Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Kebahagian yang hilang


Layanya Mayang dan Andre, Friska dan dokter Radit bersedia melupakan semua yang baru saja terjadi.


Friska lebih memilih memaafkan suaminya tersebut, dan menerima Radit. Demi anak yang tengah ia kandung.


***


Setelah pembicaraan tersebut Mayang dan Andre bermaksud kembali ke acara mereka.


Suasana kembali kondusif, tamu undangan pun kembali menikmati acara, ada yang berbincang-bincang sambil menikmati hidangan yang tersedia, Sementara Luzy dan Lucy pun telah meninggal rumah itu.


Beberapa tamu menghampiri Kyai Abdullah untuk sekedar ngobrol, Maklum saja mereka sedikit kaget ketika mengetahui Kyai Abdullah adalah kakek Andre.


Mengingat keduanya tak pernah terlihat bersama pada satu kesempatan pun.Dimata publik, Kyai Abdullah adalah sosok yang begitu religius, sangat kontras dengan Andre yang berperangai buas seperti hewan liar.


Andre dan Mayang berjalan melewati koridor rumah mereka menuju tempat berlangsung acara sambil berbincang-bincang.


"Sayang, Apa benar si kembar itu sering usil terhadap kamu? " Andre.


"Iya Mas, tapi ya sudahlah Mas. Ini semua bukan tentang mereka, sebagai suami-istri harusnya kita tak mudah terpancing dengan emosi. Karena nanti akan ada lagi orang-orang yang merasa terusik dengan kebahagiaan kita. "


"Ehm, tapi aku tetap akan beri pelajaran terhadap dua orang itu. " Andre.


"Ngak usahlah Mas, biarin saja. Kita ngak boleh semena-mena, jangan mentang-mentang kita punya kekuasaan kita berbuat zalim, biarkan saja mereka. Cukup jadi pelajaran bagi kita. " Mayang.


Andre mengulas senyum," Iya Sayang.Kau memang baik, untung ada kamu yang selalu memperingatkan ku agar tak berbuat zalim lagi. " Andre pun merangkul mesra istrinya menuju ruang tamu tempat acara berlangsung.


Adelia mengkerutkan bibirnya melihat Andre dan Mayang kembali mesra.


"Hm, ngak jadi ternyata pertumpahan darahnya, bukan nya seru kalau Mayang di usir mentah-mentah oleh Andre, pasti dia ngemis minta tinggal dirumah ku," guman Adelia sambil mencibir.


Adiaksa menatap aneh kearah Adelia yang bermonolog. "Mami, ngomong apa sih? " tanya Adiaksa, untung saja ia tak mendengar pembicaraan tersebut.


"Ah ngak apa-apa kok Pi, "sahut Adelia dengan senyum palsunya.


Saat kembali ke ruangan, Mayang di hampir oleh Resti dan Ferdi.


Dari jauh Mayang tersenyum melihat perut Resti yang kembali buncit, meski belum terlalu besar.


"Resti kamu hamil lagi? " tanya Mayang sembari menyapa


"Iya, sudah memasuki dua bulan. " Resti.


"Alhamdulilah. Semoga kali ini kamu dan anak yang ada di perut kamu selalu sehat hingga proses persalinan. " Mayang.


" Aamiin Terima kasih, ya Mayang. "


Resti pun melirik ke arah baby boy yang ada di gendongan Mayang.


" Hai sayang, " sapa Resti pada baby boy."Apa aku boleh menggendong keponakan ku? " tanya Resti.


"Tentu saja."Mayang langsung menyodorkan baby boy ke tangan Hesti yang sudah siap menyambutnya.


Resti tersenyum melihat bayi tersebut meliuk-liuk di gendongan nya.


"Sayang, lihat lah. Betapa lucunya dia," ucap Resti pada Ferdi,dengan bola mata yang berembun, ia pun teringat akan bayinya.


Resti memeluk bayi tersebut dengan penuh kehangatan, seperti ia memeluk bayinya sendiri.


"Iya Sayang. Kelak anak kita pasti juga akan lucu. " Ferdi.


"Aku mau anak perempuan yang cantik, seperti anak kita sebelumnya. " Resti.


"Aamiin,"sahut Mayang dan Andre berbarengan.


Resti tampak berbahagia ketika menggendong bayi tersebut.


"Oh Iya , baby girl mana? " tanya Resti pada Mayang.


"Oh baby girl sama uncle-nya. Tuh! " tunjuk Mayang kearah Sean yang sedang menimang bayi mereka.


"Kalau anak ku perempuan, bagaimana jika kita jodohin saja Mayang? " usul Resti Iseng.


"Ha ha, aku sih terserah mereka, ngak terlalu memaksakan. " Mayang.


"Aku datang kemari, tak hanya menghadari acara ini, tapi juga sekalian mau pamit. " Resti.


"Pamit kemana? "tanya Mayang dengan nada sedikit syok.


" Oh Syukurlah kalau begitu, menang begitu seharusnya. " Mayang.


"Iya, Aku ingin membangun rumah tangga kami secara mandiri di sana. " Resti.


"Iya Resti, semoga di sana kalian bisa semakin mempererat hubungan kalian, pastinya kalian akan saling membutuhkan dan saling melindungi.Setelah semua yang terjadi. "


"Semoga saja Mayang. "


Sean dan Hesti menghampiri mereka, Mayang dan Andre,sambil menggendong baby girl.


Resti semakin gemes melihat bayi cantik tersebut menggunakan kerudung putih.


"Ya ampun, lucu sekali, " seru Resti sambil menyodorkan baby boy, pada Mayang kembali. Ia pun meraih baby girl di tangan Sean.


Melihat bayi perempuan lucu tersebut Resti langsung menitikan air mata, teringat pada bayi cantiknya yang meninggal.


Hiks, hiks, Resti langsung memeluk dan mencium-cium Raya, Seolah melepaskan perasaan rindunya terhadap anaknya yang telah tiada.


"Aku jadi teringat kembali dengan bayi kita Fer, jika ia masih ada pasti dia lucu seperti ini. "


Resti mendekap bayi itu kembali kemudian menciumnya berkali-kali.


Eaak, eak, bayi itu bersuara tapi tak menangis.


"Sayang kamu tinggal sama aunty saja ya? ," tanya Resti pada Raya.


Eak, Raya mengeliat-liat. Resti semakin haru melihat bayi pintar yang seperti mengerti ucapannya tersebut.


"Kamu ini lucunya, Aunty jadi kangen sama anak aunty. " Resti mencium-cium bayi tersebut.


"Iya aunty semoga nanti, nanti Onty dapat bayi perempuan yang cantik lagi. " Mayang.


"Aamiin, semoga saja, "sahut Resti sambil menghapus air matanya.


"Mayang, anak mu biar aku yang mengendongan ya? Ayo Mak, kita Jalan-jalan. "


"Iya, asal ngak ngerepotin, karna kamu kan lagi hamil. " Mayang.


"Ngak kok. Aku memang suka sama bayi perempuan. " Resti.


"Iya silakan saja. " Mayang.


Dengan senang hati Resti menggendong bayi perempuan tersebut, membawanya menghampiri Adiaksa.


Adelia mencibir, melihat Resti yang menggendong anak Mayang. Ia tak suka jika Mayang dan Resti menjadi akrab.


"Opa, lihat lah ini cucu Opa," ujar Resti sambil menyodorkan bayi perempuan yang cantik tersebut.


Adiaksa langsung menyambut bahagia cucu perempuannya. Di peluk dan di ciumnya cucu perempuannya tersebut dengan kasih sayang.


Adiaksa kembali teringat dengan perlakuan tak adiknya terhadap Mayang ketika Mayang baru lahir.


Sejak lahir, ia tak pernah menimang Mayang, seperti seorang ayah yang menimang putrinya.


Adiaksa memeluk bayi tersebut, membayangkan jika saat itu ia tengah memeluk Mayang ketika bayi.


Benar kata orang, penyesalan akan selalu datang terlambat,karena waktu yang telah berlalu, tak mungkin kembali lagi. Perasaan bersalah itu terus menghantui Adiaksa meski Mayang dengan lapang dada telah memaafkan ayahnya tersebut.


Karena Resti menyukai bayi tersebut, Mayang membiarkan Resti menggendong babayi perempuannya.


Resti tampak bahagia sekali melihat


Baby girl yang meliuk-liuk di peluk oleh Resti. Pasangan muda tersebut bergantian menggendong Raya, si bayi cantik dan pintar tersebut, setiap di ajak bicara, Raya seolah merespon. Sementara baby boy, terlihat dingin, lebih banyak diam.


Mayang dan Andre kembali menyambut tamunya. Sementara baby boy dan Baby girl mendadak jadi idola, semua orang ingin menciumnya.


Bersambung, Rencana hari author dedikasikan untuk crazy up, mumpung weekend 😅🙏 plis dukungan ya reader, biar author tak mengantuk.


Author punya rekomendasi novel keren untuk reader. Dengan judul, jangan salahkan takdir.