Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Gempa lokal


Andre menghampiri Mayang yang tengah berganti pakaian, ia langsung memeluk sang istri dari belakang.


"Mas ngagetin saja kamu!" dengus Mayang.


"Sayang, aku ingin meminta ijin sama kamu, untuk ikut memburu John Hendrik dan beberapa rekannya," Andre.


"Ngak boleh Mas! Aku ngak suka kamu ikut-ikutan balas dendam. Aku ngak mau terjadi sesuatu pada kamu. " Mayang.


"Tapi Sayang. Aku hanya ingin memastikan jika John Hendrik menerima hukum setimpal. Aku janji tak akan menyentuhnya, " bujuk Andre lagi.


"Ngak! Sekali tidak ya tidak! Aku ngak mau kau mengotori tangan mu Mas! "


"Tapi Sayang, seka.... "


"Ngak Mas! Kalau kamu nekat pergi, aku juga akan nekat pergi. Aku bawa Anak-anak kamu ketempat yang aman. Biar kami hidup dengan tenang! Silakan saja kau bergabung dengan kawanan mafia mu lagi. Terserah aku tak peduli." Ucap Mayang dengan tegas.


"Tapi Say.. "


"Ngak! Kamu tahu kan Mas, Aku seperti apa. Aku tak hanya sekedar mengancam.Dan jika aku pergi, kamu ngak akan pernah menemukan aku lagi! " Ancam Mayang dengan melempar tatapan bengis terhadap Andre.


Mendengar ancaman sang istri, Andre yang perkasa itu menjadi ciut nyali. Iya tak pernah takut ancaman siapa pun. Tapi tidak dengan ancaman istrinya.


"Iya baiklah kau kau tak mengijinkan ku aku tak akan pergi. "Andre


Ehm, Mayang membuang wajahnya.


"Sudah dong Sayang, jangan ngambek gitu. " dengus Andre ketika melihat Mayang yang terlihat masih emosi.


"Bikin emosi saja! " Dengus Mayang dengan ketus, kemudian ia kembali ke tempat tidurnya dan berbaring.


"Ih gitu saja marah. " Andre ikut naik ke atas tempat tidurnya kemudian memeluknya.


"Ngak usah peluk-peluk Mas, aku lagi sebel sama kamu!"


"Ih gitu aja sebel, Tak cium dulu biar ngak sebel " bujuk Andre.


"Mas udah ah. " Mayang menghindar, tapi Andre tak mau melepaskan. Ia terus mencium bibir Mayang, meski Mayang trus menghindar.


"Mas, udah. "Mayang trus menolak dan menghindar , tapi semakin ia menghindar Andre semakin gencar menciumnya hingga i Mayang terdesak.


"Udah Mas!hua hua. " Mayang mencoba mengatur napasnya. Sementara Andre tersenyum.


"Masih mau marah? kalau marah aku cium lagi! " Andre.


"Iya Mas, aku ngak marah lagi," ucapnya sambil mengambil napas. Melihat wajah Andre yang tersenyum kearah, Mayang langsung memeluk Andre.


Andre pun membalas pelukan Mayang tersebut.


"Aku terlalu sayang sama kamu Mas. Aku tak ingin terjadi sesuatu sama kamu. Maaf jika aku berkata kasar,"ucap Mayang sambil mengusap punggung suaminya.


"Iya Sayang, aku mengerti,Tapi jangan pernah ngancam untuk pergi dari ku. Aku sudah bahagia bersama mu, jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku, ucap Andre sambil mengecup kening sang istri.


"Jangan marah lagi ya. Aku tak akan pergi. " Andre.


"Yah itu tergantung Mas." cetus Mayang menggoda Andre.


"Tergantung apa? " tanya Andre sambil menatap wajah Mayang dengan senyuman manisnya.


"Tergantung dari benda yang bergantung he he, " cetus Mayang tersenyum nakal.


" Oh, aku mengerti. Kamu jadi sendi gini pasti karena kagen ya sama benda yang bergantungan. Kan sudah tiga hari di rumah sakit," terka Andre sambil menggigit lembut daun telinga Mayang .


Ehm, Mayang tersenyum dengan pipi merona.Keduanya pun saling melempar senyu mesra.


"Ok, Jatahnya biar aku rapel selama tiga hari ini. " Andre pun menarik selimut kemudian memeluk sang istri.


Keduanya bergelut mesra hingga Ranjang mereka pun berguncang seperti telah terjadi gempa lokal 9 skala richter.


Bersambung lagi. Eh masih ada satu bab ya.