
Bella masih berusaha menahan Kailla supaya tetap di rumahnya. Selama tinggal di Jakarta, dia tidak memiliki teman sama sekali. Hanya Kailla lah teman yang sudah dianggapnya seperti saudara. Yang kadang saling mengunjungi di kala senggang. Kebetulan suami mereka berteman baik, begitulah awal mula hubungan mereka terjalin.
"Nanti saja baru pulang ya, Kai," rayu Bella. Mereka bertiga sedang duduk di atas karpet menemani Issabell bermain di ruang keluarga.
"Bukan begitu, Boo. Kamu tidak melihat wajah suamimu itu. Begitu kencang, ditusuk pakai jarum, aku yakin itu jarumnya yang patah," sahut Kailla, menatap Bara yang sedang melotot ke arahnya.
"Biarkan saja, Kai. Dia memang begitu, bisik Bella.
“Tidak ada manis-manisnya. Kalau sedang marah, lupa sudah semuanya,” adu Bella, berbisik takut ucapannya terdengar Bara.
"Itu pasti Om Bara sedang mengumpatku dalam hati," ucap Kailla, bergidik ngeri. Diam-diam mengintip Bara yang duduk di sofa tidak jauh dari tempat mereka berkumpul, menatap ke arahnya tak berkedip.
"Mas, sudah. Jangan seperti itu. Kalau Kailla tidak boleh berkunjung ke sini. Besok-besok aku saja yang main ke rumahnya bersama Icca."
Mendengar ucapan istrinya, Bara menelan ludah. Terbayang kalau Bella di sana akan bertemu dengan Ricko dan ia tidak bisa mengawasi keduanya. Cemburu kembali menyelimuti hatinya.
"TIDAK BISA!" tolak Bara, memotong dengan cepat.
"Nah, Mas tidak mengizinkan aku ke rumah Kailla. Dia main ke sini, Mas marah-marah. Maunya Mas itu apa?" dengus Bella kesal.
Mendengar ucapan Bella, Bara langsung menciut. Bagai kerupuk bawang melempem di dalam kaleng yang terlupa ditutup.
Melihat wajah tertunduk Bara dengan mulut terkatup, tawa Kailla pecah. Terbahak-bahak, meledek Bara membuat lelaki itu kesal sendiri. Baru saja Bara akan membalas, tetapi Bella sudah melotot padanya. Lagi-lagi membuat lelaki itu mengalah. Ia tidak bisa meladeni Kailla, Bella membuatnya bungkam.
Masih menunggu di kursi, memperhatikan istrinya, tampak Bara menguap lebar berulang kali. Sengaja menguap lebih tepatnya, memberi kode pada tamu mereka.
"Sweetheart, kamu belum mengantuk?" tanya Bara, mengedipkan matanya berulang kali. Ia terlihat sangat mengantuk sekali.
"Kalau Mas sudah mengantuk, tidur saja duluan. Aku masih mau mengobrol dengan Kailla," sahut Bella lagi.
Lama-lama, ia bisa kesal sendiri dengan sikap egois Bara. Sungguh berbeda dengan suami Kailla. Kala ia mengunjungi sahabatnya itu, malah suami Kailla menyuruhnya menginap supaya bisa berbincang dan bergosip sampai puas. Bahkan Pram menawarinya tidur di kamarnya dan mau membantu menghubungi Bara untuk meminta izin.
"Huh!" dengus Bella kesal.
Setelah segala triknya tidak berhasil, Bara akhirnya memilih menunggu Pram di teras rumah. Baru saja kakinya melangkah, tiba-tiba telinganya menangkap kata-kata Kailla yang membuatnya menghentikan langkah kakinya.
"Boo, masih ingat 'kan mahasiswa tampan anak fakultas hukum?' tanya Kailla tiba-tiba. Sudut matanya menatap ke arah Bara. Hatinya bersorak-sorai saat mendapati lelaki itu terpengaruh, berhenti melangkah dan mulai lagi cemburu buta.
"Sttttt!" Bella meletakkan jarinya di bibir, meminta Kailla menghentikan pembahasan tidak penting itu.
"Tenang saja, Boo. Apa yang kamu takutkan. Lagi pula kamu sedang hamil. Apa yang harus Om Bara cemburui. Ya 'kan, Om?" teriak Kailla.
"Hah?!" Bara tergagap.
"Nah, kan. Om Bara tidak masalah," celetuk Kailla dengan santai.
“Ada yang menyukai istri Om, harusnya Om bangga, berarti istri Om ini cantik,” lanjut Kailla, semakin memanas-manasi.
"Lagi pula ya, Boo. Tiap hari disuguhi barang antik, lama-lama bosan juga. Sesekali mata kita ini juga perlu diberi infus dengan yang bening-bening, keluaran baru. Yang era milenium, jangan terus-terusan disuguhi yang sisa penjajahan Belanda. Memang dikira kita museum," celetuk Kailla.
"Kurang ajar, bocah kecil nakal ini sejak tadi menabuh genderang perang denganku. Apa maunya. Kalau bukan istri Pram, sudah aku seret keluar. Masa aku dikatakan sisa penjajahan Belanda. Apa dia tidak sadar, kalau suaminya itu malah lebih parah, sisa penjajahan Jepang!" gerutu Bara dalam hati.
Tangan Bara sudah terkepal dengan napas naik turun, tetapi dari arah halaman rumah tampak lampu mobil menyorot.
Bara tersenyum semringah.
“Gembala sudah datang, mau membawa pulang peliharaannya yang terlepas. Mengacau di kebun tetangga," celetuk Bara, bersiap menyambut sahabatnya.
"Malam, Om. Maaf, aku meminta Kailla ke rumah dan menahannya sampai larut malam," ucap Bella, berdiri tersenyum menyapa Pram. Terlihat Kailla juga ikut berdiri menyambut suaminya.
Pram hanya mengangguk. "Bagaimana, Bar? Apakah istriku menyusahkan kalian?" tanyanya sambil berjalan menghampiri istrinya.
Berbalik menatap Bara yang mengekor di belakangnya. Pram tahu, sahabatnya itu terganggu dengan kehadiran istrinya.
"Oh tentu tidak, Pram. Aku malah mau menawari Kailla menginap di rumah kami." Bara menunduk, tidak berani menatap Bella. Istrinya seperti singa kelaparan, siap menerkamnya.
"Ya kan, Sweetheart," ucap Bara, berusaha membujuk Bella yang terlanjur marah. Bara tahu, istrinya mengetahui jelas kedatangan Pram malam-malam ke sini karena ulah dirinya.
Pram tersenyum menatap Kailla. "Kamu sudah makan, Sayang?" tanya Pram.
Lelaki itu merengkuh pinggang ramping istrinya, menghadiahkan kecupan di kening Kailla seperti biasa.
"Sudah, Sayang. Aku makan di rumah Om Bara," sahut Kailla, bergelayut manja di lengan suaminya, seperti biasa yang dilakukannya di rumah. Bersandar manja di tubuh suaminya.
"Oh, ya? Berarti Bara akan mengirimkan tagihannya padaku," sahut Pram mengusap pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta.
"Sayang, aku begitu merindukanmu," ucap Pram tersenyum manis memandang istrinya.
Tentu saja Kailla bahagia diperlakukan semanis itu oleh suaminya. Bukan kali ini saja, Pram memperlakukannya dengan penuh cinta di setiap kesempatan.
Bella terperanjat, menatap penuh iri akan perlakuan Pram pada sahabatnya, kemudian memandang sang suami yang berdiri di sampingnya.
Mata Bara membulat, menahan kesal yang menyesak. Gara-gara Kailla, ia menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya dan sekarang Pram, tanpa malu-malu memanjakan istrinya di depan matanya dan Bella.
"Kurang ajar, Pram!" gerutunya dalam hati.
***
Tak lama Pram dan Kailla berpamitan. Tertinggal Bara dan Bella yang mengantar tamu mereka di teras rumah, menatap lampu mobil itu lenyap di tengah gelapnya malam.
"Bell, aku ... begitu ... merindukanmu," ucap Bara dengan kaku. Mencoba berlaku manis, meniru apa yang dilakukan Pram pada istrinya.
Bella tentu saja terkejut. Tidak biasanya Bara semanis ini. Dengan menempelkan punggung tangannya di kening sang suami.
"Mas, tidak demam, kan?" tanya Bella mengerutkan dahinya.
"Tidak, Bell." Bara dengan wajah datarnya.
"Kenapa Mas jadi aneh begini?" tanya Bella lagi.
"Kita ke kamar yuk!" ajak Bara, menggandeng tangan istrinya menuju kamar tidur mereka.
***
T b c
Love you all
Terima kasih.