
Bara tersenyum, mengeratkan genggaman tangannya pada sang istri. "Aku mencintaimu, Bella Cantika. Gadis manis yang mengisi hidupku di sepuluh tahun terakhir ini."
"Istri yang akan menemani di sisa hidupku. Aku mencintaimu."
Kesadaran Bella masih kocar-kacir. Pernyataan Bara yang begitu mendadak, tanpa diduga membuat wanita hamil itu terkejut. Butuh waktu untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang, tidak karuan seperti derap kaki kuda di perlombaan pacu.
“Mas ....”
Akhirnya Bella bersuara, setelah mengatur napasnya. Perasaan bahagia tentu saja mendominasi di sela tanda tanya karena Bara mengungkapkan perasaannya begitu tiba-tiba, membuatnya melambung ke udara.
“Apa Sayang?” tanya Bara dengan suara manja dan tersenyum manis. Tangan itu bukan hanya menggenggam, sekarang malah saling menautkan jemarinya. Mata saling berpandangan seakan bicara dalam diam.
“Apa Mas sedang tidak enak badan? Mas sakit?” tanya Bella, menatap suaminya, mengikis jarak. Kepalanya terjulur ke depan memperhatikan wajah Bara dari dekat.
“Aku baik-baik saja, Bell. Aku sehat,” sahut Bara, mengulum senyum.
Tawa lelaki itu hampir pecah. Ingin tergelak saat netranya menangkap mimik aneh istrinya. Keyakinannya mengatakan Bella sedang mengumpulkan kepercayaan akan pernyataannya yang mungkin belum bisa diterima dengan baik oleh sang istri.
“Maaf, Bell. Selama ini membuatmu menunggu. Aku pernah gagal dan ini tidak mudah untukku. Rasa sakitnya itu masih membayang.”
“Terima kasih karena masih setia berdiri di sampingku sampai detik ini,” ucap Bara. Lelaki itu tersenyum, perlahan mengecup punggung tangan istrinya.
Sikap manis yang belum pernah diterimanya langsung dari sang suami, seketika membuat pipi mulus bak pualam itu bersemu merah menahan malu.
“Mas."
“Hmmm” gumam Bara.
Lelaki itu tidak kalah bahagia melihat sikap malu-malu istrinya. Sejak dulu, Bella selalu bersikap seperti itu padanya. Malu-malu, tetapi sikap itu malah terlihat menggemaskan di mata Bara.
Masih saling menatap saat pelayan meminta izin untuk menyajikan makanan yang sebelumnya sudah dipesan Bara.
“Permisi,” sapa pelayan, melempar senyuman karena merasa tidak enak sudah mengganggu aktivitas keduanya. Bara yang merasa canggung, buru-buru melepaskan genggaman tangannya, mengusap wajahnya yang bersemu. Malu yang menyergap tiba-tiba. Ia merasa kembali ke masa SMA lagi, seperti pertama kali jatuh cinta, berjuta rasanya.
Selama ini ia berusaha menekan perasaannya sendiri, tidak mau terlalu hanyut, dan terbawa rasa. Khawatir akan luka yang menghantamnya kala cinta itu berujung luka kembali. Sebut saja ia pengecut ataupun cengeng, tetapi baginya yang pernah dikhianati tidak akan mudah melewati semua.
“Habiskan makananmu, Bell,” titah Bara, mendorong mi goreng Jawa yang dipesannya khusus untuk sang istri. Ia sendiri memilih makanan berkuah berupa nasi dengan soto Betawi kesukaannya. Darah boleh blasteran, bola mata boleh biru, kulit boleh putih kemerahan, tetapi lidahnya tetap lidah nusantara. Seleranya tetap Indonesia.
“Ya, Mas. Aku kepikiran dengan Icca. Aku meninggalkannya terlalu lama. Tadinya aku mau membawanya bersamaku, tetapi aku takut dia akan merepotkan. Aku tidak enak dengan Kailla,” cerocos Bella, menggulung mi dengan garpunya dan memasukkannya ke dalam mulut.
Bara hanya mengangguk. Lelaki itu sibuk menyeruput kuah soto tanpa mendengar dengan jelas lagi ocehan istrinya. Ia sudah terlalu lapar, melewatkan makan siangnya demi mengejar waktu agar bisa menjemput Bella secepatnya. Teringat akan sosok Ricko yang bisa saja mengintai istrinya tiap saat. Cemburunya pada Ricko sudah sampai taraf mendarah daging dan tidak pada tempatnya lagi.
“Makanlah, Bell. Setelah ini kita kembali,” ucap Bara, mendongak sebentar. Setelahnya, kembali sibuk dengan makanan di depannya.
“Bell, bagaimana kabar Ibu?” tanya Bara tiba-tiba, membuka pembicaraan kembali.
“Ibu baik. Hanya saja dua hari ini Ibu tidak menghubungiku,” sahut Bella tampak hanya mengaduk-aduk pinggiran piring. Memainkan mi, menggulung dengan garpu.
“Kenapa tidak dimakan, Bell? Kamu tidak lapar?” tanya Bara lagi, mengernyit dahi keheranan.
“Aku kenyang. Buatmu saja, Mas,” ucap Bella, mendorong piringnya ke tengah meja.
“Kenapa?” tanya Bara, menyodorkan sendoknya yang berisi nasi soto ke mulut Bella.
“Mau nasi sotoku?” tawar Bara, setelah melihat Bella melahap sesendok penuh makanan yang baru disuapinya.
Lagi-lagi Bella menolak.
“Mas, aku kepikiran dengan Ibu. Apa kita harus menyembunyikan atau terus terang saja pada Ibu mengenai Kak Rissa?” tanya Bella, menautkan jemari tangannya ke atas meja, menatap lekat suaminya untuk menunggu jawaban.
“Tidak perlu dipikirkan. Aku akan mencari jalan keluar terbaik. Fokus pada kehamilanmu saja.”
“Ya, Mas.”
Bella menutup mulutnya, membiarkan suaminya menghabiskan makanan. Mereka harus secepatnya kembali ke rumah, tidak mau sampai Issabell menunggu terlalu lama. Tak lama, terlihat Bara sudah mengosongkan semua piring di atas meja. Merapikan kembali sendok dan garpu, setelahnya meneguk habis air putih yang disediakan di dalam gelas.
“Ayo kita pulang sekarang,” ucap Bara. Lelaki itu baru saja hendak berdiri, tetapi tiba-tiba dari arah pintu masuk muncul sosok tampan yang belakangan mengisi hari-hari mereka.
“Bar," sapa Roland yang tiba-tiba masuk ke restoran yang sama. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Bara dan istrinya di sini.
“Wah! Sudah selesai sepertinya. Aku terlambat,” celetuk Roland, tersenyum memandang piring kosong di atas meja.
“Ya. Dari mana saja, Land?” tanya Bara, segera menghampiri Bella, menggenggam erat tangan istrinya.
“Aku kebetulan lewat. Aku membeli rumah di dekat-dekat sini,” ucap Roland dengan santai.
Mendengar jawaban teman sekaligus kliennya, Bara menelan saliva. Mengalihkan pandangan pada sang istri yang tampak biasa-biasa saja.
“Mommy Icca, apa kabarmu?” tanya Roland, mengalihkan pandangannya pada wanita hamil yang tampak cantik sore ini. Rambut panjang tergerai dengan gaun hamil simple dan sapuan make-up tipis.
“Kabar baik.” Bella menjawab singkat, lalu menunduk. Tidak mau beradu pandang dengan lelaki yang sering menguntitnya belakang ini. Khawatir suaminya akan berpikiran yang tidak-tidak. Apalagi ia bisa merasakan sendiri genggaman tangan Bara yang semakin erat.
“Icca tidak ikut bersama kalian, Bar?” tanya Roland lagi, mengedarkan pandangnya.
“Tidak. Kebetulan aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan istriku,” sahut Bara, berganti merangkul pundak Bella dengan erat seolah sengaja memamerkan kemesraan dengan istrinya.
“Bar, kalau kamu tidak keberatan. Apa aku bisa bertemu dengan Icca lagi?” tanya Roland, menatap pasangan suami istri di depannya bergantian.
“Kurang ajar! Dia pura-pura bersopan ria. Biasanya, setiap menemui Icca main datang saja. Kali ini pura-pura meminta izin terlebih dulu,” umpat Bara dalam hati.
“Nanti aku akan mengabarimu, Land. Aku pamit dulu, ya.” Bara segera membawa istrinya meninggalkan restoran. Ia tidak ingin berlama-lama di depan lelaki ini. Bara tidak memercayai Roland, apalagi tatapan lelaki itu terlihat sekali mengundang sesuatu saat diam-diam mencuri tatap pada istrinya.
Namun, langkah Bara terhenti berganti emosi yang hampir meledak saat mendengar interaksi Roland dan istrinya.
“Maaf, Bell. Tolong sampaikan salam Mas untuk Icca,” ucap Roland, menghentikan langkah suami istri yang baru saja melewatinya.
“Katakan pada Icca, Mas akan membelikannya boneka Hello Kitty yang lebih besar lagi, sesuai dengan janji Mas kemarin,” lanjut Roland tersenyum licik.
“Mas?” ulang Bara, menatap tajam istrinya.
***
TBC