
“Bell!”
Bara mengangkat tubuh yang melemas itu, membawa ke pelukannya. Kepanikan membuatnya melupakan sosok Rissa yang berjongkok tidak jauh dari tempat Bella berbaring, sedang mengurut kedua telapak kaki Bella yang ikut memucat.
“Sayang, bangun Sayang!” Bara menepuk pelan kedua pipi yang seputih kapas.
“Riss, tolong minyak kayu putihnya,” pinta Bara, setelah menyadari sosok sang kakak ipar.
Bara sedang mengusap lembut minyak kayu putih di dahi dan sekitar hidung, saat kelopak mata istrinya perlahan membuka. Mengerjap beberapa kali, sampai akhirnya mata yang tertutup rapat itu membelah sempurna.
Pemandangan pertama yang dilihat Bella adalah wajah suaminya yang panik. Walau bibir itu menyunggingkan senyuman, tetapi kekhawatiran tercetak jelas di wajah tampan Bara.
Ada rasa hangat menyelimuti perasaan Bella akan perhatian Bara yang terlihat tulus. Namun, sedetik kemudian, ia mengingat kembali semua ucapan Rissa. Semua kehangatan itu menghilang, berganti kebencian.
“Lepaskan aku, Mas!” pinta Bella, berusaha mendorong tubuh kekar yang sedang memeluknya. Bukannya menjauh, Bara semakin erat memeluk.
“Riss, bisa tinggalkan kami,” pinta Bara. Tindakan tidak bersahabat Bella cukup menggambarkan apa yang dirasakan istrinya saat ini. Ditambah sejak pagi Bella sudah keluar dari rumah, tanpa membangunkan dan melayani seperti biasa.
Sang kakak ipar menurut. Perlahan masuk ke dalam rumah. Memberi ruang pada adik dan suaminya untuk berbicara dari hati ke hati.
“Apa yang terjadi padamu, Bell. Apa yang salah denganku. Katakan saja, kalau aku bersalah, aku akan meminta maaf. Kalau ada yang tidak kamu sukai dari sikapku, terus terang saja. Aku akan mengikuti semua keinginanmu,” ujar Bara. Dengan penuh kelembutan, lelaki itu membantu tubuh yang masih melemas untuk duduk bersadar di sofa.
“Minum dulu,” pinta Bara, meraih segelas air putih dan menyodorkannya pada sang istri. Sambil menunggu Bella menghabiskan air putihnya, Bara merapikan rambut panjang yang tergerai berantakan dan menyelipkannya di belakang daun telinga.
Senyum terukir di bibir Bara saat menerima gelas kosong yang disodorkan Bella padanya.
“Wajahmu kenapa pucat sekali? Kamu tidak lupa minum vitaminmu, kan?” tanya Bara, mengelus pipi lembut bak porselen yang setiap malam sering dikecupnya.
Bugh! Dengan sengaja Bella meraih bantal sofa dan memukul wajah Bara dengan kencang. Saat ini ia butuh pelampiasan untuk semua emosi yang berusaha ditahannya sejak semalam.
“Ada apa, Bell? Katakan padaku, apa masalahmu?” bujuk Bara kembali.
“Aku membencimu! Sangat membencimu!” teriak Bella dengan suara kencang. Rissa yang menyingkir di dalam kamarnya saja bisa mendengar teriakan Bella.
Tangan sudah terkepal, bersiap memukul suaminya. Dan Bara, lelaki itu hanya diam, bersiap menerima semua caci maki dan umpatan bahkan kalau Bella mau memukulnya ia terima. Yang terpenting, Bella baik-baik saja.
“Aku minta maaf, katakan apa salahku,” ujar Bara, setelah Bella lebih tenang.
Raut wajah Bella berubah, dari yang tadinya emosional, marah-marah sekarang tiba-tiba menitikan air mata.
“Setelah aku melahirkan, aku mau kita berpisah, Mas.” Kalimat itu terucap juga. Setelah sekian lama hanya melayang di pikirannya.
Bara tercengang. Ucapan Bella lumayan menghantam perasaannya. Membayangkan harus berpisah, apalagi ada seorang anak di antara mereka, rasanya tidak akan sanggup.
Dulu saja untuk mengambil keputusan bercerai, ia harus berpikir ratusan kali. Padahal jelas-jelas Brenda berselingkuh di depan mata. Ia melihat sendiri, istrinya tidur dengan laki-laki lain. Sakitnya tidak bisa dilukiskan lagi. Setiap mengingat itu, akan tetap merasakan sakit yang sama.
“Tidak, aku tidak mau berpisah,” tolak Bara, tertunduk.
“Untuk apa kita bertahan, kalau hubungan rumah tangga kita tidak sehat?” Bella berkata.
Air mata Bella menetes, meluncur turun perlahan melewati pipi. Keputusan berpisah ini terasa berat, tetapi mungkin ini yang terbaik. Jadi mereka sama-sama tidak merasakan sakit.
“Jawab aku, Mas ... mungkin setelah ini aku bisa mempertimbangkan permintaanmu tadi.” Bella berkata. Setelah lama berpikir, mungkin ada baiknya memberi Bara kesempatan membela diri. Mendengar jawaban yang selama ini menjadi penasarannya.
“Apa? Apa yang ingin kamu ketahui. Aku akan menjawab apapun itu.”
Sedikit ada harapan, semoga masih ada kesempatan. Bara tidak mau gagal lagi, harus bercerai untuk kedua kali.
“Apa Mas masih mencintai Mbak Brenda?” tanya Bella. Cerita Rissa, membuat rasa ingin tahunya begitu besar, memercik api cemburu di hatinya.
Bara hanya tersenyum, tidak berniat menjawab sama sekali. Bukan berat, tetapi setiap membuka cerita itu, lukanya akan menganga kembali. Sebut saja ia lemah, tetapi kenyataannya dulu ia terlalu mencintai, sampai lupa diri dan terlewat sakit begitu harus berpisah.
“Kamu sudah tahu cerita masa laluku 'kan, Bell?” tanya Bara.
Bella mengangguk.
“Apakah masih ada alasan untukku mencintainya?” Bara kembali bertanya. Matanya menatap lekat pada istrinya yang masih saja sibuk menangis.
“Kamu lihat sendiri 'kan bagaimana kami bertemu tempo hari. Kamu tahu kan semua cerita rumah tanggaku dulu,” lanjut Bara lagi.
“Kalau sudah tidak cinta ... kenapa ... kenapa ...." Bella tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Gengsi masih menguasai dirinya. Ia tidak mau mengemis cinta pada suaminya.
“Kenapa aku tidak mau mencintaimu? Kenapa aku tidak mau jatuh cinta lagi? Itu yang ingin kamu tanyakan padaku, kan?” Bara memotong.
Bella tertunduk kembali. Merona malu, seperti tertangkap basah. Apakah egois, menuntut Bara untuk mencintainya? Padahal ia tahu jelas dari awal, pernikahan mereka terjadi karena apa. Namun, ia tidak bisa berbohong. Hatinya sama seperti hati istri-istri yang lain. Ingin juga merasakan dicintai suami seutuhnya.
“Aku menyayangimu. Sangat menyayangimu.” Bara berkata, ujung telunjuknya menyentuh dagu istrinya. Mengangkat wajah tertunduk itu supaya ikut menatapnya.
“Aku yang membatasi diri untuk tidak mencintai seperti dulu aku mencintai Brenda. Aku tidak mau terluka lagi. Tapi itu bukan berarti ada wanita lain yang aku cintai. Tidak ada siapa-siapa. Hidupku hanya ada kamu, Issabell dan bayi kita,” jelas Bara lagi. Tangannya mengelus perut istrinya.
“Tapi, Mas.”
Bella tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Bara sudah memeluknya dengar erat.
“Jangan menangis. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Di dalam sini ada bayiku, aku tidak mungkin menyakitimu. Aku tahu sakitnya diselingkuhi, aku tidak mungkin memberimu luka yang sama,” jelas Bara. Suaranya bergetar hebat, menahan rasa yang bergejolak di dadanya.
“Maafkan aku. Kalau tanpa sengaja menyakitimu. Aku masih punya perasaan. Kamu bukan hanya istriku, tapi juga ibu dari anakku.”
Bella bergeming. Tidak bisa berkata-kata. Kembali ia luluh. Entah hatinya bisa tenang untuk berapa lama. Emosinya naik turun saat ini, pikirannya bercabang ke mana-mana. Ada kalanya ia mempercayai Bara, tetapi ada saatnya juga ia mencurigai suaminya itu.
“Kita pulang. Kalau tidak suka padaku, lampiaskan padaku. Kalau ada pertanyaan tentangku, langsung tanyakan padaku. Kita tidak tahu hati orang seperti apa. Bisa saja dia tulus membantumu, tapi bisa jadi dia menjerumuskanmu,” ucap Bara.
“Masalah rumah tangga, selesaikan di dalam rumah. Orang lain tidak berhak ikut campur, karena mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa. Rumah tangga itu hanya suami dan istri. Bahkan terkadang kita harus menyembunyikan banyak hal dari anak-anak,” lanjut Bara lagi, melirik ke arah dalam rumah. Rissa sedang berdiri, diam-diam menguping pembicaraan mereka.
Bara bisa bernapas lega, sementara masih bisa membujuk Bella. Esok siapa yang tahu, bisa jadi istrinya akan meledak kembali.
***
Terima kasih
Love You all