Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 40. Harus Kerja Keras


Setelah mendapatkan kunci kamar, Bara mengajak Bella menuju kamar mereka, ditemani oleh Room Boy.


“Pak, ini kunci kamarnya,” ucap Bara menyodorkan kunci kamar milik sang sopir.


Masih dengan menggandeng tangan Bella, Bara memamerkan senyumnya sepanjang perjalanan menuju kamar. Sopir yang berjalan di belakang keduanya, tersenyum melihat kebahagiaan majikannya.


“Ini Pak, kamarnya,” ucap Room Boy. Membantu membuka pintu kamar, menyalakan lampu dan mempersilakan kedua tamunya menikmati kamar mereka.


“Saya permisi, Pak,” pamit sang Room Boy tersenyum, memberi salam sambil menunduk.


“Oh, oke,” sahut Bara, berbalik menatap ke arah Room Boy yang bersiap meninggalkan kamar mereka.


Bella sedang menatap sekeliling kamar mereka. Interior di kamar itu sangat bagus. Dilengkapi dengan balkon dan jendela yang lebar menampilkan pemandangan menghijau di sekitar hotel.



“Bell, kamu suka?” tanya Bara tiba-tiba sudah merengkuh tubuh mungil istrinya.



“Hah!” Bella yang tidak siap hanya pasrah menatap Bara tanpa bisa menjawab. Butuh beberapa detik untuk menguasai keadaan.


“Suka, Mas,” jawab Bella tertunduk malu, setelah tanpa sengaja beradu tatap dengan suaminya.


“Aku memesan kamar ini untukmu,” ucap Bara, tersenyum.


“Aku berharap kamu menyukainya,” lanjut Bara, berbisik di telinga Bella.


Pandangan Bara tertuju pada tanda merah di sekitar leher Bella, tersenyum menatap hasil karyanya semalam.


“Ini, mau aku tambahkan. Boleh?” tanya Bara, menunjuk ke arah stempel kepemilikan yang dibuatnya.


“Mas,” ucap Bella tersipu malu.


“Aku harus mengasah kembali kemampuanku, Bell. Sudah terlalu lama aku tidak melakukannya,” ujar Bara tanpa malu-malu, membuat rona di pipi Bella semakin terlihat jelas dan nyata.


“Mas!” pekik Bella memukul pelan lengan Bara, saat laki-lakinya itu benar-benar mengecup lehernya tanpa permisi.


Mengecup basah dan menambah tanda kemerahan yang sudah ada sebelumnya. Bella hanya bisa pasrah. Bahkan saat Bara melepas jaket pink kesukaannya, ia hanya bisa menurut tanpa bisa menolak. Dengan sedikit dorongan, Bara menggiring istrinya menuju ranjang empuk hotel.


“Bagaimana kasurnya, Bell?” tanya Bara setelah berhasil menjatuhkan tubuh mungil Bella ke atas kasur.


“Mas,” bisik Bella. Pikirannya kacau. Perasaannya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas, jantungnya berdetak kencang.


“Hmmm,” gumam Bara, melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda dan mengecup kembali leher jenjang istrinya.


“Aku lebih suka melihatnya seperti ini, Sayang,” bisik Bara di sela kecupannya.


“Cantik!”


Satu kata yang membuat Bella merona kembali.


“Mas,” panggil Bella, memberanikan diri menyentuh punggung Bara yang sekarang sedang menindih tubuh mungilnya.


“Aduh bagaimana ini?” tanya Bella dalam hati, mulai panik.


Jemari Bara sedang bermain-main di tali tank top hitam Bella. Menarik turun, membuat bahu Bella terekspos sempurna.


Bara tersenyum, menatap tulang selangka yang terlihat seksi di matanya. Ia tahu, Bella sedang ketakutan bercampur panik saat ini.


“Bell, kamu baik-baik saja,” ucap Bara menenangkan Bella yang sudah memejamkan matanya dengan rapat.


Jemarinya sedang menyentuh tulang selangka itu dengan nakalnya, tetapi pandangan Bara menatap lekat pada manik mata istrinya.


“Kalau aku meminta hakku sekarang, apa kamu akan memberinya padaku?” tanya Bara.


Bella tersentak. Ucapan Rissa tadi pagi, kembali berputar-putar di otaknya. Semuanya muncul dan terdengar jelas. Bella jadi ragu, tidak selantang tadi pagi saat menjawab Rissa.


Ia menatap Bara, berusaha menilai sendiri seperti apa laki-laki yang menjadi suaminya saat ini.


“Aku ...."


“Kamu kenapa, Bell?” tanya Bara, memotong ucapan Bella yang menggantung.


Raut wajah Bella berubah.


“Mas, aku ... aku ... mau ke toilet dulu, ya,” pinta Bella, memohon.


Ia tidak bisa memikirkan alasan yang lain lagi. Di saat terdesak seperti ini, kerja otaknya melambat. Hanya alasan itu saja yang terpikir olehnya.


Bara tertawa lepas, melihat betapa polosnya sang istri. Ia memilih melepaskan istrinya ke toilet. Lagi pula masih terlalu pagi untuk melakukan hal gila seperti tadi.


“Kamu benar-benar harus kerja keras, Bar,” ucap Bara pelan, menatap punggung Bella yang hilang di balik pintu kamar mandi.


****


Terima kasih.


Love you all.