Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 105. Daddy jangan pergi


Selama penerbangan Jakarta -Surabaya, Bella lebih banyak termenung. Beberapa kali tertangkap sedang mengusap pelan air mata yang menganak sungai, menangis dalam diamnya.


Ia sedang mengingat kembali, menyusun potongan demi potongan kehidupan pernikahannya. Dari tiba-tiba dipaksa menikah, ditinggal suaminya selama dua tahun tanpa kabar berita sampai pada akhirnya ia menyusul, barulah sang suami mau mengakui keberadaannya.


Entah disengaja atau tidak, entah untuk alasan apapun, saat itu ia benar-benar merasa tidak dihargai. Satu-satunya alasan ia bertahan dan membatalkan perceraiannya saat itu adalah Ibu dan Isabell. Dua orang yang saat ini duduk di sisinya.


Menatap Issabell yang tertidur pulas, kembali air mata itu menetes kembali tidak terbendung. Mengenang perjalanan pernikahan yang baru saja dilakoninya meski sudah dua tahun menyandang status sebagai istri dari Barata Wirayudha, majikan ibunya sendiri.


Masa lalu Bara yang terbilang rumit dan semerawut, lagi-lagi harus menghantamnya di saat ia dinyatakan positif hamil bayi dari suami yang bahkan takut jatuh cinta padanya. Belum lagi hantaman masa lalu yang menguap ke permukaan dan tidak mau menghilang dari keluarga kecil mereka yang baru saja dibangun.


Kalau dibilang ikhlas, ia sudah mencoba menerimanya selama ini. Bahkan sewaktu menikah, ia tahu jelas status suaminya yang seorang duda cerai, tetapi kenyataannya terlalu berat. Ia sudah mencoba memahami nasehat ibunya dan berusaha menurut. Namun, faktanya menjalani tidak semudah berbicara.


Perjalanan udara satu jam lebih itu, terasa lebih lama dari biasanya. Beruntung Issabel tidak rewel, menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang penerbangan.


“Bell, kamu sudah pikirkan lagi?” tanya Ibu Rosma, memecahkan keheningan yang tercipta selama hampir satu jam ini.


Bella mengangguk dengan penuh keyakinan. Sedikit pun tidak terpikir untuknya mundur dari keputusannya.


“Aku sudah memikirkannya bukan sehari dua hari,” sahut Bella, membuka kotak kue yang baru saja disodorkan seorang pramugari cantik kepadanya.


“Jangan mengambil keputusan gegabah, Bell. Ingat di dalam perutmu itu ada bayi kalian. Buah cintamu dengan Bara,” ucap Ibu Rosma.


“Buah cinta apaan!” batin Bella.


“Bu, aku akan menggugat cerai Mas Bara setelah melahirkan. Aku tidak main-main dengan keputusanku. Aku bukan sengaja kabur untuk sekedar mencari perhatiannya, Bu,” jelas Bella.


“Aku bukan perempuan kekanak-kanakan seperti yang Ibu dan Mas Bara pikirkan. Buktinya aku tidak menghilang tiba-tiba, kabur tidak jelas ke mana arah dan tujuannya. Meskipun aku pergi tanpa izin suamiku, setidaknya suamiku dan Ibu tahu jelas aku pergi ke mana.”


“Walaupun keputusan ini berat, tetapi aku tidak mau keputusanku membuat semua orang risau. Makanya aku memilih pulang bersama Ibu.”


Ibu Rosma hanya bisa diam, mencerna dan memberi waktu untuk putrinya. Kehamilan Bella menjadi pertimbangan untuknya tidak membantah, tepatnya saat ini ia tidak mau berdebat dengan putrinya.


Memberi ruang dan waktu untuk Bella berpikir dengan tenang, tidak menggunakan emosinya. Berharap ucapan Bella tadi hanyalah emosi sesaat. Masalah berpisah tidaklah mudah, mengingat ada bayi yang bahkan belum lahir.


“Aku sudah memikirkan berulang kali. Aku dan Mas Bara tidak sejalan,” lanjut Bella lagi, sebelum bersandar di kursi pesawat sembari memejamkan matanya. Mengistirahatkan tubuh dan otaknya meskipun hanya sejenak.


***


Di sisi lain ada Pak Rudi yang panik saat mengetahui Nyonya majikannya itu ikut terbang ke Surabaya. Terbayang sudah kemurkaan Bara saat mengetahui fakta yang sebenarnya.


Tangannya sudah mencari kontak Bara di ponselnya. Begitu nama majikannya muncul, segera sopir keluarga itu menghubungi. Nada dering yang terdengar berulang kali tanpa diangkat, membuat Pak Rudi hampir putus asa. Lima belas menit mencoba selalu saja berakhir dengan gadis cantik penunggu mesin operator.


Dengan pasrah, akhirnya Pak Rudi mengarahkan mobilnya menuju BW Group, tempat di mana majikannya berkantor. Berita yang akan disampaikan bukanlah berita biasa. Pak Rudi yakin saat mendengarnya Bara akan menggila seketika seperti yang sudah-sudah.


“Maaf, Pak Rudi ... Pak Bos sedang keluar kota dengan sopir kantor,” jawab Kevin saat sampai di ruangan Bara hanya kosong-melompong.


“Maksudnya bagaimana, Pak Kevin?” tanya sopir itu lagi.


“Pak Bos ke Bogor. Biasa, meninjau proyek di sana,” sahut Kevin.


Dengan langkah gontai, lagi-lagi sopir itu harus menelan pil pahit. Kembali ke rumah, dan mempersiapkan diri baik-baik. Ia yakin, ia akan jadi salah satu sasaran empuk Bara apabila saatnya tiba.


***


Mobil sport Bara masuk ke kediamannya saat hari menjelang sore. Lelaki tampan itu keluar dari mobilnya dengan wajah kelelahan. Sejak pagi ia mengurus masalah di proyek, sampai-sampai ia melewatkan makan siangnya.


Suasana rumah sore itu terasa sepi, terlihat tidak ada aktivitas apa pun begitu kakinya menginjak ke dalam rumah yang biasanya ramai dengan celotehan dan tawa kecil putrinya.


Saat melangkah menuju ruang keluarga, perasaannya semakin tidak enak. Ruangan yang biasanya penuh dengan mainan Issabell, saat ini begitu rapi. Bahkan tidak ada satu pun mainan tergeletak di lantai.


Melihat situasi itu, langkah kaki membawanya ke kamar Hello Kitty milik Issabell. Lagi-lagi Bara tercengang, kamar itu sepi seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Bahkan gorden kamar tertutup rapat seperti tidak berpenghuni.


“Bell!”


“Iccca!”


Bara memanggil sembari berteriak. Mencari keduanya di semua sudut kamar, tidak ada yang terlewati. Masih berusaha berpikir positif, Bara kembali berlari ke teras, mencari keberadaan Alphard hitam, mobil operasional istrinya.


Deg—


Jantungnya berdegup kencang saat mendapati mobil itu terparkir rapi di sana.


“Pak Rudi!”


“Pak Rudi!” teriak Bara berulang kali.


Tidak lama sopirnya itu muncul dari arah belakang rumah. Pak Rudi yang baru saja selesai mandi sore, masih dengan kain sarung terlilit di pinggang, berlari menemui Bara.


Terlihat beberapa asisten rumah tangga dan Rania ikut keluar karena panik mendengar suara Bara yang berteriak kencang.


“A ... ada apa, Pak?” tanya Pak Rudi, terbata


“Siapapun, ceritakan padaku. Di mana istri dan putriku?” tanya Bara, menatap satu persatu asisten rumah tangga dan sopirnya.


“Ma-maaf, Pak. Nyonya dan Non Issabell ikut Ibu pulang ke Surabaya,” sahut Pak Rudi dengan ketakutan.


“Apa-apaan ini! Istri dan putriku pergi, tidak ada seorang pun yang mengabariku?" omel Bara, berdiri dengan penuh amarah. Menatap sinis pada semua orang yang berbaris dengan ketakutan.


Bara bergegas masuk ke kamar, tidak mengindahkan panggilan Rania. Hanya Rania saja yang masih memiliki keberanian mendekati daddy-nya. Nyali asisten dan sopir sudah menciut sejak tadi.


“Dad!”


“Daddy!” panggil Rania, menyusul Bara yang berlari panik menuju kamarnya.


“Dad!” panggil Rania kembali, mengekor masuk ke dalam kamar Bara. Ia bisa melihat sendiri daddy-nya sedang mengeluarkan koper dari dalam lemari. Melempar masuk pakaian seadanya dan menutupnya kasar.


“Dad!” sapa Rania kembali, berdiri di samping Bara.


“Ran, jangan ganggu Daddy. Daddy masih ada urusan. Masuk ke kamarmu sekarang! Jangan ikut campur urusan orang tua, ya,” pinta Bara sedikit melunak.


Tangan Bara sudah mengeluarkan ponselnya, mencari nomor kontak Kevin, sang asisten. Ia harus mendapatkan tiket pesawat segera. Bagaimanapun, ia harus terbang ke Surabaya saat ini juga, menyusul istri dan putrinya.


“Cari tiket untukku ke Surabaya malam ini juga. Detik ini juga! Aku akan membayar berapa pun. Kirimkan segera padaku!" pinta Bara dengan berteriak. Ia sudah terlampau panik, tidak bisa berpikir jernih lagi.


Masih dengan menyeret keluar kopernya, lelaki itu kembali berteriak.


“Pak Rudi! Siapkan mobil, aku harus ke Surabaya saat ini juga!” perintahnya.


Rania yang sejak tadi menonton kemarahan Bara hanya bisa diam, mengekor di belakang daddy-nya. Tepat saat Bara akan keluar teras rumah, Rania merengkuh tangan daddy-nya sembari menangis.


“Daddy ... jangan pergi. Tolong antarkan aku ke tempat Mommy sekarang,” isaknya dengan air mata bercucuran.


“Mommy sakit lagi. Aku mau tinggal dengan Mommy saja,” isaknya berhambur di pelukan Bara.


***


T b c


Love You All


Terima kasih.