
Matahari belum pun terbit,saat itu waktu berada tepat pada pukul tiga pagi. Mayang membuka matanya ketika merasakan ada yang basah pada bagian bawah tubuhnya, Hingga membasahi pakaian dalam yang ia kenakan.
"kok basah sih? "
Mayang coba menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Hah air apa ini ? Masa iya sih, aku pipis sih. "Mayang mencolek sedikit pada bagian yang basah, Ternyata tak berbau.
"Apa mungkin ini air ketuban ya? " gumamnya.Kalau iya bearti sebentar lagi aku melahirkan.Tapi bukannya masih dua minggu?" Mayang bermonolog.
Ia pun melirik ke arah sampingnya, dimana Andre yang tengah tertidur pulas.
"Mas! bangun Mas! " Mayang menggoyang tubuh Andre untuk membuatnya tersadar.
"Ada apa sih Sayang? " tanya Andre sambil mengucek matanya.
"Mas, air ketuban aku merembes. Sepertinya aku mau lahiran. "
"Hah ! Lahiran? " Andre segera bangkit dengan mengambil posisi duduk.
"Ya sudah , aku telpon dokter suruh dokter bersiap-siap. "
"Aduh Mas, perutku sudah mulai sakit nih! Ngak sempat lah.Kita kerumah sakit saja! . " Keluh Mayang sambil mengusap-ngusap perutnya.
"Iya sayang. Kita kerumah sakit sekarang!"
"Iya, Mas. Tapi aku mau ganti baju dulu. " Mayang.
"Iya Sayang. "
Andre segera menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti untuk istrinya.
"Mas aku pingin pipis! " seru Mayang yang merasakan bagian perut bawahnya terasa penuh.
Andre kembali menghampiri Mayang. Membantunya untuk bangkit, menuju kamar mandi. Namun, ketika sampai di kamar mandi ia tak juga pipis.
Mereka pun kembali ke kamar mandi. Belum pun sampai di kamar Mandi, Mayang merasa ingin pipis kembali, tapi sampai di kamar mandi, ia tak juga pipis. Dan kejadian tersebut Berulang-ulang hingga Mayang merasa gelisah dan tersiksa.
Karena kehamilan kembar, Mayang merasakan ada yang menekan bagian bawah tubuhnya. Rasanya ia ingin pipis terus.
Andre merasa iba pada Mayang yang terus saja mengeluh ingin pipis tapi juga tak pipis.
Setelah membaringkan Mayang di atas tempat tidur, Mayang kembali ingin pipis.
"Aduh Mas, aku mau pipis lagi! " keluh Mayang sambil mengusap perutnya yang mulai merasakan sakit.
"Kamu mau pipis? pipis saja Sayang di tempat tidur. Aku beri alas sebentar. "
Andre membentang kain anti air di pada bagian tempat tidur untuk alas tubuh Mayang.
"Aku telpon dokter Wina, sebentar. " Andre meraih ponselnya kemudian menghubungi dokter Wina.
"Hallo dokter. Istri saya sepertinya hendak melahirkan. Saya harap anda bisa datang kemari. "
"Maaf tuan, Apa tidak bisa di bawa kerumah sakit , di sini tentu peralatannya lebih lengkap. "
"Anda tenang saja, semua sudah saya persiapan. Anda siapkan saja team Anda untuk membantu persalinan istri saya. "
"Tapi Tuan... " dokter Wina.
"Saya akan bayar sepuluh kali lipat dari gaji anda dan rekan-rekan.Asal anda datang secepatnya, untuk membantu proses persalinan istri saya! "Andre.
"Baik Tuan! Saya bersiap terlebih-lebih dahulu. Kemungkinan istri anda memang merasakan sakit, tapi belum bearti ia akan melahirkan saat ini juga. "
"Telpon saya akan stanby. Anda bisa hubungi saya kapan saja."
***
Setelah menghubungi dokter Wina, Andre kembali mendekati Mayang.
"Sayang, aku sudah telpon dokter, kamu akan melahirkan di rumah ini. " Andre.
"Terserah di mana saja. Aku juga sudah ngak kuat jalan. " Mayang.
"Kalau gitu, aku bawa kamu ke ruang persalinan ya. " Andre.
"Iya Mas. "
Andre memang sudah mempersiapkan ruangan untuk persalinan istrinya di rumah tersebut. Seperti kelahiran Andre dan Sean yang juga tak melakukan persalinan di rumah sakit. Saat itu, Adam sang ayahnda membangun klinik di kawasan pesantren untuk kelahiran sang buah hati. Sampai saat ini klinik tersebut di gunakan untuk merawat santri yang yang sakit.
Andre membantu menggantikan pakaian sang istri. Kemudian ia mengangkat tubuh Mayang ala bridal style menuju kamar persalinan.
Wajah Mayang tampak mengkerut kala itu karena manahan rasa sakitnya.
"Masih ingin pipis Sayang? " tanya Andre seraya menatap iba pada sang istri.
"Sabar ya Sayang. Aku selalu ada di samping kamu kok. " Andre.
"Iya Mas. "
Mayang menahan rasa sakitnya sampai mengeluarkan air mata. Ketika tak lagi mampu menahan ia pun mengeluarkan keluh kesahnya.
"Aduh Mas! Perutku rasanya sakit sekali, hiks!" Mayang.
Mereka pun tiba di ruangan dengan ukuran 10x10 meter. Ruangan tersebut baru selesai di bangun khusus untuk sang istri. Demi kenyamanan dan keamanan Mayang saat persalinan.
Andre meletakkan tubuh Mayang di atas tempat tidurnya. Menata bantal,Kemudian membaringkannya dengan posisi kepala lebih tinggi.
"Aduh Mas sakit! " keluh Mayang berkali-kali.
"Ia Sayang, Tapi Mas ngak bisa berbuat apa-apa. Mas pijit kan saja ya. Mana yang sakit? "tanya Andre lagi.
"Pinggang ku sakit Mas. Rasanya ingin pipis terus. " Keluh Mayang seraya menangis.
Andre memijat pinggang dan beberapa bagian tubuh dari Mayang. Rasa sakit yang Mayang rasakan semakin sering dengan durasi yang semakin lama. Beberapa menit sekali ia meringis karena menahan sakit yang luar biasa.
Andre jadi gelisah dan serah salah, sementara tim dokter belum juga tiba. Ia pun kembali menghubungi dokter Wina. Baru saja meraih ponsel nya Mayang sudah berteriak kesakitan
"Aduh Mas sakit! Hiks " seru Mayang semakin kencang. Ia pun menangis karena sudah tak sanggup menahan rasa sakit.
Andre melihat ada bercak Darah pada pakaian yang Mayang kenakan saat itu.
Andre semakin panik dan gelisah. Di raihnya genggaman tangan Mayang saat itu.
"Aduh Mas, sakit! " keluh Mayang lagi, Seraya menggigit bibir bagian bawahnya hingga berdarah, air mata pun mengalir dengan deras. Ingin rasanya ia meronta-ronta saat itu juga.
"Aduh Lama sekali dokternya, mana aku tak tahu harus berbuat apa, " dengus Andre sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
keduanya semakin panik ketika air bercampur darah mengalir deras dari jalan lahir Mayang.
"Aduh sepertinya ketuban nya pecah. " Andre
"Sayang kamu sudah mau melahirkan? "Andre semakin panik, Namun, Mayang merasa sedikit lega setelah ketuban pecah, justru rasa sakit di perutnya mereda.
"Mas aku ingin BAB! Ada yang ingin keluar Nih? " Teriak Mayang sambil mengejan. Andre semakin panik, saking paniknya ia tak tahu apa yang harus di lakukan.
"Tenang sayang, Tahan napas kamu lalu hembuskan. "
"Akh! Sudah ngak tahan Mas! " wajah Mayang memerah karena mengejan secara replek.
Andre makin panik, tanpa aba-aba Mayang mendorong lebih kuat!
"Akh! " teriak Mayang panjang.
Sesuatu keluar dari jalan lahirnya.
"Sayang kepala bayinya keluar! Andre.
Mayang memperlebar pembukaannya, sambil mengatur napasnya sambil mendorong lebih kuat lagi.
"Akh!! " Mayang mendorong semakin kuat.
Oek oek. Terdengar suara bayi.
Tangan Andre gemetaran menadah bayi tersebut. Untung saja dokter Wina tiba di saat bayi tersebut sudah keluar secara utuh.
"Alhamdulillah, sudah melahirkan. "
Dokter Wina langsung memakai sarung tangan kemudian menyemprot dengan cairan anti septik. Ia dan timnya langsung membantu persalinan dadakan tersebut.
Tangan Andre masih gemetaran saat bayi tersebut, menangis dan meliuk-liukan tubuhnya saat dokter memotong tali pusar bayinya.
Oek Oek. Suara tangis bayi tersebut memecah kesunyian rumah itu.
Bersambung dulu ya reader, kalau sempat author up satu bab lagi.
Ada rekomendasi novel baru untuk kalian, sambil nunggu auhidupnya Dengan judul, Tutupe Wirang.
Rasa kecewa, sakit hati dan putus asa membuat gadis itu terpuruk sampai dia ingin mengakhiri hidupnya.
Dipinggir jembatan, gadis itu telah berdiri dan bersiap melempar tubuhnya ke danau, di ujung jembatan tersebut ada seorang pria berlari sekuat tenaga dan berteriak menghentikan aksi gadis itu.
Pria itu masih membujuk dan terus berbicara mengalihkan perhatian gadis yang mengenakan MIDI dress berwarna biru.
Akankah gadis muda itu mengikuti arahan pemuda yang berdiri di belakangnya? Atau gadis itu akan melanjutkan aksi bunuh dirinya?
Lantas apa yang membuat gadis itu ingin mengakhiri hidupnya?