
Bara terperanjat, hampir tidak percaya. Bella yang ia kenal ternyata memiliki sisi yang berbeda. Istrinya adalah wanita yang sedikit dingin dan terkesan kaku. Pribadi yang polos dengan pemikiran dewasa untuk usianya yang bahkan belum genap dua puluh tahun.
Saat ini Bara hanya bisa menikmati kenikmatan bibir istrinya. Sensasi berbeda dari seorang Bella Cantika. Napasnya sudah menderu, dengan pikiran hampir melayang ke awang-awang. Tubuhnya sudah mulai mengikuti alur permainan istrinya, larut dalam kelincahan bibir yang sedang belajar memagut dan mengecup layaknya pemain profesional.
Namun, saat ia sudah mulai terbuai, Bella tiba-tiba berhenti. Menjauhkan wajahnya, Bella menatap suaminya seolah ada yang aneh.
“Mas, kenapa kamu bau sekali?” tanya Bella dengan terus terangnya. Mengendus ke sekujur tubuh suaminya. Dari leher sampai ke dada telanjang yang kekar dan bidang.
Bersamaan dengan itu, ia menutup mulut dan hidungnya bersamaan, menahan mual yang mengaduk-aduk isi perutnya.
“Hah!”
Bara ikut-ikutan menciumi aroma tubuhnya sendiri, setelah melihat respon aneh istrinya.
“Astaga, Bell. Aku belum mandi dari kemarin pagi,” ucapnya terkekeh.
“Tapi ... aromaku tidak semengerikan itu,” lanjutnya lagi.
Bella meloncat turun, berlari menuju kamar mandi menumpahkan isi perutnya. Tadi hanya bergejolak saja, tetapi saat mendengar ucapan Bara yang belum mandi sejak kemarin, perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi dan minta dikeluarkan semua.
Bella masih sibuk menumpahkan isinya perutnya ke dalam wastafel sampai terkuras habis tanpa tersisa. Terakhir malah hanya mengeluarkan cairan bening.
“Bell, kamu baik-baik saja?” tanya Bara, dengan nada penuh kekhawatiran. Ia akhirnya menyusul, menunggu Bella yang tidak kunjung kembali. Apalagi suara muntahan itu terdengar sangat memprihatinkan.
Berjalan mendekat, mengurut pelan tengkuk istrinya. Berharap sentuhan tangan itu bisa membantu meredakan rasa mual istrinya.
“Sudah, Mas. Aku sudah baikan,” sahut Bella, membersihkan mulutnya dengan kucuran air keran.
“Apa kita ke dokter saja, Bell,” tawar Bara, teringat dengan kehamilan Bella, hatinya semakin risau, bimbang dan ragu. Kekhawatirannya kian bertambah dan menjadi.
“Tidak perlu, Mas. Ini normal untuk wanita hamil."
“Normal bagaimana? Kalau kamu memuntahkan semua isi perutmu, lalu anakku akan makan apa di dalam sana? Makan angin?” ucap Bara serius tetapi terkesan asal.
“Mas, sudah. Ini tidak apa-apa,” ucap Bella menenangkan. Berjalan keluar, sembari mengusap mulutnya yang basah dengan selembar tisu.
“Mas, jangan terlalu dekat denganku. Badanmu itu bau sekali!” gerutu Bella, menutup hidungnya kembali.
Bara tersenyum. Ia sendiri tidak mencium aroma aneh di tubuhnya, tetapi faktanya Bella saja sampai muntah di dekatnya. Atau mungkin indra penciumannya sudah tidak berfungsi dengan baik. Entahlah.
Bella melangkahkan kakinya dengan gontai. Efek muntah membuat tubuhnya melemas. Ia sudah berjalan keluar, meninggalkan Bara yang sedang berpakaian kembali dengan buru-buru.
“Bell, kamu baik-baik saja?” tanya Bara mengekor di belakang istrinya.
“Ya, Mas.”
Jawaban singkat, sembari meraih gagang pintu kamarnya.
“Bell, kamu serius tidak apa-apa?” tanya Bara lagi. Pertanyaan yang sama berulang kali.
“Ya, Mas,” ucap Bella kesal, merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, sambil memijat pelipisnya.
“Wajahmu pucat sekali. Kamu membutuhkan sesuatu?” tanyanya lagi.
Ini pengalaman pertama Bara menghadapi wanita hamil. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Masih terlalu amatir di umurnya yang hampir menuju empat puluh tahun. Namun, apa daya, kenyataannya ini adalah kali pertama. Ia memang sudah memiliki dua orang putri, tetapi itu bukan darah dagingnya. Dan yang ada di rahim Bella adalah Barata Wirayudha sesungguhnya.
***
Bara sudah masuk di dalam bathtub. Berendam sekaligus melepas penatnya. Setelah membujuk dan merayu, akhirnya ia bisa meluluhkan hati istrinya untuk bisa masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.
“Kamu yakin tidak mau masuk bersamaku di sini?” goda Bara.
Bella menggeleng, memilih mengusap tangan suaminya dengan handuk kecil.
“Sudah, Mas. Aku harus bersiap ke kampus sebentar lagi,” tolak Bella, melempar handuk kecil itu asal, mengenai tubuh suaminya. Bergegas ia keluar dari kamar mandi. Kalau tidak segera keluar, Bella yakin Bara akan kembali merayunya seperti yang sudah-sudah.
Baru saja ia melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi, terdengar bunyi ponsel berdering dari saku celana suaminya.
Ragu, tetapi pada akhirnya Bella mendekati juga ke asal suara itu. Tangannya sudah mengeluarkan benda pipih milik suaminya itu dari dalam celana.
Deg—
Matanya melotot dengan pikiran bingung saat melihat nama yang terpampang nyata dan jelas di layar ponsel. Nama aneh dan tidak biasanya. Nama yang tidak umum tetapi memancing rasa ingin tahu.
“Love?” ucapnya.
“Love?” Bella mengulang kembali, mengerutkan dahi. Keheranan.
“Siapa Love?” ucapnya pelan.
Tidak berani menggeser tombol hijau, tetapi hatinya tergelitik dan dipenuhi rasa penasaran. Kalau ia memberanikan diri, rasanya tidak sopan.
Bunyi dering itu terus berteriak, makin didengar, makin rasa ingin tahunya bertambah.
“Tapi ... dia suamiku. Rasanya tidak masalah juga kalau aku menerimanya,” ucap Bella lagi.
Dengan memandang ke arah pintu kamar mandi, akhirnya Bella menggeser logo hijau di layar. Baru saja ia akan menempelkan ponsel itu ke telinganya, tiba-tiba ...
***
T b c
Love You all
Maaf, jadwal upnya sedang berantakan. Akhir bulan ini, pekerjaanku di RL sedang sibuk-sibuknya. Mudah-mudahan awal bulan ini, sudah normal lagi.
Terima kasih.