
Sekitar dua jam perjalanan dari titik terakhir mereka berhenti, barulah mereka semua sampai di kawasan pondok pesantren kakek.
Sean memperlambat laju mobilnya, ia mengamati keadaan sekitar yang menurutnya tak asing.
"Apakah kita pernah tinggal di sini Ndre? " tanya Sean.
"Kita lahir di sini Sean. Aku juga pernah tinggal di sini selama Daddy mencari mu. "
"Ehm pantas saja aku merasa tak asing. Kalau tak salah ada tempat bermain dan kolam berenang mini di sini. "Sean coba menerka. Ada hal yang membuatnya tiba-tiba teringat, Ketika melihat sebuah masjid di sisi jalan yang mereka lewati.
"Kau ingat Sean! dulu kakek selalu memaksa kita untuk sholat di masjid itu. Dia juga sering memukul kaki kita dengan penggaris jika kita tak ikut sholat berjamaah. " Andre.
Sean tersenyum. "Entahlah tapi aku tak asing dengan masjid itu. "tunjuk Sean dengan memoncongkan sedikit bibirnya.
"Iya kita lari dan kabur ketika waktu sholat tiba ha ha. Setelah itu kita bersembunyi di tempat rahasia, sampai satu pesantren ini mencari keberadaan bkita Sean, ha ha. Apa kau tak ingat betapa bandelnya kita dulu. " Andre merasa senang menceritakan kejadian masa kecilnya.
Maklum saja, sejak kehilangan saudara kembarnya, Andre jadi sosok yang berbeda, lebih tertutup, tak mau bergaul dengan siapa pun, dan jadi seorang yang bersikap arogan.
Mayang juga mengedarkan pandangan ke sekitaran pesantren.
"Aku juga mau anak ku di titipkan di sini. Biar dia tumbuh jadi anak yang sholeh. " Mayang.
"Iya aku berharap Kakek selalu sehat, hingga tetap bisa mengurusi pesantren ini sampai anak-anak kita bisa tinggal di lingkungan yang tenang seperti ini. " Andre.
Sementara mereka ngobrol, Hesti saat itu tertidur pulas. Ia merasa begitu lelah , karena terus berlari dan bersembunyi dari kejaran orang suruhan kakek Tino.
Mobil terparkir di sebuah rumah yang tampak asri, rumah sederhana tempat tinggal kakek mereka.
Mendengar suara mobil, segera saja Pak kiyai menghampiri dan menyambut kedatangan mereka.
Bola mata lelaki tua tersebut memerah, ketika melihat Sean. Tanpa menunggu mereka menyapa terlebih dahulu, sang kakek langsung menggambur memeluk cucunya.
"Andreas hiks," sang Kakek menggaru biru memeluk Sean.
Meski Sean dan Andre terlihat begitu mirip. Namun, sejak dahulu ia tak pernah salah mengenali sang cucu. Karena sudah sejak bayi ia melihat pertumbuhan mereka hingga mereka di berada di usia balita.
"Alhamdulillah, Akhirnya kamu kembali Dek, hiks hiks. " Kakek menangis memeluk cucunya.
Sean ikut haru, karena ia bisa melihat keluarganya yang lain, setelah kedua orang tuanya meninggal. Sean membalas pelukan kakek.
"Apa kabar Kek? " tanya Sean.
"Alhamdulillah, Kakek benar-benar bersyukur karena di beri umur panjang untuk kembali bertemu dengan mu. " Kakek.
"Iya Kek."
Setelah melepaskan rindu, sang kakek melihat ke arah Hesti.
"Dia istri mu? " tanya kakek.
"Eh bukan Kek. "
"Jadi siapa? " tanya kakek.
"Dia gadis yang kami temui di jalan, besok rencananya saya, mau mengantarkannya, pulang. " Sean.
"Hah? Aduh anak gadis orang harus cepat di antar pulang! kasihan orang tuanya pasti mencarinya. Kamu istirahat sebentar, setelah itu langsung kamu antar pulang. Kalau terlalu lama di sini nanti timbul fitnah Dek! "
Sang Kakek memanggil Sean dengan panggilan Dek, karena Sean anak bungsu. Sebenarnya Andre sendiri di panggil abang oleh si kakek.
Sean menganggukkan kepalanya yang tak gatal," i-iya Kek. "
Setelah berbincang dengan Sean, Andre dan Mayang menghampiri kakek.
"Kek, yang ini baru cucu menantu Kakek," menunjuk kearah Mayang "cantik kan? " tanyanya dengan bangga.
"Alhamdulillah, semoga hatinya lebih cantik dari parasnya, supaya bisa membimbing kamu ke jalan yang benar. " Kakek
Mayang menghampiri sang kakek kemudian mencium punggung tangan orang sepuh tersebut.
"Siapa Nama kamu cu ? " tanya kakek.
"Mayang Kek, "jawab Mayang seraya tersenyum.
Sang Kakek tersenyum ketika melihat perut Mayang yang membuncit.
"Alhamdulillah, semoga kakek di beri umur panjang hingga bisa, melihat cicit kakek lahir ke dunia ini . "
Setelah acara penyambutan tersebut, mereka di bawa ke dalam rumah kakek. Di sana kakek tinggal sendiri.
Namun, ada beberapa Santri yang biasa membantu Kakek, para ustadz aja juga yang tinggal di samping rumah kakek.
Mendengar kehadiran cucu kakek datang, mereka menyiapkan penyambutan dengan membuat beberapa panganan dan memasak makan malam untuk tamu mereka.
Setelah beristirahat kurang lebih dua jam, hari pun semakin sore, Sean di suruh sang Kakek untuk segera mengantar Hesti.
Akhirnya selepas Magrib, Sean dan Hesti berangkat. Sebelumnya Kakek memberi beberapa nasehat kepada Sean agar tak menyentuh Hesti. Dan beberapa nasehat lainya sebagai bekal kepergian sang cucu.
Kakek juga menitipkan beberapa panganan khas pondok pesantren yakni berupa dodol ketan dan labu sebagai oleh-oleh mengunjungi pesantren.
Mereka pun berangkat. Di perjalanan Sean beberapa kali singgah ke atm untuk mengambil uang. Rencananya ia akan membantu melunasi hutang keluarga Hesti.
Selain itu mereka juga singgah. Ke sebuah supermarket.
"Ayo turun Hesti. " Sean perintah Sean ketika mobil terparkir rapi di kawasan supermarket.
"Ehm, Emang mau beli apa Om? " tanya Hesti.
"Kamu beli apa saja yang kamu butuhkan untuk keluarga kamu, bisa sembako, mainan dan snack mungkin untuk adik kamu. " Sean.
"Hah yang benar Om? " tanya Hesti dengan bola mata berbinar.
"Iya ambil saja, belanja sepuasnya, aku yang bayar. " Sean.
Bunkan main senangnya hati Hesti, tanpa canggung ia meraih troli kemudian berkeliling supermarket tersebut. Sean merasa iba dengan gadis tersebut, karena melihat penampilan Hesti sebelumnya dengan menggunakan pakaian lusuh dan sedikit robek, terlihat sekali jika ia berasal dari keluarga miskin.
"Om boleh beli beras satu karung ngak? " tanya Hesti polos. Sementara Sean saat itu sedang mengakutak-katik smartphone.
"Boleh, Ambil saja sekarung dua karung , sepuluh karung pun boleh, " sahut Sean masih fokus membalas chatnya.
"Sekarung sajalah, kasihan Om. Nanti uang Om habis. " Hesti.
"Tak hanya beras, Hesti mengambil susu kental manis, gula kopi, minyak goreng dan semua yang di rasa di butuhkan oleh keluarganya. "
Belanjaan Hesti satu trolli penuh.
"Sudah Om, "ucap Hesti.
Sean mengamati belanjaan Hesti.
"Kamu ngak beli cemilan untuk adek-adek kamu? " tanya Sean.
"Ini saja sudah banyak Om, kasihan nanti uang Om habis," ucapnya.
Sean tersenyum." Adek kamu berapa orang? "tanya Sean.
"Ada delapan orang Om. "
"Delapan orang? dengan kamu jadi sembilan? " bukan main syoknya Sean.
"Ya sudah. Nanti aku kasih jajan saja. " Sean.
Setelah berbelanja mereka pun langsung menuju kediaman keluarga Hesti. Kampung Hesti berjarak sekitar kurang lebih dua jam perjalanan dari pondok pesantren Kakek.
Saat mereka tiba di rumah Hesti. Di rumah Hesti terlihat seperti ada keramaian, seperti ada acara.
Melihat mobil mewah menghampiri rumah Hesti, para warga pun berbondong-bondong melihat siapa yang datang.
Mereka kaget ketika melihat Hesti dengan busana syar'inya keluar dari mobil mewah tersebut bersamaan dengan pria begitu tampan dan macho.
Beberapa orang bahkan tak bekedip, belum pernah ada pria yang begitu tampan dan gagah seperti Sean yang bertandang di kampung mereka.
Ketika hendak menuju rumah, mereka di kejutkan dengan suara teriakan seseorang.
"Dia yang telah membawa kabur calon istri ku! " tunjuk pria tua yang umurnya berkisaran enam puluh tahun.
Semua mata tertuju pada Sean saat itu
He he bersambung dulu reader, karena author hari ini crazy up tunggu aja sambungan episode selanjutnya.
So mumpung masih segar, bagi dong votenya ke author he he, kopi ☕️ juga boleh biar semangat nulisnya. 🙈😃😃🙏