Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 126. Ayah Biologis Icca


“Selamat siang, saya ...."


Lelaki itu menghentikan ucapannya. Konsentrasinya teralihkan pada Issabell yang sedang berbincang dengan boneka.


Seulas senyuman, dengan menarik celananya lelaki itu berjongkok tepat di depan Issabell. Tangannya merogoh sesuatu dari dalam kantong celana. Sebuah cokelat masih terbungkus rapi.


“Boleh?” tanyanya menunjukkannya pada Bella, meminta izin.


Bella mengangguk, kemudian memberi kode pada pengasuh Issabell supaya secepatnya membawa putri kecilnya masuk.


“Ada apa ya, Pak?” tanya Bella, heran menatap tamunya yang belum mengenalkan diri tetapi sudah menunjukkan ketertarikan pada putrinya.


Lelaki dengan senyuman hangat menenangkan itu kemudian berdiri. Dengan sopannya ia mengulurkan tangan pada Bella.


“Kenalkan saya Roland,” ucapnya.


Bella mengerutkan dahinya, terlihat berpikir keras dengan kedua tangan yang belum mau berpindah dari perutnya. Membiarkan tangan lelaki itu menggantung begitu saja.


“Aku Bella, apa maksud kedatangan bapak ke rumahku?” tanya Bella, ketus. Tatapannya tajam, sengaja mengertak tamu tidak tahu diri yang sudah begitu lancang masuk ke area rumahnya.


“Bagaimana memulainya, ceritanya sedikit panjang,” ucap Roland, bersuara.


“Katakan saja, setelah itu bapak bisa pergi!” sahut Bella mengusir.


“Saya tidak dipersilakan masuk?” tanya Roland, tersenyum. Sikap ketus Bella bukannya membuat lelaki itu marah, tetapi malah sebaliknya.


“Katakan saja di sini!” sahut Bella dengan aura tidak bersahabat.


Setelah perdebatan singkat, akhirnya Roland mengalah. Apalagi setelah memastikan wanita di hadapannya sedang hamil.


Perlahan, lelaki itu mengeluarkan sebuah amplop dengan kop rumah sakit di Surabaya. Itulah yang bisa Bella baca ketika amplop itu sampai di tangannya.


“Ini apa, Pak?” tanya Bella penasaran, tetapi tidak berani membukanya.


“Buka saja,” titah lelaki yang mengaku bernama Roland.


Dengan ragu, Bella membuka amplop yang di dalamnya terselip kertas dilipat tiga. Meskipun sudah membaca, ia masih tidak paham dengan istilah-istilah kedokteran yang tertera di sana. Mengamati, meneliti dan mengulangi membaca, Bella masih belum paham. Sampai akhirnya, lelaki itu bersuara dan membuat Bella tertegun sejenak.


Kepala Bella berputar, ucapan sang lelaki mengitari otaknya. Berulang kali dan akhirnya ia ambruk dan kehilangan kesadarannya.


Brukk! Tubuh Bella luruh dan jatuh di teras rumah dengan tangan masih menggenggam kertas.


Roland segera berlari ke pos security dengan panik. Ia tidak mungkin mendobrak masuk ke dalam rumah dengan lancangnya. Yang terpikir hanya melapor pada penjaga rumah supaya memanggil anggota keluarga yang lain dan membawa sang nyonya rumah masuk ke dalam.


“Ada apa ini?” teriak Pak Rudi, sang sopir. Berlari menghampiri Bella. Ia baru saja kembali dari warung, selesai makan siang.


“Ibunya pingsan, Pak,” cerita Roland. Meraih kembali kertas yang ada di dalam genggaman Bella dan memasukkannya ke amplop kembali.


“Dibawa ke rumah sakit saja, Pak.” Roland memberi ide. Khawatir akan mempengaruhi kehamilan Bella.


Pak Rudi menurut, dengan dibantu asisten rumah membawa nyonya majikannya ke rumah sakit dan menghubungi Bara.


***


Ruang perawatan rumah sakit.


Bara terlihat duduk di sofa dengan kaki terlipat memangku laptop. Lelaki itu terpaksa keluar dari rapat pentingnya demi menemui sang istri yang dikabari Pak sopir pingsan di teras rumah. Dan sekarang ia harus menyelesaikan pekerjaannya dari rumah sakit sambil menunggu istrinya siuman.


Bara masih serius dengan laporan-laporan yang dikirim Kevin melalui email saat panggilan lembut terdengar, mengganggu konsentrasinya.


“Mas ...."


“Mas ...."


“Mas ...."


Bara menutup laptopnya, bergegas menemui Bella yang sepertinya sudah bangun.


“Bell, aku di sini. Apa yang terjadi?” tanya Bara, menarik kursi. Duduk di samping hospital bed sembari menggenggam tangan istrinya.


“Mas, aku di mana?” tanya Bella, meremas kepalanya yang pusing. Masih berusaha beradaptasi dengan tempatnya sekarang.


“Kamu pingsan di teras rumah. Sekarang kita di rumah sakit. Apa yang terjadi?” tanya Bara, penasaran.


Ia belum sempat mencari tahu sama sekali tentang lelaki yang bertamu di rumahnya, saat ini fokusnya lebih ke Bella dan kandungannya.


“Mas, aku bertemu dengan papanya Icca. Tadi dia ke rumah,” cerita Bella, raut wajahnya terlihat sedih.


“Maksudnya ... bagaimana, Bell?” tanya Bara, belum menangkap arah pembicaraan istrinya.


“Tadi ada laki-laki datang ke rumah, Mas. Pakaiannya rapi, sepertinya orang berada,” cerita Bella.


“Dia membawa surat dari rumah sakit. Katanya itu hasil tes DNA yang menyatakan kalau Icca itu putrinya,” lanjut Bella dengan suara bergetar.


Deg—


Kalimat terakhir Bella, sanggup mengguncang perasaan Bara. Napasnya sesak, jantung bergemuruh. Tidak jelas antara marah atau tidak terima, tetapi emosi Bara lumayan terpengaruh.


“Aku akan meminta security mengirimkan rekaman cctv. Aku ingin melihat siapa lelaki yang berani mengaku sebagai papa Icca,” ucap Bara, mengepalkan tangannya. Kesal, marah, tidak terima, semua mengumpul jadi satu.


“Mas, bagaimana kalau dia benar-benar mengambil Icca dari kita,” cicit Bella, menangis. Meskipun Issabell bukan putri kandungnya, tetapi ia sudah terlanjur sayang dengan gadis kecil itu. Apalagi, Issabell juga putri kakaknya Rissa. Tidak rela harus menyerahkan gadis kecil itu pada orang lain, apalagi tidak dikenalnya.


“Tidak mungkin. Aku akan memperjuangkan Icca. Jangan terlalu dipikirkan,” hibur Bara, merapikan anak rambut yang menutup sebagian wajah Bella.


Bara sudah meminta security rumahnya untuk mengirimkan rekaman CCTV yang menyorot teras rumahnya. Tidak butuh waktu lama, sebuah video masuk menampilkan lelaki mengenakan setelah jas kerja, turun dari sebuah mobil mewah.


Bara masih belum bisa melihat jelas siapa lelaki yang mengaku sebagai ayah biologis putrinya itu, tetapi ucapan Bella yang tiba-tiba menyebutkan sebuah nama bertepatan dengan kamera yang menyorot wajah sang pria membuat Bara meradang.


“Kalau tidak salah ingat, namanya Ronald, Mas,” ujar Bella tiba-tiba.


Bara mengalihkan pandangan pada sang istri, kemudian memastikan lagi dengan visual yang ditangkap oleh rekaman CCTV. Otaknya masih berusaha merangkai, sampai akhirnya ia bisa memastikan kalau Ronald yang disebut Bella dan Ronal, rekan dan klien perusahaan adalah orang sama.


“Brengs’ek! Jangan-jangan selama ini dia mendekatiku karena Icca,” umpat Bara, mengepalkan tangannya.


***


T B C


Love you all


Terima kasih