Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 86. Rujak Mangga Dari Pohonnya


“Sayang, kita pulang. Tidak perlu ke kampus hari ini.” Suara Bara terdengar seperti perintah. Lelaki tampan itu sudah duduk di depan kemudi, dengan Bella yang bersandar di kursi sebelahnya.


Bara sengaja meminta Pak Rudi untuk pulang terlebih dulu. Ia sendiri yang akan mengantar istrinya pulang. Mendengar keluh kesah dan pertanyaan Bella, ia mulai mengerti apa yang selama ini menjadi keberatan istrinya. Mungkin rasa sayangnya selama ini belum cukup untuk membuat istrinya tenang dan percaya bahwa perasaannya hanya untuk anak dan istrinya.


“Kamu sudah makan, Bell? Mau membeli sesuatu?” tanya Bara, melirik sekilas.


Istrinya masih saja cemberut, memendam perasaan yang tidak jelas. Sesekali Bella masih mendegus kesal. Entah apa yang ada di pikiran Bella, tetapi emosi dan perasaannya tergambar jelas. Beda di saat awal-awal kedatangannya di Jakarta, Bella begitu tenang dan pintar mengendalikan dan menyembunyikan perasaannya sendiri.


“Aku mau makan rujak mangga,” sahut Bella, mengagetkan Bara.


“Ini masih pagi. Belum ada yang jual juga. Nanti siang minta Pak Rudi membelikannya untukmu ya,” tawar Bara. Tangan kirinya mengusap pucuk kepala Bella, berbagi fokus antara jalanan dan istrinya.


“Tapi aku mau Mas membuatkannya untukku,” ucap Bella lagi.


Mendadak Bara menginjak pedal rem, mengeluarkan suara berdecit saat ban bergesekan dengan aspal. Begitu mendadak, tubuh Bella terpental ke depan, beruntung masih tertahan seatbelt. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi, Bara tidak bisa membayangkan hal terburuk apa yang akan terjadi pada istri dan anaknya yang masih di dalam rahim Bella.


Beberapa pengendara di belakang mereka terlihat mengomel dan mengumpat bahkan ada yang memukul mobil dengan kepalan tangan. Mobil Bara berhenti mendadak, membuat mereka pun harus melakukan hal yang sama.


“Maaf, aku terkejut,” ucap Bara, melepas sabuk pengaman yang mengunci tubuhnya. Netranya sedang mencari kesungguhan dari permintaan Bella barusan. Terdengar aneh dan tidak biasa. Jangankan membuat rujak, ia bahkan tidak pernah melakukan hal paling sederhana sekali pun, seperti membuat kopi atau memasak air.


“Kamu serius dengan permintaanmu, Bell?” tanya Bara.


Sebuah anggukan keseriusan dengan tatapan penuh harap bisa ditangkap Bara.


“Anakku benar-benar menginginkannya?” tanya Bara lagi.


“Sudahlah! Kalau tidak mau juga tidak apa-apa!” gerutu Bella kesal. Berbalik, menatap pemandangan di luar jendela dan membelakangi Bara.


“Maaf, Bell. Jangan marah-marah lagi. Sebisa mungkin aku akan menuruti semua kemauanmu,” bujuk Bara, berusaha bersikap lembut.


Mertuanya sudah berpesan padanya, selama kehamilan Bella sebisa mungkin Bara harus menuruti semua keinginan istrinya. Bisa saja permintaan Bella itu adalah permintaan bayi mereka.


“Jangan marah lagi, Bell. Kasihan dedeknya,” ucap Bara.


Istrinya sudah terlanjur kesal, segala bujuk rayunya tidak ada satu pun yang mau didengar. Bahkan sampai di rumah, Bella tetap diam seribu bahasa. Saat mobil belum berhenti sempurna, Bella sudah meloncat turu dan berlari masuk tanpa kata, melirik ke arah suaminya itu pun tidak.


Bara berlari menyusul, tidak bisa lagi mendiamkan istrinya seperti biasa. Ia khawatir perdebatan dan pertengkaran mereka akan berefek panjang seperti yang sudah-sudah.


“Bell, kamu kenapa lagi?” tanya Bara, setelah berhasil menyejajarkan langkahnya dengan sang istri.


“Bell, maafkan aku. Bukankah tadi sudah aku katakan, kalau ada yang tidak kamu suka, tinggal katakan padaku,” lanjut Bara, berusaha meraih tangan istrinya.


“Mas, lepas!” pinta Bella, sembari berjalan ia menghempas kasar tangan suaminya.


“Bell, dengarkan aku. Aku akan membuatkan rujaknya untukmu. Aku janji. Tapi aku harus berangkat ke kantor dulu.”


Langkah kaki Bella terhenti.


“Baik, aku akan menunggumu pulang nanti sore,” sahut Bella, dengan senyum tertahan. Kebahagiaan menyergap hatinya begitu mendengar persetujuan suaminya. Bukan masalah di rujak mangga, ia bahagia begitu Bara setuju.


“Pulang lebih cepat, Mas.”


“Aku mau Mas memetik mangga di dekat lapangan sana," pinta Bella lagi.


“Ok, tidak masalah.” Bara menjawab dengan yakin.


“Tapi, aku mau Mas memanjat pohonnya langsung,” lanjut Bella.


“Hah!Tidak salah, Bell?” tanya Bara memastikan. Mata dan jantungnya hampir meloncat keluar karena terkejut dengan permintaan Bella selanjutnya.


Diminta membuat rujak ia masih sanggup, diminta memanjat pohon mangga ia harus berpikir dua kali. Bukannya apa-apa, seorang Bara diminta memanjat pohon mangga, di lapangan terbuka pula. Rasanya mustahil dan tidak bisa dipercaya.


Wajah Bella kembali meredup, bersiap untuk cemberut. Bara yang sudah paham segera membuka suara.


“Ya ... ya ... ya, aku akan memanjatnya untukmu.” Bara segera menyetujui, tidak mau memperpanjang masalah lagi.


“Baiklah. Aku akan menunggu Mas pulang.” Bella tersenyum puas. Bergegas mencari putrinya, Issabell. Perasaannya membuncah, saat suaminya setuju.


Sebaliknya, Bara berjalan dengan langkah gontai menuju mobilnya. Pikirannya kacau harus memanjat pohon untuk istrinya. Karut-marut tidak karuan, bahkan ia mengabaikan panggilan ibu mertuanya saat berpapasan di teras rumah.


***


T b c


Love You All


Terima kasih