Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 52. Tetap Disisiku


Rissa keluar dari kamar, membanting pintu dengan kencang. Di luar sudah tampak Bara berdiri menunggunya dengan bertolak pinggang. Tatapan membara, garis rahang mengeras dan urat-urat di pelipis menonjol.


“Aku tidak masuk ke dalam hanya karena istriku meminta untuk bisa menyelesaikannya berdua dengan kakaknya,” ucap Bara dengan nada penuh penekanan dan emosi.


“Hahaha, urusanku dengan adikku sudah selesai. Tapi urusan kita sampai kapanpun tidak akan selesai.”


“Ya, ayo kita selesaikan!” todong Bara, bersiap menyeret Rissa.


“Oups, tidak sabaran sekali kamu, Sayang. Mau main di mana?” tanya Rissa dengan santainya.


“Sesekali main di kamarmu yang mewah itu, sudah bosan main di kamarku,” ejek Rissa.


“Kurang ajar! Apa maumu? Kamu sengaja memancing kemarahan Bella?” tuding Bara, mendorong Rissa dengan kencang.


“Aku ini laki-laki, tapi rasanya aku ingin menghajarmu sekarang!” gertak Bara.


“Biasanya juga kamu lembut padaku, Bar. Hanya karena ada barang baru di kamarmu, tiba-tiba berubah kasar begini," sahut Risss dengan santainya, tidak peduli dengan amarah yang tergambar jelas di wajah Bara.


“Apa maumu? Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu. Mimpimu terlalu tinggi, Kakak ipar!” sahut Bara, sedikit mengikuti alur permainan Rissa.


“Astaga Adik iparku tersayang dan satu-satunya, kamu melupakan pernah berbagi malam indah denganku!” bisik Rissa lembut, mengusap lengan Bara.


“Br'engsek! Aku tidak mau meladenimu hanya karena menurutku tidak penting. Aku mengakuinya hanya karena selembar foto yang selalu kamu pamerkan di hadapanku!”


“Aku bahkan tidak pernah merasa pernah melakukannya. Kalau memang itu benar terjadi, aku yakin pela'cur sepertimu tidak akan bersikap begini tenang! Hanya menuntut hal-hal receh," ucap Bara dengan lantang.


Rissa terbelalak. Selama ini Bara tidak pernah berkomentar tentang malam di mana mereka berdua berbagi tempat tidur.


“Wanita licik sepertimu, tidak akan melepaskanku sebegitu mudah kalau semuanya benar terjadi. Kamu pasti akan menyeretku ke penjara, kalau aku menolak bertanggung jawab atas tuduhan pemerkosaan atau apalah itu!” komentar Bara tersenyum.


“Aku hanya tidak mau meladenimu saja! Aku tidak mau kamu mengirim foto itu kepada istriku! Orang lain mungkin bisa ditipu tetapi aku tidak!” lanjut Bara lagi.


“Aku memenuhi semua permintaanmu hanya karena istriku. Aku tidak mau dia salah paham. Aku mengakui itu ada juga karena istriku. Ada atau tidak, kamu yang paling tahu,” ucap Bara lagi.


Laki-laki itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Membiarkan Rissa mematung sendirian. Tak lama, ia keluar dengan sebuah map di tangan.


“Ini untukmu!” Bara melempar map itu ke arah Rissa, berikut sebuah kunci.


Map berisi sertifikat rumah, surat kepemilikan mobil yang sering digunakan Rissa dan sebuah kunci rumah.


“Itu milikmu sekarang! Aku sudah mengalihkan kepemilikannya atas nama Rissa Cantika.”


Rissa tertunduk menatap isi map yang berhamburan di lantai.


“Itu bukan untuk menutup semua kesalahan yang kamu tuduhkan padaku. Tapi aku memberinya padamu, karena kamu Ibu kandung Issabell sekaligus Kakak dari istriku, putri dari Ibu Rosma."


“Keluar dari rumahku sekarang! Keluar dari perusahaan. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Aku akan tetap menanggung semua biaya hidupmu sampai kamu menikah!” usir Bara.


“Satu lagi! Jangan berani berbicara apapun pada Ibu. Aku pastikan kamu akan menjadi gelandangan di Jakarta. Pilihanmu, membongkar semuanya pada istriku adalah pilihan terburukmu!” ucap Bara kembali, meninggalkan Rissa yang terpaku, membeku di tempatnya berdiri.


Bara baru saja hendak melangkah ke kamarnya, tetapi terhenti saat matanya menangkap Bella yang berdiri di pintu kamar menyaksikan pertengkarannya dan Rissa. Istrinya menangis, berlinang air mata tanpa bersuara.


Terlalu sibuk beradu kata, saling melempar salah dengan Rissa, sampai ia tidak memerhatikan kehadiran Bella yang sedang menonton pertunjukannya dan Rissa.


“Bell ...."


Bara memanggil, menghampiri istrinya yang terlihat menyedihkan dengan pipi memerah.


“J”alang itu menamparmu?” tanya Bara setelah melihat istrinya dari jarak dekat.


Bara langsung emosi, berbalik menatap Rissa yang masih saja membeku. Baru saja ia hendak melangkah, tetapi Bella menarik tangannya.


“Mas, sudah. Biarkan saja, kasihan Kak Rissa,” ucap Bella sambil terisak, meraih tangan Bara. Memohon suaminya untuk tidak menyakiti kakaknya. Saat ini, ia lebih kasihan pada kakaknya dibandingkan sakit akibat tamparan kakaknya. Bagaimanapun, semua ini tidak hanya kesalahan Rissa, tetapi suaminya juga memiliki andil atas semua yang terjadi.


“Dia kelewatan, Bell. Semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Tapi dia malah memukulmu,” ucap Bara, mengusap pipi Bella yang memerah.


“Sudah," pinta Bella mengajak Bara masuk ke dalam kamar mereka.


Begitu masuk di dalam kamar, Bara terkejut melihat puluhan foto vulgarnya dengan Rissa yang berhamburan di lantai. Pandangannya beralih pada sang istri, yang memilih duduk di ranjang dan hanya tertegun.


“Bell, kamu baik-baik saja?” tanya Bara.


Bella hanya mengangguk.


“Aku ke dapur sebentar,” pamit Bara, bergegas keluar. Tak butuh waktu lama, ia sudah kembali dengan es batu dan sebuah handuk kecil.


“Masih sakit?” tanya Bara, sesaat setelah mengompres pipi Bella yang memerah.


“Sedikit," sahut Bella, dengan berlinang air mata.


“Kenapa harus jadi begini, Mas. Bagaimana dengan Ibu, kalau sampai mengetahui hubunganku dengan Kak Rissa memburuk. Aku harus bagaimana?” isak Bella.


“Sudah, jangan menangis lagi. Aku akan mengurus semuanya. Kamu cukup tinggal di sisiku. Fokus kuliah, mengurusiku dan Icca,” ucap Bara, tersenyum.


“Mas, bisakah tidak menyakiti Kak Rissa lagi. Aku kasihan padanya. Aku berjanji tidak meninggalkanmu, tolong jangan membuat Kak Rissa menderita,” pinta Bella, menatap Bara. Ia memohon pada suaminya.


Bara mengangguk, menggenggam tangan Bella, sembari tersenyum.


“Tetap di sisiku, aku berjanji akan melindungi dan membahagiakanmu,” ucap Bara.


“Mungkin belum ada cinta, tetapi aku janji akan belajar mencintaimu,” lanjut Bara, mengecup kening Bella.


Bara memandang ke arah foto-toto yang berserakan di lantai, kemudian pandangannya beralih. Melihat Bella yang ikut memerhatikan foto-fotonya yang sedang berbagi selimut dengan Rissa dan tanpa pakaian. Lengan yang selama beberapa minggu ini memeluk Bella di dalam tidur, di foto sedang memeluk erat Rissa.


“Maaf," bisik Bara pelan, nyaris tak terdengar.


“Mas, setiap melihat itu rasanya sakit!” ucap Bella mulai menangis kembali.


Yang bisa dilakukan Bara saat ini hanya memeluk dan mendekap erat Bella, mengusap air mata yang turun dan mengalir di pipi istrinya.


Menyesal. Satu kata itu, yang saat ini ada di benak Bara. Karena ulahnya yang tidak bertanggung jawab, membuat semuanya jadi berantakan seperti ini. Belum lagi, ia harus menjadi suami yang tidak bertanggung jawab pada Bella. Selama dua tahun menelantarkan istrinya.


Keduanya terdiam, merenung peristiwa yang baru saja terjadi. Sampai akhirnya ekor mata Bara menangkap sederetan pil yang masih tersegel rapi, tersembunyi di dekat kaki Bella.


“Bell, kamu ....” Bara mendongak, menatap Bella tidak percaya.


Tangannya langsung meraih pil yang ia tahu pasti fungsinya untuk apa. Ia sudah pernah menikah, ia tahu kegunaan pil-pil itu.


“Beraninya kamu, Bell!” ucap Bara, menatap tajam pada istrinya.


***


T B C


Terima kasih


Love you all