
Karena keduanya sudah sepakat, Andre pun mengantar Mayang menuju kost terlebih dahulu.
Beberapa penghuni kost yang sedang duduk sofa saat itu, berhamburan keluar melihat mobil mewah Andre yang perlahan memasuki halaman kost.
"Hei bukannya itu mobil suaminya Mayang. Jangan-jangan si Andre datang untuk menuntut balas karena kita suka membully Mayang. " salah seorang dari mereka.
"Iya, terutama kalian berdua tuh yang suka usil sama istrinya. "Mereka menunjuk pada si kembar.
Lucy dan Luzy pun kaget dan ketakutan.
"Mampus loh bedua, bisa-bisa besok kalian tinggal nama, " cetus salah seorang dari mereka, semakin menakuti si kembar.
Si kembar pun terlihat gelisah.
"Aduh gimana nih Luc,mana uang yang sepuluh juta kita habisin lagi. Kalau si Andre minta ganti gimana? "tanya Luzy yang begitu ketakutan.
"Mana gue tahu yuk kita kabur dulu lah. "
Luzy dan Lucy langsung berlari kecil menaiki anak tangga. Sementara yang lainya juga ikut bubar menuju kamar masing-masing.
Sebelum turun Andre meminta Mayang kembali mengenakan masker dan penutup kepala. Untuk menghindari pengintaian dari pihak musuh.
Mayang turun dengan Hati-hati, mereka pun segera menuju rumah pak Ilyas.
Sementara penghuni kost yang lain mengintip di balik jendela.
"Assalamu'alaikum, Pak. " Mayang.
"Waalaikum sallam! " seru pak Ilyas seraya keluar dari dalam rumahnya.
Pak Ilyas sedikit kaget dengan kedatangan Mayang dan suaminya.
"Eh nak Mayang, silakan masuk. "
Mayang dan Andre masuk ke dalam rumah kemudian langsung duduk di sofa, di depan orang lain Andre memang terlihat begitu berwiba.
"Nak Mayang sudah sehat? " tanya pak Ilyas.
"Sudah Pak, kedatangan saya kemari selain ingin pamit, saya ingin menyampaikan terima kasih atas kebaikan bapak yang telah menerima saya di tempat ini apa lagi bapak sering membantu saya. Saya juga ingin menitipkan ini, milik Mbak Mirna, sampaikan salam saya kepada beliau Pak, dan terakhirsaya ingin mengambil barang-barang saya yang tertinggal di kost an ini. "
"Baik Nak Mayang, silakan saja Nak Mayang membawa barang-barang mbak Mayang. "
"Terima kasih Pak. " Mayang.
***
Mayang dan Andre pun menuju kamar kost Mayang.
Ukuran kamar tersebut sekitar 3*3 meter.
Mayang membuka pintu kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Andre merasa miris melihat sang istri yang tinggal di kamar sempit dengan tempat tidur bisa yang sudah tipis.
Mayang memasukkan baju hamil pemberian dokter Radit. Andre ikut membantunya mengumpulkan barang-barang Mayang.
Di sudut tempat tidur Andre melihat beberapa celengan berbahan plastik.
Di sana ada tempelan kertas putih yang menarik hatinya, Andre pun meraih beberapa celengan tersebut dan membacanya.
'Tabungan untuk biaya persalinan. '
Andre tersenyum miris, ia dapat membayangkan nasib anak dan istrinya jika sampai mereka tak bertemu.
Andre meraih satu tabungan lagi yang bertuliskan 'Tabungan untuk membeli pakaian bayi'
"Sayang, ini mau di bawa? " tanya Andre iseng.
"Ya bawalah, itukan uang hasil kerja keras ku selama ini. " Mayang.
Mayang memang tak memiliki banyak pakaian hanya satu koper dan isinya baju tidur dan baju kerja.
Setelah selesai Mayang pun mendorong kopernya ke arah luar. Penghuni kost yang lain masih mengintip Mayang di lantai atas.
"Eh. kayaknya Mayang mau pindah ke rumah suaminya deh. Enak banget ya dia bisa punya suami kaya seperti tuan Andre. "
"Nasib Mayang aja yang beruntung! bisa nikah pria yang tajir melintir. "
"Ehm, padahal dia sendiri pernah cerita, jika dirinya dulu di kucilkan di panti asuhan gara-gara di anggap anak pembawa sial, tapi lihat sendiri kan nasib Mayang beruntung banget sekarang. Bisa memiliki suami tajir seperti Tuan Andre. "
"Iya loh, gue jadi merasa bersalah karena sering julid sama dia. Padahal Mayang bicara apa adanya. Dasar kitanya saja yang jelous sama dia. "
"Ehm, benar tuh. Duh bahagia Mayang sekarang ya, punya suami ganteng, kaya, sayang lagi sama dia. "
"Bener tuh, Mayang memang beruntung. "
Sebagaian penghuni kost pun menyesali perbuatan mereka yang sudah menuduh Mayang bukan-bukan.
Andre mendorong koper Mayang keluar dari kost-an tersebut.
Ketika akan memasuki mobil, seseorang memanggil Mayang.
"Mayang! "
Mayang menoleh ke arah belakang dan ternyata Mirna.
"Mayang , begitu dengar kamu pulang mbak ijin pulang sebentar, ingin lihat kamu. "
"Iya Mbak, Mayang terpaksa ikut suami," bisiknya di telinga Mirna.
"Iya Mayang begitulah seharusnya seorang istri, ikut suaminya. Mbak do'akan semoga kamu bahagia dengan keluarga kecil kamu Mayang. "
"Terima kasih mbak, atas do'anya. "
'Tapi Mayang kalau kamu melahirkan, kamu telpon mbak Ya, Mbak pengen lihat dedek twins. "
"Iya Mbak, setiap saat boleh kok kerumah Mayang, eh maksudnya ke rumah Om Andre, kalau kangen Mayang. "
Andre tersenyum kecut karena Mayang masih sering keceplosan memanggilnya Om, mungkin umur mereka yang berbeda cukup jauh.
"Boleh kan Om, eh Mas?"
"Boleh, kalau ingin bertemu Mayang, telpon saja. Nanti biar sopir yang menjemput. "
"Oya, sudah ngak sabar main kerumah kamu "Mayang, nanti hari minggu deh mbak main ke sana. " Mirna.
"Ya sudah mbak, Mayang pamit. "
"Iya Hati-hati. "
Mayang dan Andre masuk kedalam mobil.
Wah, Mirna bedecak kagum melihat Mayang masuk ke dalam mobil mewah Andre.
"Mayang beruntung banget, bisa punya suami sekaya Andre, dan sepertinya suaminya begitu perhatian dan menyayanginya. " guman Mirna.
Bersambung ya reader, karena partnya yang panjang author bagi jadi tiga part, mohon like dan komentar setiap part. tengkyu 😘