Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 64. Bercerita


Malam itu terlewati, pagi pun datang bersamaan dengan seorang petugas rumah sakit yang masuk membawakan sarapan pagi.


"Selamat pagi, Ibu. Sarapan paginya," sapa petugas wanita dengan seragam hijau mudanya.


Meletakan nampan berisi susu, telur rebus, dan bubur ayam lengkap dengan kuah kuning, menu yang memang di pesan Bella kemarin.


Di samping nampan, ada gulungan koran hari ini yang disiapkan pihak rumah sakit untuk pasien atau keluarga pasien.


"Terima kasih," sahut Bella, menatap nampan yang diletakan di meja khusus dan di dorong mendekat sisi ranjangnya.


Sebelum berpamitan, sang petugas masih sempat tersenyum. Menatap Bara yang tidur di sofa bed, dengan tangan terlipat di dada.


Senyum Bella tersungging di bibir, untuk pertama kalinya ia menikmati tidur di rumah sakit dengan fasilitas layaknya hotel bintang lima.


Namun, tetap saja ranjang rumah sakit tidak seempuk ranjang mereka di rumah, aroma obat-obat masih tercium, walau tidak mendominasi.


Bella memutuskan turun dari tempat tidurnya. Terlalu lama berbaring membuat pinggangnya sakit. Ia menghampiri Bara yang masih terlelap dengan raut wajah polos dan tanpa dosa.


Hal pertama yang dirindukannya adalah pelukan hangat Bara, yang hampir 24 jam ini tidak didapatkannya.


"Mas ... Mas, bangun," panggilnya, mengguncang tubuh kekar yang berbalut setelan hitam. Bara tidur tanpa mengganti pakaiannya.


"Hmm, kamu sudah bangun, Sayang," sahut Bara dengan suara serak. Mata yang membuka sebentar, kemudian melanjutkan tidurnya kembali.


"Aku masih mengantuk. Semalam aku tidak bisa tidur," lanjut Bara lagi.


"Mas, bangun. Sudah jam lima sekarang. Aku mulai bosan lagi," rengek Bella. Kembali menguncang tubuh suaminya agar kembali ke dunia nyata. Menemaninya, sekedar mengobrol atau menatap jalanan yang mulai dipenuhi kendaraan.


Tangan yang tadinya bersidekap di dada, sekarang meraih tubuh Bella tiba-tiba. Menarik istri mungilnya, supaya jatuh di atas tubuhnya.


"Ah,Mas. Kamu mengagetkanku!" Pekik kecil keluar dari bibir Bella, sembari memukul dada berotot suaminya.


"Berbaring yang tenang di sini. Mas-mu ini masih mengantuk," ucap Bara, mengeratkan pelukannya. Ia membiarkan Bella menindih tubuhnya.


"Mas ...." Sapaan kecil itu, diiringi sebuah kecupan malu-malu di pipi kiri Bara.


Bara terbelalak, membuka mata. Untuk pertama kali, Bella berinisiatif menciumnya.


"Aih ... kenapa kamu jadi menggemaskan begini, Bell?" tanya Bara heran.


Telapak tangannya masih mengusap pipi yang baru saja mendapat kecupan hangat istrinya.


"Mas, kita pulang hari ini, ya. Aku janji akan sering-sering mengecupmu, Mas," bujuk Bella.


Pipinya merona, setelah menyadari bagaimana tidak tahu malunya seorang Bella. Ia bisa melontarkan kata-kata rayuan. Seperti bukan Bella yang biasanya.


"Ah, istriku kenapa jadi seimut ini," sahut Bara, berganti mengecup kedua pipi Bella.


"Mas, ayo bangun. Temani aku," pintanya.


Bara kali ini mengalah, dengan mata yang masih mengantuk, akhirnya ia memaksa tubuhnya duduk. Membawa serta istrinya duduk dan bersandar di pelukannya.


"Hangat?" tanya Bara.


"Hmmm," gumam Bella. Aroma bubur ayam yang masih terbungkus rapi itu menggugah seleranya.


Rasa lapar langsung menyerangnya seketika.


Deg--


Kenapa pagi ini, aku tidak merasa mual seperti pagi-pagi sebelumnya. Apa obat dokter sudah mulai bekerja.


Ia ingat, kemarin sempat mencantumkan keluhan mual dan muntah di pagi hari.


"Mas ...." panggil Bella lagi, menggenggam tangan Bara.


"Katakan padaku, Mas ke mana kemarin sore?" tanya Bella tiba-tiba.


Sejak semalam, bahkan sejak kedatangan Bara, pertanyaan ini sudah hampir keluar dari bibirnya tetapi berusaha ditahannya, berharap suaminya mau bercerita.


Bara menatap lekat, tersenyum merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Bella dan menyelipkannya di belakang daun telinga.


"Gosok gigi, bersihkan wajahmu! Atau kamu mau mandi?" pinta Bara, menolak menjawab.


Bella merasa saat ini ia berhak tahu segalanya. Selain karena mereka sudah menikah, ia adalah istri sah Bara. Dan sekarang ada buah hati mereka yang mulai tumbuh di rahimnya, Bella semakin merasa berhak tahu banyak hal tentang kehidupan suaminya.


"Aku akan menceritakannya padamu. Tapi mandi sekarang dan habiskan sarapanmu," perintah Bara kembali.


"Atau mau mandi bersama?" tawar Bara, menaik-turunkan alisnya. Mulai menggoda istrinya kembali.


"Ah!" Bella menurut, segera turun menuju ke kamar mandi. Berharap dengan menuruti permintaan suaminya, Bara akan segera bercerita banyak hal padanya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 06.30. Keduanya sudah tampak segar setelah mandi dan berganti pakaian.


"Aku kemarin bertemu Brenda," cerita Bara. Tangannya sibuk menyiapkan sarapan untuk Bella. Mengupas telur rebus dan meletakannya di pinggir mangkuk.


"Mas," lirih Bella nyaris tidak terdengar. Ada banyak perasaan mengumpul dan campur aduk di dalam hatinya.


"Jangan dipikirkan. Dia hanya mantan istriku.


Kami sama-sama tinggal di Jakarta, wajar saja kalau sampai tidak sengaja bertemu."


"Lagi pula saat ini aku harus fokus pada kalian," lanjut Bara, mengusap perut istrinya.


Pengalaman pertamanya menjadi seorang ayah, memberi rasa berbeda. Karena Rania dan Issabell bukan putri kandungnya, Bara tidak pernah melalui tahapan yang saat ini ia dan Bella lewati.


"Mas bertemu Mbak Brenda di mana?" tanya Bella penasaran.


"Habiskan sarapanmu!" perintah Bara, mengambil alih sendok dari tangan istrinya, memilih menyuapi Bella.


"Mas, kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Bella menodong.


"Tidak, habiskan sarapanmu. Baru aku akan bercerita kembali," pinta Bara, mulai menyuapi Bella dengan cepat.


Hanya butuh waktu sebentar saja, bubur di mangkuk langsung tandas tanpa sisa. Namun, begitu selesai meneguk habis susu, perut Bella langsung bereaksi seperti biasa.


Berlari sambil menutup mulut, menumpahkan bubur ayam dan segelas susu yang sempat menghuni perutnya beberapa menit yang lalu. Semuanya keluar kembali tanpa sisa.


Bella menghela napas lega, melempar senyuman pada Bara yang menunggunya di depan pintu kamar mandi.


"Biarkan aku yang menggendongmu saja," ucap Bara. Sudah mengangkat tubuh mungil istrinya.



"Aku bertemu dengannya saat makan siang dengan Icca kemarin," ucap Bara tiba-tiba.


"Hah! Maksud Mas ... bertemu dengan Mbak Brenda?" tanya Bella memastikan. Menatap suami yang sedang menggendongnya.


"Hmm, ada lagi yang mau ditanya?" tanya Bara.


Bella menggeleng.


"Aku mau pulang saja, Mas," pinta Bella.


"Ya, aku ke depan sebentar. Bertanya pada petugas atau perawat," sahut Bara, menurunkan Bella ke atas ranjang. Bergegas keluar kamar mencari tahu pada petugas administrasi.


***


Setelah mengurus administrasi dan sempat menerima kunjungan dokter, akhirnya Bella diizinkan pulang.


Tentunya dengan beberapa hal yang harus ditaati Bella. Termasuk asupan makan sehat yang harus dijaga si ibu untuk kepentingan bayi di dalam perut.


Di trimester awal ini, Bella diminta tidak terlalu lelah dan harus banyak beristirahat. Walaupun ruang geraknya tidak dibatasi sama sekali. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit ke kediamannya, Bella terlihat lebih sehat, tidak pucat seperti kemarin.


Mobil yang dikendarai Bara, akhirnya sampai juga ke kediaman mereka. Tepat di depan gerbang, keduanya terkejut. Terbelalak melihat security yang sedang bertengkar hebat dengan seseorang.


"Mas," panggil Bella, saat melihat Bara sudah mengepalkan tangannya. Bersiap turun untuk ikut terlibat dalam pertengkaran itu.


****


T B C