
Mereka berempat menuju pembudidayaan ikan nila, dahulunya tempat pembudidayaan tersebut berupa kolam, Namun Saat ini, tempat tersebut sudah di semen dengan sirkulasi air yang teratur langsung dari aliran air sungai.
"Lama ngak ke sini, ternyata banyak sekali perubahan tempat ini." Andre.
Sean melihat pemandangan sekitar tempat tersebut. Ia pun menuju sebuah pohon mangga yang berdaun lebat.
"Kamu ingat ngak Sean, kita yang menanam pohon mangga itu! " Andre.
"Ehm, pantas aku merasa tak asing dengan tempat ini " Sean mengedarkan pandangannya.
Andre mendekat kearah kolam, kemudian ia meraih pancingan dan jala.
"Kamu mau makan ikan Sayang? " tanya Andre.
" Mau dong makan ikan Nila, tapi yang besar itu ya Mas! " tunjuk Mayang pada seekor ikan Nila yang paling besar yang tengah berenang dengan lincah di dalam kolam.
Andre langsung mencoba menjala ikan itu, tapi ikan tersebut terlalu lincah hingga ikan tersebut berenang hingga ke tengah kolam.
"Yah kabur deh! " Mayang.
"Tenang saja sayang apa yang kamu inginkan akan kau dapatkan."Andre kemudian melipat celana kain yang ia kenakan.
Tanpa menunggu lagi Andre langsung terjun ke kolam, air kolam yang awalnya jenih jadi keruh. Untuk memudahkan penangkapan ikan tersebut Andre menutup aliran air dari sungai, sementara air yang tersisa di kolam tersebut ia biarkan mengalir hingga kolam tersebut kering dan beberapa kolam lainya juga ikut kering karena aliran sungai tersumbat. Alhasil seluruh kolam yang ada di tempat itu kering dengan ikan-ikan yang menggelepar.
"Mas apa yang kamu lakukan Mas?! ikan-ikan tersebut bisa mati! " seru Mayang.
"Lah bukannya kamu yang minta aku tangkap ikan Nila yang besar itu . "
"Iya Mas tapi ngak begitu juga sih. " Dengus Mayang
"Biarlah, apapun yang kamu mau, pasti aku berikan Yang, biar saja ikan-ikan ini dipanen sebelum waktunya, yang penting anak-anak kita tak ileran. "
Setelah kolam ikan itu kering, ikan- ikan tersebut mengelepar dan bertebaran,Ternyata masih tak mudah untuk mencari ikan yang di inginkan oleh sang istri.
Andre harus mencari-cari ikan yang di tunjuk oleh Mayang di antara tumpukan ikan-ikan yang sudah lemas karena kolam yang mengering.
Seorang petugas yang mengurusi kolam ikan tersebut kaget ketika melihat kolamnya, mengering dengan ikan yang bertumpuk tumpuk dan mati.
"Astaghfirullah hal Azim. Mas kenapa kolam ikannya di kuras. Ikan bisa mati dan kita bisa gagal panen karena belum masuk masa panen! Aduh kalau sudah begini nanti saya di marahin kyai Abdullah." Laki-laki terlihat khawatir.
"Tenang saja! Nanti saya yang bicara sama kakek. Sudah, ikannya banyak yang mati ini! Angkut saja bawa ke daratan. " Andre.
"Tapi Mas! kalau di angkut semua ikan ini belum bisa di jual sama langganan kita! Pesantren ini bisa rugi besar! " laki-laki tersebut masih saja ragu.
"Sudah kerugiannya biar saya tanggung. Saya beli semua ikan yang ada di sini! Di masak saja, untuk makan para santri di sini. " Andre.
Ehm, Lelaki tersebut menggaruk-garukan kepalanya yang tak gatal.
"Iya, tapi saya ijin dulu dengan pak Kyai. "
"Ngak usah! " Andre.
"Sean telpon Kakek! " perintah Andre.
Andre naik kembali ke tepi kolam, dirinya langsung di hampir Mayang.
"Mas kamu tuh nekat banget Yah, tadi aku pikir kamu mau pakai jaring ngambil ikannya, kalau beginikan aku jadi ngak enak sama kakek! " Mayang.
"Ngak masalah Sayang, Kan aku ganti! Lagi pula ikan-ikan ini bisa jadi lauk untuk seluruh Santri di sini kan. "
Pak Bejo yang bertugas mengurus budi daya ikan Nila itupun langsung menarik jaring keatas dengan menggunakan katrol.
Beberapa saat kemudian Jaring tersebut naik dan mengangkut ikan-ikan tersebut secara bersamaan.
Setelah sampai di tepi kolam, katrol kembali di turunkan Seribu ekor ikan Nila mendarat di atas tanah.
Satu kolam saja sekitar lima puluh kilo. Sedangkan ada sekitar sepuluh kolam, Jadi saat itu pihak pengelola harus memanen sepuluh kolam sekaligus.
Pak Bejo yang mengurusi kolam tersebut segera memanggil Teman-teman nya untuk memanen semua ikan-ikan yang ada di tampak tersebut.
Beberapa saat kemudian Kakek datang menghampiri mereka.
"Astaghfirullah, ada apa ini Ndre? " tanya Kakek.
"Tapi kenapa?! " tanya Kakek.
"Mayang ingin makan ikan yang besar itu Kek, jadi karena sulit menangkapnya aku kuras saja semuanya," jawab Andre santai.
Sang Kakek geleng-geleng kepala. "Kamu ini hanya karena nila seekor,rusak kolam satu tambak. "
"Hehe, bukannya gara-gara nila setitik, rusak sayur sebelanga,Kek."
"Mau diapakan ikan Lima ratus kilo itu Ndre. Kakek tau kamu banyak duit, bisa ganti kerugiannya. Tapi lima ratus ikan bisa terbuang begitu saja bila ngak secepatnya di olah. "Kekek.
"Ikan nilainya untuk menu makan siang dan malam pesantren ini, sisanya bagikan warga sekitar sini saja Kek, itung-itung sedekah Kek. " Andre.
Kakek manggut-manggut. "Baiklah kalau niat kamu seperti itu. "
***
Karena ikan tersebut di panen mendadak, Kakek mengerahkan seluruh Santri dan beberapa pengurus Pondok Pesantren tersebut untuk membersihkan dan membagikan ikan-ikan nila itu.
Kegiatan belajar mengajar di ponpes pun di tiadakan, para santri ikut membantu membersihkan ikan-ikan tersebut. Selain untuk makan para penghuni pompes tersebut, mereka juga membagi-bagikannya kepada penduduk sekitar pondok pesantren.
Sementara Andre,setelah mendapatkan ikan yang di inginkan Mayang, ia langsung pergi dari tempat tersebut, sementara para pengurus pondok pesantren dan santi masih sibuk membersihkan ikan dan mengemasnya untuk di bagikan kepada warga.
"Lihat tuh Mas ulah kamu! Seluruh penghuni pondok pesantren jadi repot! Aku jadi ngak enak kalau gini. Kamu tuh tahunya nyusahin saja," dengus Mayang.
"He he, sesekali Yang," cetus Andre seraya mencium pipi Mayang.
Andre langsung ke dapur meminta juru masak untuk membakar ikan nila tersebut.
***
Sean dan Hesti berada di belakang mereka, tak seperti pasangan Andre dan Mayang yang selalu berjalan bergandengan mesra, mereka berdua masih menjaga jarak saat berjalan.
"Hes, setelah ini kita pergi belanja untuk kebutuhan kamu. Tapi kamu ganti baju dulu. "
"Iya Om, tapi aku tak punya pakaian ganti lagi. " Hesti.
"Nanti aku pinjam baju kakak ipar untuk kamu. " Sean.
"Iya Om. " Hesti
"Kak ipar! " panggil Sean.
"Iya! " Mayang langsung menoleh.
"Aku pinjam baju untuk Hesti ya. Kami mau berbelanja pakaian. " Sean.
"Oh, boleh.Ayo Hesti kita langsung ke kamar Yuk, Kamu pilih sendiri pakaian yang cocok menurut kamu. " Mayang.
"Iya Kak." Hesti.
Keduanya berjalan bergandengan.
"Kamu mau beli pakaian apa Hes? " Mayang.
"Ehm, Ya pakaian untuk sehari-hari saja Kak. " Hesti.
"Ehm, jangan lupa ya beli lingerie untuk malam perdana kamu nanti malam ya. " Mayang.
"Akh kakak aku kan malu." Seketika pipi Hesti merona. "Tapi lingerie itu apa? " tanya lagi.
"lingerie itu, gaun tidur yang berbahan tipis dan Seksii, kalau kamu sudah kenakan lingerie, kamu ngak perlu lagi ngapa-ngapain, cukup duduk manis di sisi tempat tidur seraya tersenyum, kemudian biarkan suami kamu yang menghampiri kamu. Trus acara belah duren pun segera di mulai, he he. " Mayang.
"Ehm, kak. Kok aku deg-deg ya." Hesti tersipu malu.
"Ha ha, aku juga deg-deg, nanti ceritain ya bagaimana hotnya MK kamu." Mayang.
"Ehm, ngak tahulah Kak. Aku malu. "
Hesti pun semakin tertunduk malu dengan wajah yang merona.
Bersambung.