Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 179 : Extra chapter 3


“Sayang ....” Kailla memanggil suaminya dengan manja. Seperti biasa memeluk pinggang Pram dengan erat.


Pram tentu saja terkekeh, mendekatkan bibirnya di sudut indra pendengaran sang istri. Membisikan kata-kata yang membuat Kailla melambung ke udara.


“Aku hanya bercanda. Bagaimana bisa, aku menitipkan hartaku yang paling berharga di panti asuhan,” bisiknya pelan. Hanya Kailla yang bisa mendengarnya.


Rona malu seiring semakin mengeratnya belitan di pinggang Pram. Gadis manja yang nakalnya tidak diragukan lagi, langsung luluh lantah hanya dengan satu baris kalimat manis suaminya.


“Aku tidak mungkin menitipkan ibu dari anak-anakku pada sembarangan orang. Aku bahkan membesarkannya dengan kedua tanganku, demi memastikannya sendiri,” bisik Pram lagi, sembari menepuk lembut punggung baby Real.


Kailla semakin manis dan menurut, sontak membuat Bara terperanjat. Sosok bar-bar yang kenakalannya di atas rata-rata, bisa luluh lantah dan terlihat menurut hanya dibisikan oleh Pram.


“Ayo masuk ke dalam, Kai,” ajak Bella, mengandeng mesra tangan sahabatnya. Membiarkan para suami menggosip berdua.


Dua laki-laki dengan satu bayi mungil itu memandang punggung wanitanya sampai menghilang di balik pintu. Pram masih sibuk menimang baby Real, sedangkan Bara menyimpan banyak tanya yang sejak tadi menggantung di pikirannya.


“Bagaimana kamu menaklukannya?” tanya Bara, membuang rasa penasarannya.


“Hah?” Pram menoleh ke rekannya. Bingung! Tentu saja tidak paham arah pembicaraan Bara.


“Istrimu. Aku tahu jelas istrimu berbeda dengan istriku. Tidak lemah lembut, tidak keibuan, tidak penurut, kekanak-kanakan ... em ....”


“Dia limited edition!” potong Pram.


"Dia mengajarkanku jadi lelaki penyabar, dia mengajarkanku bagaimana menjadi bijak, dia mengajarkanku menjadi dewasa sebelum waktunya, dia menuntutku harus menjadi laki-laki sempurna sesuai kemampuanku, Bar. Dia mengajarkanku banyak hal dengan kenakalannya ....” lanjut Pram.


Bara tergelak. “Istri nakalmu itu gurumu?”


“Ya ....” Pram mengangguk.


“Dia nakal, dia kekanak-kanakan, dia emosian, dia tidak bisa memasak. You know ... aku hanya disuguhkan telur ceplok hampir setiap hari. But, it’s ok. Aku melihat perjuangannya di sana, bukan cita rasa dan hasil akhirnya. Perjuangannya, Bar. Sama seperti kamu menghargai perjuangan Bella hamil dan melahirkan bayi tampanmu ini. Apa yang kamu hadiahkan untuk istrimu? Jangan katakan hanya ucapan terima kasih dan kecupan di bibir saja!” Pram menodong Bara.


Bara menelan saliva, yang dikatakan Pram benar. Dia hanya mengucapkan terima kasih dan mencium bibir Bella sekilas. Malu! Pram menamparnya saat ini.


“Masa kalah dengan Kailla. Yang hanya membuatkan telur ceplok dengan lelehan kecap malika untuk makan siangku. Aku menghadiahkannya sebuah tas branded seharga rumah tinggal.”


“Kamu serius, Pram?”


“Kamu bisa cek berapa harga hermes yang aku hadiahkan untuk menukar telur ceplok buatan Kailla.” Pram tergelak.


“Aku menghargai perjuangannya, Bar. Wanita perlu kejutan-kejutan kecil seperti itu!” Pram menjelaskan.


“Istriku putri konglomerat bukan gadis biasa. Dia bisa menikah dengan siapa pun yang dia mau, yang muda, tampan, kaya ... tetapi dia memilih di sampingku. Yang bahkan usianya terpaut 20 tahun dariku.


Bara tersenyum. Nasibnya tidak jauh berbeda, istrinya tidak lebih tua dari Kailla. Hanya saja Bella jauh lebih dewasa dari Kailla.


“Dia kuat dan dewasa sekali, Bar ...”


Pernyataan Pram sontak membuat Bara terkejut. Gadis bar-bar yang menurutnya tidak sanggup mengontrol emosinya sendiri, masih bersikap layaknya bocah 10 tahun, tetapi di mata Pram sangat dewasa. Oh God, Bara menolak percaya ungkapan kalimat sahabatnya.


Dan Pram tahu, sorot mata Bara menunjukan itu. Keduanya terkekeh, sebelum Pram menjelaskan.


“Wanita itu sulit dimengerti, Bar. Kailla dewasa pada tempatnya, kuat saat diharuskan kuat tetapi dia bisa menjadi anak-anak di sisi lain. Kailla itu jujur, saat suka dia akan mengatakan suka, kalau tidak ... dia akan menunjukannya. Dia tidak pernah bermain dengan perasaannya sendiri.” Pram masih bercerita panjang lebar.


“Kamu ingat sewaktu di mall, istrimu hampir kehabisan napas karena ulah istriku?”


Bara mengangguk, mengingat itu semua rasanya ingin mencekik Kailla. Beruntung bayinya lahir selamat dan sekarang berada di pelukan Pram.


“Awalnya pasti bukan karena Kailla, pasti lawannya itu yang kelewatan. Kailla memang seperti itu. Dia tidak bisa diinjak-ijak. Dia tidak bisa diperlakukan kasar. Motto hidup Kailla itu ... anda sopan, dia akan segan. Anda kelewatan, dia akan lebih arogan.” Pram terbahak.


“Wow!!” Bara terkejut.


“Kailla menyukaimu,” ungkap Pram tiba-tiba.


“Serius? Kenapa dia selalu mengajakku bertengkar?” tanya Bara. Bersama Pram, dia bisa belajar menghadapi banyak orang. Berbeda dengannya yang arogan dan mudah emosi, Pram sangat penyabar dan tidak mudah terpancing.


“Bersamamu, dia menganggap lawan seimbang, teman seumuran. Denganku, dia merasa aku ini seperti daddy-nya.” Pram tergelak.


“Dia manja sekali, Bar. Aku yakin Bella-mu tidak semanja itu. Ketika pulang kerja, istri lain akan menyambut lelah kita dengan ciuman hangat di punggung telapak tangan, mencium sekilas, membantu mengganti pakaian atau menyiapkan teh hangat dan air hangat untuk mandi ... Kailla menyambut suaminya dengan cara berbeda.”


Bara masih menyimak, belajar banyak hal setidaknya bisa mempraktekannya dengan Bella.


“Cara penyambutan yang luar biasa. Sepertinya, aku harus mengajari Bella untuk bersikap semanis ini.”


“Setiap kami mengobrol berdua, dia hanya akan mau duduk di pangkuanku. Bahkan di kantor sekalipun.”


Bara terbelalak. Bahkan Bella tidak pernah melakukan ini padanya. Istrinya sering marah-marah dan mengambek tanpa kejelasan.


“Hal manis yang harus kamu tahu, Bar. Saat bertengkar pun dia akan terlihat manis. Dia tetap memanggilku Sayang.” Pram tergelak untuk cerita ini.


“Serius?”


Pram mengangguk. “Dia mengumpatku dengan kata Sayang.”


“Aku harus meminta Bella belajar banyak pada anak nakal itu! Bella kalau marah sering kabur ke Surabaya. Ingin aku jual saja rumah yang di Surabaya, supaya Bella tidak kabur-kaburan lagi.” Bara mengadu.


“Istriku tidak pernah kabur untuk hal tidak penting, dia lebih memilih merajuk sehari semalam. Aku pernah memanjat balkon kamarku karena dia cemburu dengan teman kuliahku,” cerita Pram.


“Bagaimana bisa?”


“Dia mengunci pintu kamar tidur kami berjam-jam, Bar. Aku sudah membujuknya berjam-jam di depan pintu kamar. Aku hampir tertidur di depan pintu. Padahal kalau dia mau membuka pintu, cukup memeluknya saja, dia akan luluh lantah.” Pram kembali bercerita.


“Kenapa istriku setiap marah tidak mengunci kamar saja, ya. Ini lebih baik dibanding harus terbang ke Surabaya, aku pernah menyetir semalaman Jakarta-Surabaya, karena dia marah padaku, Pram.” Giliran Bara yang berkeluh kesah.


Pram terbahak.


"Setiap berhadapan dengan wanita di sekelilingku, Kailla akan menjadi singa betina. Dia tidak pernah marah berlebih, cemburu berlebih pada wanita atau pun mantan wanitaku. Itu manis sekali Bar. Kamu tahu rasanya bibirmu dilu'mat di depan mantan pacarmu atau di depan wanita penggoda?"


"Dia benar-benar melakukannya tanpa malu-malu, Bar. Cemburunya Kailla berbeda. Dia tidak pernah marah padaku di depan wanita lain, sebaliknya dia akan mesra sekali." Pram tergelak.


"Serius? Ketika kamu didekati wanita dia akan melakukan itu di depan sang wanita?" Bara bertanya.


Pram mengangguk. "Dan bisa kamu bayangkan para wanita penggoda itu mundur teratur saat melihat Kailla bersikap seperti itu. Ada rasa bahagia, Bar. Kita merasa seperti berharga di dalam hidupnya. Walaupun sampai di rumah, kamu tahu sendiri apa yang terjadi." Pram tersenyum membayangkan semua hal tentang istrinya.


"Aku akan mengajari Bella supaya bersikap seperti ini. Biasanya Bella akan marah-marah padaku, Pram," adu Bara.


“Cari hal yang paling disukainya, Bar. Beri hadiah manis itu untuknya.” Pram mengusulkan.


“Maksudnya Pram?”


“Istriku suka dengan tas branded, apalagi keluaran terbaru. Setiap hal manis yang dilakukannya. Hal-hal kecil, aku biasanya menghargai dengan menghadiahkan tas kesukaannya.”


“Misalnya?”


“Dia sedang belajar memasak sekarang. Untuk nasi goreng gosong pun aku akan membayar perjuangannya dengan tas kesukaannya. Kamar kami sudah seperti outlet. Koleksi tasnya mengalahkan pabrik tas.” Pram tertawa.


“Istriku ... tidak ada yang disukai, Pram.”


Pukulan kencang mendarat di pundak Bara. “Setiap wanita itu pasti menyukai tas, perhiasan, fashion dan semua hal yang berbau feminim, Bar. Sebagian tidak memprioritaskan. Terkadang tuntutan hidup membuat mereka harus memilih kebutuhan hidup atau kesukaan mereka.”


Bara lagi-lagi terkejut. Bagaimana Pram bisa mengetahui seluk-beluk para wanita.


“Sebagai suami kita dituntut untuk peka, Bar. Coba sesekali hadiahkan istrimu. Tidak perlu mahal, mereka akan tumbang untuk hal manis yang sudah kamu lakukan.”


“Masak untuk istrimu atau kamu bisa melayaninya sesekali. Jangan dia terus yang melayanimu, Bar. Mengalah padanya sesekali, perlakukan dia dengan manis. Harus pintar-pintar menempatkan diri di depannya. Suami itu bagi para istri gambaran ayah kandung yang ditinggalkannya saat mereka lebih memilih hidup bersama kita.”


Bara menyimak saat ini.


“Sesekali, manjakan mereka seperti seorang ayah ke anaknya. Terkadang mereka juga merindukan ayah yang ditinggalkannya karena memilih berbagi hidup dengan kita. Saat harus menjadi suami, tunjukan kamu suami ideal seperti di sinetron-sinetron. Yang penyayang, penyabar tetapi tegas dan bijak.”


“Jadi aku harus bagaimana menghadapi Bella?” tanya Bara dengan polosnya.


“Tanyakan pada dirimu sendiri, Bar. Bella itu istrimu bukan istriku. Bukankah harusnya kamu sudah menamatkan segala hal tentang istrimu.” Pram mengulum senyuman.


“Wanita itu berbeda, Bar. Istrimu dan istriku itu berbeda, tetapi mereka tetap suka dengan hal manis.” Pram menjelaskan.


Hanya saja, Bara kebingungan sendiri. Semakin dijelaskan, semakin tidak tau arahnya ke mana.


***


Yang belum baca Kisah Pram dan Kailla, silakan mampir di Istri Kecil Sang Presdir ( season 1 ) dan Istri Sang Presdir ( Season 2 ), yang sebentar lagi akan tamat season 2. Author sedang menyusun season 3.