya. Sikap yang jauh berbeda ditunjukannya saat bertemu Bara. Kalau dulu, Rania akan bersikap manis, langsung memanggil dan memeluk. Sekarang tidak ada lagi hal-hal intim seperti itu, bahkan Rania tidak menyapanya seperti biasa.
“Maafkan Daddy, Ran,” ucap Bara pelan. Terenyuh dengan gadis tanggung itu.
Di saat hanya memiliki seorang Mama saja, ia harus dihadapkan dengan kenyataan mamanya yang sakit keras.
Rania mengangguk.
“Oma, kita pulang saja,” bisiknya pelan, merengkuh lengan Ibu Sutomo dengan erat. Dari dalam, terlihat Issabell yang berlari keluar diikuti pembantunya. Gadis kecil itu berhenti sejenak menatap tamu daddynya, sebelum akhirnya berlari keluar.
“Maafkan Mama, Bar. Sudah mengganggu pagi kalian.” Pandangan Ibu Sutomo beralih, tersenyum pada Bella.
Ada rasa malu dan sungkan sebenarnya. Akan tetapi keadaan mendesak, selain itu permintaan untuk dititipkan ke tempat Bara adalah permintaan cucunya, Rania. Kalau menurut akal sehatnya, ia tidak akan meninggalkan gadis itu di rumah mantan menantunya.
Toh, Rania harus mulai belajar menerima kenyataan, kalau kehidupannya memang seperti ini. Mungkin sebentar lagi akan kehilangan mommynya juga. Mommy yang sekarang sedang berjuang melawan sakit kanker ganasnya.
Berat untuk bercerita pada gadis itu mengenai apa yang disampaikan dokter. Namun, mulai dari sekarang, Rania harus belajar menerima kenyataan.
Beberapa hari sebelum Brenda kritis, ia sempat menjelaskan tentang status Bara pada putrinya. Namun, gadis itu tetap belum siap menerima. Jauh di lubuk hati, tetap Baralah ayahnya. Apa lagi, sampai sekarang ayah kandung Rania masih mendekam di penjara karena perbuatan Bara.
Keduanya, nenek dan cucu itu sudah berdiri setelah berpamitan. Tiba-tiba, langkah keduanya terhenti dengan sebuah kalimat yang meluncur dari bibir Bella.
“Tung-tunggu, aku tidak keberatan.” Bella berkata.
Ibu Sutomo dan Rania terkejut. Demikian juga Bara, sontak menatap istrinya heran. Entah apa yang ada di dalam pikiran Bella saat ini.
“Bell, ikut aku sekarang,” ajaknya, meraih tangan istrinya masuk ke dalam, setelah sebelumnya berpamitan dengan tamu mereka. Bara juga meminta bantuann Ibu mertuanya untuk menemani tamunya.
Pria dengan setelan kerja itu merasa perlu berbicara dari hati ke hati dengan Bella. Ia tidak mau kehadiran Rania jadi pemicu masalah lagi dalam rumah tangganya. Apa lagi kondisi Bella sedang hamil dan sangat moody akhir-akhir ini.
“Bell, aku tidak mau. Aku bisa membayar asisten rumah tangga untuk mereka. Tapi tidak tinggal bersama kita,” tegas Bara saat mereka berada di ruang keluarga.
“Mas, kamu tidak lihat wajah putrimu. Aku kasihan melihatnya,” jelas Bella, tidak mau kalah.
Bara menggeleng, hampir tidak percaya dengan apa yang baru Bella katakan.
Ia menatap Bella yang duduk menghadap televisi dengan pandangan tidak percaya.
“Sayang, kamu sadar apa yang kamu ucapkan tadi. Kamu berpikir apa efeknya untuk kehidupan kita?” tanya Bara, berusaha meredam emosinya.
“Tapi ... Mas tidak melihat wajah keduanya. Kasihan, Mas,” sahut Bella pelan.
“Selama ini ... aku memang peduli dengan kehidupan mereka, tetapi aku memilih cara teraman. Dan aku memiliki alasan melakukannya.” Bara terlihat mendengus kesal berkali-kali.
Tampak ia berjongkok di depan istrinya, meraih kedua tangan Bella.
“Aku membantunya hanya sebatas uang. Karena aku tahu, saat ini mereka sedang kesulitan. Kalau aku tidak melakukan itu, ia akan terus-menerus menggangguku ... mengganggu kita,” jelas Bara.
“Aku mengenal mereka dengan baik. Di saat ini mereka benar-benar kesulitan keuangan. Penyakit Brenda itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, belum kebutuhan sehari-hari yang tadinya adalah tanggung jawab Brenda.”
“Kalau aku tidak membantu, mereka akan mengganggu seperti saat ini. Aku hanya ingin melindungi kalian, melindungi keluargaku,” jelas Bara lagi.
“Tapi ... Mas, aku kasihan pada Rania.”
“Aku akan memberinya uang. Aku tidak peduli mereka meminta berapa pun. Anggap saja itu harta gono-gini yang seharusnya aku bagi adil untuk Brenda dulu,” jelas Bara.
“Mas tidak melihat bagaimana raut wajah sedih Rania. Itu bukan hanya karena mereka kekurangan uang atau hidup susah. Tapi itu karena dia membutuhkan sosok ayahnya. Yang mungkin di dalam pikirannya, kamu adalah ayahnya, Mas.” Bella masih saja berargumen.
“Kenapa sejak hamil kamu menjadi keras kepala begini, Bell!” gerutu Bara.
“Mas, aku merasakan hidup tanpa ayah itu menyedihkan,” ucap Bella menitikan air mata. Teringat dengan ayahnya sekaligus kesal dengan ucapan Bara yang baru saja ditujukan untuknya.
“Terserah padamu saja, Bell. Aku tidak ikut campur dengan keputusanmu,” ucap Bara menghentikan perdebatan mereka. Ia tidak mau Bella tertekan dengan keputusannya.
“Jangan menangis lagi. Aku hanya tidak ingin Rania mengganggu kehidupan kita. Mungkin kamu tidak keberatan, tetapi bagaimana dengan Issabell. Tapi, aku akan menyetujui apa pun keputusanmu,” ucap Bara menghela napas kasar.
Bella tertegun. Entah kenapa rasanya ia ingin membantu Rania. Gadis kecil itu terlihat menyedihkan. Meskipun ia bukan putri kandung Bara, setidaknya Rania mengganggap Bara daddy-nya.
“Aku kasihan padanya, Mas. Pasti hidupnya menyedihkan. Di saat dia begitu mengharapkanmu sebagai ayahnya, tetapi kamu mengabaikannya. Kamu memang bukan ayah kandungnya, tetapi melihat bagaimana dia mendekap eratmu tempo hari. Baginya kamulah daddy-nya.” Bella menjelaskan apa yang ada di benaknya.
“Lakukan saja apa yang menurutkmu baik. Aku tidak mau menentangmu dan akhirnya membuatmu kecewa lagi, Bell.”
Bara memeluk istrinya. “Aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan Issabell. Selama ini, yang aku lakukan juga untuk kalian.”
“Termasuk perlakuanku ke keluarga mantan istriku. Aku melakukannya demi kalian,” lanjut Bara.
***
T b c
Love You All
Terima kasih