Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 182. THE END


“Bu, Issabell adalah putri kandung Rissa.” Bara berdiri dengan kedua tangan terselip di saku celana, menatap teduh pada wanita tua dengan terusan batik biru. Wajah terkejut itu nyata, tersentak tiba-tiba akan penyataan Bara. Tidak pernah diduga sebelumnya, meskipun dari raut wajah sangat terlihat kemiripan kalau diperhatikan.


Bella buru-buru bergeser, duduk mendekat sambil menggenggam tangan ibunya. Sesekali mengusap punggung yang bergetar hebat ketika mendengar kenyataan yang diungkapkan Bara. Ingin menolak mempercayai semua, tetapi ini kenyataan.


“Bu, apa ibu baik-baik saja?” Bella bertanya pelan, setelah melihat Ibu Rosma diam dengan pandangan kosong. Rasanya tidak tega saat melihat wanita tua itu terpukul.


“Maafkan aku, Bu. Seharusnya aku berterus terang sejak awal. Aku hanya takut ibu ....” Bella ikut menitikan air mata, ikut terharu saat melihat ibunya terguncang hebat.


“Ibu hanya tidak habis pikir, kenapa Rissa bisa seperti itu. Ibu merasa gagal, merasa tidak menjalankan amanah Bapak,” isak Ibu Rosma, menyapu cairan bening yang menjejak di pipi dengan ujung telunjuk.


“Bu ... sudah. Ini bukan salah Ibu, ini salah Kak Rissa. Jangan mengambil alih tanggung jawab ini. Harusnya Kak Rissa yang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Dia sudah besar, bukan anak kecil lagi.”


“Ya, Ibu tahu. Ibu merasa gagal mendidiknya.”


“Ibu jangan seperti ini, aku jadi sedih kalau Ibu menangis,” ucap Bella ikut terisak melihat air mata Ibu Rosma. Mengusap perlahan pipi keriput ibunya sebelum mendekap erat, membagi kehangatan dan kenyamanan.


Bunyi ketukan di pintu ruang kerja Bara, mengalihkan ketiganya. Ibu Rosma masih saja terguncang, walaupun sudah jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.


“Maaf Pak, adek sepertinya lapar.” Babysitter Real memberitahu, sesaat setelah pintu ruang kerja itu terbuka. Bersamaan dengan itu, tangisan bayi Real terdengar kencang di dalam gendongan pengasuhnya.


Bara masih berdiri tegak dengan menggenggam gagang pintu. “Berikan padaku.” Bara menyodorkan kedua tangannya, menyambut sang putra mahkota. Membawanya pada Bella, supaya istrinya itu bisa segera menyusui putra mereka.


“Sayang ....” Tampak Bara meletakan Real ke dalam gendongan Bella, memosisikan putranya senyaman mungkin.


“Bara Junior sepertinya kelaparan sekali,” komentar Bara terkekeh, melihat bagaimana Real yang mengisap susunya dengan begitu tergesa-gesa, kencang sampai menimbulkan bunyi decapan kencang.


Beralih menatap Ibu Rosma, mertuanya sudah jauh lebih tenang. “Bu, aku minta maaf,” ucap Bara, memulai lagi pembahasan. Menjatuhkan tubuhnya tepat di depan Ibu Rosma.


Sejak tadi, Bara mengunci rapat mulutnya. Membiarkan ibu dan putrinya saling menguatkan.


“Apa yang terjadi, Nak Bara? Bagaimana Rissa bisa seperti itu?” tanya Ibu Rosma pelan. Ada rasa malu bergelayut di dalam dirinya. Mendapati putri tertuanya berbuat salah dan menyusahkan banyak orang, semakin Ibu Rosma rendah diri.


“Ya ... pergaulan anak muda. Apalagi di kota besar.” Bara menatap Bella, melihat reaksi istrinya. Rasanya tidak tega kalau harus mengatakan Rissa adalah perempuan murahan, apalagi di depan ibunya langsung. Seburuk-buruknya seorang anak di mata orang lain, tetap saja akan berbeda di dalam pandangan orang tuanya.


“Rissa,” lirih Ibu Rosma, memukul pelan dadanya sendiri.


“Sudah, Bu. Semua sudah berlalu. Issabell juga sudah hampir tiga tahun sebentar lagi. Sudah terjadi, disesali juga percuma. Yang penting saat ini, bagaimana mendidik Icca supaya menjadi anak yang baik ke depannya,” hibur Bara.


“Ayahnya Icca ....” Ibu Rosma bertanya kembali.


“Roland.” Bara menjawab dengan cepat.


Ibu Rosma mengangkat pandangannya. Beralih menoleh ke arah Bella yang masih sibuk menimang Real. Bayi mungil itu sudah kekenyangan.


“Bagaimana bisa?” tanyanya Ibu Rosma dengan polosnya. Mengusap kembali dadanya yang bergemuruh. Hari ini, ia menerima banyak kejutan sekaligus. Rasanya sudah tidak sanggup kalau harus menerima kejutan selanjutnya.


Tentu saja ia mengenal Roland. Bahkan beberapa bulan yang lalu, laki-laki itu masih menyempatkan diri menjenguknya di rumah sakit Surabaya.


“Begitulah kenyataannya.” Bara menjawab santai.


“Bagaimana rencana kalian. Sampai kapan kalian menutupi semua ini? Ibu kasihan dengan Rissa ....” Setelah sekian lama diam dan berputar-putar dengan pikirannya, Ibu Rosma bersuara.


“Untuk saat ini, Icca masih tanggung jawabku, Bu. Masih terlalu dini mengenalkan Rissa dan Roland. Akan membuat putriku kebingungan.” Pernyataan Bara, sontak membuat Ibu Rosma menutup mulut. Ada nada posesif di dalamnya. Menyebut kata putriku, Bara seakan sengaja mengingatkan pada mertuanya akan status Issabell yang saat ini adalah putri keduanya.


“Ibu mengerti.”


Ibu Rosma mengangguk.


***


Seharian disibukan dengan banyak hal, malam adalah waktu terbaik untuk berbagi cerita dan rasa bagi pasangan suami istri, Bara dan Bella.


Bara yang sudah mengenakan kaos tidurnya, tampak berdiri tersenyum di sisi ranjang bayi. Ia mengagumi ketampanan putranya saat tertidur pulas. Memandang jam yang tergantung di dinding kamar, hampir jam sepuluh malam.


“Sebentar lagi akan ada kerusuhan,” ucap Bara pelan. Mengingat setiap tengah malam, Real yang rewel dan selalu menempel padanya. Bara mulai menamatkan banyak hal tentang putranya.


Puas mengagumi ketampanan putranya, Bara berjalan mendekat ke tempat tidur. Bella sibuk memompa asinya keluar dan menyimpannya ke dalam botol kaca.


Bara menelan saliva, saat menatap gundukan ranum yang jauh membesar dari normalnya.


“Bell, aku harus puasa sampai kapan?” tanya Bara, memulai basa-basinya.


Laki-laki itu memilih menjauh, tidak mau berdiri terlalu dekat. Yang ada akan memancing hasratnya semakin menjadi. Gairahnya sedang di ubun-ubun beberapa hari ini, sangat sensitif saat harus melihat pemandangan yang menggugah setiap saat.


“Ini baru awal puasa, lebarannya masih jauh, Mas.” Bella menjawab dengan santai, tanpa tahu isi kepala suaminya.


“Masih lama, ya. Padahal aku sudah merindukan ketupat lebaran,” ucap Bara asal.


“Mas!” gerutu Bella, mulai kesal.


“Aku itu selalu menghitung setiap hari. Mencoret kalender di meja kerja. Rasanya coretan itu hampir penuh, Bell,” cerita Bara dengan tatapan menerawang.


“Ini baru sepuluh hari, Mas,” ujar Bella. Masih sibuk memompa keluar asinya.


“Yang benar? Kenapa di kalenderku, sudah hampir penuh satu bulan?” tanya Bara, terkekeh.


“Mas kurang kerjaan!” dengus Bella.


“Sepuluh hari rasa sewindu, Bell. Aku sudah rindu berat.” Bara berkata, tersenyum malu-malu. Sesekali mencuri tatap pada istrinya.


“Bell ....”


“Apa lagi, Mas?”


“Kalau ketupatnya belum boleh. Apa aku boleh mencicipi kurmanya sedikit? Sedikit saja, Bell,” tanya Bara ragu-ragu, menunjukan ujung jarinya. Memperagakan kata sedikit yang dimaksud.


“Apa maksudmu, Mas?”


“Setiap hari melihat adek Real disajikan kurma, apa Daddy Real tidak diizinkan mencoba,” ujar Bara, dengan wajah memelasnya.


***


Sekian dan terimakasih.


Ini extra chapter terakhir. Dengan segala pertimbangan, akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan season 2 masih dengan Bara & Bella.


Season 2 dengan judul MENUA BERSAMAMU.


Bagi yang penasaran dengan kisah Real yang dijodohkan dengan putri bungsu Pram, bisa follow instagram : casanova_wetyhartanto