
Mobil yang dikendarai Pak Rudi berhenti tepat di depan rumah dua lantai dengan konsep minimalis, sesuai dengan alamat yang dikirimkan Rissa padanya. Bella segera turun, mengetuk pintu rumah.
Tok ... tok ...tok.
Tidak butuh waktu lama, Rissa muncul dari balik pintu dengan senyuman ramah. Ia sudah tahu akan kedatangan Bella melalui pesan sebelumnya.
“Masuk, Bell.”
“Kamu sendirian ke sini? Ibu tidak ikut?” tanya Rissa, menengok ke arah luar.
“Tidak. Aku sekalian mau ke kampus. Ibu di rumah, menjaga Icca,” sahut Bella langsung menjatuhkan bokongnya di sofa. Ia bahkan tidak menunggu tuan rumah mempersilakannya duduk.
Deg—
Mata Rissa menangkap ada sesuatu yang aneh pada wajah Bella. Sedikit sembab dengan kantung di bawah mata. Belum lagi wajahnya terlihat pucat.
“Kamu baik-baik saja? Kamu terlihat pucat,” tanya Rissa, khawatir.
“Aku baik-baik saja. Hanya saja nafsu makanku menurun selama hamil. Belum lagi mual dan muntah setiap pagi,” jelas Bella.
“Apa kabar Icca?” tanya Rissa tiba-tiba. Jarang sekali Rissa mau membahas putrinya yang sekarang menjadi putri adiknya.
“Icca baik-baik saja. Dia dekat dengan Ibu, bahkan maunya menempel terus. Selama ada Ibu, aku bisa sedikit bernapas lega. Anak itu tidak menempel lagi padaku,” cerita Bella tanpa menyadari perasaan kakaknya yang terluka.
“Apakah Icca pernah menanyakanku?” tanya Rissa tiba-tiba. Selama ini Rissa berusaha menutupi sisi lemahnya. Sebisa mungkin memperlihatkan ketegarannya di depan semua orang.
Tidak bisa dipungkiri, walau bagaimana pun naluri keibuannya masih tersisa. Ia yang mengandung dan bertarung nyawa melahirkannya.
“Awal Kak Rissa pergi, Icca masih sering bertanya.”
Bella memilih tidak meneruskan kalimatnya. Ia khawatir Rissa kecewa, mendapati kenyataan saat ini Issabell tidak pernah menanyakan keberadaannya lagi.
“Kak Rissa, aku ke sini ingin tahu masa lalu suamiku. Apa yang Kak Rissa tahu dan aku tidak tahu?”
“Apa tidak salah, Bell. Sebentar lagi perutmu membesar, untuk apa mengetahui masa lalu suamimu,” sindir Rissa.
Bella tertunduk. Yang dikatakan Rissa ada benarnya juga. Apa pun yang terjadi di masa lalu Bara, ia harus menerimanya dengan lapang dada, demi anak yang ada di kandungannya.
“Harusnya kamu cari tahu terlebih dahulu seperti apa suamimu, Bell. Bukan menerima apa adanya,” ucap Rissa kembali.
“Apa dia bajingan? Apa dia penjahat?” tanya Bella terus terang.
Rissa menggeleng.
“Sebaiknya kamu pulang saja. Suamimu tidak seburuk itu. Bersabar saja, siapa tahu bayi kalian akan membuatnya benar-benar melupakan mantan istrinya,” ucapan Rissa terdengar biasa saja.
Deg—
“Masih mencintai mantan istrinya?” batin Bella.
Rasanya tidak percaya. Kalimat ini lebih menyakitkan dibanding mendengar Bara mengatakan tidak mau jatuh cinta padanya. Lebih terdengar manis, dibanding mengetahui suaminya itu masih mencintai mantan istrinya.
Ucapan Rissa begitu menyakitkan. Suaminya masih mengingat mantan istrinya. Padahal, Bara sudah lama bercerai, bertemu pun saling melempar kemarahan. Bella melihat dengan mata kepala sendiri, mantan istri Bara yang cantik mengembalikan uang dengan kasar. Memaki, bahkan mengancam.
“Kak, apa Mas Bara masih mencintai mantan istrinya? Kak Rissa tahu dari mana?” tanya Bella. Raut wajahnya kembali mendung, dengan kumpulan air menggumpal di kelopak matanya.
Tes. Tes.
Dua tetes bening itu terjatuh membasahi pipi Bella.
“Aku tinggal dengannya selama dua tahun. Ada masa-masa di mana kami juga bisa terlihat akur, tidak seperti yang kamu lihat belakangan ini. Terkadang kami bisa mengobrol panjang,” cerita Rissa.
“Kak, apa Kak Rissa mengenal mantan istri Mas Bara?” tanya Bella lagi.
“Tidak. Tapi aku tahu banyak. Maaf, saat kami menjalin hubungan palsu itu, aku mencari tahu semua hal tentang Bara,” jelas Rissa lagi.
“Apalagi yang Kak Rissa tahu tentang Mas Bara?” tanya Bella, menghapus air matanya.
Kembali Bella menggeleng. Ada banyak hal yang tidak diketahuinya. Ia hanya istri sebatas status, hanya ibu untuk anak Bara.
“Suamimu itu menjebloskan kekasih Brenda ke penjara,” cerita Rissa.
”Tapi mereka memang bersalah, wajar saja kalau dijebloskan ke penjara.” Bella berkomentar.
“Ya, bagi kita orang luar mungkin terlihat wajar, tetapi tidak bagi Brenda,” ujar Rissa.
“Apakah Brenda membenci Mas Bara karena itu?” tanya Bella.
“Mungkin. Aku tidak tahu pasti, Bell. Hanya dugaan saja.”
“Aku mendengar cerita dari Pak Rudi, suamimu itu membalas perbuatan Brenda dengan membawa pulang wanita setiap malam. Sengaja menunjukan kepada mantan istrinya. Setiap hari tidur dengan wanita berbeda,” cerita Rissa lagi.
Ucapan Rissa kali ini, memukul telak Bella. Walaupun hanya masa lalu, tetap saja rasanya sakit. Bagaimana bisa seorang Bara yang terlihat sempurna di matanya, bisa melakukannya dengan banyak wanita tanpa cinta.
Kepalanya mendadak pusing. Sejak semalam ia sudah banyak menangis, banyak berpikir. Belum lagi sarapan pagi seadanya. Kehamilan ini mempengaruhi fisiknya, menjadi mudah lelah dan sensitif.
“Kamu baik-baik saja, Bell?” tanya Rissa, melihat Bella yang memijat pelipisnya.
“Ya, aku baik-baik saja. Aku mau pulang saja,” ucap Bella. Kepalanya semakin berat. Kalau tidak cepat-cepat kembali ke mobil, ia bisa tumbang.
Tanpa menunggu jawaban dari Rissa, Bella bergegas kembali ke mobil. Dengan susah payah, meraih gagang pintu mobil, tapi pada akhirnya ia tumbang juga di samping Alphard hitam yang sekarang menjadi kendaraan pribadinya, membawanya mengarungi jalanan setiap hari.
“BELL!” pekik Rissa, berlari menghampiri adiknya yang sudah tergeletak di pinggir jalan.
Pak Rudi, sang sopir yang baru menyadari terjadi sesuatu pada Nyonya majikannya segera berlari.
“Bell, bangun!” Rissa menepuk wajah adiknya dengan panik. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Pak, ini bagaimana?” tanya Rissa pada sang sopir.
“Dibawa masuk ke dalam rumah saja, Nyonya,” sahut Pak Rudi. Meminta ruang supaya bisa membopong tubuh Bella. Tidak mungkin meminta Rissa yang menggendong adiknya. Rissa tidak akan kuat.
Tubuh Bella yang lemas tidak sadarkan diri, ditidurkan di sofa ruang tamu, sembari menunggu Rissa mencari minyak kayu putih untuk membangunkannya. Terlihat Pak Rudi menghubungi majikannya. Bagaimana pun ia harus melapor pada Bara. Istri majikannya itu sedang hamil, kalau sampai terjadi sesuatu ia tidak mau disalahkan.
Tut ... tut ... tut.
Di deringan ketiga, terdengar suara berat Bara dari seberang.
“Ya, ada apa, Pak.”
“Ma-maaf, Pak. Nyonya pingsan,” ucap Pak Rudi.
“Bagaimana istriku bisa pingsan? Katakan di mana Bella sekarang?” tanya Bara panik.
Pria itu sedang dalam perjalanan menuju ke kantornya. Baru saja keluar dari komplek perumahan, tiba-tiba ponselnya berdering dan mengabarkan kalau Bella pingsan.
“Di rumah Nyonya Rissa, Pak.”
“Kirimkan alamatnya, aku menyusul ke sana," perintah Bara langsung mematikan sambungan ponselnya.
Tidak sampai setengah jam, mobil hitam milik Bara sudah berhenti tepat di belakang mobil Alphard hitam yang biasa dikendarai Pak Rudi. Dengan berlari, ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Perasaannya tidak tenang sebelum memastikan kalau Bella baik-baik saja.
“Bell,” panggilnya.
***
T b c
Love You all
Terima kasih.