
Siang itu, suasana di kamar perawatan Bella tampak ramai. Putri-putrinya datang berkunjung ditemani Oma dan Opa Rania. Keduanya berebutan melihat adik bayi tampan, yang sekarang menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan keduanya berebutan mencium baby Real yang tertidur pulas di gendongan Oma Rania.
“Hidungnya mirip denganmu, Bar.”
“Kalau sedang kelaparan apalagi, Ma. Mirip sekali dengan Mas Bara.” Bella menambahi. Mengingat bagaimana tadi pagi baby Real mengamuk karena sudah kelaparan. Sedangkan asinya belum keluar sama sekali.
“Apa maksudmu, Bell?” Bara yang sedang menggendong Issabell, menatap tajam. Seolah tidak terima dengan pernyataan sang istri.
“Cara mengamuk baby Real itu persis sepertimu, Mas. Jadi kalau Mas tidak sadar bagaimana sikap Mas selama ini, Mas bisa melihat baby Real. Itu persis sekali denganmu Mas,” jelas Bella menyindir.
Ucapan Bella sontak memancing gelak tawa para orang tua yang sejak tadi disibukan dengan bayi tampan keluarga Wirayudha.
“Bell, seharian ini bayinya bersamamu?” tanya Oma Rania.
“Ya, Ma. Supaya Bella dan baby Real sama-sama belajar menyusui yang baik dan benar.” Bara menjawab asal.
“Sudah keluar asinya, Bell?” tanya Oma Rania lagi.
“Belum Ma. Ini masih mengajari baby Real mengenali dan belajar menyedot dulu. Katanya supaya merangsang asinya lebih cepat keluar.” Bella menjelaskan.
“Baby Real belum terlalu pintar menyedot. Nanti daddy akan mengajarinya, memberi praktek langsung,” ucap Bara, tersenyum menggoda istrinya.
“Mas!” protes Bella kesal. Di tengah keramaian, suaminya masih saja berpikiran mesum.
“Aku serius, Bell. Kalau baby Real tidak mau, aku tidak keberatan mengambil alih tugasnya,” lanjut Bara yang langsung dihadiahkan tatapan tajam.
“Dasar!” dengus Bella.
“Ca, sini duduk dekat mommy!” Bella menepuk sisi kosong tempat tidurnya, meminta Bara menurunkan putrinya supaya bisa berdekatan. Hampir dua hari Bella tidak bertemu dengan kedua putrinya, rindu itu mulai menumpuk di dadanya.
Bella yang siang itu terlihat jauh lebih sehat, sudah bisa duduk. Meskipun setiap bergerak harus meringis menahan bekas jahitan yang masih meninggalkan nyeri. Belum lagi setagen yang mengikat perutnya, membuat Bella susah bergerak dan bernapas.
“Icca merindukan mommy?” tanya Bella, melepas ikat rambut putrinya yang berantakan dan mengikatnya ulang.
“Linduuu.” Gadis kecil itu menjawab dengan lucunya. Baru saja hendak menghambur memeluk Bella, tetapi Bara menghentikannya.
“Ca, jangan. Perut mommy masih sakit, Sayang. Nanti kalau mommy sudah sembuh baru boleh peluk mommy,” jelas Bara.
“Biarkan saya, Mas. Icca sudah merindukan mommy, ya.” Sambil meringis, Bella mendekap putrinya. Membiarkan tangan mungil itu bergelayut di lehernya.
Bara, laki-laki itu sejak tadi masih setia berdiri di samping brankar, menemani Bella. Sedangkan baby Real sedang dikerubungi Oma Opa dan Ibu Rosma di sofa hitam rumah sakit.
“Kak, belum peluk daddy dari tadi,” ucap Bara, memanggil putri tertuanya, yang sebentar lagi akan berusia 14 tahun. Merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut Rania yang sejak tadi tak berpaling sedikit pun dari baby Real.
“Dad ....!” Gadis itu memeluk erat pinggang Bara.
“Kakak tidak nakal di rumah, kan?” tanya Bara, mengusap lembut pucuk kepala Rania.
“Tidak, adek yang nakal. Kemarin tugasku di coret-coret Icca, Dad,” adu Rania, masih memeluk erat pinggang Bara. Dengan tangan kirinya menunjuk Issabell sembari menjulurkan lidahnya.
Rania memang terlihat lebih manja dibanding anak seusianya. Masa lalunya yang kurang kasih sayang, membuat Rania begitu manja pada Bella dan Bara. Tak jarang kemanjaannya terlihat berlebihan. Seringkali gadis itu minta dipeluk Bella atau pun Bara di saat-saat tertentu.
“No, Dad. Kakak yang nakal.” Issabell protes seketika.
“Tidak, Kakak tidak nakal, Dad. Adek yang nakal.”
“Mom, kakak pacalan,” adu Issabell tidak mau kalah.
“Apa? Kakak sudah berani pacaran?” Bara langsung terkejut mendengar ucapan Issabell. Laki-laki itu mengurai belitan tangan Rania yang mengunci pinggangnya. Menatap tajam gadis kecil yang belum paham apa-apa.
“Mas, sudah. Anak-anak didengar. Icca mana mengerti apa apa. Dia hanya asal bicara,” ucap Bella, berusaha menengahi.
Terlihat Issabel membisikan sesuatu di telinga Bella, sontak membuat sang mommy terbelalak.
Kalau tadi Bara, sekarang Bella yang ikut-ikutan panas karena ucapan Issabell.
“Apa-apaan sih, Mom. Tidak ada apa-apa di ponselku.” Rania tegas menolak.
“Ada Mom. Icca lihat kemalin sole.”
“Ayo Kak, kemarikan ponselmu,” pinta Bella. Melihat keseriusan Bella, sontak Bara ikut menekan putrinya.
“Ayo Kak, mana? Perlihatkan ponselmu.”
Dengan terpaksa Rania mengeluarkan ponselnya. Ragu-ragu, Rania memilih menyerahkannya pada sang mommy ketimbang pada Bara. Dia tahu jelas bagaimana sikap Bara yang sering marah-marah. Berbeda dengan Bella yang selalu pengertian dan lemah lembut.
Bella terlihat serius mengecek isi ponsel putrinya. Tidak ada yang mecurigakan dari isi chat maupun pesan. Tak lupa Bella juga mengecek akun media sosial anak gadisnya itu. Dua hari berada di rumah sakit, dia memang tidak sempat memantau facebook dan instagram Rania yang biasanya tak pernah lepas dari pengawasannya.
“Tidak ada apa-apa.” Bella mengerutkan dahinya.
“Ada foto boy di sana, Mom.” Issabell kembali mengadu.
Kembali Bella membuka galeri ponsel putrinya. Bertebaran foto anggota boyband Korea di dalamnya. Bella tersenyum, mengalihkan pandangannya pada Rania. Gadis kecilnya sedang tertunduk meremas kedua tangannya.
“Putriku sudah mulai dewasa,” ucapnya tersenyum, menyerahkan kembali ponselnya pada Rania.
“Ada apa saja di dalamnya, Bell?” Sejak tadi Bara menahan penasarannya.
“Tidak ada apa-apa, Mas. Hanya foto-foto idolanya. Sudahlah, jangan diperpanjang. Namanya anak gadis, memang Rania sudah sampai di fase ini. Biarkan saja, asal tidak berlebihan.” Bella menjelaskan.
“Sini Kak, belum peluk mommy hari ini. Kakak tidak merindukan mommy?” tanya Bella, menyodorkan sebelah tangannya menyambut putri sulungnya.
“Rindu, Mom.” Rania menghambur merengkuh tubuh Bella, berbagi tempat dengan Issabell yang menguasai posisi sebelah kanan.
Tatapan Bella masih tertuju pada Bara, laki-laki itu sudah terlihat biasa. Tidak ada lagi penasaran yang tercetak di wajah tampannya. Malah sekarang, suaminya fokus kepada baby Real.
“Kak, kemarin kakak pulang sekolah diantar siapa?” Bella bertanya setelah sempat melihat chat putrinya dengan seseorang yang dianggapnya mencurigakan. Sejak tadi dia menyimpannya sendiri, tidak mau sampai Bara tahu dan marah-marah seperti biasa.
“Siapa Om Handoko?” tanya Bella, mencari tahu. Berbisik-bisik supaya suaranya tidak terdengar.
“Om Handoko itu teman mommy Brenda. Beberapa hari yang lalu, Om Handoko sempat menemui kakak di sekolah.”
Bella terkejut, tidak menyangka akan kecolongan. Selama ini dia merasa sudah menjaga Rania dengan baik.
“Untuk apa Om Handoko itu menemui kakak?” tanya Bella mencari tahu.
“Hanya menanyakan kabar mommy Brenda. Om Handoko tidak tahu kalau mommy sudah meninggal.” Rania berterus terang.
“Kenapa kakak tidak pulang dengan Pak Rudi? Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Kakak, Daddy akan marah besar. Kakak tahu itu, kan?”
“Maaf, Mom. Kakak salah. Kemarin Pak Rudi telat menjemput, seharian di rumah sakit.” Rania menjelaskan.
“Lain kali tidak boleh sembarangan ikut orang, Kak.” Bella menasehati.
“Ya, Kakak hanya sekali itu saja. Itu juga karena Om Handoko itu teman mommy Brenda. Pernah bertemu beberapa kali dulu dengan kakak. Ada Om Teo juga,” cerita Rania.
“Teo?” Bella kembali mengerutkan dahi. Tadi dibuat penasaran dengan Handoko, sekarang Teo.
“Ya, Om Teo itu teman kerjanya Om Handoko.” Rania bercerita
***
TE