
Perjalanan mereka di lanjutkan menuju pesantren kakek.
Karena mereka bawa ibu hamil yang selalu lapar, mereka pun beberapa kali singgah ke tokoh untuk beli makanan ringan atau minuman mineral.
"Mas aku sudah lapar nih, makanan beginian cuma buat perutku kembung saja." Mayang.
"Kenapa ngak bilang sih Sayang. Kita cari rumah makan terdekat saja. "
"Sean kalau ada rumah makan atau restoran singgah saja, anak dan istriku sedah lapar! " Andre.
"Beres, " Sean.
Atas perintah Andre, Sean pun menepikan mobilnya di sebuah rumah makan di pinggir jalan.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, Sean melepas seat belt nya.
Andre segera turun kemudian membuka pintu mobil untuk sang istri.
"Ayo turun!" titah Sean pada Hesti, sementara Mayang dan Andre sudah keluar dari mobil tersebut.
"Saya tunggu di sini saja Om," sahutnya. Hesti sungkan untuk turun, karena pakaian yang sedikit lusuh dan robek beberapa bagian, dengan wajah yang juga kotor dan dekil pula.
"Kenapa kamu ngak mau makan? Emang kamu ngak lapar? " tanya Sean seraya melihat Hesti yang sedari tadi menegang perutnya.
Kreaakkk...
Bunyi tersebut langsung keluar dari perut Hesti, seolah-olah menjawab pertanyaan dari Sean.
Hesti langsung tertunduk malu dengan wajah yang merona, karena sebenarnya ia sangat lapar saat itu.
"Ehm lapar, tapi dengan penampilan saya, seperti ini, saya takut mengganggu pengunjung restoran lainnya. "
Sean tersenyum tipis melihat ke polosan gadis tersebut.
Mendengar hal tersebut Mayang langsung menghampiri bagasi belakang.
"Sean buka bagasi belakang! " seru Mayang. Meski umur Mayang sepuluh tahun lebih muda dari Sean, tetap saja statusnya lebih tinggi sebagai kakak ipar Sean, ya walaupun Andre dan Sean lahir hanya berbeda dalam hitungan menit saja.
Sean kembali masuk masuk ke dalam mobil dan membuka bagasi.
Mayang membuka kopernya mengeluarkan satu stell pakaian syar'i untuk Hesti.
Mayang sendiri paham, di lingkungan pesantren. Semua wanita yang berkunjung ke pesantren harus menutup aurat, tanpa terkecuali. Selain itu, ia juga kasihan melihat Hesti dengan baju yang lusuh dan wajah yang dekil, mungkin dalam pelariannya Hesti sempat terjatuh hingga wajahnya berdebu dan ada beberapa luka pada wajahnya. Dan mungkin saja, Hesti tak sempat mencuci wajahnya karena selalu di kejar dua orang tersebut.
Mayang menghampiri Hesti. "Kamu pakai baju saya saja. Lagian kita mau ke pesantren, jadi pakaian kamu harus tertutup, " ucap Mayang sambil menyodorkan stelan ke pada Hesti.
Hesti menyambut dengan bahagia,
"Makasih Kak. "
"Iya sama-sama, Ayo saya temani kamu ke kamar mandi. " Mayang.
"Eh, ngak usah Yank. Kamar mandi umum licin, biar Sean saja yang menemani Hesti. Udah kamu sama aku saja. " Sahut Andre.
"Hah! Kok aku ?. " Sean.
"Iya kamulah, ngak mungkin aku kan. Sudah kamu temani Hesti, tunggu saja di luar toilet. " Andre.
Meski merasa keberatan, tapi Sean bjuga tak punya pilihan lain. Karena kamar mandi umum berada terpisah dari rumah makan tersebut.
"Ya sudah! Ayo Hesti, tapi jangan Lama-lama ganti bajunya. " Sean.
Hesti mengikuti saja. Ia tak lagi takut, karena meski tampang Sean dan Andre sangar. Namun, ia yakin kedua orang tersebut tak berniat jahat padanya.
Mayang dan Andre langsung menuju etalase di mana tersedia aneka hidangan.
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, sepasang suami-istri itu duduk secara lesehan yang tersedia juga di rumah makan tersebut.
Mayang bisa sedikit merenggang sedikit otot-ototnya. Ia duduk dan berselonjor.
"Capek ya Sayang? " tanya Andre seraya memijit telapak kaki Mayang. Sementara Mayang bersandar pada pagar pembatas.
" Iya Mas, akhir-akhir ini aku gampang capek. "
"Makanya kamu harus banyak istirahat. "
Andre berpindah memijit bagian pundak istrinya.
Andre memeluk Mayang dan menariknya dalam pelukannya.
"Aku penasaran dengan wajah buah hati kita. Setelah pulang nanti kita lakukan USG. "
"Iya Mas. "
Andre kembali memijat bagian tubuh Mayang yang terasa sakit.
Tiba-tiba Mayang teringat sesuatu.
"Mas bagaimana kalau si Hesti kita bawa tinggal bersama kita saja. Lumayan lah aku ada temennya. " Mayang.
"Ehm, Ngaklah, aku ngak suka kalau orang asing tinggal di rumah kita. Aku takut ia memanfaatkan kebaikan kita, dengan bertindak hal-hal aneh. " Andre.
"Ehm, kamu suka so Uzon aja Mas. " Mayang.
"Aku harus selalu waspada sayang, karena aku sudah menghadapi banyak Orang-orang munafik . Pura-pura baik, lemah dan tak berdaya, tapi ternyata dialah dalang yang akan menghancurkan kita. " Andre.
"Ehm, iya sih. Tapi aku kasihan aja Mas. Nasibnya hampir sama seperti nasib ku. " Mayang.
"Iya, tapi Lihat saja nanti , Sean bisa mengatasi orang-orang yang berniat jahat atau sekedar pura-pura.Karena ia lebih sensitif membaca karakter orang lain. " Andre.
"Hm, moga saja aku ngak salah dalam menilai. " Mayang.
Beberapa saat kemudian seorang pramusaji datang membawakan pesanan mereka. Tanpa menunggu Sean dan Hesti, mereka langsung menyantap makan mereka yang tersaji hangat di atas meja.
Andre membantu sang istri melepaskan cangkang kepiting dan kulit udang. Tanpa repot dan belepotan, Mayang bisa menikmati hidangan tersebut.
***
Sean berdiri di samping toilet yang ada di rumah makan tersebut. Ia jadi pusat perhatian beberapa wanita yang hendak menuju kamar mandi, karena wajahnya yang tampan dengan bentuk tubuh profosional.
Mereka mencuri-curi pandang ke arah Sean. Kemudian berbisik tentang ke kaguman mereka terhadap paras rupawan Sean.
Sean sedikit be-te karena harus menunggu Hesti berganti pakaian. Untuk mengobati kebosanan, ia pun bermain game online.
Setelah lima belas menit, Hesti baru keluar dari toilet dengan wajah yang sedikit segar. Saat itu barulah terlihat wajah Hesti sesungguhnya.
Hesti yang mengenakan pakaian syar'i menghampiri Sean. "Ayo Om aku sudah selesai. "
Sean menoleh ke arah Hesti, sejenak ia terpaku seraya menatap wajah Hesti.Hampir saja ia tak mengenali Hesti.
"Om, ayo! aku sudah selesai. " cetus Hesti lagi, karena Sean hanya diam.
Sean memperhatikan Hesti dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Om kok bengong sih?" tanya Hesti malu-malu kucing karena melihat tatapan Sean yang tak biasa kepadanya.
" Oh, Sean pun tersadar dari lamunannya "Ayo! " Sean beranjak, mereka pun berjalan beriringan menuju rumah makan.
"Kamu mau makan apa? " tanya Sean ketika mereka tiba di etalase tempat menyimpan makanan.
"Aku boleh pilih makan apa saja Om? " tanya Hesti dengan wajah yang berbinar, ia pun menelan liurnya bekali-kali karena melihat hidangan yang semuanya terlihat lezat. Bahkan setahun sekali saja dirinya belum tentu bisa menikmati makanan seperti ini.
"Iya pilihlah, sebut saja apa yang kau mau! Nanti akan di antar oleh pelayan restoran. " Sean.
"Wah kalau gitu. Aku mau ayam bakar, sambal udang, sambal ati dan kentang, sayur terong dan perkedel. Sop Iya juga mau. " Hesti.
Sean kaget mendengar pesanan Hesti.
'Badan sekecil itu, ternyata nafsu makannya besar juga,' batin Sean seraya tersenyum sendiri.
Setelah memesan makanan. Mereka mencari keberadaan Mayang dan Andre, kemudian menghampirinya.
Saat itu tak hanya Mayang tapi Andre juga kaget melihat perubahan Hesti.
Ternyata Hesti merupakan gadis cantik berkulit putih, meski kulitnya tak terlalu bersih, karena ada beberapa bekas luka di tangannya dan wajahnya, dan saat itu terlihat perbedaan jauh dari Hesti dari pada sebelumnya. Hesti juga terlihat semakin cantik dengan menggunakan hijab
Mereka pun menikmati hidangan tersebut, sebelum melanjutkan perjalanan.
Bersambung dulu ya reader, Insya Allah author crazy up lagi.
.
Ada tokek main odong-odong, bagi votenya Dong.