
Sepanjang perjalanan perasaan Bara tidak tenang. Memacu mobilnya diliputi rasa bersalah telah berbohong pada istrinya. Dia tidak bisa jujur kali ini, Bella sedang hamil. Dan pengalamannya selama ini, setiap membahas tentang masa lalu, istrinya itu tidak akan bisa menerima dengan lapang dada.
Dia tidak yakin, penyataan cintanya kemarin itu cukup menenangkan Bella, dan membuat wanita hamil itu berhenti berpikiran yang tidak-tidak.
Sembari memegang setir, Bara menghubungi Kevin, asistennya.
“Kevin, tolong nanti transfer 100 juta ke rekening Stella!” perintahnya melalui sambungan ponsel.
Kevin yang baru saja akan bersiap ke kantor langsung terperanjat. Tidak biasanya Bara memintanya mengirim uang dalam jumlah banyak ke rekening Stella. Biasanya masih dalam taraf normal untuk biaya bulanan mantan istrinya itu.
“Iya Pak,” sahut Kevin, tanpa banyak bertanya.
“Ada lagi, Pak?” tanya Kevin.
“Handle semua pekerjaanku selama dua hari ini. Kemungkinan aku tidak akan ke kantor,” ucap Bara.
Kali ini tentu saja Kevin terkejut. Tidak biasanya sang atasan absen ke kantor, kecuali ada masalah dengan keluarganya.
“Nyonya Bella baik-baik saja, kan?” tanya Kevin memastikan.
“Baik. Tidak ada masalah dengan Bella, tetapi Brenda, makanya aku memintamu mengirim uang ke rekening Stella,” jelas Bara.
“Oh.. Apa lagi, Pak?” tanya Kevin.
Bara menghela nafas kasar. “Untuk sementara, rahasiakan dari istriku. Aku akan menyampaikannya langsung pada Bella, setelah ada kepastian kabar. Masalahnya aku saja baru mendapat kabar dari Rania,” akan jelas Bara lagi.
“Yang ada malah membuat Bella khawatir dan panik,” jelas Bara.
“Siap, Pak.”
“Oh ya, aku tidak tahu. Cuma untuk berjaga-jaga, kalau ada orang kantor bertanya padamu, termasuk Bella, katakan saja aku ke Bogor,” lanjut Bara lagi, memberi instruksi pada asistennya.
“Siap Pak.”
Setelah memastikan semuanya aman, Bara bisa sedikit bernafas lega. Dia tidak mau lagi terjadi kesalahpahaman, yang berujung dengan terganggunya kandungan Bella. Dan untuk saat ini, dia juga belum bisa berterus terang sebelum memastikan apa yang terjadi sebenarnya.
“Maafkan aku, Bell,” bisiknya pelan.
***
Di rumah, Bella sedang bersiap untuk mengantar Issabell ke sekolah. Tadinya dia masih terlihat santai karena harusnya Bara yang mengantar, tetapi karena suaminya itu mendadak ada pekerjaan keluar kota, akhirnya tugas mengantar diserahkan padanya dan Pak Rudi.
Tak lama, Bella sudah keluar dari rumah sembari menuntun putrinya, gadis mungil berkepang dua dengan tas ransel hello kitty.
“Ayo Icca, masuk ke dalam mobil ya,” pinta Bella, baru saja dia akan menggendong Issabell, Pak Rudi sudah mengambil alih.
“Biar saya saja Bu. Pak Bara berpesan harus mengawasi Ibu supaya tidak mengangkat yang berat-berat,” jelas Pak Rudi, tersenyum. Mengendong Icca dan mendudukan gadis kecil itu sekaligus membantu Issabell memasang seatbelt.
“Ada-ada saja Mas Bara. Kalau cuma menggendong Icca, aku juga masih kuat,” celetuk Bella, ikut masuk, duduk tepat di sebelah Issabell.
Begitu semuanya siap, Pak Rudi pun menjalankan mobilnya dengan perlahan. Tidak berani terlalu kencang, sesuai instruksi majikannya. Bara akan mengomel kalau sampai terjadi sesuatu pada istrinya.
“Bu, Bapak ke Bogor lagi?” tanya Pak Rudi, melirik Bella dari kaca spion.
“Iya Pak, katanya ada masalah lagi di proyek. Mas Bara nanti berangkat dengan sopir kantor,” jelas Bella.
Sopir keluarga itu terlihat mengangguk.
“Pak, kemarin sempat jalan-jalan ke taman safari?” tanya Bella, mencoba mencari tahu.
“Loh, kok ibu bisa tahu?” tanya Pak Rudi, heran sambil tersenyum.
“Iya, aku melihat tiket masuknya di kantong Mas Bara.”
“Iya Bu. Mengantar klien Pak Bara. Kebetulan anak-anaknya masih kecil, belum pernah jalan-jalan le Taman Safari. Jadi Pak Bara meminta saya mengantarnya, Bu,” jelas Pak Rudi.
“Memang asli mana kliennya, Pak?” tanya Bella lagi.
“Kurang tahu juga Bu. Cuma bukan orang Jakarta. Setiap kali Pak Bara ke sana, tidak pernah bertemu. Baru kemarin saja,” jelas sang sopir.
Bella kembali mengangguk. Otaknya sedang mencocokan jawaban suaminya dengan sang sopir. Meskipun jawabannya sama, tetap saja masih ada kecurigaan di hati Bella. Namanya perempuan, apalagi selama ini Bara sering berbohong padanya. Ditambah kalau mengingat sikap mencurigakan Bara tadi pagi, semakin membuat Bella sulit percaya pada Bara seratus persen.
“Pak, memang setelah dari Taman Safari, jalan kemana lagi?” tanya Bella, mengingat faktur pembayaran dua buah kamar hotel.
“Tidak kemana-mana. Hanya ke restoran, makan. Sudah,” cerita Pak Rudi.
“Memang tidak mampir ke hotel?” tanya Bella lagi.
“Tidak, Bu,” jawab Pak Rudi dengan yakin.
“Aneh. Mas Bara ambil kamar untuk apa,” batin Bella.
“Memangnya, klien Mas Bara menginap di mana?” tanya Bella lagi, curiganya semakin menjadi.
Bella kembali mengangguk, setelah dirasa tidak ada lagi yang bisa dikoreknya dari sang sopir. Di sisa perjalanan, Bella memilih diam, hanya sesekali ,mengobrol dengan Issabell.
***
Siang itu, Bella terlihat menemani Issabell menyelesaikan tugas sekolahnya. Mewarnai lembar tugas dengan pensil warna.
“Icca. Mewarnainya sampai penuh, Sayang. Jangan sampai kelihatan putihnya,” jelas Bella, menunjuk ke bagian putih yang lebih banyak dibanding yang diwarnai.
Konsentrasi Bella terpecah, saat ponselnya di atas meja berdering. Tadinya mengira kalau suaminya yang menghubunginya. Ternyata..
“Ibu..,” bisik Bella pelan. Segera mengusap tombol hijau dengan ujung jarinya.
“Iya Bu, ada apa?” tanya Bella begitu gawai pipih menempel di telinga.
Ketenangan Bella terusik saat mendengar suara tangis asisten rumah tangga Ibu Rosma.
“Bu.. , Ibu ping..san..,” jelasnya terbata dari seberang.
“Hah?! Bagaimana bisa?” Jantung Bella hampir melompat keluar mendengar berita yang disampaikan sang asisten rumah tangga.
“Tidak tahu, Bu. Sepertinya habis menerima panggilan. Hanya menyebut nama Rissa.. Risaa, hais itu jatuh. Tidak sadarkan diri. Ini sudah dipanggil-pangil. Coba dibangunkan, tetapi masih belum sadar. Sudah hampir setengah jam,” ceritanya dengan suara bergetar.
“To-tolong bawa ibu ke rumah sakit, Mbak. Bawa sopir. Aduh, bagaimana ini?” pinta Bella tidak kalah gugup dan paniknya.
“Aku akan terbang ke Surabaya hari ini, Mbak. Titip Ibu dulu,” jelas Bella, mematikan ponselnya.
Dengan panik dia memanggil Pak Rudi, mengabaikan Issabell yang sibuk dengan pensil warna bersama pengasuhnya.
Terdengar teriakan nyaring Bella dari dalam rumah, memanggil sopir keluarga mereka. Tidak biasanya wanita kalem itu berteriak nyaring seperti ini.
“Pak Rudi!”
“Pak Rudi!” teriak Bella, berdiri di teras rumah.
Tak lama sopir paruh baya itu muncul dengan sarung dan kopiah. Berlari panik mendengar panggilan sang nyonya rumah.
“Maaf Bu, baru selesai sholat Jumat di mesjid depan. Ada apa?” tanya Pak Rudi.
“Aku harus ke Surabaya, Pak. Tolong antarkan aku ke bandara,” jelas Bella.
“Kok mendadak, Bu?”
“Ibuku tidak sadarkan diri. Tidak ada siapa-siapa disana yang mengurusnya,” jelas Bella.
“Waduh! Lagi hamil besar begini apa boleh naik pesawat, Bu?” tanya Pak Rudi ragu.
“Apa perlu surat dokter ya?” tanya Bella lagi.
“Ya sudah. Antarkan aku ke rumah sakit sekarang, Pak.” Bella bertanya, tetapi akhirnya mengambil keputusan sendiri.
Tanpa berganti pakaian, hanya mengenakan gaun hamil motif bunga, masuk ke dalam rumah untuk mengambil dompet dan ponselnya. Terlalu Panik langsung bergegas ke mobil. Lupa berpamitan pada semua yang ada di rumah.
Di perjalanan, dia berusaha untuk menghubungi Bara, mengabarkan keberangkatan dan kondisi ibunya. Namun sayang, tidak ada satu pun panggilannya yang tersambung. Sepertinya sang suami terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga tidak sempat menerima panggilan.
“Aduh, Mas Bara bagaimana sih!” gerutu Bella, kesal. Disaat dia membutuhkan suaminya, Bara malah menghilang tanpa kabar.
“Kevin saja,” ucapnya pelan. Kembali mencari nomor kontak asisten suaminya itu. Siapa tahu Kevin bisa menghubungi Bara, mengabarkan tentang keberangkatannya yang tiba-tiba.
Dan sama saja, asisten Bara itu juga tidak menjawab panggilannya. Lagi-lagi Bella harus menahan kesal. Baik suami ataupun asistennya sama saja, tidak bisa dihubungi.
Empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai Pak Rudi tiba di parkiran rumah sakit. Dengan setengah berlari Bella, masuk dan mendaftar di poli kandungan tempat dokternya praktek.
Menunggu disaat panik seperti ini rasanya lama sekali. Berkali-kali Bella berusaha menghubungi Bara, tetapi selalu berakhir dengan mailbox.
“Ya Tuhan, Mas.. Disaat penting seperti ini, kemana kamu perginya,” ucap Bella, kesal.
Gawai itu masih menempel di telinganya, saat terdengar perawat memanggil namanya.
“Ibu Bella Cantika..”
“Ibu Bella Cantika..” Tampak seorang perawat, muncul dari balik pintu ruang praktek dokter.
“Iya Sus,” sahut Bella, segera bangkit, dan mengikuti perawat yang mendekap map di dadanya. Pada saat itu, tanpa sengaja dari kejauhan sudut mata Bella menangkap sosok lelaki yang sepertinya sangat familiar bersama seorang anak gadis perempuan, masuk ke dalam lift rumah sakit.
“ Apa itu Mas Bara...”
***
TBC