
β mengandung adegan dewasa, yang belum cukup umur, yang jomblo di skip aja ya he heππβ
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi saat ini.
Setelah pertempuran perdana mereka, Keduanya langsung tertidur akibat rasa lelah yang mendera sekujur tubuh sepasang insan tersebut.
Sean dan Hesti tidur saling memeluk saat itu, tanpa busana sehelai benang pun, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.Suasana yang dingin membuat keduanya saling mendekap mencari kehangatan.
Hesti memeluk pinggang Sean dengan kakinya berada di atas paha Sean.
Sean membuka matanya perlahan ketika merasa senjata yang tanpa sarung tersebut terasa menyentuh sesuatu. yakni menyentuh rumput halus yang tumbuh di sekitar area lembah milik Hesti.
Seketika senjata miliknya kembali menegangkan. Napas Sean kembali memburu mengingat betapa nikmatnya pertarungan perdana mereka.
Sean tersenyum melihat Hesti yang tertidur pulas, Dengan lembut ia mengecup pucuk kepala Hesti.
Senjata milik Sean semakin menegang saat Hesti bergerak, Benda tumpul itu tersebut semakin keras ketika terjadi gesekan tanpa sengaja.
"Akh! " Sean tak lagi bisa menahan hasrat nya. Langsung saja ia mendorong pelan tubuh Hesti yang tengah berbaring memeluknya, hingga Hesti terlentang dengan posisi semakin menantang.
Sean semakin tak karuan ketika melihat tubuh molek Hesti yang tergeletak di sampingnya. Langsung saja ia menyesap salah satu puncak bukit kembar milik istrinya.
Hesti belum sadar saat itu, meski Sean meremaaas-remas dengan lembut.
"Akh! " Sean menjadi lebih bergairah, ia sudah tak mampu lagi menahan hasrat nya. Langsung saja ia menindih tubuh Hesti yang belum sadar tersebut seraya mencium bibinya dengan lembut.
"Akh! Seru Hesti ketika merasakan tubuh hangat yang menindih tubuhnya, membuatnya jadi sedikit kesulitan untuk bernafas.
"Om? "Hesti mulai membuka matanya.
"Iya Sayang, " sahut Sean seraya mencium ceruk leher Hesti.
Seketika bulu kuduk Hesti kembali meremang ketika merasakan hembusan napas Sean yang sedang memburu. Sean kembali mendaratkan kecupan hangat pada ceruk leher Hes.
cup cup cup.
"Akh! "Desa ah Hesti. Ia kembali menggelinjang karena hasratnya yang kembali dibakar oleh sang suami.
Tanpa aba-aba, tanpa perintah ,Hesti membuka lebar pangkal Pahaanya agar senjata milik suami dengan mudah menerobos masuk celah sempit miliknya lagi.
"Tahu saja kamu, "bisik Sean sambil tersenyum.
"Ehm, tahu dong Om. "
Keduanya kemudian menatap saling mendamba, sebelum pertarungan sengit di mulai, Sean mendaratkan kecupan mesra di kening sang istri.
Esk..Hesti berdesis dengan mata yang merem melek, menanti pesawat Boeing milik Sean yang akan kembali menerobos gua miliknya.
Sean mengambil posisi yang nyaman, kemudian ia mulai mendorong tongkat sakti miliknya dengan perlahan hingga benda pusakanya tersendat di ujung dinding gua.
"Akh! " Lengkuh Hesti seraya merem melek, tangannya menggengam dan meremas sprei. Kali ini sudah tak ada rasa sakit lagi ketika benda tersebut menerobos.
Akh Ehm Esh, desa ah Sean.
Sean berhenti sejenak untuk merasakan sensasi yang berdenyut-denyut yang mencengkram erat peralatan tempurnya.
"Ehm esh. " Desah Sean kembali , sambil kembali mendorong dan menarik senjatanya keluar masuk dengan perlahan.
"Wah nikmatnya, Ehm akh es. " gerakan Sean sesekali menghentak hentak.
Tubuh Hesti kembali mengelinjang bergerak maju mundur akibat tekanan dari atas tubuhnya, sambil menikmati sensasi yang luar biasa nikmat, lebih nikmat dari permainan sebelumnya.,
Ehm eks Akh'. Suara lengkuhan tersebut terus terdengar seiring guncangan yang terjadi di atas ranjang.
"Akh! Ehm !"Sean masih bermain slow di atas tubuh Hesti. Ketika senjata menyerang pada bagian bawah tubuh Hesti, Sean dengan buas menyesap salah satu bukit milik sang istri secara bergantian seraya memelintir puncak bukit yang masih sebesar biji jagung tersebut.
Hesti terus mengerang mendesaah dan mengelijang karena semakin lama suami nya tersebut semakin brutal mengatam bagian bawah tubuhnya tanpa ampun.
Akh! Ehm! Esk! Hesti menggigit daun telinga Sean sambil memeluknya dengan erat, ia biarkan saja senjata suaminya tersebut menyerangnya dengan serangan bertubi-tubi.
Akh! Ehm! Suara lengkuhan tersebut terus keluar secara bergantian dari mulut kedua pasangan muda tersebut di iringi guncangan yang terjadi di atas ranjang.
Keringat kembali mengucur pada tubuh Sean dan Hesti, kulit tubuh mereka pun saling bergesek-gesekan satu sama lain. Semakin lama Sean semakin mahir, Ia menarik tubuh nya kemudian menarik tubuh sang istri untuk memulai petualangan yang baru.
Sean berdiri dengan senjata yang masih tegak berdiri. Kemudian ia mengangkat tubuh Hesti yang mungil tersebut dan kembali memasukkan tongkat saktinya kedalam tempat semestinya.
Sean menggedong Hesti dari arah depan dengan senjata yang masih mendorong keluar masuk.
"Ehm, eks."Hesti merem melek menikmati sensasi tak biasa tersebut, langsung saja ia menyambar bibir suami nya dan mengulum nya dengan buas.
Seperti berada di atas kuda yang berlari kencang, tubuh Hesti berguncang-guncang dengan gerakan turun naik.
Akh! Eks Ehm, suara tersebut masih terdengar meski bibir mereka saling bertaut. permainan semakin panas saja.
"Om Oh! ehm " Desah Hesti ketika Sean semakin mempercepat gerakannya. Hingga menimbulkan bunyi dari pergesekan kedua benda berda wujud tersebut.
"Akh! " jerit Hesti tertahan.
Karena Sean semakin mempercepat laju kuda tempurnya dengan napas yang memburu dan terengah-engah Sean sudah tak lagi mampu membendung meriamnya.
Satu hentakan dasyat, di iringi dengan erangan nikmat berhasil membuat meriam Sean memuntahkan pelurunya tanpa sisa.
Akh! Ehm, Hesti memeluk batang leher Sean dengan tubuh yang begitu lemas, Wajahnya mencium ceruk leher Sean yang masih harum meski telah di basahi oleh keringat.
Keduanya berdiam. diri sesaat sembari menikmati sensasi yang masih berdenyut.
Sean mengatur napasnya yang terengah-engah sambil memeluk tubuh Hesti yang basah. Kecupan mendarat bertubi-tubi pada pipi Hesti.
"Om aku ingin turun," bisik Hesti lirih.
"Iya Sayang. "
Sean pun menarik senjata, satu kecupan mendarat di kening Hesti sebelum Sean menurunkan tubuh Hesti.
Keduanya saling melempar senyum bahagia.
"Terima kasih sayang," ucap Sean.
"Iya Om. "
Hesti yang begitu lelah langsung terbaring, masih dengan tanpa busana.
Sean menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
Tapi Hesti menepis dan menyibak selimut tersebut.
"Nanti saja Om masih gerah. "
Hesti masih terlentang dengan fose menantang sambil mengatur napasnya.
"Di tutupin saja sayang. Kalau melihat kamu seperti ini bisa-biaa aku jadi ingin lagi. " Sean.
"Besok lagi lah Om, bener-bener capek aku hari ini," sahut Hesti.
"Ya kalau begitu tidurlah, " ucap Sean sambil mengusap keringat yang membasahi kening Hesti.
Hesti masih mengatur nafasnya, begitupun Sean yang bersandar pada head board sambil mengatur nafasnya sambil mendinginkan suhu tubuhnya.
Tok tok tok...
Tiba-tiba saja suara pintu di gedor dengan kencang. Sean melirik jam dinding ternyata sudah pukul empat pagi.
Sean langsung meloncat ke bawah tempat tidur, sementara Hesti segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sean menyambar handuk dan langsung melilitkan ke pinggang dengan asal-asalan, karena pintu kamarnya belum juga berhenti di ketuk.
"Ia sebentar Kek! " seru Sean dari dalam kamar.
Ia, pun mempercepat langkahnya untuk membuka pintu.
Kreak pintu terbuka.
"Kau rupanya! "dengus Sean dengan kesal.
Bersambung, Kira-kira siapa ya yang menggedor pintu kamar Sean.
Jangan lupa dukungannya ya readers. Maaf masih episode hot. ππ