Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Terpisah


Sean dan Hesti berada di dalam mobil. Menurut Map sekitar Setengah jam perjalanan dari Pondok pesantren kakek, Ada sebuah Mall di kota selanjutnya.


Suasana masih terasa kaku di antara mereka. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Sean memutar musik agar tak merasa sepi.


Mobil mereka memasuki kawasan parkir di sebuah mall. Tentu saja Hesti merasa senang, karena baru kali ini ia bisa pergi ke pusat belanjaan.


'Wah, akhirnya aku bisa juga mengunjungi Mall, senengnya,' batin Hesti seraya melirik ke arah Sean.


Mobil perlahan masuk ke dalam basement. Setelah mobil terparkir dengan rapi, mereka keluar dari mobil.


Keduanya pun menuju elevator yang ada, di basement. Sean menekan tombol nomor pada panel yang ada dinding lift. Hesti sedikit heran melihat Pintu lift terbuka dan tertutup sendiri.Karena Hesti gadis desa yang begitu katro, ia langsung memeluk Sean ketika lift tersebut bergerak naik dengan perlahan.


"Om aku takut." Hesti.


"Ngak apa-apa. Ngak akan jatuh. " Sean.


Meski Sean berkata demikian, tetap saja Hesti takut. Ia terus memeluk Sean, tak perduli semua mata mengarahkan kearahnya.


Sean tampak acu melihat Orang-orang yang memperhatikan mereka, bahkan ada yang mengatakan jika Hesti itu norak.Sean menganggapnya dengan santai, tanpa merasa malu sedikitpun atas sikap Hesti.


Ting ...


Pintu lift terbuka, mereka tiba di lantai dua. Sean keluar dari Lift sambil menggenggam tangan Hesti yang dingin karena takut.


Setelah keluar dari lift, baru ia melepaskan genggaman tangannya.


"Kamu kenapa sih? " tanya Sean.


"Aku takut Om naik itu lagi. Nanti kita turun pakai tangga saja ya Om," tawar Hesti.


Sean hanya tersenyum melihat kepolosan istrinya


"Iya, nanti kita turun pakai tangga berjalan saja. " Sean.


Mereka pun jalan beriringan.


Hesti mengedarkan pandangannya kesegala arah. Ia terkagum-kagum melihat arsitektur mewah yang ada di mall tersebut.


Karena terus memandangi sekitarnya, Hesti terus berjalan, sementara Sean sudah masuk ke dalam sebuah butik.


Mereka pun terpisah ketika Sean masuk ke dalam toko.


"Hesti kamu pilih saja baju yang kamu inginkan," ucap Sean ketika ia melihat deretan pakaian wanita yang tergantung rapi.


Karena Hesti tak menyahut, Sean pun menoleh ke arah belakang. Dan ia baru menyadari jika Hesti tak ada di tempat itu.


"Hesti! " Sean pun mencari sekitar toko, tapi ia tak menemukannya juga.


Sean langsung keluar mencari keberadaan Hesti.


***


Hesti berjalan terus, ia begitu tertarik pada sebuah toko yang menjual accessories dan boneka. Hesti berhenti di depan etalase tokoh tersebut seraya mengangumi beberapa boneka Barbie yang menggunakan gaun pengantin.


'Ehm, indah gaun pengantin itu. Padahal aku ingin sekali menikah dengan menggunakan gaun pengantin, 'guman Hesti dalam hati.


"Om, kita mau kemana lagi Nih? " tanya Hesti seraya menoleh kearah belakang. Ia pun kaget karena tak mendapati Sean berada di dekatnya. Hesti panik, seketika itu juga dia menangis.


Hiks hiks hiks,


"Om! Om kemana? " tanya Hesti sambil menangis.


Hesti mencari-cari keberadaan Sean, di sela-sela pengunjung mall yang saat itu cukup ramai.


"Hiks Om, jangan tinggalkan aku Om, aku mau pulang dengan siapa, hiks hiks hiks. " Hesti semakin sedih.


Ia terus berkeliling mencari Sean. Sambil menangis. Ada seseorang ibu-ibu yang memperhatikan Hesti yang menangis sambil mencari-cari keberadaan seseorang.


Hesti bingung dan panik. Karena dirinya merasa di tinggalkan oleh Sean dengan sengaja.


Hesti sedikit menepi,kemudian ia bersandar di salah satu pintu toko yang tak digunakan.


"Om jahat kenapa tinggalkan Hesti. Hiks hiks. " Hesti menangis tergugu dengan meringkuk memeluk dua lututnya.


Dirinya binggung bagaimana caranya ia bisa pulang, sementara ia sendiri tak tahu di kota mana ia berada.


Ibu-ibu tersebut menghampiri Hesti.


"Dek kamu kenapa Dek? " tanya Ibu yang sejak tadi menghampiri Hesti.


Hesti menengadah menatap wanita paruh baya yang ada di sampingnya.


"Hiks hiks, saya di tinggalkan oleh suami saya Bu, saya ngak tahu jalan pulang, hiks hiks. "


"Oh mungkin suami kamu tak bermaksud meninggalkan kamu, kalian hanya terpisah saja. "


Hiks, hiks.


Ibu tersebut pun Heran.


'Masih muda ternyata. ' batin ibu tersebut.


"Ayo Nak, kita kebagian informasi. "


Hesti mengikuti kemana saja ibu tersebut menarik pelan tangannya.


"Kamu sudah menikah Nak? " tanya sang ibu, takut salah dengar.


"Iya Bu, baru tadi malam saya menikah, " jawab Hesti begitu polos.


"Tadi malam?! " tanya sang ibu dengan sedikit penekanan.


'Bearti anak ini terpisah dari suaminya, ngak mungkin suaminya meninggalkan nya sementara mereka baru saja menikah. Duh anak ini polos benar ya. 'batin wanita tersebut.


Mereka pun menuju ruang informasi.


Ibu tersebut bicara pada petugas informasi. Menerangkan jika Hesti terpisah dari suaminya.


Petugas tersebut pun menanyakan, nama dan umur Hesti.


Setelah di jawab oleh Hesti, Informan tersebut segera mengumumkan.


Tes tes tes..


"Pengumuman ..pengumuman.Bagi anda yang merasa kehilangan seorang gadis bernama Hesti Pratiwi berusia tujuh belas tahun silahkan datang ke bagian informasi. Kami menunggu anda di sini. " Sang informan mengulang pengumuman tersebut sebanyak tiga kali.


***


Sean terus mencari keberadaan Hesti dengan masuk ke beberapa toko, tapi ia juga tak mendapati nya.


"Aduh Hesti! Kamu kemana sih, ngilang begitu saja! Mana ngak punya nomor yang bisa di hubungi lagi, " dengus Sean.


Sean memang berencana menuju bagian informasi, Karena dirinya tak pernah mengunjungi mall tersebut, ia pun binggung dimana letak bagian informasi.


Tapi Sean tak menyerah, ia bertanya pada petugas yang ia temui di pusat perbelanjaan tersebut.


Benar saja, baru saja ia ingin menuju bagian informasi, Sean sudah mendengar pengumuman tersebut. Segera saja ia mempercepat langkahnya menuju bagian informasi.


Dari kejauhan Sean melihat Hesti bersama seorang wanita yang sedang mengusap punggungnya, sepertinya wanita itu sedang membujuk istrinya.


Beberapa langkah kemudian Sean pun berada di samping Hesti.


"Hesti! " panggil Sean.


Mendengar suara Sean, Hesti langsung menoleh.


"Om," sebut Hesti dengan bola nata yang masih berkaca-kaca.


Tanpa menunggu lagi, Hesti langsung menghambur memeluk suaminya.


"Om, kenapa Om tinggalkan aku hiks hiks hiks. " Tangis Hesti dalam pelukan Sean.


Dengan penuh kelembutan Sean membalas pelukan Hesti, dirinya saat itu merasa lega, karena berhasil menemukan Hesti. Dan untuk pertama kalinya mereka saling bersentuhan secara fisik dan emosi.


"Om jahat! Aku takut di tinggalkan sendirian. " Hesti.


ibu-ibu yang membantu Hesti dan informan saling memandang.


'Suami kok di panggil Om,' batin keduanya


"Aku cari kamu kemana-mana Hesti. Kamu ngilang gitu saja, aku khawatir." Sean.


Keduanya saling mengurai pelukan.


Hesti berusaha menahan isak tangisnya. Namun sisa-sisa air matanya masih saja mengalir.


"Sudah jangan nangis lagi, ingat kamu itu sudah jadi seorang istri, bukan Anak-anak lagi," ucap Sean seraya menyapu air mata istrinya


"Iya pokoknya aku ngak mau jauh-jauh dari Om," ucap Hesti seraya memeluk lengan Sean.


"Iya Dek, sebaiknya kamu peluk saja tuh lengan suami kamu. Nanti kalau terlepas lagi, takutnya nyakut ke mana-mana," sahut wanita yang membantu Hesti tersebut dengan maksud bercanda.


Sean hanya tersenyum.


"Kalau gitu, kita lanjut belanja lagi. " Sean.


Setelah mengucapkan terimakasih kepada ibu dan informan tersebut, Sean dan Hesti melanjutkan niat mereka sebelumnya untuk berbebelanja.


Sepanjang jalan Hesti terus memeluk lengan Sean, ia takut terpisah dari suami tersebut. Tanpa mereka sadari, perpisahan sementara tersebut justru membuat mereka semakin dekat dan semakin terlihat mesra saja.


Bersambung. sudah tiga bab. semoga anda puas dengan episode ini, he he 🙏😊


Ia terus mencari