Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Provokasi


Pukul delapan malam, Ferdi baru tiba dirumah Resti. Seperti biasa kehadiran di sambut sinis oleh kedua mertuanya.


"Dari mana saja kamu Ferdi?! " tanya Adelia.


"Kerja Mi, namanya orang udah punya tanggung jawab," sahut Ferdi sambil menyelonong naik ke kamarnya.


"Kerja? Kerja apaan. Jam segini baru pulang?! " sungut Adelia.


Ferdi terus saja berlalu tanpa mengiraukan omelan mertuanya.


"Ferdi! Ferdi! mau kemana kamu Ferdy? Enak saja kamu nyelonong kamu ini ngak tahu aturan ya?! pulang ngak tepat waktu ! ingat kamu itu sudah punya istri! dasar menantu ngak guna kamu! bikin kesel saja kamu!Ferdi kamu dengar ngak sih?! Ferdi! Ferdi!" teriak Adelia.


Tapi seperti pepatah mengatakan anjing menggonggong si Ferdi tetap berlalu. Ia terus saja berlalu mesti Adelia memanggil- manggil namanya.


Setiap hari selalu seperti itu kerjaan Ferdi, pergi pagi, pulang malam hari.


Tak hanya Ferdi, hal yang sama terjadi pada Raga. Setiap harinya Raga selalu pulang malam.


Raga melepaskan sepatu Sekolah kemudian menyimpannya secara sembarangan.


Melihat anak bujangnya yang baru pulang. Emosi Adelia kembali naik ke ubun-ubun.


"Raga! Dari mana saja kamu?! " teriak Adelia dengan nada super tinggi sampai urat-urat lehernya kelihatan.


"Abis latihan band Mi, biasa anak muda." Raga pun menyelonong naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Ada saja alasan kamu ya! kalau seperti ini terus mami berhentikan saja kamu sekolah! ngak usah sekolah lagi! " teriak Adelia.


"Berhenti saja Mi, Raga juga ngak niat sekolah kok! " sahut Raga.


Bukannya menyesal, Raga semakin menyelonong dengan bersiul-siul sampai ke kamarnya.


"Ih ngak anak, ngak menantu bikin pusing semua! " teriak Adelia.


Adiaksa yang mendengar suara Adelia menggema ke seluruh penjuru rumah buru- buru datang menghampirinya.


"Mami ada apa sih teriak-teriak ngak jelas?! Papi lagi kerja tau! "


"Ini juga punya suami selalu cuek dengan anak! papi sibuk kerja saja! ngak pernah perduliin Anak-anak! sekali-kali ba tu dong didik mereka Pi. "


"Eh Mami bukannya dari dulu papi sudah bilang, Resti sama Raga jangan terlu dimanja Mi, di kasih fasilitas mewah, semua yang di inginkan mami turuti,Mami biarkan mereka bergaul tanpa di awasi. Kalau Papi marah, mami yang bela mereka jadi seperti inikan jadinya. Lihat tuh si Mayang dia ngak pernah di kasih fasilitas mewah tapi sekarang si Mayang udah jadi Ratu, istri seorang crazy rich! sudah enak hidupnya sekarang. "


Mendengar Adiaksa yang membandingkan Anak-anak dengan Mayang, Adelia semakin tak Terima.


"Hah, jadi nyonya apaan! Si Mayang itu pintar ,dia pancing Andre agar Andre menghamilinya kemudian pura-pura lari, biar si Andre simpati terhadapnya. Harusnya jika ia di usir Andre, dia bisa pulang ke rumah. Pakai kabur segala. Lihat saja Papi, setelah cucumu lahir pasti dia di tendang dari rumah Andre. Awas saja kalau setelah di usir di minta balik ke sini ,Mami ngak sudi menerima dia! " Cecar Adelia.


"Halah dasar Mami saja sirik, Mami sensi sama Mayang kan karena sekarang Mayang hidupnya jauh lebih senang dari kita sekarang. Saat ini saja Papi masih hutang-hutang kita, karena omset penjualan tak mampu menutupi biaya produksi! " Adiaksa.


"Halah, tinggal minta duit saja sama menantu Papi yang super kaya itu!" dengus Adelia ia pun naik ke lantai atas kamar mereka.


Adelia naik ke lantai atas tanpa sengaja ia mendengarkan Resti dan Ferdi bercanda.


Adelia pun menguping pembicaraan mereka, dan saat itu terdengar di telinga Adelia kata-kata rayuan Ferdi, sesekali terdengar tawa dan canda dari kamar tersebut.


"Ih si Resti bodoh sekali! suami macam itu di percaya. Tak bisa di biarkan, pasti si Resti sudah di cuci otaknya oleh Ferdi. " sungut Adelia.


Hem,


Adelia langsung menoleh ketika mendengar suara orang berdehem.


"Ish, Mami kesel saja sama si Resti, sudah tahu suaminya suka pulang malam, bukannya dimarahi tapi malah di ajak becanda. " dengus Adelia.


"Biarkan sajalah Mami, dari pada mereka bertengkar bikin pusing saja, lebih baik mereka seperti ini. Adem ayem. Sudah kamu urusi saja anak bujang kamu tuh. Pulang sekolah langsung keluyuran. " Adiaksa.


***


Sebelumnya.


Ferdi masuk ke kamar dan melihat wajah Resti yang cemberut dia atas tempat tidur.


Ferdi langsung menghampiri Resti yang tengah manyun.


"Setiap hari pulang malam! keluyuran terus! dengus Resti dengan wajah cemberutnya.


"Aduhh Sayang kamu itu kalau marah makin cantik, aku jadi makin sayang," ucapnya sembari mencium pipi Resti.


Hum, Resti membuang wajahnya.


Ferdi mengeluarkan pecahan uang sepuluh ribu dan dua puluh ribu," Oh aku tahu kamu pasti marah karena aku pulang malam kan? " tanya Ferdi.


"Iniloh Yang. Aku kerja, jadi supir taxi online. " Ferdi.


"Supir taxi online? emang bisa?" tanya Resti.


"Ya bisalah, aku pakai akun teman aku. Ini dapatnya ngak seberapa nunggun orderan lama banget. "


Resti menghitung uang tersebut yang berjumlah kurang dari seratus ribu. Lengkap dengan uang recehan, kembali parkir Ferdi dari Mall.


"Cuma dapat segini Yank? "


"Yah cuma dapat segitu, tapi merupakan hasil jerih payahku Yank, aku berusaha menjadi suami yang baik dengan bertanggung jawab menafkahi kamu dan anak kita Yank. "Dalil Ferdi dengan begitu meyakinkan.


Ferdi merenggangkan bagian tubuhnya dengan melakukan peregangan otot-otot, seolah-olah ia begitu lelah karena bekerja mencari nafkah.


Resti yang tadinya marah dan ngambek, jadi terharu. Ia pun memeluk Ferdi. "Terima kasih Ya Beb, kamu sudah bekerja keras untuk aku, aku sih ngak masalah seberapa pun hasilnya. Yang penting kamu sudah berusaha untuk menafkahi aku, " ucap Resti dalam pelukan Ferdi.


Ferdi mengusap kepala Resti dengan lembut.


"Untung saja kamu mau ngerti Yank, ngak seperti mami kamu yang asal tuduh aja. Aku baru tiba saja sudah di omelin sama Mami kamu itu, katanya aku ngak bertanggung jawablah, ngak ada gunalah. Aku jadi sedih Yank di katain seperti itu sama mertua, padahal Mami ngak tahu seperti apa sayangnya aku sama kamu. " Keluh Ferdi seolah-olah ia adalah korban.


"Kamu jangan hiraukan omongan Mami ya sayang. Anggap saja angin lalu. Mami memang begitu. " Resti.


"Tapi Yank, kalau seperti ini terus, aku juga ngak tahan. Aku ingin kita cari rumah, dan tinggal terpisah dari orang tua. Aku ngak suka Yank sama mami kamu yang suka ngatur-ngatur urusan rumah tangga kita. "


"Yah mau bagaimana lagi, suka ngak suka kita harus tinggal di sini, sementara. Sampai kamu punya kerjaan tetap. " Resti.


"Tapi Yank, aku merasa seperti tak di hargai di rumah ini, di remehkan oleh orang tua kamu. Bagaimana jika kita pindah rumah saja Yank, biar kita bisa hidup tenang di rumah kita sendiri. "


Ehm, terserah Yank, aku akan ikut kemana saja kamu pergi, meski ke ujung dunia, ucap Resti seraya tersenyum dalam pelukan Ferdi. Sementara Ferdi tersenyum smirk.


Bersambung, up satu dulu ya, klau sempat autor up lagi ya reader.


Sebelum itu author punya rekomendasi novel keren dengan judul kau pasti menyesal.