
“Matt, tolong bantu urusi. Aku takut tidak keburu, aku harus mengejar penerbangan ke Inggris,” pinta lelaki yang ketampanannya bak titisan dewa Yunani itu. Bergegas pergi, meninggalkan Bella dengan lelaki lain yang diketahui bernama Matt.
Bella dan lelaki bernama Matt itu menatap punggung kekar yang menggendong ransel itu menghilang di balik kerumunan penumpang.
“Maaf, Nona. Kenalkan namaku Rahmat. Pak Boss kecil biasa memanggilku, Matt,” kata Matt, memperkenalkan diri. Menyodorkan tangan, mengantung menunggu balasan gadis cantik di hadapannya.
Kalimat perkenalan Matt, sontak membuat Bella kembali mengalihkan pandangannya. Sodoran tangan lelaki itu disambutnya dengan ragu-ragu.
“Eh ... aku Bella,” sahutnya singkat, pasrah menerima gengaman hangat Matt, disertai ayunan ringan.
“Oh, si tampan tadi bos kecilku, Ditya Halim Hadinata.” Matt mengenalkan majikannya.
Bella mengangguk.
“Pak Bos kecil harus terbang ke Inggris. Liburannya di Indonesia sudah berakhir. Jadi masalah ponsel, biarkan aku yang mengurusnya. Kalau Nona tidak percaya, keluarganya Pak Bos kecil tinggal di Surabaya juga,” jelas Matt berusaha memberi jaminan. Lebih tepatnya mengajak bicara gadis cantik yang tanpa sengaja ditabrak bosnya.
“Bisa tinggalkan nomor ponselnya? Maaf aku panggil Bella saja?” tanya Matt ragu.
Bella terlihat ragu, tetapi Matt cukup mengerti. Dengan cekatan, Matt mengeluarkan kartu namanya dari dompet dan menyerahkannya pada Bella.
“Aku butuh nomor yang bisa dihubungi untuk mengirim ponsel barumu atau nomor rekening kalau memang hanya mau diganti dalam bentuk mentahnya saja, Nona,” jelas Matt.
Bella mengangguk, akhirnya dengan sukarela menyebutkan nomor ponselnya. Sedangkan Matt, sedang serius memasukan nomor ponsel Bella ke dalam kontaknya.
Perkenalan singkat itu berakhir dengan perpisahan keduanya setelah bertukar nomor ponsel. Matt berjalan menuju ruang tunggu dan Bella juga melakukan hal yang sama.
***
Bella yang mulai kebosanan menunggu hampir dua jam untuk penerbangan selanjutnya, terlihat menghembus kasar napasnya. Mencoba untuk tidur tetapi matanya enggan terpejam. Mau memainkan ponselnya, tetapi benda pipih itu sudah terlanjur hancur berantakan.
Mengedar pandangan ke sekitar, tidak ada seorang pun yang dikenalnya. Kalau bukan demi suaminya yang digoda perempuan lain, ia pasti berpikir seribu kali untuk melakukan ini. Lagi-lagi, Bella menghela napas bercampur kesal. Mood-nya memburuk setiap, kata love menari di pikirannya.
“Love ....”
Bella tersentak dengan mata masih terpejam, saat samar terdengar kata Love kembali. Kali ini rasanya begitu dekat di pendengarannya. Bukan hanya mengisi pikirannya.
Berusaha membuang jauh, supaya tidak memperburuk mood-nya. Bella memilih bersenandung manja, setidaknya itu lebih baik daripada terus menerus berputar dengan prasangkanya.
“Love ....”
Kedua kalinya, terdengar lebih jelas dan nyata. Bella membuka mata. Kejutan pertama yang dilihatnya adalah buket mawar merah kombinasi putih disodorkan seseorang di depan matanya.
Bella menoleh ke samping, memastikan siapakah si pemberi kejutan untuknya. Siapakah yang memberi hadiah romantis di kala kerisauan dan kebimbangan hatinya.
Deg—
Lelaki dengan dandanan santai, celana pendek dan kaos casual. Tampilan yang jauh berbeda dengan biasanya.
“Mas!” pekiknya, menghambur ke pelukan Bara, saat mengenali suaminya. Benar-benar kejutan yang tidak pernah diduga.
“Mas, bagaimana bisa ada di sini?” tanya Bella, kebingungan. Tangannya masih memeluk erat pinggang Bara. Suaminya benar-benar nyata, bukan hanya mimpi yang akan menghilang saat terbangun.
Bella seperti anak kecil yang mendapatkan kado. Tidak mau melepas suaminya sama sekali. Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya dengan senyum terkembang sejak tadi.
“Aku sudah tiba di Surabaya sejak tadi pagi. Rasanya tidak sanggup harus berpisah dengan kalian terlalu lama. Semalam, aku hampir gila tidak bisa memelukmu dan bayi kita,” ucap Bara tersenyum.
“Aku tidak bisa tidur semalaman, subuh aku sudah menyetir ke bandara,” cerita Bara, ikut merengkuh pinggang Bella.
Buket bunga yang diabaikan Bella, terpaksa harus diletakan Bara di kursi. Bella terlalu antusias dengan kehadirannya, sampai mengabaikan hadiah darinya.
“Tadi kamu menghubungiku dari mana?” tanya Bella heran.
“Di sini. Aku sejak pagi menunggu di bandara. Aku melihatmu tadi, bahkan sejak kamu turun dari mobil Pak Rudi,” jelas Bara, ikut mengunci pinggang istrinya masih terlihat ramping di usia kehamilan yang baru menginjak trimester pertama.
“Kamu membohongiku!” gerutu Bella kesal, memukul pelan dada suaminya.
“Maafkan aku,” bisik Bara.
“Jangan katakan ibu tahu semuanya?” tanya Bella, menebak.
Bara tersenyum dan mengangguk. “Ayo ikut denganku!” ajak Bara, meraih tangan Bella dan membawa istrinya ikut dengannya.
“Tunggu, Mas. Bungaku ketinggalan,” ucap Bella, bergegas memeluk buket bunga raksasa yang baru saja dihadiahkan Bara untuknya.
“Kamu menyukainya?” tanya Bara.
Sebuah anggukan dengan senyum tersirat kebahagiaan yang nyata mengiringi langkah Bella.
“Love ....” panggil Bara, tersenyum menatap istrinya yang malu-malu.
“Mas memanggilku apa tadi?” tanya Bella, memastikan sekali lagi pendengarannya tidak salah,.
“Love. Panggilan itu sebegitu penting dan berpengaruh untukmu. Hanya dengan mendengar kata itu, kamu sampai berlari menyusulku ke Jakarta.”
Kalau sebegitu pentingnya, untukmu saja,” lanjut Bara dengan santai.
“Bukankah itu panggilanmu untuk Mbak Brenda?” tanya Bella heran.
“Itu hanya panggilan, tidak mewakili perasaanku. Silakan, siapa saja bisa memakainya,” lanjut Bara.
“Kalau begitu aku tidak mau,” tolak Bella, cemberut.
“Hahaha.” Tawa Bara pecah.
“Benar kata Ibu, selama ini aku lupa kalau istriku masih sembilan belas tahun. Aku terlalu menuntut istriku berpikir dewasa, mengikutiku. Bukankah, harusnya aku yang mengikutinya?” jelas Bara.
***
Langkah kaki Bara yang lebar memaksa Bella mengejar dengan langkah mungilnya setengah berlari. Sesekali menatap punggung suaminya yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.
“Dia bahkan tidak mau mengandengku,” bisik Bella menggerutu kesal.
Deg—
Bara berhenti, menoleh ke belakang. Meski hanya berbisik, ia bisa mendengar jelas komplainan dari Bella.
“Kedua tanganmu sibuk dengan buket bunga raksasa itu, bagaimana aku mengandengmu,” keluh Bara, menunjuk ke arah rangkaian bunga besar yang dipeluk Bella dengan erat.
“Kemarilah,” pinta Bara, dengan tangan merangkul pundak Bella yang tingginya hanya sepundaknya. Sesekali menepuk lembut disana.
Lagi-lagi Bella tersenyum, dengan perlakuan manis Bara hari ini. Kejutan yang tidak pernah diduganya sebelum ini.
“Mas, kita akan jalan ke mana? Aku capek,” tanya Bella, heran. Napasnya mulai kepayahan. Sejak tadi suaminya hanya mengajaknya berjalan berkeliling tanpa kejelasan.
“Kita akan babymoon ke Bali,” jelas Bara.
“Maaf hanya ke Bali, karena aku tidak ada persiapan. Semuanya begitu mendadak.”
Bella benar-benar terperanjat kali ini. Matanya membulat dengan mulut terngaga, hampir tidak percaya. Menatap ke mata suaminya, mencari kebenaran dari semua ucapan Bara yang mengejutkan. Sejak tadi Bara memberi kejutan demi kejutan untuknya. Hal yang belum pernah Bara lakukan selama pernikahan mereka.
“Setelah babymoon, kamu boleh tetap tinggal di Surabaya sampai melahirkan, tetapi setelah bayi kita lahir ... kembalilah ke Jakarta. Aku tidak bisa terus-menerus bolak balik Jakarta - Surabaya. Pekerjaanku di Jakarta sekarang,” jelas Bara.
“Kalau kemarin, perhatian dan rasa sayangku belum cukup untukmu. Aku harap pengorbananku kali ini bisa meluluhkan hatimu.”
“Jangan pernah berpikir untuk berpisah lagi. Kalau kamu merasa semua ini belum cukup menjadi alasan untukmu bertahan dengan rumah tangga ini. Tolong pikirkan bayi kita yang membutuhkan kebersamaan kedua orang tuanya. Belajarlah dari suara hati Rania.”
***
Terima kasih.
Love You all