
pagi-pagi sekali Resti menyiapkan kebutuhan sang suami, ia menyetrika sendiri pakaian sekolah Ferdi.
Setelah itu Resti menyiapkan sarapan untuk suaminya. ia turun ke lantai bawah menuju dapur.
Resti menyiapkan roti isi dan susu coklat hangat. Setelah siap, Resti meletakkan piring roti dan gelas di atas nampan.
Kemudian ia membawanya nampan tersebut menuju lantai atas kamarnya. Ketika hendak menaiki tangga, Resti berpapasan dengan Adelia.
"Resti, mau kamu bawa kemana itu? " tanya Adelia ketus.
"Ini sarapan untuk Ferdi, Mi." Resti.
Adelia langsung mencekak pinggangnya.
"Hah! udah mau jadi raja saja si Ferdi di rumah ini! Sarapan pakai minta antar ke kamar, dia pikir ini hotel bintang lima apa? ! sudah ngak usah bawa sarapan itu ke kamar, suruh saja suami kamu itu sarapan bersama kita di meja makan. "
Adelia hendak menyambar nampan dari tangan Resti, tapi keburu di tepis oleh Resti.
"Mami apa-apan sih! ini untuk suami aku, terserah aku dong! "
Adelia melototkan matanya mendengar penuturan Resti.
"Eh Resti, kamu itu jangan mau di begoin sama si Ferdi itu. Dia enak-enakan keluyuran jalan sana sini. Sementara kamu, setiap hari menunggunya yang pulang terlambat, dia ngak pernah ada waktu untuk kamu! Jadi untuk apa kamu peduli sama dia! " cecar Adelia.
"Mami, kenapa sih mami suka ikut campur dalam urusan rumah tangga aku sama suami aku. Sudahlah Mi! Aku tahu apa yang suamiku lakukan! Mami taunya cuma ngatur-ngatur saja, " dengus Resti. Ia pun tak memperdulikan Adelia yang melihatnya dengan syok.
Adelia membalikkan tubuh kearah belakang.
"Ngak bisa di biarkan ini. Sepertinya Ferdi sengaja mengadu domba aku dan Resti! " guman Adelia.
Dengan perasaan yang masih kesal Adelia menghampiri dapur. Ia menyiapkan sarapan untuk suami dan anak bungsu kesayangannya
Setelah sarapan siap, Adelia membawanya ke meja makan. Di sana ia hanya melihat Adiaksa yang tengah membaca koran .
"Loh Pi, kenapa Raga belum turun untuk sarapan. Ini sudah jam berapa?! " tanya Adelia seraya melirik jam tangannya.
"Mana Papi tahu, biasanya kan tugas Mami yang membangunkan Raga. " Adiaksa.
"Huh, anak itu memang benar-benar keterlaluan! " Adelia bersungut-sungut sambil berjalan menuju anak tangga. Setibanya di sana hatinya semakin dongkol melihat Resti yang semakin mesra bersama Ferdi.
Dengan bibir yang mengkerucut dan dahi yang mengkeret Adelia berjalan menghentak-hentak sambil memanggil-manggil nama Raga.
"Raga! Belum bangun juga kamu Ya?! " teriak Adelia seraya berjalan menapaki anak tangga.
"Raga! Raga! " Teriak Adelia kembali, ia semakin kesal karena meski pun bertetiak kencang, Raga tak juga menyahut.
Adelia yang semakin emosi, semakin mempercepat langkahnya menuju kamar Raga.
Tok tok tok pintu di ketuk dengan kencang.
"Raga! Raga! Bagun Raga!"
Tok tok tok... mengedor sambil memainkan handel pintu.
"Raga! Raga! kamu ini memang bandel ya Raga! Buka pintunya. Jam segini masih tidur. Tidur apa mampus kamu tuh! "
Tok tok tok..
Adelia kembali menggedor kamar Raga. Karena merasa tak di gubris ia pun menempel kan telinga ke daun pintu.Namun, tak terdengar aktifitas apapun di dalam kamar tersebut. Kamar itu terdengar hening dari luar.
Karena khawatir, Adelia kembali mengetuk pintu kamar tersebut. Dengan setengah menangis ia memanggil-manggil nama Raga.
"Raga! Raga! Raga bukakan mami pintu Nak! jangan buat mami panik Raga! " Adelia terus mengetuk pintu sambil menangis.
Resti dan Adiaksa yang merasa herannya bercampur khawatir segera menghampiri Adelia yang tengah mencoba membuka kamar Raga, Adelia pun menangis karena merasa khawatir.
"Raga! Buka pintu Nak. Mami janji ngak akan marah-marah sama kamu lagi Nak. Ayo buka pintu Raga! mami khawatir! "
"Ada apa Mami? " tanya Adiaksa seraya berlari kecil menghampiri Adelia.
"Papi hiks, Raga kenapa Pi! Kenapa dia ngak dengar panggilan mami! " tangis Adelia.
Karena suasana sudah menghebohkan seisi rumah. Satpam dan beberapa asisten rumah tangga datang menghampiri mereka.
Adiaksa ikut panik. Ia berusaha mendobrak pintu kamar Ferdi. Tapi tetap tak bisa terbuka.
"Ada apa ini Tuan? "tanya Satpam tersebut.
"Mang Ambil linggis atau apa saja yang bisa di gunakan untuk membuka pintu kamar! " titah Adiaksa kepada satpam.
"Baik Tuan! "
Satpam berlari menuju gudang untuk mencari linggis . Resti dan Adelia sudah merasa lemas ,mereka terus saja menangis karena khawatir terhadap Raga
"Raga! Hiks hiks. "
Sementara Adiaksa terus berupaya mendobrak pintu, sambil berteriak memanggil-manggil nama Raga! Namun, hasilnya tetap nihil.
Beberapa saat kemudian Satpam datang membawa linggis. Mereka pun mencoba merusak kunci kamar Raga, Kemudian mendobraknya.
Gubrak pintu terbanting ke dinding mereka semua menyerbu masuk kedalam kamar Raga.
"Raga! " teriak Resti, Adiaksa dan Adelia secara serempak, ketika melihat Raga tak sadarkan diri dengan mulut yang berbusa.
Mereka pun berlari menghampiri Raga dan memeluknya.
Bersambung guys.
Sambil nunggu author up, author punya rekomendasi novel keren nih.
Dengan judul: My Uniqe Boyfriend karya Astuty Nuraeni. Mampir guys siapa tahu suka 😍😊