Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Ribut


Keluarga Adiaksa sedang bersiap menuju rumah keluarga Ferdi, mereka bermaksud untuk membicarakan tentang pertanggung jawaban Ferdi atas anak yang di kandung oleh Resti.


Resti memberi alamat rumah Ferdi, dan mengarahkan pada Adiaksa.


Mobil mereka sampai di sebuah rumah mewah.


Adiaksa seperti mengenali rumah mewah yang ada di hadapan mereka tersebut.


"Bukannya ini rumah pak Bondan, pengusaha real estate itu ? "tanya Adiaksa.


"Iya Pak, Ferdi itu anaknya Pak Bondan Prakoso " Resti.


Adelia tersenyum,' Syukurlah calon suami Resti itu orang kaya. Jadi anakku akan hidup senang, meski papinya hanya sedikit membagikan warisan kepada Resti. ' batin Adelia.


Mobil mereka berhenti di depan pagar tinggi dan mewah.


Kebetulan saat itu sebuah mobil mewah baru saja keluar dari pagar tersebut.


Resti melihat siapa yang mengendarai mobil itu dan dugaanya ternyata benar, yang mengendarai mobil tersebut adalah Ferdi.


"Papi, yang baru saja keluar itu mobil Ferdi Papi! " seru Resti.


"Emangnya kenapa? kita ingin bertemu orang tuanya, percuma bicara pada Ferdi. " Adiaksa.


Ketika satpam hendak menutup pintu dengan remot, Adiaksa buru-buru menghampiri pagar tersebut.


"Permisi, bisa saya bertemu dengan pak Bondan? " Adiaksa.


"Anda siapa ,dan perlu apa? " tanya pak Satpam.


Satpam tersebut melirik ke arah mobil dan mengenali Resti.


"Saya orang tuanya Resti, ada urusan yang sangat penting yang akan saya bicarakan pada Pak Bondan."


"Baiklah, sebentar saya konfirmasi ke pak Bondan. " Satpam.


"Baik, Terima kasih. "


Satpam tersebut menghampiri postnya kemudian menelpon seseorang, beberapa saat kemudian ia kembali membukakan pintu gerbang untuk Adiaksa.


Adiaksa berlari kecil menuju mobilnya dan langsung membawa mobilnya masuk ke halaman rumah pak Bondan.


Sesampainya di halaman depan ,Seseorang langsung membukakan mereka pintu.


Adiaksa dan keluarga pun di persilahkan masuk.


"Silakan masuk Tuan, tuan Bondan sedang bersiap-siap."


"Terima kasih ," Adiaksa.


Mereka pun duduk di sofa ruang tamu.


Adelia takjub melihat ruang tamu keluarga pak Bondan, design rumah tersebut begitu mewah dan elegan dengan furnitur import dengan harga selangit pada setiap sudutnya..


"Papi,lihat rumah calon besan kita, begitu mewah dengan furnitur import yang akan menambah Pricetise mereka. Harusnya kita juga merubah desain rumah kita Papi, biar lebih ke kinian dan terkesan mewah, malu dong kita sama besan-besan kita. "


"Hus diam Mami, kita di sini bukan untuk membandingkan atau mencari referensi desain rumah, kita di sini minta pertanggung jawaban orang tua Ferdi."


"Tapi Papi menantu kita itu orang tajir, desain rumahnya saja begitu bagus, sementara desain rumah kita desain lama. Mami bisa malu sama besan kita. "


Resti menundukkan wajahnya, seraya menyimpul dress yang ia kenakan. Ia begitu takut dan malu menghadapi situasi seperti ini apalagi ia tahu seperti apa mommy nya Ferdi.


Tak lama berselang, Pak Bondan dan istri datang menemui mereka.


Adiaksa berdiri menyambut jabatan tangan pak Bondan.


"Silakan duduk. "


Suasana terasa tegang saat itu, Adiaksa menatap sesaat wajah pak Bondan, ia sendiri binggung untuk memulainya dari mana obrolan mereka.


"Ada yang bisa saya bantu? " tanya pak Bondan memecahkan suasana sunyi yang terasa menegangkan.


"Begini Pak, kedatangan kami sekeluarga karena ada hal yang penting. Menyangkut hubungan Resti dan Ferdi. " Adiaksa.


"Hubungan apa? maksudnya? "


"Resti dan Ferdi sudah bertindak di luar batas Pak, Hingga Resti sekarang mengandung anak Ferdi. "


"Apa?! " Nyonya Bondan langsung naik pitam. Ia pun berdiri tegak


Adiaksa dan Adelia tersentak kaget.


"Resti! kenapa kalian bisa sampai bertindak sejauh itu? kamu itu perempuan harusnya kamu bisa jaga diri kamu baik-baik, dasar kamunya saja yang keganjenan, ngumpanin anak saya, kucing kalau di kasih ikan ya ngak nolak lah!" cecar Mona istri pak Bondan.


"Saya ngak mau tanggung jawab! Ferdi masih sekolah! dan ngak mungkin dia menikahi kamu. " imbuhnya lagi.


Adelia membelalakan matanya, tak Terima jika Resti di hina.


"Eh nyonya kalau ngomong itu yang benar! anak saya itu anak baik-baik. Pasti si Ferdi yang memaksa Resti untuk melakukan hal tersebut! " Adelia.


Keduanya pun berdiri dan hendak saling menyerang.


"Apa, berani kamu ya?! "Mona


"Ayo siapa takut! " Adelia.


Keadaan semakin tak kondusif. Adiaksa dan pak Bondan mereka ikut berdiri untuk melerai istri-istrinya yang sudah siap saling menyerang


"Sudah Mami! Jangan terpancing emosi, kita kesini datang baik-baik, bicarakan baik-baik. " Adiaksa.


"Bagaimana tak emosi Papi, anak kita di hina di depan kita! "


"Eh saya bukan menghin! tapi memang kenyataan seperti itu! " sahut Mona dengan lebih nyolot.


Adelia dan Adiaksa semakin kesal. Namun mereka berusaha untuk sabar.


"Papi lihatlah dia menghina Anak-anak kita. Ngak bisa di biarkan itu Papi."


Resti tertunduk dan menangis, sementara pak Bondan menenangkan istrinya.


"Sudah Mami, bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini, jika tak ada yang mengalah, sabar saja. "


"Eh ngak usah sabar-sabar, saya tetap ngak setuju kalau anak saya menikahi putri mu yang ganjen itu! pulang sana kalian jangan pernah datang lagi. " Mona.


"Tapi nyonya, anak saya juga masih sekolah, saya juga malu, bagaimana pun juga Ferdi harus bertanggung jawab! "


"Tidak bisa, gugurin saja kandungan kamu Resti! Dan jangan pernah ganggu Ferdi lagi! Kamu sengaja kan merayu Ferdi?! rasain, sekarang saya ngak akan pernah merestui kamu untuk menikah dengan Ferdi, pulang saja kalian! Pulang!" Mona mengusir mereka.


Adelia semakin menggeram.


Tapi Nyonya, jika anda tak mau bertanggung jawab saya akan laporkan perbuatan Ferdi ke polisi.


"Lapor saja, Ferdi itu belum delapan belas tahun, paling juga kalian yang malu, punya anak gadis bunting di luar nikah! "Mona


Adiaksa semakin geram, ingin sekali ia menampar wanita tersebut.


Apalagi Adelia, ingin rasanya ia mematahkan barang leher dari nyonya Bondan tersebut.


"Benar pak Adi, Ferdi masih sekolah, bagaimana jika kami beri uang kompensasi saja sebagai pertanggung jawaban kepada putri anda. Sebutkan saja berapa nominalnya. " Pak Bondan.


Adiaksa membelalakan matanya, tanpa bisa menahan lagi, ia langsung melompat, menghampiri dan menghajar pak Bondan.


Buk satu bogem mentah mendarat di wajah pak Bondan.


"Papi! "


Adelia dan Resti berteriak.


Apa yang terjadi???, tenang saja author up lagi, jangan lupa dukungannya per part ya. 😘😘😘