
Sean menatap Steve seperti ingin menantangnya.
"Steve, sudah bersiap untuk menembakan selongsong peluru ke kepala Sean. "
"Stev, jangan gegabah! " Leon coba menahan tangan Steve.
"Dia adalah saudara tuan Andre, Anak dari Adam Williams. Kekuasaan Adam Williams masih banyak berpengaruh sampai saat ini, Dan tuan Andre lah yang saat ini menggantikan nya. "
"Aku tidak peduli! Penghianat tetaplah penghianat! " Steve.
"Aku bukan penghianat, Steve! Aku memang ingin berhenti menjadi mata-mata, tidak untuk Red Eyes ataupun Black Eyed. Aku hanya ingin hidup normal ! "Sean
"Kau sudah tahu konsekuensi dari keputusan mu itu?! masa bakti Red Eyes sepuluh tahun penuh. Dan kau baru menjalani selama delapan tahun! Tak ada toleransi, untuk ini.Kita ini mafia, bukan berandalan jalanan! " Steve.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah, Akan kupikirkan hukum apa yang pantas untuknya! " perintah Steve.
Mereka pun membawa Sean menuju penjara bawah tanah. Di sana Sean dimasukkan ke dalam sel tahanan.
Di tempat itu ia bertemu dengan Banest anggota Blue Eyes.
"Ha ha ha. Apa aku tak salah lihat! Sean John, Ada di sini?! Ha ha ha. "Benest
"Kau yang menangkap dan memenjarakan ku, sekarang kau pula yang masuk dalam penjara ini. Lucu… lucu sekali! "
Ha ha ha.
Banet menertawakan Sean.
"Aku bukan Sean John! Tapi Sean Adam Williams. "
"Aku tak perduli! Yang jelas aku bahagia melihatmu di sini! Ha ha. "
Sean menatap tajam kearah Banet.
"Di mana kekuasaan saudara mu itu! Lihat lah, saudara kembarnya kini berada di penjara bersama dengan para penghianat lainnya. "
Sean duduk, ia tetap bersikap tenang, tak sedikit pun terpancing dengan ucapan pria yang ada di seberang nya.
***
Steve kembali ke markas Red Eyes.
"Bagaimana dengan Blue Dragon? " tanya Steve seraya mendaratkan bokong ya pada kursi kebesaran nya.
"Penyerangan sudah dilakukan, sayangnya, tak ada satu orang pun berada di markas, sepertinya ada yang telah menginformasikan tentang penyerangan kita. " Leon.
"Si*al! Ada pengkhianat di antara kita! Lihat saja aku tak akan segan-segan menghabisinya. "
"Lalu apa yang kau lakukan pada Sean? " tanya Leon.
"Akan ku habis dia! " Steve, "ku rasa Sean adalah penyusup itu! dialah yang diam memberi tahu rencana penyerangan kita. "
"Sebaiknya Jangan gegabah! Ingat siapa dia. Jika kau gegabah, bisa-bisa perang antara Red Eyes dan Black Eyes kembali terjadi, pikirkan dampak buruk dari kemungkinan akan terjadi. " Leon.
"Kenapa harus takut! Bukankah itu bagus! Kita bisa ambil kembali berkuasa di dunia jika Black Eyes bisa kita kalahkan."Steve.
"Lalu apa yang kita lakukan jika kita kalah. Steve, yang kita hadapi ini, Black Eyes. Mereka memiliki senjata nuklir termutakhir saat ini. Seluruh pemimpin Red Eyes adalah orang-orang yang berkuasa dan berpengaruh di dunia. Apalagi kita tak tahu bagaimana perkembangan mereka saat ini, setelah sepuluh tahun tak pernah terjadi perang antara Black Eyes dan Red Eyes. " Leon.
Steve menatap lekat pada Leon, mencoba mencerna kata- kata yang di ucapan oleh Leon.
"Lalu maksudmu kita bebaskan Sean begitu saja! Itu pecundang namanya. Aku tak akan takut, keputusan ku bersifat final. " Steve.
"Pengkhianat harus mati! " Steve.
Saat Steve sedang berdiskusi, datang seorang anggota lainya dengan tergesa-gesa menghampiri Steve dan Leon.
"Tuan! Kita mendapatkan kabar, markas kita di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya di serang oleh kelompok hitam. Mereka menyerang markas kita, merusak dan membakar markas Red Eyes serta menawan ratusan anggota Red Eyes lainya "
Steve dan Leon saling memandang.
"Apa?! markas kita di bakar?! " Steve langsung berdiri.
"Iya Tuan! "
"Siapa yang melakukannya? " tanya Steve
"Sepertinya mereka anggota dari Black Eyes tuan. "
Belum sempat Steve, memberi keputusan, Seorang kembali datang menghampiri mereka.
"Tuan Steve, pabrik perakitan senjata kita di Hongkong di bakar habis! Begitupun beberapa transaksi penjualan ganja dan shabu-shabu kita yang gagal. Ada beberapa gerombolan yang menyerang anggota kita saat melakukan transaksi maupun saat pengiriman barang pesanan. Kita seperti di teror oleh sekelompok besar Tuan! "
Steve masih syok dengan kabar buruk yang datang secara bersamaan tersebut.
"Bagaimana Tuan, Apa anda menerima sambung telekonferensinya.? "
Belum pun sempat Steve menarik nafas, Seseorang kembali datang menghadap Steve.
"Ribuan anggota Red Eyes, ditahan tuan Steve. Mereka mengancam akan membunuh semua anggota Red Eyes dan akan melakukan penyerangan jika anda tak melepaskan Sean. "
Steve semakin memperbesar bola matanya. Saat itu jantungnya berdetak kencang. Ia tak menyangka jika Andre memiliki kekuasaan seperti itu, Steve mengira Andre hanya mengancam, karena ia tak lagi punya kekuasaan setelah mengundurkan diri secara resmi dari kepemimpinan Black Eyes.
Seseorang kembali datang menghampiri Steve. "Tuan, tak hanya di negara Asia dan Eropa, markas besar kita yang ada di kota Washington dan New York juga mendapat teror, mereka membakar sebagian gudang persenjataan kita. "
Steve semakin panik,ia merasa seperti tertekan. Karena harus segera mengambil keputusan.
"Lihatlah Steve, kau masih mau main-main dengan mereka?! " Leon.
"Belum perang saja kita sudah dikalahkan anggota Black Eyes, Apa kau tetap akan membuat Red Eyes hancur terlebih dahulu baru kau membuat keputusan? " tanya Leon.
***
Sebelumnya
Karena merasa tak di respon oleh Steve dalam waktu dua puluh empat jam.
Andre segera mengadakan telekonfresi mendadak. seluruh pemimpin Black Eyes berkumpul dalam kesempatan tersebut.
Andre di dampingi pemimpin Black Eyes untuk negara Indonesia.
Sekitar lima puluh pria gagah perkasa menghadap Andre dalam telekonfresi.
"Ada apa tuan Andre?sepertinya ada masalah besar, hingga kita harus mengadakan pertemuan mendadak seperti ini? " tanya salah seorang dari mereka.
"Steven pemimpin Red Eyes telah berani menculik adik ku. "
"Lalu apa yang anda inginkan Tuan? " tanya salah satu dari pemimpin Black Eyes lagi.
"Aku sudah memberikan surat ancaman padanya, tapi seperti nya Steve main-main pada ku.Aku ingin kita, memberikan ultimatum, tak hanya berupa pesan, tapi juga tekanan terhadap Steve dan Red Eyes, agar ia tak berani menyakiti adikku. "
Tanpa bertanya apa masalahnya, mereka semua menuruti perintah Andre.
Saat itu juga, masing-masing pemimpin dari Black Eyes dari berbagai negara langsung memerintahkan anggota Black Eyes untuk melakukan penyerangan sebagai peringatan pada Red Eyes.
Anggota Black Eyes seluruh dunia secara bersama-sama menyerang markas Red Eyes, mereka juga menahan beberapa anggota Red sebagai tawanan.
***
Steve segera bergerak, ia menuju sebuah layar monitor raksasa, yang telah terhubung dengan markas Black Eyes yang ada di Indonesia.
Steve didampingi Leon dan beberapa petinggi Red Eyes menghadap Layar monitor.
"Apa yang kalian inginkan? " tanya Steve langsung.
"Kembali kan Sean dengan selamat! " Andre.
"Ini bukan urusan kalian, Sean milik Red Eyes, kalian tak perlu ikut campur dalam masalah ini. "
"Sean adalah saudara ku, jika kau sedikit saja menyakitiya maka aku sendiri lah yang akan turun tangan untuk membunuh mu! " ancaman Andre.
"Bagaimana jika aku tak mau? "Steve.
"Aku punya ribuan anggota Red Eye yang ada di tangan ku. Aku hanya minta seribu nyawa tersebut, termasuk diri mu, kau tukar dengan keselamatan Sean! " tawar Andre.
Steve masih terlihat ragu.
"Kau punya waktu lima menit untuk berpikir! " Andre.
Steve semakin membulatkan bola matanya.
Bersambung dulu reader, maaf ya akhir-akhir ini saya up cuma satu bab. Ada kesibukan lain 🙏🙏🙏🙏😅