
Waktu menunjukan pukul empat sore.
Mayang mengemaskan peralatannya karena sudah waktunya ia pulang. Pekerjaannya pun telah selesai.
Keringat bercucuran di wajah dan pakaiannya, Semakin hari tubuhnya semakin lemah, maklum saja apa yang ia konsumsi harus di bagi tiga dengan janinnya. Selain itu perutnya juga sudah terasa berat, berdiri seharian membuat kaki dan perut bagian bawahnya menjadi keram.
Mayang bersandar pada kursi yang ada di sudut ruangan tersebut, ia melepaskan topinya dan mengibas-ngibaskannya pada tubuhnya, keringat terus saja mengalir, padahal ruangan tersebut ber AC.
Reyfan tanpa sengaja melihat Mayang duduk sendiri bersandar dengan perut yang sedikit membuncit.
"Hm, ternyata dia sudah menikah, pantas saja dia selalu menolak tawaran ku," gumannya.
Reyfan terus memperhatikan Mayang selama beberapa saat, ketika akan bangkit, tiba-tiba saja Mayang merasakan kram pada bagian perutnya.
"Akh! " Mayang memengang bagian perut bawahnya. Mungkin karena terlalu lelah hingga terjadi kram pada otot-otot bagian bawah perutnya. Ia pun kembali duduk seraya memegang bagian perut yang terasa sakit.
Reyfan menghampiri Mayang yang terlihat kesakitan.
"ada yang bisa saya bantu? "tanya Reyfan.
Mayang menggeleng. "Tidak terima kasih. "
Mayang coba bangkit kembali, tapi perutnya masih terasa sakit.
"Jangan di paksakan! kau bisa keguguran. Ayo aku bantu kau. "
Reyfan merangkul Mayang dan hendak menopang tubuhnya.
Tentu saja Mayang menolak, selain tak ingin merepotkan Mayang sendiri tak pede karena tubuhnya saat itu di banjiri oleh keringat.
Tapi Reyfan terus memaksa, mereka juga tak mungkin berada di tempat tersebut terlalu lama, karena sebentar lagi gedung tersebut akan di tutup dan lampu-lampu akan di matikan.
Akhirnya dengan di topang Reyfan Mayang pun terlalu banyak bergerak karena berat sebagian tubuhnya berada di pundak reyfan.
Mereka langsung menuju lift dan menuju basement di mana mobil Reyfan terparkir dengan rapi.
Keduanya pun masuk kedalam mobil.
Reyfan membawa mobil keluar dari basement.
"Biar aku antar kau sekalian, dimana alamat mu? " tanya Reyfan.
Mayang pun memberikan alamatnya kepada Reyfan.
Sepanjang perjalanan Mayang menahan rasa sakit. Untung saja ia dia antar dengan menggunakan mobil mewah Reyfan, hingga guncang aspal yang tak rata dapat di redam dengan suspensi yang baik dari mobil mewah jenis sporty tersebut.
Mayang akan merasa lebih sakit jika ia naik kendaraan bermotor, karena akan membuat perutnya ikut berguncang.
Mayang bersandar, menikmati suhu yang dingin dan harum di dalam mobil Reyfan. Matanya pun mulai mengantuk. Lelehan keringat sesekali menetes di pipi Mayang.
Melihat Mayang ,Reyfan pun merasa kasihan.
'Dimana suaminya? istrinya sedang hamil tapi masih tetap bekerja, mana pekerjaan berat lagi. Kasihan gadis ini sepertinya ia menikah di usia muda, atau memang ia ngak punya suami? Astaghfirullah kok aku jadi berprangka yang ngak baik ya terhadap dia,' batin Reyfan seraya melirik ke arah Mayang yang bersandar seraya mengatur nafasnya.
"Mbak, suaminya ngak ngelarang ya kamu bekerja seperti ini? " Akhirnya pertanyaan tersebut tercetus dari bibirnya karena merasa iba melihat keadaan Mayang.
"Ngak, "sahut Mayang singkat.
Keduanya kembali bungkam, Reyfan juga tak berani bertanya lagi karena sepertinya Mayang tak ingin di usik.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di kost-an Mayang.
Karena fokus masuk ke halaman parkir yang sempit di penuhi dengan kendaraan bermotor, akibat beberapa penghuni sudah pada pulang dari kegiatan di luar kost-an. Reyfan memakir mobilnya sedikit ke kiri, hingga ia tak memperhatikan mobil Andre.
Setelah parkir dengan benar, ia turun dan membuka pintu mobilnya untuk memudahkan Mayang keluar dari mobil.
Reyfan tak berniat apa-apa, ia hanya ingin membantu meski pun ada yang aneh dari Mayang, kenapa Mayang tinggal di kost-an, padahal ia sudah bersuami.
Mayang keluar dari mobil dan masih di topang oleh Reyfan.
"Ayo Mbak, saya bantu."
Mayang melihat ketulusan di mata pria tersebut, seperti melihat ketulusan di mata dokter Radit.
Ia pun mau di bantu oleh Reyfan, lagi pula Mayang tak ingin terjadi sesuatu terhadap diri dan kandungannya.
Andre masih menunggu, sudah empat jam ia menunggu Mayang pulang. Sementara penghuni kost-an yang lain juga sudah mengintip di atas pagar-pagar tangga untuk melihat kehebohan yang di janjikan oleh si kembar.
Mayang berjalan tertatih dengan di bantu oleh Reyfan yang merangkul dan menopang tubuh Mayang.
Alangkah kagetnya Andre ketika melihat, Reyfan dan Mayang terlihat mesra, padahal saat itu Mayang tengah meringis kesakitan. Karena Andre cemburu, ia pun salah mempersepsikan keadaan.
"Dasar pengkhiat! " Andre berdiri dan langsung berlari menghampiri Reyfan.
Mendengar suara bariton Andre, Anak-anak kost-an berhamburan turun untuk melihat ketegangan tersebut. Luzy dan Lucy bersorak gembira. Mereka senang karena merasa rencana mereka berhasil.
Buk...
Satu pukulan menghantam wajah Reyfan.
Mayang dan Reyfan syok, mereka tak bisa menghindar.
Reyfan pun tersungkur dengan hidung dan mulut yang berdarah.
"Akh! " Mayang kaget, tak menyangka suaminya ada di sini.
Reyfan menoleh kearah Andre yang hendak memukulnya kembali.
"Tunggu Tuan ada apa ini? "tanya Reyfan coba menahan pukulan Andre.
"Ternyata kau yang selama ini menyembunyikan istri ku!" teriak Andre.
" istri? "
Bruk tanpa sempat menjelaskan, Andre kembali meninju wajah Reyfan.
Buk, Andre kembali mendaratkan pukulan ke wajah Reyfan.
"Tunggu Tuan Andre! "Teriak Mayang ingin menghentikan kebuasan Andre.
Andre berhenti dan menoleh ke arah Mayang. Ia pun menghampiri Mayang, seseorang yang selama ini ia cari hingga hampir gila, kini ada di hadapannya.
Andre tak menghiraukan yang lain, yang penting Mayang sudah ada di hadapannya saat ini.
Andre langsung menghampiri Mayang dan melihatnya dengan tatapan berembun.
Sementara Mayang sedikit takut melihat tatapan Andre tersebut.
Para penghuni kost turun ke lantai bawah, berkumpul untuk menyaksikan adegan aktion tersebut.
tangan Andre meraba wajah Mayang yang terlihat pucat.
"Mayang akhirnya aku menemukan mu, " ucap Andre lirih dengan bibir gemetar, ia pun langsung memeluk Mayang melepaskan rindunya. Andre mencium-cijm seluruh permukaan wajah Mayang dari kening, pipi, bibir dan dagunya kemudian kembali memeluknya. Mayang hanya terpaku karena syok.
semua yang ada di sana memebelalakan matanya melihat Andre yang memeluk Mayang dengan penuh kasih sayang.
Lucy dan Luzy memebelalakan matanya karena benar-benar tak menyangka. begitupun Reyfan yang tak pernah menyangka jika wanita yang di taksirnya selama ini adalah istri bos besarnya sendiri.
Bersambung, sambil nunggu author up mampir yuk di novel author yang lain.