
Suara pintu terbuka mengalihkan semua yang ada di dalam kamar, termasuk Roland yang duduk membelakangi pintu. Lelaki itu menghentikan obrolannya saat menyadari kedatangan Bara.
Kaki Bella membeku di tempatnya berdiri, saat melihat Bara dengan wajah cerah masuk ke dalam kamar perawatan.
“Mas,” sapa Bella, berusaha menyembunyikan khawatirnya di balik senyuman. Dia takut Bara tidak bisa menahan emosi, seperti biasanya. Bertengkar di depan ibunya.
“Bell, maaf aku terlambat.” Bara berjalan mendekat, belum menyadari pria asing yang sedang bertamu. Saat jarak tertinggal beberapa langkah, suara bariton yang familiar menyapa.
Senyum yang menghias wajah tampan itu seperti tertarik, menghilang di dimensi lain. Berganti aura mematikan tertahan. Bara menoleh ke asal suara, yang membuat paginya terasa memuakan.
“Roland.”
Mata memerah dengan kepalan tangan menjuntai di sisi kiri dan kanan tubuh. Rahang mengeras, lengkap dengan urat-urat menonjol di pelipis. Bella memghambur demi menenangkan sang suami. Lupa sudah dengan hubungan mereka yang memburuk beberapa jam yang lalu. Saat ini dia harus menyelamatkan suaminya dari emosi yang hanya akan menjatuhkan.
“Mas, aku merindukanmu. Anakmu juga,” bisik Bella setelah menerjang tubuh Bara dari belakang. Membelit lingkar pinggang kekar suaminya dengan erat.
Fokus Bara teralihkan, amarah yang tadi sudah diubun-ubun perlahan menyurut. Apalagi saat perut buncit Bella menempel di kulit punggungnya. Kepalan tangan yang berurat itu perlahan melepas seiring dengan rahang mengeras itu pun perlahan melonggar dengan sendirinya.
“Bu, apa kabar? Ibu sudah baikan?” tanya Bara mengalihkan pembahasan, menahan intonasi suaranya supaya terdengar biasa, melembut seperti sedia kala. Bara mengabaikan pelukan Bella untuk sementara, memilih mendekati ibu mertuanya.
“Ibu sudah baikan, Nak Bara. Kemarin sempat tidak sadarkan diri. Maafkan Ibu, sampai kalian harus meninggalkan pekerjaan dan terbang menemui ibu,” sahut Ibu Rosma, tersenyum.
“Bar, apa kabar?” tanya Roland, mencoba mencairkan suasana.
“Land, kenapa sepagi ini sudah berada disini? Kamu tidak ada pekerjaan,” sindir Bara, mencoba mempertahankan kesabarannya.
Roland tersenyum, mencoba memeluk Bara dan menepuk punggung sahabatnya itu.
“Mamaku dirawat di rumah sakit ini juga. Kebetulan tadi bertemu dengan istrimu di kantin bawah. Jadi aku putuskan menjenguk sekalian,” jelas Roland, berterus terang.
Laki-laki licik itu sedang menunggu. Baru saja dia melempar granat, berharap tidak lama lagi akan ada ledakan besar. Dia mengenal Bara dengan jelas, seberapa temperemennya Bara, dia sangat paham.
Bara masih menatap Roland dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sesekali dia bisa melihat lelaki itu menatap istrinya. Bara tidak tahu jelas apa maksud dan tujuan Roland melakukan semua ini, yang Bara tahu semua adalah drama yang sudah disiapkan. Begitu mendengar mama Roland dirawat di rumah sakit yang sama, Bara sudah bisa menebak arah permainan.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya Bara, beralih pada istri yang sejak tadi diabaikannya. Di saat seperti ini, tidak mungkin Bara menabuh genderang perang dengan Bella. Ada macan kelaparan sedang menunggu pertengkaran mereka dan menonton di pinggir arena.
“Baik. Mas sudah sarapan?” tanya Bella, mencoba bersikap baik, melupakan sementara masalah mereka. Melupakan sejenak, kebohongan Bara yang membuatnya semalaman meradang. Tidak mungkin dia harus memperpanjangnya di depan sang Ibu yang sedang sakit. Ada waktunya mereka bertengkar untuk membahas masalah ini, tetapi bukan sekarang.
“Tadi dapat sarapan di pesawat,” sahut Bara, merengkuh pundak Bella dan mendekap erat.
Melihat keharmonisan keluarga Bara, Roland cukup tahu diri. Memilih berpamitan.
“Bar, aku pamit. Aku harus menemui mamaku.”
“Mari Bu, Mommy Icca,” pamit Roland, bergegas keluar dari ruangan. Tidak ingin berlama-lama.
“Bell, aku mengantar Roland ke depan,” pamit Bara, ikut mengekor di belakang Roland. Lelaki itu tersenyum, seperti tidak terjadi apa-apa.
***
Begitu kedua lelaki itu sudah berada di koridor, emosi Bara yang sempat reda kembali memanas. Roland sedang melenggang dengan santai saat tangannya dicekal kasar dari belakang.
“Apa maksudmu? Jangan katakan kamu tidak terlibat apa-apa!” tuding Bara. Mengarahkan telunjuknya ke wajah Roland dengan penuh amarah. Amarah yang ditahannya sejak tadi, sekarang muncul ke permukaan.
Roland tersenyum sinis. “Hanya perasaanmu saja Bar. Tidak ada apa-apa,” sahut Roland, melipat tangan di dada, bersandar di dinding dengan santainya.
“Apa yang kamu inginkan? Katakan saja, tetapi jangan ganggu keluargaku. Jangan mengusik istri dan anakku!”
“Aku ingin berbagi Icca denganmu. Rasanya tidak adil kalau kamu sendiri yang memiliki. Sedangkan kamu tahu, kalau dia juga anakku. Anak kandungku. Rasanya tidak adil, Bar!” Roland menjawab.
“Aku juga berhak atas Icca!” lanjut Roland.
Bara terbahak. “Kenapa jadi tidak tahu malu begini, Land? Atas dasar kamu mengatakan kalau kamu berhak? Selembar kertas hasil tes DNA yang mengatakan kalau Icca putri biologismu. Andai kertas itu tidak benar, apa kamu masih akan memperebutkan Icca seperti sekarang?” tanya Bara.
“Kamu lupa, selama dua tahun ini bagaimana anak itu tumbuh. Dengan siapa?” tanya Bara.
“Kalau kamu memang menginginkan putrimu, harusnya sejak dulu kamu memperjuangkannya. Kenapa baru sekarang? Apa tidak sebaiknya kamu keluarkan saja semua hal tentang Icca dari otakmu. Anggap kamu tidak tahu apa-apa. Anggap saja putrimu sudah tidak ada,” lanjut Bara.
Suara Roland tercekat di tenggorokan. Tidak sanggup bersuara.
Bukkk!! Sebuah pukulan menghantam rahang Roland. Bara sedang mengeluarkan kemarahannya yang tertahan. Roland tidak sempat melawan, pukulan itu datang tiba-tiba. Baru saja dia hendak melawan, tetapi kepalan tangannya membeku di udara saat mendengar kata-kata Bara selanjutnya.
“Kalau menyayangi Icca, biarkan aku merawatnya untuk saat ini. Sampai saat yang tepat, aku akan mengenalkanmu padanya,” pinta Bara sedikit melunak.
“Bukan aku tidak mengizinkan Icca bertemu mamamu. Saat ini Icca masih terlampau kecil. Kamu ingin mengenalkan diri sebagai apa? Mengenalkan mamamu sebagai apa?” lanjut Bara.
“Oke, aku izinkan satu kali bertemu. Apakah kamu bisa menjamin, setelah pertemuan sekali itu mamamu tidak menagih pertemuan-pertemuan selanjutnya. Apa yang ada di pikiran sederhana Icca?”
Roland terdiam, mencerna kata demi kata yang meluncur mulus dari bibir Bara.
“Aku akan mengenalkanmu padanya, tetapi sebagai Om-nya, apa kamu tidak akan sakit hati?” cerocos Bara.
“Dengar Land, bagi Icca aku daddynya, Bella mommynya. Kami orangtuanya. Bahkan aku tidak mengizinkan Rissa mendekatinya sejak awal, sejak aku berhasil mengadopsinya.”
“Aku hanya ingin memberi Icca sebuah keluarga kecil bahagia untuknya saat ini. Dia masih terlalu kecil untuk direcoki masalah orang dewasa. Dia tidak berdosa, jadi aku mohon jangan membuatnya menanggung apa yang seharusnya menjadi dosa kalian.”
Roland menelan saliva, tidak sanggup melempar kalimat sanggahan.
“Ketika aku mengadopsinya, aku menjadikannya putriku, meyayanginya seperti putri kandungku, membuatnya menjadi bagian dari hidupku. Bahkan aku memberi namaku di dalam identitasnya.”
Tampak Bara memijat pangkal hidungnya, pusing dengan permasalahan yang dihadapinya saat ini.
“Untuk saat ini, biarkan Icca menikmati masa kecilnya dengan bahagia bersama kami. Masa-masa ini tidak akan terulang lagi di dalam hidupnya. Biarkan dia seperti anak-anak lainnya. Suatu saat, ketika aku merasa dia cukup dewasa, aku akan membawamu padanya, mengenalkanmu sebagai ayah biologisnya bukan Om-nya,” ucap Bara, memukul punggung tangannya di pundak Roland.
Lelaki itu sudah beranjak pergi, tetapi saat akan membuka pintu Bara berbalik.
“Katakan di kamar mana mamamu dirawat. Aku dan Bella akan membawanya mengunjungi mamamu nanti!” ucap Bara tiba-tiba.
***
TBC