Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 80. Bersabar Saja


Rissa mendengus kesal. Berulang kali ia mencibir laki-laki tampan yang sedang berdiri kaku di sebelahnya. Tampak Bara memasukan sebelah tangannya di kantong celana, sembari menatap istri dan mertunya yang sedang berbagi cerita.


“Kalau bukan karena Ibu, aku tidak sudi menginjakan kaki di rumahmu,” ucap Rissa masih saja mendendam di tengah acara temu kangen keluarganya.


“Baru beberapa hari yang lalu kamu mengerjaiku, aku curiga kebaikanmu ini mengandung sesuatu,” ucap Bara.


“Aku terpaksa mengakuimu sebagai adik iparku, setelah kamu berhasil menghamili adikku. Sayang, dia terlalu polos, tidak menyadari sebejat apa laki-laki yang dihormatinya sebagai suami.”


Bara terkekeh, sedikit puas dengan pernyataan kekalahan Rissa. Setidaknya wanita itu tahu, seberapa pentingnya sekarang posisinya bagi Bella.


“Sudah? Kalau kamu sudah selesai mengoceh, kamu bisa pulang ke tempatmu. Aku tidak mengizinkan Bella berada terlalu dekat denganmu," pinta Bara dengan tegas.


“Tapi Ibu tetap tinggal bersamaku selama di Jakarta,” jelas Bara lagi.


“Wow ... hebat sekali kamu mengatur segalanya. Aku ke sini demi adikku yang polos. Sewaktu-waktu dia pasti akan membuka matanya dan mengetahui seberapa buruknya suami yang dipuja-pujanya ini,” sindir Rissa, berbalik.


“Bu, aku menunggu di mobil,” pamit Rissa pada ibunya.


Mendengar perkataan Rissa, Bella segera mengalihkan pandangannya pada sang kakak. Bergegas menghampiri dan menggandeng tangan Rissa.


“Terima kasih. Kak Rissa sudah membawa Ibu ke Jakarta,” ucap Bella.


“Aku membawakan rujak cingur kesukaanmu. Di Jakarta kamu tidak akan menemuinya,” jelas Rissa.


“Hah! Kak Rissa serius? Bagaimana bisa?” tanya Bella heran.


“Suamiku memintamu?” tanya Bella lagi.


Tawa Rissa pecah saat mendengar Bella membawa serta suaminya yang tidak bisa apa-apa dan tidak tahu apa-apa.


“Aku melihat status instagram-mu,” sahut Rissa santai. Dengan langkah gemulai ia sudah berjalan keluar rumah. Namun, kakinya baru saja menginjak teras rumah Bella sudah merengkuh kembali tangan kakaknya.


“Kak, ada yang harus kita bicarakan,” ujar Bella.


“Sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan,” ucap Rissa, menatap sekilas ke arah Bara yang ikut mengekor.


“Kak, kamu harus menjelaskan sesuatu padaku. Ayo ikut denganku sekarang,” ajak Bella.


“Kak Rissa, aku mohon,” pinta Bella. Menarik tangan Rissa masuk, mengajak kakaknya ke kamarnya.


Keduanya sudah berada di kamar utama, di kediaman Barata Wirayudha. Bukan kali pertama, Rissa masuk ke dalamnya. Mungkin sekitar sebulanan yang lalu, ia sudah pernah melangkahkan kakinya saat bertengkar hebat dengan adiknya.


“Kak, apa Ibu sudah tahu mengenai Icca?” tanya Bella. Menumpahkan rasa penasarannya sejak pertama melihat kedatangan ibu dan kakaknya.


Rissa menggeleng. “Aku tidak segila itu. Kalau sampai Ibu tahu, aku tidak bisa membayangkan,” ucap Rissa.


“Lalu bagaimana bisa Kak Rissa membawa Ibu ke Jakarta?” tanya Bella heran.


“Ibu merindukanmu. Saat tahu kamu hamil, Ibu panik sekali. Jadi aku harus membawanya ke Jakarta, melihatmu langsung supaya dia bisa tenang. Sejak dulu Ibu memang begitu padamu, berbeda saat denganku. Bahkan Ibu tidak peduli.”


“Ibu juga sangat menyayangimu, Kak. Selama dua tahun Kak Rissa tidak pulang, ibu sampai sakit memikirkanmu,” jelas Bella.


“Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya,” sahut Rissa, menahan kumpulan air yang menggenang dan siap turun dari mata indahnya.


“Bukankah kemarin-kemarin, Kak Rissa masih ...." Bella mengantungkan kalimatnya, rasanya tidak enak menyerang kakaknya di saat ini.


Ia berusaha berpikir positif dengan niat baik Rissa. Semoga tidak ada maksud terselubung di dalamnya. Bella masih mengingat jelas, bagaimana Rissa yang menentang pernikahannya dengan Bara, bahkan menginginkan ia bercerai bahkan tidak hamil.


“Ya, sampai sekarang juga aku masih tidak rela. Dia bukan laki-laki terbaik untuk adikku. Ada banyak laki-laki lain yang pantas untukmu,” ungkap Rissa, bisa menangkap dari tatapan dan pertanyaan menggantung adiknya.


“Aku sudah menggunakan berbagai cara untuk membuka matamu lebar-lebar. Tapi kamu tetap percaya padanya. Masa lalu Bara mengerikan. Lelaki itu tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Apa yang dilakukannya padaku sama juga dilakukannya padamu. Hanya dengan status yang berbeda.”


“Maksud Kak Rissa apa?” tanya Bella.


“Sudahlah, aku menceritakan banyak hal buruk tentang suamimu juga percuma. Sudah tidak bisa mengubah keadaan. Jaga kandunganmu baik-baik, semoga dia berubah dan bisa mencintaimu dengan tulus. Aku harus pulang. Melihat wajah suamimu aku ingin melemparnya," ucap Rissa melangkah keluar.


“Apa maksud ucapan kakak? Ada apa dengan suamiku?” tanya Bella penasaran.


Rissa menghela napas, menolak untuk menjawab.


“Aku sudah katakan jangan sampai hamil anaknya. Kamu selamanya akan terperangkap dalam kehidupannya. Banyak bersabar saja, aku tidak bisa menolongmu lagi. Aku sudah mengirim Ricko untukmu, tetapi kamu menolaknya. Dia mencintaimu,” jelas Rissa.


“Tapi kamu malah menggantungkan hidupmu pada lelaki yang bahkan tidak bisa mengerti perasaannya sendiri. Aku menunggu Ibu di mobil,” pamit Rissa.


“Kak, bisakah Ibu tinggal denganku saja selama di Jakarta?” pinta Bella.


“Kamu tanyakan saja pada Ibu, aku tidak keberatan.” Rissa berlalu.


Saat melewati ruang tamu, ia masih sempat melihat Ibunya dan Bara yang sedang mengobrol.


“Bu, aku menunggumu di mobil,” ujar Rissa, berjalan keluar.


Perasaan campur aduk, antara kebenciannya pada Bara yang bercampur dengan cinta. Antara rasa sayang pada adikknya dan sekaligus cemburu yang menyatu.


Rissa sudah duduk di belakang kemudi, mengeluarkan ponselnya dan menatap fotonya yang tersimpan di galeri. Ada Bara, Issabell dan dirinya. Namun, semua itu kebahagiaan palsu. Di balik senyuman itu mereka saling menekan dan mengancam.



Hari-hari ketika Bella belum muncul di kehidupannya dan Issabell. Di mana ia masih bisa memiliki keduanya walau hanya berstatus orang luar di kediaman Bara. Hari-hari di mana kerja samanya dengan Bara masih berjalan lancar. Lelaki itu masih belum menunjukan taringnya seperti sekarang.


Bisa menerima kembali Bara setelah apa yang dilewatinya bersama itu sulit. Setelah penipuan yang dilakukan lelaki itu rasanya berat. Namun, hidup harus berjalan. Mungkin mereka sama bejatnya. Bara menipu perasaanya dan ia membalas dengan cara yang sama kotornya.


Butuh waktu lama dan perjuangan panjang untuk bisa memaafkan. Rissa sudah sudah tidak ada kesempatan lagi setelah Bara mengatakan kalau adiknya hamil. Ia tahu rasanya bagaimana hamil seorang diri. Sebesar apa pun cemburunya pada Bella, masih terselip rasa sayang yang tidak bisa dipungkirinya. Walau bagaimana pun, Bella adiknya.


Cita-cita dan impiannya untuk melihat Bara terpuruk dan ditinggal Bella hanya angan-angan. Ia tidak bisa meneruskan balas dendamnya.


“Semoga saja dia lelaki terbaik untukmu, Bell. Mungkin dia bukan suami yang baik untuk wanita lain, tetapi aku berdoa dia bisa menjadi suami yang baik untukmu, Bell,” ucap Rissa.


***


T b c


Love you all.


Terima kasih.