Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 87. Pohon Mangga Berbuah Semangka


Sore itu, Bella sudah bersiap bersama Issabell menunggu kepulangan suaminya. Ibu Rosma yang ikut menemani keduanya, tampak duduk di kursi taman menemani cucunya bermain lari-larian di halaman samping rumah.


Semilir angin sore, menerpa wajah cantik ibu muda yang terus-menerus tersenyum. Sepanjang hari Bella bahagia, sejak Bara setuju untuk mengabulkan permintaannya. Sebenarnya, setengah dari alasan meminta suaminya memanjat adalah bagian dari kekesalannya. Selama ini ia merasa kurang diperhatikan Bara. Bahkan, suaminya itu terlihat biasa, tidak seperti calon ayah yang ada di novel dan sinetron-sinetron.


Senyumnya merekah ketika mendengar deru mobil sport Bara masuk ke pekarangan rumah. Tak lama terdengar teriakan Bella yang memanggil putrinya.


“Icca, sudah mainnya. Daddy pulang,” serunya, berdiri menyambut putrinya yang berlari menghampiri.


“Lihat ... baru saja mandi sore, sudah keringatan lagi,” ucap Bella, merapikan anak rambut Issabell yang berantakan tertiup angin. Tampak ia menyeka keringat yang memenuhi wajah putrinya.


“Endong, Mami,” pinta Issabell seperti biasa, bermanja-manja dengan sang bunda. Baru saja akan mengangkat tubuh putrinya, tiba-tiba Bara sudah muncul dari belakang dan mengambil alih.


“Icca main apa sampai basah seperti ini?” tanya Bara mengecup pipi putrinya yang memerah. Tangannya mengusap lembut punggung Issabel yang basah karena keringat menembus kaus katunnya.


“Lali-lalian sama Mbak cus,” celoteh Issabell menjawab.


Pandangan Bara beralih pada Bella, sembari menyerahkan jas kerjanya dia bersuara.


“Istriku sudah secantik ini mau jalan-jalan ke mana?” tanya Bara, usil. Padahal ia ingat memiliki janji dengan Bella. Namun, sejak pagi ia terus berdoa, berharap Tuhan membuat Bella berubah pikiran. Setidaknya, ia tidak perlu memanjat pohon di tengah keramaian.


“Mas, kita pergi sekarang saja, ya,” ujar Bella, membuat raut Bara berubah sedih.


“Bell, Mas-mu ini seumur-umur tidak mahir memanjat. Apa kamu tidak berniat berubah pikiran?” tanya Bara dengan wajah memelasnya.


“Bagaimana kalau kita beli mangganya di supermarket saja?” tawar Bara.


Raut wajah Bella langsung berubah cemberut, berhias tatapan kesal. Perubahan rona yang tiba-tiba, membuat Bara menciut. Istrinya langsung berbalik pergi, meninggalkan Bara yang keheranan menghadapi perubahan mood yang begitu cepat.


“Ya Tuhan, aku salah bicara lagi,” bisik Bara pelan, tersenyum pada Issabell yang masih di gendongannya.


“Kenapa bawa-bawa nama Tuhan!” omel Bella tiba-tiba berbalik, tanpa sengaja mendengar ucapan suaminya.


“Aku salah lagi,” ucap Bara pelan, menurunkan putrinya. Menyerahkan Issabell pada pengasuh, ia harus cepat mengejar istrinya. Kalau tidak cepat dibujuk, kemarahan Bella semakin menjadi. Bisa saja pergi tanpa pesan seperti tadi pagi.


“Bell, Bell!” panggil Bara, berlari menyusul. Ia baru akan menyentuh tangan istrinya, tetapi Bella sudah menghempasnya kasar.


“Sudah! Tidak perlu. Aku akan memanjat sendiri saja!” ucap Bella kesal. Terdengar ia berteriak memanggil sopir supaya bersiap.


“Pak Rudi!"


"Pak Rudi,” teriak Bella dari teras rumah.


Bell ... sudah, Bell. Aku minta maaf, ya. Aku akan memanjat untukmu. Kamu jangan marah-marah lagi,” bujuk Bara, memohon.


“Kasihan bayi kita. Sudah, ya,” bujuk Bara, menghela napas kasar sembari memijat pelipisnya. Mulai lelah dengan perubahan mood Bella yang begitu cepat dan tidak bisa dibaca.


Bella yang tanpa sengaja menatap Bara, mulai kesal kembali.


“Sudah, kalau tidak ikhlas jangan dilakukan! Aku bisa meminta orang lain memanjat untukku!” Bella mulai kesal kembali.


Ti-tidak ... tidak. Aku ikhlas, seikhlas-ikhlasnya, Bell. Sudah, ya. Jangan seperti ini. Aku pusing kalau kamu selalu marah-marah,” pinta Bara berkata selembut mungkin.


Bella kembali melotot. “Jadi Mas mau mengatakan aku ini membuatmu susah, pusing. Begitu maksud Mas tadi?” Suara Bella kembali meninggi.


“Sudah ya, Bell ... aku minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Ayo kita pergi, nanti kemalaman,” bujuk Bara, meraih tangan istrinya yang masih cemberut saja.


***


Bara sudah menghentikan laju mobilnya tepat di bawah pohon mangga, di pinggir lapangan. Terlihat beberapa buah mangga muda bergelantungan di atas dahan yang lumayan tinggi. Sepertinya sudah di penghujung musim, tersisa beberapa buah saja yang masih menggantung di pohon. Bella tersenyum, sudah membayangkan betapa nikmatnya mangga muda yang diserut dan dibuat rujak.


“Mas, ayo sana!” perintah Bella, setelah melihat Bara hanya berdiri mengedarkan pandangan ke sekeliling.


“Sebentar, Bell. Kita cari pemilik pohonnya dulu. Harus izin dulu, Bell. Repot kalau sudah di atas ternyata pemiliknya tidak mengizinkan,” jelas Bara.


Tampak di pinggir lapangan, anak-anak sedang berkumpul menikmati gulali, sembari berbincang dan tertawa ceria. Sudut mata Bara tertuju di pojok lapangan, terlihat segerombolan sapi yang sedang digembala pemilikinya. Bara bergidik ngeri saat melihat celurit yang disisipkan di pinggang si gembala.


“Kalau sampai dia pemilik pohon mangga ini, aku memilih mundur,” ucap Bara pelan.


Tidak lama, dari arah belakang mereka muncul seorang Bapak tua berpakaian batik lusuh.


“Selamat sore,” sapa Bapak tua, heran melihat Bara dan Bella yang berdiri di bawah pohon mangga.


Bara dan Bella segera berbalik, menjawab sapaan Bapak tua itu dengan sopan.


“Ada apa, ya? Bapak dan ibu ini ada tujuan apa ke sini?” tanya si Bapak setelah acara perkenalan dan sedikit berbasa-basi.


“Begini, Pak ... istriku sedang mengidam. Dan dia menginginkan mangga milik bapak ini ... sekaligus saya harus memanjat sendiri.


Mendengar penuturan Bara, Bapak tua itu tersenyum. Kesempatan langka, ia bisa meminta harga tinggi. Saat seperti ini jarang terjadi. Mungkin butuh sedikit trik dan taktik, apalagi kalau dilihat dari mobilnya, kedua orang di depannya pastilah orang kaya. Demi kehamilan istrinya, pasti orang kaya ini bersedia mengeluarkan uang berapa pun.


“Maaf, Pak. Bukan tidak mengizinkan. Tapi pohon mangga ini bukan sembarang mangga. Setiap tahun biasanya berbuah semangka. Baru tahun ini saja yang berbuah mangga. Ya ....” si Bapak tidak melanjutkan kalimatnya, mulai melancarkan strategi, berharap pengertian dari Bara dan Bella dengan kata-kata tidak masuk akalnya.


Bella dan Bara terbelalak, tetapi selanjutnya Bara menggangguk.


“Saya akan bayar, Pak. Bukan meminta gratis,” ucap Bara cukup mengerti maksud sang pemilik pohon. Terlihat Bara mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang kertas berwarna merah.


“Apa ini cukup, Pak?” tanya Bara, menyodorkan uang kepada pemilik pohon.


Si Bapak melirik sebentar ke arah uang seratus ribu rupiah yang disodorkan Bara dengan tatapan sedih, berali menatap ke atas, ke arah buah mangga muda yang bergelantungan.


Melihat ekspresi Bapak tua itu, Bara cukup mengerti. Mengeluarkan selembar lagi. Namun, ia tetap mendapatkan respon yang sama. Bara melihat ke arah istrinya, Bella sedang tersenyum bahagia sembari menelan salivanya. Membayangkan betapa enaknya rujak mangga yang sebentar lagi akan bisa dinikmatinya.


Melihat itu, Bara tidak tega menolak. Kembali menambah selembar uang seratus ribu dan menyodorkan pada si pemilik pohon. Kejadian berulang dengan penolakan. Barulah saat lima lembar uang kertas berwarna merah itu disodorkan Bara, Bapak bersedia menerima dengan mengucapkan terima kasih berulang kali.


“Silakan, Pak, Bu. Anggap saja pohon sendiri. Bapak bisa memanjat sepuasnya,” ucap bapak tua itu tersenyum dan berlalu pergi. Ia memberi kesempatan pada Bara untuk memanjat.


“Lumayan, nanti malam cucu-cucu bisa makan dengan ki-ef-si,” ucap bapak tua itu sumringah sambil menatap ke arah cucu-cucunya yang sedang berkumpul menikmati gulali.


***


T b c


Love You all


Terima kasih.