
Bella sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Ibu hamil itu sudah terlihat membaik, senyum mulai menyambangi bibir yang tadinya memucat. Bara, laki-laki itu tak hentinya mengenggam tangan sang istri. Hanya melihat pergerakan istrinya saja, Bara sudah diliputi bahagia.
Berjuta panik yang tadi menguasai dirinya perlahan menghilang saat seulas senyum bertakhta di bibir Bella. Istri dan anak laki-laki yang masih terlelap di rahim Bella, baik-bak saja. Beribu khawatir yang menyesak dada, berangsur sirna.
“Bell, bagaimana sekarang? Kamu merasa jauh lebih baik?” tanya Bara, mencari tahu.
“Aku baik-baik saja, Mas. Maaf membuatmu repot. Anak-anak bagaimana?” Beban sebagai ibu dari dua orang putri, meskipun bukan putri kandungnya membuat Bella tidak bisa berbaring dengan tenang.
“Sudah. Jangan dipikirkan. Aku menelepon mama dan papa supaya menginap di rumah kita malam ini, untuk menemani Rania dan Icca,” cerita Bara, menenangkan sang istri. Mama dan papa yang dimaksud Bara adalah mantan mertuanya, Oma dan Opa Rania.
“Ibu sudah dikabari?” tanya Bella. Sejak memutuskan pindah ke Jakarta, Ibu Rosma bolak balik Jakarta - Surabaya. Kebetulan Bella belum melahirkan, seminggu yang lalu Ibu Rosma berpamitan ke Surabaya dan minggu depan baru kembali ke Jakarta.
“Belum, biarkan saja. Aku tidak mau membuat ibu panik. Biarkan saja Ibu menikmati liburannya yang hanya beberapa hari. Lagi pula ada papa dan mama yang bisa dimintai tolong di sini untuk mengawasi anak-anak.” Bara menjawab.
“Rania sudah mulai dewasa, Icca juga mulai mandiri, tidak perlu diurus berlebih. Ada pengasuh dan asisten rumah tangga juga yang bantu mengawasi mereka. Hanya saja, aku tidak enak meninggalkan mereka dengan pengasuh, makanya meminta papa dan mama menginap di rumah untuk menemani selama kamu dirawat,” lanjut Bara.
Bella bisa bernafas lega. Pandangannya beralih pada sepasang suami istri yang duduk saling bersandar di sofa. Pram dan Kailla, masih setia di sana. Pram sibuk dengan ponselnya, memeriksa email yang dikirimkan David dan Kailla tertidur di pundak suaminya.
Senyum kembali merekah di bibir Bella, mengingat bagaimana baiknya sang sahabat.
“Mas, sudah makan siang?” tanya Bella, melihat senampan makanan yang belum tersentuh. Yang menjadi jatah makan siangnya yang terlewatkan.
“Belum, nanti saja Bell. Aku masih kenyang,” sahut Bara asal.
Ketukan di pintu kamar, mengagetkan dua pasang anak manusia. Bara segera melepas genggaman tangannya pada sang istri. “Bell, aku lihat sebentar.”
Begitu pintu terbuka, Ricko muncul dari balik pintu dengan raut ketakutan. Tidak berani menatap, menyerahkan bungkusan berisi kotak makanan pesanan majikannya, Pram.
“Rick, letakan di atas meja saja!” perintah Pram, tanpa bergeser sedikit pun dari duduknya. Istrinya sedang menikmati kenyamanan pundaknya memaksa laki-laki itu diam di tempat. Takut mengusik tidur Kailla.
Mendengar suara Pram, Bara mengalah. Ketidaksukaan yang tampak di matanya saat melihat kehadiran Ricko berangsur menghilang. Laki-laki itu kembali duduk di samping brankar istrinya, tetapi ekor matanya masih terus mengawasi pergerakan sang asisten.
“Bar, aku pesan makanan,” tawar Pram, menunjuk kotak mika yang bertumpuk di atas meja.
“Ya, aku akan makan nanti.” Bara kembali meraih tangan istrinya.
Berbeda dengan Bara, Pram segera membangunkan Kailla. Laki-laki itu menyimpan panik saat mengetahui Kailla belum makan siang yang bahkan sudah terlewat beberapa jam yang lalu.
“Kai, bangun Sayang. Ayo makan siang, sekarang.”
Begitu mata Kailla membuka, yang diingatnya pertama kali adalah Bella. Bahkan dia mengabaikan kehadiran suaminya.
“Boo, kamu sudah bangun?” tanya Kailla berlari ke tempat Bella berbaring. Dia bisa bernapas lega. Sejak tadi ketiduran, jadi tidak tahu kalau sahabatnya sudah siuman.
“Boo, aku suapi makan, ya?” tawar Kailla.
Tanpa menunggu jawaban, gadis dengan rambut dikucir kuda itu meraih sepiring nasi dan mengisinya lauk pauk. Mulai menyuapi Bella, sembari berdiri di samping sahabatnya itu. Sengaja tidak mau menatap Bara, khawatir akan kena semprot suami sahabatnya itu lagi.
Pram masih memegang kotak mika berisi nasi tim ayam, ikut berjalan mendekat. Laki-laki itu mengisi perutnya sembari berbagi dengan istrinya. Satu suap untuknya, satu suap untuk Kailla. Begitu seterusnya.
“Kamu belum makan dari tadi siang,” ucap Pram, sembari menyodorkan sendok berisi nasi ayam itu ke mulut istrinya.
Dan Bara, yang awalnya mengerutkan dahi, jadi malu sendiri saat melihat Kailla menyuapi istrinya, Bella. Sedangkan Pram, sibuk berbagi makan siang dengan sesekali menyuapi Kailla.
Kailla masih sempat tersenyum usil dan menaikan kedua alis pada sahabatnya. Bukannya dia tidak tahu bagaimana kakunya Bara. Dari cerita Bella, suami sahabatnya itu tidak romantis dan kaku, seperti kanebo kering. Kalau pun romantis hanya sesaat, nanti akan kembali kaku dan suka marah-marah.
Memilih duduk kembali di sofa, berbagi makan siang, sekotak berdua dengan suaminya.
“Sayang, Om Bara itu kenapa tidak ada manis-manisnya,” bisik Kailla, senyum sendiri melihat Bella yang disuapin suaminya.
“Hush! Jangan suka mengurusi urusan orang lain!” ujar Pram, kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut istrinya.
“Sayang, belanjaan tadi di mana?” tanya Kailla tiba-tiba.
“Itu punya Bella semua. Untuk bayinya,” lanjut Kailla lagi.
“Oh ya. Aku akan meminta Sam mengantarnya ke rumah Bara nanti. Tidak perlu khawatir.”
***
Sepeninggalan Kailla dan Pram, tertinggal Bara dan Bella di kamar perawatan.
“Bell, apa yang terjadi?” tanya Bara. Tangan laki-laki itu masih mengenggam sejak tadi, sesekali mengelus perut buncit istrinya.
“Sepertinya aku terlalu bersemangat mencari perlengkapan bayi kita, Mas. Jadi lupa beristirahat dan telat makan siang,” sahut Bella, tertunduk. Rasa bersalah menyeruak di dalam hati.
“Maafkan aku, Mas. Sudah merepotkamu. Sampai harus meninggalkan pekerjaan,” lanjut Bella lagi.
“Sudah tidak apa-apa. Yang terpenting saat ini, kamu dan bayi kita baik-baik saja.”
Bella menghela napas pelan. Bukan hanya pada suaminya, Bella merasa tidak enak pada Kailla dan suaminya. Kedua orang itu sampai ikut menunggunya di rumah sakit. Suami Kailla juga meninggalkan pekerjaan karenanya.
“Aku merasa bersalah pada Kailla, Mas. Dia sudah membujukku untuk beristirahat sejak tadi, tetapi aku yang terlalu memaksa. Rasanya aku masih kuat dan tidak apa-apa, ternyata fisikku tidak sekuat yang aku rasakan. Adik bayi berontak di dalam sini,” jelas Bella.
“Sudah tidak apa-apa.” Kecupan hangat dilabuhkan Bara di kening istrinya.
Mendengar penjelasan Bella, Bara menelan saliva. Rasa bersalah yang dirasakan Bella, sekarang ikut dipikulnya. Baru saja, dia mengomeli Kailla dan itu dilakukannya di depan Pram.
“Untung ada suami Kailla, dia yang menggendongku ke rumah sakit,” adu Bella.
“Pram? Dia menggendongmu?” tanya Bara. Cemburunya muncul tiba-tiba. Meskipun itu Pram, sahabatnya sendiri. Tetap saja, Bara tidak rela kalau istrinya disentuh laki-laki lain.
“Ya, Om Pram yang menggendongku.” Bella memperjelas.
Cemburu buta membuat Bara sering lepas kontrol. Bahkan pada siapa pun dan dalam kondisi apa pun, laki-laki itu bisa cemburu tidak pada tempatnya.
“Mas tidak terima? Masih bagus Om Pram yang menggendongku, bukan Kak Ricko,” ucap Bella, menyadari suaminya yang terbakar cemburu.
“Beruntung, Om Pram tidak memerintahkan Kak Ricko menggendongku. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu, Mas.” Bella mengingatkan. Sebagai istri, dia tahu jelas bagaimana Bara yang memendam cemburu tak berkesudahan pada Ricko.
***
TBC
Koko Ditya Halim ( crazy rich mencari cinta ) mungkin tidak up hari ini ya, thanks.